“Kalo gak mau disamain, jangan pegang-pegang aku seenaknya!” sindirku seraya melepaskan tangannya dari kepalaku dan mengembalikannya ke stir. Bukan tidak suka padanya, tapi aku tidak suka karena sentuhannya membuat jantungku melompat tak karuan. Ia hanya membalas dengan senyuman, lalu kembali fokus ke depan. Aku baru menyadari kalau kami sudah pergi terlalu jauh, padahal hanya untuk makan siang. “Kita mau makan di mana? Kayaknya jauh banget,” tanyaku dengan tangan yang masih menggenggam ponselnya. “Kamu maunya makan apa?” Ia balik bertanya. “Gak tau, gak kepikiran.” “Ya udah, aku tau tempat yang kayaknya kamu bakal suka. Jam masuk kuliahmu masih lama, kan?” tanyanya kemudian. Sungguh pertanyaan yang terlambat diutarakan, kalaupun jam kuliahku tinggal sebentar lagi, jelas tidak akan bi

