Malam di pinggiran kota seharusnya tenang, namun bagi Dimitri Volkov, kesunyian adalah bahasa yang paling mencurigakan. Setelah hari pertama kuliah yang melelahkan, dia berdiri di dapur kecil apartemen mereka, memotong bawang bombay dengan gerakan yang terlalu presisi. Pisau dapur murahan di tangannya bergerak seperti alat bedah; cepat, tanpa suara, dan konsisten.
Katarina sedang di ruang tamu, tertidur pulas di atas buku sosiologinya. Televisi menyala pelan, menyiarkan berita tentang hilangnya tiga anggota geng "Red Fang" secara misterius dalam semalam. Dimitri melirik layar sekilas, lalu kembali ke masakannya. Dia tahu ke mana mereka pergi. Mereka tidak hilang; mereka hanya sedang "dibersihkan" oleh agen-agen Ouroboros agar tidak mengganggu kedamaian sementaranya.
Namun, Dimitri merasakan ada yang salah. Udara di luar apartemen mendadak terasa lebih berat.
Satu motor di ujung jalan. Dua mobil van hitam terparkir 200 meter dari sini. Terlalu banyak emisi karbon untuk lingkungan sesepi ini.
Dimitri mematikan kompor. Dia mengelap tangannya pada handuk kain, lalu berjalan mendekati Katarina. Dia menatap wajah adiknya yang tenang. Inilah satu-satunya alasan mengapa dia tidak meledakkan gedung yayasan kampus tadi siang saat Marco menghinanya.
"Kat," bisik Dimitri sambil menyentuh bahu adiknya lembut.
Katarina mengerang kecil, membuka matanya yang masih mengantuk. "Dimi? Jam berapa ini?"
"Pakai jaketmu. Kita harus pergi belanja ke supermarket 24 jam di pusat kota," ucap Dimitri. Suaranya tenang, namun ada nada imperatif yang tidak terbantahkan.
"Sekarang? Tapi aku masih mengantuk..."
"Sekarang, Kat. Aku tiba-tiba ingin makan daging domba segar," dusta Dimitri.
Saat Katarina bangkit dengan malas, Dimitri berjalan ke arah jendela yang tertutup tirai tipis. Dia tidak menyibaknya. Dia hanya melihat melalui celah kecil di dekat bingkai kayu. Di bawah sana, di balik rerimbunan pohon palem, dia melihat pantulan cahaya bulan pada lensa optik.
Sniper. Amatir.
Seorang sniper profesional tidak akan membiarkan lensanya memantulkan cahaya. Ini adalah serangan dari organisasi lokal yang merasa terhina—atau mungkin ini adalah jebakan untuk memancingnya bergerak.
"Ayo, Kak. Aku sudah siap," ucap Katarina.
Dimitri menuntun adiknya keluar melalui pintu belakang, melewati tangga darurat yang berkarat. Setiap langkah yang mereka ambil dikalkulasi dengan cermat agar tidak menimbulkan bunyi decit yang berlebihan. Di lorong bawah, Dimitri berhenti sejenak. Dia mencium bau bensin yang menyengat.
Mereka berencana membakar gedung ini.
Amarah dingin mulai merayap di tulang belakang Dimitri. Jika dia sendiri, dia bisa menghabisi sepuluh orang di lorong ini dalam hitungan detik. Tapi ada Katarina. Dia tidak boleh membiarkan adiknya melihat sisi "binatang" dalam dirinya.
"Kat, masuk ke dalam bagasi mobil ini," Dimitri membuka bagasi sedan tua yang mereka miliki.
"Apa?! Dimi, kamu gila? Kenapa aku harus masuk ke sana?" Katarina menatap kakaknya dengan ngeri.
Dimitri memegang kedua bahu adiknya. Matanya yang biasanya dingin kini memancarkan intensitas yang membuat Katarina terdiam. "Percaya padaku. Ini permainan yang pernah kita mainkan saat kecil di Moskow, ingat? Petak umpet. Jangan keluar, jangan bersuara, sampai aku membuka pintunya. Paham?"
Katarina melihat keseriusan yang mematikan di mata kakaknya. Dia mengangguk pelan dan meringkuk di dalam bagasi yang sempit itu. Dimitri menutupnya dengan sangat lembut.
Sekarang, "Amor Tigro" tidak lagi memiliki beban.
Dimitri menegakkan punggungnya. Bunyi sendi lehernya yang berderak terdengar seperti guntur di keheningan basement. Dia mengambil sebuah pipa besi yang tergeletak di pojok ruangan. Di tangan orang biasa, itu hanyalah sampah. Di tangan Dimitri, itu adalah instrumen kematian.
Tiga pria muncul dari balik pilar beton. Mereka mengenakan topeng ski dan membawa parang.
"Mana adikmu, Pak Tua?" tanya salah satu dari mereka. "Bos Marco ingin dia membayar utang darah semalam."
Dimitri tidak menjawab. Dia hanya melangkah maju. Langkahnya tidak lagi seperti mahasiswa berumur 35 tahun yang kikuk; langkahnya adalah langkah predator yang sedang menutup jarak dengan mangsanya.
"Serang dia!"
Pria pertama mengayunkan parang secara vertikal. Dimitri bergeser hanya beberapa sentimeter—sebuah gerakan minimalis yang sangat efisien. Dia membiarkan parang itu menebas udara, lalu dengan satu hentakan cepat, pipa besi di tangannya menghantam tempurung lutut si penyerang.
Krak!
Suara tulang yang hancur bergema di basement. Dimitri tidak berhenti. Dia memutar tubuhnya, menggunakan momentum untuk menghantamkan ujung pipa ke ulu hati pria kedua, membuatnya sesak napas seketika hingga matanya membelalak keluar.
Pria ketiga, yang membawa pistol rakitan, mencoba membidik. Namun Dimitri melemparkan pipa besinya seperti tombak. Pipa itu melesat, menghantam pergelangan tangan si pria hingga tulang radisnya patah, membuat pistol itu jatuh ke lantai.
Dimitri mendekati pria ketiga yang merintih kesakitan. Dia mencengkeram leher pria itu, mengangkatnya hingga kakinya tidak lagi menyentuh tanah.
"Siapa yang mengirim kalian? Marco? Atau ayahnya?" tanya Dimitri. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan iblis.
"K-kami hanya... disuruh... organisasi 'Taring Hitam'..."
"Taring Hitam?" Dimitri mendengus. "Organisasi sampah yang bahkan tidak masuk dalam daftar radar Interpol."
Tiba-tiba, sebuah suara tawa terdengar dari pengeras suara gedung. "Hebat sekali, Amor Tigro. Ternyata benar, singa yang sudah tua pun masih bisa menggigit."
Dimitri melepaskan cengkeramannya. Dia menatap ke arah kamera CCTV di sudut ruangan.
"Siapa kamu?" tanya Dimitri.
"Panggil aku Vulture. Aku dari organisasi peringkat 12, The Carrion. Kami tidak peduli dengan urusan bocah ingusan seperti Marco, tapi kepalamu punya nilai 50 juta Euro di pasar gelap Rusia. Kami hanya menggunakan anak-anak 'Taring Hitam' ini sebagai umpan untuk melihat gaya bertarungmu."
Dimitri terdiam. Dia menyadari bahwa status "pensiun"-nya telah gagal total. Dunia bawah tanah sudah mencium aromanya.
"Kamu membuat kesalahan besar, Vulture," ucap Dimitri. "Kamu melibatkan adikku."
"Oh, adikkmu yang manis di dalam bagasi itu? Tenang saja, setelah kami membunuhmu, dia akan menjadi komoditas yang sangat berharga di—"
Kalimat itu belum selesai ketika Dimitri menghantamkan tinjunya ke kamera CCTV hingga hancur berkeping-keping.
Dimitri berjalan kembali ke mobilnya. Dia membuka bagasi, menemukan Katarina yang gemetar ketakutan.
"Dimi? Apa itu tadi? Aku mendengar suara... sesuatu yang patah," tanya Katarina dengan suara bergetar.
Dimitri menggendong adiknya keluar, menutup matanya dengan telapak tangannya agar tidak melihat tiga tubuh yang tergeletak tak berdaya di lantai basement. "Hanya kucing liar yang bertengkar, Kat. Ayo, kita pindah tempat. Apartemen ini sudah tidak aman karena ada kebocoran gas."
Malam itu, Dimitri tidak membawa adiknya ke supermarket. Dia membawanya ke sebuah hotel mewah di pusat kota yang dimiliki oleh salah satu perusahaan cangkang milik The Iron Ouroboros.
Setelah memastikan Katarina aman di dalam kamar yang dijaga oleh dua agen menyamar, Dimitri berdiri di balkon hotel, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Dia mengeluarkan sebuah ponsel satelit kuno dari saku rahasia tasnya. Dia menekan satu nomor yang sudah bertahun-tahun tidak dia hubungi.
"Ini aku," ucap Dimitri saat telepon diangkat.
"Tuan Besar..." suara di seberang sana terdengar gemetar karena haru. "Anda kembali?"
"Aktifkan protokol Silent Forest. Aku ingin setiap anggota organisasi 'Taring Hitam' dan siapa pun yang berafiliasi dengan The Carrion di kota ini menghilang sebelum matahari terbit. Jangan sisakan satu pun saksi."
"Dimengerti, Tuan. Bagaimana dengan Anda?"
Dimitri menatap tangannya yang sedikit ternoda darah. "Aku akan tetap kuliah besok. Ada tugas esai yang harus aku kumpulkan. Tapi setelah itu... aku akan mencari Vulture."
Dimitri menutup teleponnya. Di bawah sana, di jalanan kota, beberapa mobil hitam mulai bergerak serempak. Para predator lama telah turun gunung, bukan untuk mencari kekuasaan, tapi untuk melindungi raja mereka yang sedang mencoba menjadi manusia.
Dimitri kembali masuk ke kamar, duduk di kursi kayu sambil memperhatikan adiknya tidur. Di atas meja, buku catatan kuliahnya terbuka pada halaman pertama: "Teori Perdamaian Dunia".
Ironi itu tidak luput darinya. Untuk menjaga perdamaian adiknya, dia harus menciptakan perang yang paling berdarah.