Chapter 19

1095 Kata
Semalaman aku terus memikirkan informasi mengejutkan yang diberikan oleh Hana. Jika aku ada di posisinya, tentu aku juga akan terluka. Entah harus dikatakan hebat atau bodoh karena ia masih mau bertahan di dalam keadaan yang seperti itu. Aku menjadi semakin kesal pada Kak Arga. “Hei, kenapa bengong aja sih? Segitunya gak sabar nungguin Alvaro, ya?” tegur Kendric. Aku meliriknya sinis, ucapannya sungguh-sungguh tak berdasar. Kini kami sedang duduk di food court sambil menunggu Aro yang kelasnya masih belum selesai. Sesuai dengan janji kemarin, akhirnya kami sepakat untuk pergi bersama siang ini. Kebetulan langit juga sedang bersahabat; tidak hujan dan juga tidak terlalu terik. Sangat cocok untuk menghabiskan waktu di luar. “Mau tanya dong,” ujarku pada Kendric, rasanya terlalu meresahkan jika kusimpan sendiri. “Tanya aja kali, kayak kita baru temenan kemaren sore aja,” jawab Kendric sambil menghabiskan wafer cokelatnya. “Memangnya aku mirip ya sama Hana?” “Hm? Hana?” tanya Kendric memperjelas. Aku mengangguk cepat. “Mirip dari mananya? Gak ada mirip-miripnya sama sekali. Yang satu kayak kepompong, yang satu kucing liar.” Jawabannya membuat keningku berkerut. “Kenapa jadi kepompong sama kucing?” tanyaku bingung. “Ya kamu ‘kan kayak orang terkurung; lebih banyak ngabisin waktu sendirian dan gak tau dunia luar. Kalo Hana… ya gitu pokoknya, gak perlu dijelasin.” “Ih! Bukan itu maksudku!” gerutuku kesal. “Mirip dari segi fisik; mukanya gitu atau rambut. Gak mirip, kan?” tegasku lagi. “Iyalah! Gak ada mirip-miripnya. Cuma sama-sama rambut panjang doang,” jawab Kendric dengan sangat yakin. “Tuh ‘kan gak mirip. Memang mulutnya aja tu yang gak bener! Bisa-bisanya ngomong ke pacarnya begitu. Gak ada hati!” gerutuku dengan pelan. Dia tak sebaik yang kukira, rasanya menyesal pernah menaruh hati padanya. Kendric mencolek bahu dan menatapku. “Siapa yang ngomong begitu? Hana? Kak Arga?” tebak Kendric. “Mmm… dua-duanya? Entahlah! Hana yang sampein ke aku begitu. Mungkin, gak sih?” “Kamu yang lebih kenal kak Arga, masa tanya aku? Kalo penilaian sekilas sih menurutku agak gak mungkin Kak Arga begitu. Kalo Hana yang ngada-ngada, itu baru mungkin,” ujar Kendric. Aku tidak membantah, karena jika dilihat seklias akan terlihat seperti itu. Namun terkadang manusia memang memiliki sifat lain yang selalu ia sembunyikan, bukan? Kak Arga memang sosok laki-laki yang sempurna—di mata kami orang luar yang belum benar-benar mengenalnya. Dia tampan, pandai dan tampak berwibawa. Sosoknya yang pendiam, namun ramah membuat banyak gadis tergila-gila. Aku jadi semakin bingung mau mempercayai yang mana. “Memangnya kamu masih komunikasi sama Kak Arga?” tanya Kendric lagi. Aku menggeleng. Kami memang saling menyimpan nomor, namun hanya sebagai penonton story saja. Sekalipun ada chat di antara kami, hal tersebut tentu tidak akan jauh-jauh dari kegiatan kepanitiaan. Terakhir aku berkomunikasi—di luar kegiatan kepanitiaan—dengannya adalah beberapa hari sebelum hubungannya dengan Hana diresmikan. Meski aku menyukainya, aku sangat tahu diri dan menyadari posisi. Maka tidak mungkin aku sengaja menghubunginya selain untuk kebutuhan kampus. “Aku gak mood jalan-jalan lagi. Kamu masih mau di sini, kan?” ujarku seraya memasukkan ponsel ke dalam tas. “Ya aku di sini karena mau pergi sama kalian. Terus kamu mau ke mana?” “Aku mau pulang aja, pengen tidur.” Kemudian aku beranjak dan menggunakan tas, namun tanpa disangka ternyata Aro sudah berdiri di belakangku. “Kenapa pulang? Kamu marah karena nunggu aku kelamaan?” tanya Aro. “Mmm… itu… enggak sih. Cuma tiba-tiba gak mood aja,” jawabku tanpa berniat untuk menjelaskan masalah yang sebenarnya. Aro melirik Kendric, namun Kendric hanya mengangkat bahunya. Lalu Aro kembali melirikku dengan sorot mata yang nampaknya memaksaku untuk memberikan jawaban. “Aku cuma butuh tidur. Next time masih bisa, kan?” Aku benar-benar tidak ingin pergi sekarang, perasaanku masih tak karuan rasanya. Kendric yang selalu mengerti posisiku, akhirnya turut beranjak dan menyetujui keputusanku. “Ya udah gak apa-apa. Aku selalu ada waktu kok, asal jangan mendadak aja,” ujarnya. Aro tampak menimbang-nimbang. Aku yakin dia pasti kecewa, namun aku juga tidak bisa memaksakan diri. Toh jalan-jalan hari ini bukanlah hal penting yang tidak bisa di-reschedule. “Ya udah kalo maunya gitu gak apa-apa. Ayo aku anter pulang!” ujar Aro menawarkan. Aku mengangguk setuju, tidak ada minat sama sekali untuk berdebat. Hanya tidur yang aku butuhkan sekarang. Kemudian kami bertiga pun berjalan ke pelataran parkir, dan berpisah dengan Kendrick arena ia memarkirkan motornya di parkiran basement. “Kamu lagi ada masalah, ya?” tanya Aro sembari menggunakan sabuk pengamannya. “Enggak ada. Aku kurang tidur, jadi sekarang pengen tidur aja. Daripada kita nekat jalan-jalan dan aku ngerusak suasana, aku mending ngomong dari awal, kan?” ujarku tanpa menoleh ke arahnya. Bisa terlihat dari sudut mataku kalau Aro sedang mengangguk. Tanpa bertanya lagi, ia langsung melajukan mobil dan masuk ke jalan besar. Sejenak aku merasa aneh, karena untuk masuk ke jalan arah kontrakanku akan lebih dekat jika lewat jalan samping. “Kenapa lewat sini?” tanyaku bingung. “Kita cari tempat lain yang bisa ngilangin rasa capekmu,” ujarnya pelan dengan mata yang fokus ke jalanan. “Hey, aku mau pulang! Aku pengen tidur!” eyelku. Dia benar-benar menyebalkan dan semakin mengacak-acak mood-ku. “Kalo kamu di rumah, aku gak bisa nemenin lama-lama. Ya udah, kita ke restoran aja gimana? Sekarang gak ujan, pemandangan di atas juga bisa bikin kamu rileks, kan?” “Aku mau pulang. Aku yakin kamu tau apa artinya pulang,” tandasku yang benar-benar sudah geram. Dia tak menjawab lagi, namun tangannya menggerakkan stir dan berputar arah. Kami kembali ke jalur yang tepat untuk kembali ke rumahku. Jalanan lumayan lenggang, sehingga ia bisa memutar-balik arah mobil ini dengan mudah. Kusandarkan punggung dan menarik napas dalam-dalam. Aku sangat membenci saat-saat seperti ini, saat di mana mood rusak dengan rasa bersalah yang berpadu. Semuanya terlihat salah di mataku; namun di sisi lain aku juga tidak enak karena mungkin saja membuat Aro kesal. Daripada aku semakin berlaku menjadi orang yang menyebalkan, maka aku lebih memilih untuk menyingkir dan membiarkannya reda terlebih dahulu. Tibalah kami di depan gerbang kontrakanku, dan aku turun setelah mengucapkan terima kasih. Dia tak melakukan hal-hal yang menambah rasa kesalku lagi, aku pun masuk ke dalam rumah dengan tenang tanpa perlu membuang energi untuk berdebat. Belum sempat aku membuka pintu rumah, ponselku berdering tanpa sebuah pesan masuk. Kuduga kali ini adalah Aro lagi dan aku memutuskan untuk membukanya nanti setelah masuk kamar. Tanpa ba-bi-bu, aku langsung melepaskan jaket dan aksesoris yang mengganggu, lalu membaringkan tubuh di atas ranjang. Dan aku melupakan pesan masuk tadi karena tak lama setelah berbaring, aku langsung tertidur pulas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN