bc

Addicted

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
love-triangle
dominant
badgirl
mafia
heir/heiress
drama
bxg
city
office/work place
cruel
polygamy
like
intro-logo
Uraian

⚠️ **TRIGGER WARNING: 21+ MATURE CONTENT**⚠️

`[Dark Romance | Psychological Violence | Toxic Relationship | Manipulative ML | Obsessive Love | Mafia War]`

*"Harap bijak sebelum membaca! Novel ini mengandung tema hubungan sangat toksik, kekerasan fisik, manipulasi emosional berat, perang berdarah dan adegan eksplisit dewasa."*

***

*"Aku mengira dialah yang terjebak dalam permainanku. Ternyata, sejak awal aku hanyalah bidak yang siap ia korbankan."*

***

Angelin Blackleaf bukan korban. Ia tahu persis apa yang ia lakukan.

Ia bertahan di sisi Henry Garnet, kekasih obsesif yang tak mau melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena Henry berguna. Henry adalah umpan. Ia dipermalukan, dipancing, dibiarkan tenggelam dalam pikirannya sendiri, lalu ditinggalkan dengan foto wanita itu di pelukan pria lain. Semua demi memancing satu orang yang tak pernah menoleh: Kaeel Arce, yang ia panggil *Tuan Arcelis*. Dingin, hampa emosi, dan tak tersentuh.

Angelin tak mau memutuskan hubungan yang ia benci. Ia ingin Henry yang melepaskannya, supaya bukan ia yang menjadi orang jahat.

Bagi Angelin, Kaeel adalah candu. Bagi Henry, Angelin adalah candu. Dan bagi Kaeel, keduanya hanyalah bidak di atas papan catur yang ia mainkan seorang diri.

Ketika perang dua organisasi mafia meletus, Angelin diculik. Kaeel menyiapkan skenario yang lebih kejam daripada perang itu sendiri, sementara Henry, yang tak punya apa-apa selain obsesinya, mulai menggali rahasia yang bahkan ayahnya tak mau ia sentuh.

Tiga orang. Tiga kecanduan. Satu papan catur yang tak punya jalan keluar.

Siapa yang akan hancur lebih dulu?

chap-preview
Pratinjau gratis
##Bab 1 — Pertunjukan Konyol
## Bab Satu "Dari mana saja kamu?! Sekarang jam berapa, hah?!" Bentakan Henry menggelegar begitu pintu apartemen terbuka. Rahangnya mengeras sampai urat di pelipisnya menonjol. Angelin berdiri di ambang pintu dengan tas selempang di bahu, rambut sedikit berantakan, dan aroma parfum asing serta alkohol menguar samar dari tubuhnya. "Minggir." "Aku hanya khawatir padamu!" Henry menangkap bahu wanita itu. Ia menatap Henry sekilas, memutar bola mata, menepis lengan di bahunya, lalu melenggang melewatinya seolah pria itu hanya perabot yang kebetulan menghalangi jalan. Itu yang membuat sisa kesabaran Henry putus. Tangannya menyambar pergelangan Angelin dan mencengkeramnya kuat-kuat. Angelin menarik tangannya sekuat tenaga, tapi jari-jari Henry seperti besi yang menolak terbuka. "Lepaskan aku!" pekik Angelin. Suaranya tajam, nyaris pecah. Henry sama sekali tak mengendurkan genggamannya. "Lihat dirimu!" Henry menatapnya dari ujung rambut sampai ujung sepatu, dari gaun ketat yang melekat di tubuhnya sampai riasan yang sedikit luntur di sudut mata. "Sudah seperti jalang penggila pesta!" Udara di antara mereka seakan membeku. Wajah Angelin memerah, bukan karena malu, tapi karena amarah yang meledak sekaligus. Matanya melotot, menusuk lurus ke mata Henry. Plak! Tangannya melayang dengan keras ke pipi Henry. Kepala Henry terlempar ke samping. Pipinya berdenyut panas, telinganya sedikit berdenging. Ia menunduk sesaat, napasnya tersengal, tapi cengkeramannya tak kendur sedikit pun. "Begini caramu membalas pacar yang setengah mati mengkhawatirkanmu?" desisnya tanpa mengangkat kepala. "Aku nyaris gila, Angelin. Nyaris gila!" "Lepasin!" Angelin menghentak lagi. "Kenapa dulu aku mau pacaran denganmu? Bodoh sekali aku!" Henry mengangkat kepala perlahan. Amarah di wajahnya hilang begitu saja, digantikan sesuatu yang jauh lebih dingin. Ia menggeleng pelan, menenangkan dirinya sendiri. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu." Suaranya turun, nyaris berbisik. Justru nada tenang itulah yang membuat bulu kuduk Angelin merinding. Lama mereka saling menatap. Tiba-tiba Angelin meludah ke arah wajah Henry. "Menjijikkan!" Henry akhirnya melepaskan lengan Angelin begitu saja, sehingga Angelin terhuyung selangkah ke belakang. Pria itu mengusap wajahnya, lalu tanpa aba-aba menyambar kunci mobil dari meja, melewati Angelin tanpa menoleh, dan membanting pintu hingga dinding bergetar. Angelin berdiri sendirian di tengah ruangan. Ia menatap pergelangan tangannya yang memerah, tapi tak ada setetes pun air mata yang jatuh. Bodoh. --- Di sisi lain kota, Kaeel berdiri di balkon apartemennya di lantai dua puluh. Lampu-lampu malam terhampar di bawah seperti kunang-kunang, dan angin dingin menyisir ujung jasnya yang belum sempat dilepas sejak pulang kerja. Sebatang rokok mengepul tipis di sela jarinya. Ketenangan itu hanya bertahan sampai ponsel di saku jasnya bergetar. Ia menghela napas pendek sebelum merogohnya. Henry. Malas, ia menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinga. "Ada apa?" Napas Henry terdengar memburu di seberang, kasar dan berat, seperti baru berlari atau sedang menahan sesuatu. Di latar belakang terdengar suara mesin mobil yang digas dalam-dalam. "Kamu ada waktu?" Suaranya serak. "Aku tunggu di Bar Graple. Aku yang traktir." "Sekarang juga?" Sambungan terputus. Kaeel menatap layar yang gelap itu sesaat. "Kali ini apa?" gumamnya pelan, hampir tersapu angin malam. Ia merapikan kerah jasnya yang sedikit lecek, mematikan rokok di tepi pagar balkon, menjentikkan puntungnya ke asbak, lalu meraih kunci mobil di samping asbak. Henry, anak konglomerat itu, terbiasa mendapat semua yang ia mau, dan sejauh ini, hanya Angelin yang tidak bisa ia kendalikan dengan uangnya. --- Lima belas menit kemudian, Kaeel tiba di Bar Graple. Ia turun dari mobilnya perlahan dan menatap papan neon di atas pintu. "Pertunjukan konyol dimulai lagi," gumamnya datar. Di dalam, musik menghantam d**a. Orang-orang berjoget, melempar uang pada penari, bermesraan terang-terangan. Kaeel melewati semuanya tanpa menoleh. Dua pria di dekat pintu spontan menyingkir memberinya jalan. Henry duduk di meja paling ujung, hampir terasing, dengan botol alkohol yang tinggal separuh. Kaeel menarik kursi dan duduk. "Kau menyuruhku keluar tengah malam. Sebaiknya ini menarik." Henry menenggak botolnya dalam sekali gerakan. Matanya sayu. "Sialan, tak ada yang menarik di sini. Hanya ada pria bodoh yang frustrasi," katanya dibarengi dengusan kasar. "Sudah kubilang dua tahun lalu," sahut Kaeel, "jauhi wanita itu." Henry tak mendengarkan. Ia terus meracau. "Kenapa sahabat perempuanmu itu makin menyebalkan, tapi makin sulit kulepaskan?" Kaeel mengangkat dua jari. Pelayan datang sebelum tangannya turun. "Bluegail." "Dia pulang jam segini... pakai baju begitu... Aku sudah bilang jangan pakai baju itu." Ia menepuk meja pelan. "Aku hanya peduli padanya. Kenapa dia sulit sekali untuk disayangi." Kaeel menyalakan rokok. "Kau terlalu mabuk." "Ya, benar. Aku benar-benar mabuk oleh wanita itu." "Sebaiknya kau berhenti minum." Ia mengembuskan asap pelan. Henry tak mendengarkan sama sekali. Ia melanjutkan menenggak botol minumannya. Kaeel menyesap minumannya yang baru datang dan membiarkan Henry bicara pada udara. Wajahnya tak berubah sedikit pun. Ponsel Kaeel tiba-tiba bergetar di balik jas. Saat ia memeriksanya, nama Angelin muncul di layar. Ia mengetuk notifikasi itu. *Pengecut itu pasti lagi sama kamu, kan? Dia lagi ngeluh soal aku?* Kaeel melirik Henry sebentar, lalu mengetik satu kata. *Kenapa?* Balasan tiba tanpa waktu lama. *Aku nggak peduli kamu kasih ini ke dia atau nggak.* Sebuah foto menyusul. Ikon pemuatan berputar, lalu gambarnya terbuka. Angelin menyeringai nakal ke kamera, mengenakan gaun ketat yang paling dibenci Henry. Di lehernya terikat choker beludru hitam. Seorang pria asing merangkulnya erat, sebelah lengannya melingkari pinggang wanita itu. Ekspresi Kaeel tak berubah. Hanya jempolnya yang berhenti di atas layar, dan abu rokoknya jatuh tanpa sempat ia ketuk. Ia membalik ponselnya menghadap meja. Di seberang, Henry tiba-tiba mengangkat kepala. "Hei. Siapa yang kirim pesan?" Kaeel menyesap Bluegail-nya perlahan. Matanya tak lepas dari layar yang telah gelap itu. "Tidak penting."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.2M
bc

The Silver Wolf

read
486.5K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.0M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
863.7K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.1M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.2M
bc

Unscentable

read
2.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook