Padahal sudah berlalu beberapa jam yang lalu, namun setiap kali tawa Aro terngiang di telinga, aku masih tak bisa menahan tawa. Akhirnya aku bisa menemukan laki-laki yang bisa satu frekuensi denganku dan bisa tertawa bersama—setelah Kendric tentu saja. Aku jadi penasaran, bagaimana jika kami pergi bertiga? Bisakah mereka akrab? Sedang asyiknya membayangkan yang indah-indah, seseorang lewat di sebelah meja dan tak sengaja menjatuhkan bukuku. “Maaf, gak sengaja, Re,” ujar Okan seraya mengambil buku itu dan meletakkannya kembali ke atas meja. “Iya, gak apa-apa kok,” balasku yang sama sekali tidak merasa kesal. Bersamaan dengan Okan yang berlalu, tidak sengaja mataku bertemu pandang dengan Masson yang duduk di baris bangku paling depan. Wajahnya sangat datar, tak ada kebahagiaan sama sekal

