Chapter 20

1326 Kata
Terkadang tidur dalam keadaan mood yang berantakan memang mudah, namun setelah bangun, tubuh ini serasa baru mengerjakan tugas berat. Pegal terasa hampir di segala titik, namun setidaknya keinginanku untuk marah bisa berkurang sedikit. Setelah kesadaranku pulih sepenuhnya, nama Aro langsung terlintas di kepalaku. Laki-laki itu pasti merasa kesal dan menyesal karena sudah mengetahui sisi burukku. Dengan malas, kugerakkan salah satu tanganku untuk meraih tas yang kuletakkan di lantai, di sebelah ranjang. Ponselku ternyata mati lagi, aku lupa untuk mengisi daya. Sungguh kebiasaan buruk yang selalu lupa untuk kuperbaiki. Karena masih malas, aku kembali memeluk guling dan membiarkan ponselku tergeletak dalam keadaan mati. Wajah Kak Arga tiba-tiba terlintas dan keningku seketika berkerut. ‘Perasaan kamu gak pernah nembak aku, Kak. Kalo memang bener apa yang Hana bilang kemaren, terus kenapa kamu gak ungkapin perasaanmu ke aku dan malah cari cewek lain?’ batinku yang masih sangat bertanya-tanya. Selama ini aku memang merasa kalau Kak Arga sedikit memberi harapan padaku, namun memang tak ada tindakan yang ia lakukan hingga aku meyakinkan diri kalau hanya akulah yang menyukainya. Namun setelah mendengar cerita Hana, pikiranku menjadi kacau. Antara merasa aneh dan kesal, tapi ada sedikit kebahagiaan juga. Ah, entahlah! Laki-laki nampaknya memang selalu membuat bingung, tidak ada yang normal—yang mendekatiku maksudnya, tentu saja di luaran sana masih banyak laki-laki yang baik dan tegas. Setelah baterai ponselku terisi lumayan banyak, aku kembali menghidupkannya karena mulai penasaran dengan siapa yang mengirimkan pesan sebelum aku tidur. Benar orang itu adalah Aro, ia meminta maaf karena sudah membuatku kesal. Tentu saja kumaafkan, padahal yang seharusnya meminta maaf adalah aku. Ralat. Kurasa kami sama-sama salah. Selain itu, ternyata ada pesan masuk lainnya; yakni dari Hana. Ia masih belum lelah meyakinkanku kalau aku harus segera mengambil sikap. Aku masih tidak mengerti apa tujuannya. ‘Aku udah lama banget gak kontekan, kenapa kamu masih ngeyel sih? Kalo memang Kak Arga udah gak mau sama kamu, ya jangan dipaksa! Jadi cewek kok seneng banget nyiksa diri sendiri,’ balasku dengan omelan. Hana terus memintaku untuk menegaskan pada Kak Arga agar ia tak berharap lagi padaku. Bagaimana mungkin aku tidak bingung? Aku saja tidak tahu kalau Kak Arga menginginkanku. ‘Aku masih belum bisa lupa sama omongan temennya yang bilang kalo Kak Arga mau sama aku cuma karena aku mirip sama kamu. Seistimewa apa sih kamu sampe Kak Arga segitu cintanya sama kamu? Padahal kamu gak peduli sama dia, bahkan kamu mulai berani buat pacaran sama anak paling populer di jurusan sastra.’ Kepalaku otomatis menggeleng ketika membaca pesannya pada kalimat pertama. Dengan berbekal ‘katanya’ dia bisa sampai seperti ini. Aku jadi semakin yakin kalau semua ini hanya settingan-nya saja. Tapi apa tujuannya?? Aku sama sekali tidak menemukan jawaban. ‘Ini urusan kita. Gak usah bawa-bawa Alvaro!’ tegasku. Kemudian aku mengirimkan sebuah pesan lanjutannya sebelum ia kembali membalas. ‘Tolong selesaiin masalah kalian sendiri! Kamu minta aku buat andil, itu sama aja kamu kasih jalan buat aku deket lagi sama Kak Arga. Memang itu yang kamu mau?’ Hana membalas dengan penuh emosi, ‘Jangan bercanda! Aku minta kamu tegasin ke dia kalo dia sebenernya udah gak ada kesempatan lagi, jadi stop buat ngarepin terus!’ ‘Harus berapa kali kubilang sih? Aku itu udah lama gak kontekan sama Kak Arga. Aneh dong kalo tiba-tiba aku chat dan negasin gitu ke dia? Jangan gila deh!’ balasku dengan sangat cepat. Sungguh emosiku kembali terbakar setelah membaca pesannya. Kupikir dia sudah gila. Saking kesalnya, aku langsung menutup aplikasi chat dan hendak mematikan datanya. Namun hal tersebut kuurungkan kembali karena ada sebuah pesan lagi yang belum k****a. Pesan tersebut dikirimkan oleh ibu pemilik kontrakan. Aku hampir lupa kalau minggu depan sudah waktunya pembayaran. ‘Selamat sore, Mbak Rea. Mohon maaf sebelumnya, apa Mbak Rea mau perpanjangan kontrak? Kalo iya, Ibu mau kasih tau, biaya kontraknya naik 2 juta, ya.’ Aku terdiam sebentar dan mencoba untuk membaca pesan itu lagi beberapa kali. Sekarang aku tinggal sendirian, jelas keberatan kalau harus membayar seluruhnya. Dan lagi, belum ada tanda-tanda orang baru yang mau tinggal bersamaku. ‘Mohon maaf, Bu. Apa belum ada yang mau tinggal di sini lagi? Saya agak keberatan kalau menambah sebanyak itu,’ balasku berharap ada keringanan. ‘Maaf, Mbak. Saya sudah segitu harganya dan juga belum ada yang mau ngontrak lagi. Kalau Mbak keberatan, saya bisa saranin untuk pindah aja ke kos-kosan. Kebetulan kosan saya yang di utara kampus bisa ditempatin nanti akhir bulan. Kalo Mbak Rea tertarik, saya bisa kasih keringanan untuk tahun pertama; hitung-hitung penglaris. Mbak Rea juga bisa tinggal di kontrakan sementara kosnya belum bisa ditempatin.’ Penglaris katanya. Tapi kurasa tidak masalah, kos-kosan biasanya juga lebih murah. Apalagi masih baru, fasilitasnya juga masih fresh. ‘Kalau kos, perbulan berapa, Bu?’ tanyaku kemudian. ‘Delapan juta pertahun mbak, karena ada keringanan jadi enam juta aja. Gak bisa perbulan. Minimal setengah tahun.’ Delapan juta… lumayan sih. Tidak terlalu mahal dan tidak murah juga. Berhubung masih belum ada calon kosan yang bisa menjadi tujuanku, kupikir tidak ada salahnya menerima tawaran itu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengeceknya terlebih dahulu. Untuk memilih tempat tinggal, tentu bukan hanya uang yang menjadi pertimbangan, tapi juga kenyaman dan letak tempatnya—jelas aku tidak bisa menempatinya jika terlalu jauh dari kampus. Aku enggan mengeluarkan biaya lagi untuk membayar kendaraan umum dan juga mengurangi jam tidur karena harus berangkat lebih awal dari biasanya. *** Bersama dengan Seila, aku pergi untuk mengecek kosan yang dimaksud. Tempatnya cukup strategis; dekat dengan beberapa warung makan dan toko sembako dan juga dekat dengan kampus—meski tidak sedekat kontrakan sebelumnya. Fasilitas yang ditawarkan juga sangat menggoda; kamar mandi dalam, ranjang spring bed, serta kamar mandi yang dilengkapi shower—seandainya saja ada bathtub, mungkin aku bisa ikhlas lahir batin melepaskan harga delapan juta itu. “Gimana, Mbak? Tertarik sama kamarnya?” tanya Ibu Kontrakan. “Ada CCTV gak, Bu?” tanya Seila. Penyelamat! Aku lupa untuk menanyakan hal itu. “Ada. Rencananya besok baru dipasang.” Oke, aku tidak ragu lagi untuk tinggal di tempat ini. Secara keseluruhan, aku belum menemukan kekurangan yang bisa memberatkanku untuk tidak tinggal. Hanya saja aku sedikit takut jika penghuni yang lain kurang bersahabat—aku bukan orang yang pandai memulai pembicaraan. Aku memilih kamar di lantai dua. Sejak awal merantau, aku selalu mencari kamar di lantai dua, entah mengapa lebih nyaman menurutku. Jika mengambil di lantai satu, aku membayangkan itu sangat tidak nyaman—akan terlalu sering mendengar langkah kaki orang keluar-masuk, belum lagi kalau mereka berisik. Rumah yang kutempati lebih dari dua tahun itu akhirnya harus kuikhlaskan—padahal aku sudah sangat betah tinggal di sana dengan lingkungannya yang hening dan sepi. Untuk tempatku yang baru, aku merasa tidak yakin. Sepertinya akan lebih ramai, tapi semoga saja masih kondusif. Karena barang printilanku cukup banyak, aku memilih untuk mencicil sedikit demi sedikit—mulai dari pakaian yang jarang kupakai. Kupikir pakaianku hanya sedikit karena setiap hendak pergi aku selalu bingung akan menggunakan baju apa, tapi ternyata untuk pakaian yang jarang dipakai saja aku sudah menghabiskan tiga travel bag. ‘Oh God! Kapan aku beli semua baju ini? Kenapa tiba-tiba jadi banyak?’ batinku yang seketika menjadi lupa ingatan. Kusandarkan punggung di depan lemari sambil menopangkan tangan di atas travel bag. Beberapa pesan masuk belum sempat kubuka—karena malas. Lagi-lagi nama Hana muncul di urutan teratas. ‘Kenapa di ingstagrammu gak ada foto sama Alvaro? Kamu masih mau pura-pura gagal move on dari Kak Arga, ya?’ Astaga! Manusia satu ini benar-benar sudah tidak bisa menggunakan akal sehatnya lagi. Apa dia tidak melihat postinganku yang terakhir? Jangankan foto orang lain, fotoku saja terakhir ku-upload lima bulan yang lalu—itupun foto perpisahan bersama Bu Reena, salah satu dosen terbaik di jurusanku. Aku berusaha tetap tenang dalam membalas pesan Hana. Kalau aku sampai lost control, ia bisa semakin menggila.‘Apa segitu pentingnya aku aplut foto Alvaro di sosmed? Hubunganmu aja bubar, padahal udah disebar di sana-sini. Iya, kan?’ Kemudian aku membalas sekali lagi. ‘Kami gak butuh pengakuan public. Jadi stop ganggu kehidupanku sama pacarku. Ngerti!’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN