"Kita mau kemana sebenarnya?" Aku menoleh ke belakang. Menatap Putri yang terlihat penasaran. Ah, dia pasti sudah bisa menebak, kalau perjalanan kami kali ini masih ada hubungannya dengan kematian Zifa. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Zifa. Baik aku dan Angga sama-sama diam. Aku menghela napas pelan, memalingkan wajah. "Bi, coba lihat alamatnya." "Dari penunjuk jalan sih ke kanan, Ngga." Angga mengangguk. Harusnya, kami sudah sampai di alamat rumah yang dimaksud di buku harian milik Pia. Namun, tidak ada rumah sama sekali. Aku dan Angga berpandangan. Ini hanya lapangan saja. Masa kami harus bertanya pada rumput? "Tanya ke tetangga sana aja, kali, ya, Bi." Mobil menuju ke rumah yang cukup dekat dengan alamat ini. Aku sesekali melirik Putri. Kami keluar dari mobil. Tadi saa
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


