BAB 2: Mahasiswa Berumur Tiga Puluh Lima

1357 Kata
‎Pagi itu, Universitas Global Nusantara terlihat seperti sarang semut yang terlalu bersemangat. Ribuan mahasiswa baru berlarian dengan kemeja putih dan celana kain hitam, wajah-wajah mereka penuh dengan kecemasan naif tentang ospek dan pertemanan. Di tengah kerumunan itu, Dimitri Volkov berdiri diam seperti batu karang yang tidak sengaja terdampar di tengah pesta pantai. ‎ ‎Dia mengenakan ransel hitam polos. Di dalamnya tidak ada s*****a, hanya satu buku catatan, dua pulpen, dan sebuah botol minum. Baginya, menyamar sebagai mahasiswa adalah misi infiltrasi paling konyol sekaligus paling sulit yang pernah dia jalani. ‎ ‎"Dimi, kerah bajumu berantakan," Katarina muncul dari belakang, menarik kerah kemeja kakaknya agar lebih rapi. Gadis itu tampak jauh lebih segar hari ini, meski ada sedikit bayang-bayang ketakutan di matanya jika dia melihat ke arah pintu masuk kampus. ‎ ‎"Aku bisa melakukannya sendiri, Kat," gumam Dimitri. ‎ ‎"Kamu itu kaku sekali. Ingat ya, di sini kamu itu 'Dimitri, abangku yang baru pulang dari kerja di kargo Rusia'. Jangan menatap orang seolah-olah kamu ingin membedah mereka," bisik Katarina memperingatkan sebelum melambaikan tangan dan menuju fakultasnya sendiri. ‎ ‎Dimitri menghela napas. Dia berjalan menuju gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Setiap langkahnya adalah hasil perhitungan. Dia tidak berjalan di tengah trotoar; dia mengambil sisi kiri, di mana bayangan gedung melindunginya dan punggungnya selalu menghadap ke tembok atau pilar. Kebiasaan mati yang sulit dihilangkan. ‎ ‎Di koridor menuju aula besar, langkahnya terhenti. Indra pendengarannya yang tajam menangkap suara tawa yang kasar dari balik belokan. ‎ ‎"Lihat siapa ini? Si beasiswa miskin yang kemarin menangis di kafe." ‎ ‎Dimitri mengenali suara itu. Itu adalah salah satu dari gerombolan "Red Fang" kemarin, namun kali ini suaranya terdengar lebih percaya diri. Dimitri melangkah pelan, menyandarkan bahunya di tembok, mengintip tipis. ‎ ‎Katarina sedang dikelilingi oleh tiga orang. Di tengah mereka berdiri seorang pemuda berambut klimis dengan jam tangan Rolex yang berkilau pamer—sosok yang terlihat seperti anak orang kaya yang merasa hukum bisa dibeli dengan uang saku bulanannya. ‎ ‎"Namaku Marco," ucap pemuda itu sambil memutar-mutar kunci mobil sport di jarinya. "Kakakmu kemarin mematahkan tangan anak buahku. Kamu tahu berapa biaya rumah sakitnya? Atau aku harus menagihnya dengan 'cara lain'?" ‎ ‎Tangan Marco terjulur, mencoba menarik tali tas Katarina. ‎Satu... dua... Dimitri menghitung dalam hati. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menahan diri. Namun, saat dia melihat jari Marco menyentuh helai rambut adiknya, sirkuit di otaknya yang mengatur "belas kasihan" mendadak putus. ‎ ‎Dimitri muncul dari balik tembok. Dia tidak berlari. Dia hanya berjalan dengan langkah berat yang bergema di koridor sunyi itu. ‎ ‎"Katarina. Masuk ke kelas," suara Dimitri rendah, namun memiliki resonansi yang membuat Marco tersentak. ‎ ‎"Oh, ini dia si 'Paman kargo'?" Marco tertawa, menoleh ke arah teman-temannya yang bertubuh besar—mungkin atlet rugby atau pengawal sewaan. "Hei, Pak Tua. Kamu di tempat yang salah. Ini kampus, bukan pelabuhan." ‎ ‎Dimitri mengabaikan ejekan itu. Dia menatap Katarina yang wajahnya sudah memucat. "Masuk, Kat. Sekarang." ‎ ‎Katarina ragu sejenak, namun melihat kilat di mata kakaknya yang menyerupai badai salju di Siberia, dia mengangguk dan berlari menjauh. ‎ ‎Kini tinggal Dimitri dan tiga pemuda itu. Marco melangkah maju, wajahnya hanya terpaut beberapa inci dari wajah Dimitri. "Kamu pikir karena kamu bisa bela diri jalanan, kamu hebat? Ayahku adalah pemilik yayasan di sini. Satu telepon, dan kamu serta adikmu akan tidur di kolong jembatan malam ini." ‎ ‎Dimitri menatap mata Marco. Dia tidak melihat seorang musuh; dia melihat seekor serangga yang merasa dirinya naga. "Kamu bicara terlalu banyak," ucap Dimitri datar. ‎ ‎"Apa?! Kamu—" ‎ ‎Sebelum Marco bisa menyelesaikan makiannya, tangan Dimitri bergerak. Bukan pukulan. Dia hanya mencengkeram rahang Marco dengan satu tangan. Kekuatannya begitu masif hingga Marco terpaksa menjinjit karena tulang rahangnya terasa seperti akan hancur menjadi bubuk. ‎ ‎"Dengar, Nak," bisik Dimitri di telinga Marco. Suaranya begitu tenang hingga terdengar mengerikan. "Dunia ini jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan otak kecilmu. Ada orang-orang yang hanya dengan menyebut namanya, ayahmu akan sujud memohon ampun. Aku adalah alasan mengapa orang-orang seperti itu tidak berani keluar di malam hari." ‎ ‎Dua teman Marco mencoba maju, namun Dimitri hanya melirik mereka sedikit. Hanya sebuah lirikan, namun aura predator yang terpancar membuat langkah mereka membeku. Mereka merasa seolah-olah sedang menatap moncong senapan yang sudah terkokang. ‎ ‎Dimitri melepaskan cengkeramannya. Marco jatuh terduduk, memegangi rahangnya yang gemetar hebat. ‎"Jangan ganggu adikku lagi. Ini peringatan terakhir yang paling ramah yang bisa ku ‎berikan" kata Dimitri sebelum berbalik pergi menuju kelas pertamanya. ‎Kelas Hubungan Internasional itu penuh sesak. Dimitri memilih kursi paling belakang, di sudut yang memberinya pandangan penuh ke arah pintu dan jendela. Dia membuka bukunya, berpura-pura menulis, padahal otaknya sedang memproses sebuah anomali. ‎Seorang wanita duduk di dua baris di depannya. Rambutnya pirang abu-abu, diikat rapi. Dia mengenakan kacamata, namun cara dia memperhatikan ruangan bukan seperti seorang mahasiswa yang penasaran. Matanya terus melirik ke arah refleksi di kaca jendela. ‎Profesional. ‎Dimitri memperlambat detak jantungnya. Dia tahu wanita itu bukan mahasiswi biasa. Dari cara bahunya bergerak dan bagaimana dia menaruh tasnya—posisi yang memudahkan pengambilan s*****a dalam waktu kurang dari satu detik—Dimitri tahu dia sedang diawasi. ‎Setelah kelas usai, wanita itu sengaja menunggu di pintu. Saat Dimitri lewat, dia menjatuhkan sebuah buku kecil tepat di depan kaki Dimitri. ‎Dimitri mengambilnya. Sebuah paspor palsu dengan foto dirinya sepuluh tahun lalu. Nama yang tertera di sana: Alexei. ‎"Anda menjatuhkan ini, Nona?" tanya Dimitri, suaranya tetap datar tanpa emosi. ‎Wanita itu tersenyum, senyum yang tajam seperti belati. "Terima kasih, Pak Volkov. Atau haruskah aku memanggilmu 'Harimau'?" ‎Dimitri tidak terkejut. Dia justru merasa sedikit lega. Akhirnya, permainan yang sebenarnya dimulai. "Siapa yang mengirimmu? CIA? Atau sisa-sisa faksi Moskow?" ‎"Bukan keduanya," wanita itu mendekat, aroma parfumnya berbaur dengan bau mesiu yang samar—hanya hidung seorang pembunuh yang bisa mengenalinya. "Organisasi peringkat 18, The Silent Needle. Kami disewa oleh seseorang untuk memastikan apakah legenda itu benar-benar sudah melunak di bangku kuliah." ‎"Peringkat 18?" Dimitri mendengus kecil, sebuah tawa kering yang jarang terdengar. "Kalian mengirim amatir untuk mengganggu masa pensiunku?" ‎"Amatir?" Wanita itu merogoh sesuatu di balik jaketnya, namun sebelum jarinya menyentuh apa pun, dia merasakan sesuatu yang dingin dan keras menempel di pinggangnya. ‎Itu bukan pistol. Itu adalah pulpen plastik milik Dimitri yang ujungnya telah dia asah di atas batu saat kelas berlangsung. Posisi pulpen itu tepat berada di antara dua tulang rusuk yang mengarah langsung ke jantung. ‎"Jangan," bisik Dimitri. "Di sini banyak saksi. Aku tidak ingin mengotori lantai kampus di hari pertamaku." ‎Wanita itu membeku. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Dia tidak melihat kapan Dimitri bergerak. Dia bahkan tidak merasakan pria itu mendekat. ‎"Katakan pada majikanmu," lanjut Dimitri, "Aku sedang berusaha menjadi manusia yang baik. Tapi jika kalian memaksa 'Harimau' ini untuk berburu lagi... aku tidak akan berhenti sampai organisasi kalian dihapus dari sejarah." ‎Dimitri menarik pulpennya, memasukkannya kembali ke saku, dan berjalan melewati wanita itu seolah-olah mereka baru saja membicarakan cuaca. ‎Di kejauhan, di atas atap gedung perpustakaan, seorang penembak jitu membidik kepala Dimitri melalui teleskop Schmidt & Bender. Namun, saat jarinya hendak menekan pelatuk, dia merasakan sebuah moncong senapan lain sudah menempel di belakang kepalanya sendiri. ‎"Turunkan senjatamu, Nak," sebuah suara berat dengan aksen Rusia yang kental terdengar di belakang si penembak jitu. "Tuan Muda sedang belajar. Jangan ganggu waktu kuliahnya, atau kepalamu akan menghiasi taman kampus ini." ‎Pria di belakang penembak jitu itu mengenakan setelan jas hitam rapi dengan pin perak berbentuk ular yang menggigit ekornya sendiri—simbol The Iron Ouroboros. ‎Dimitri berjalan di bawah, dia tahu rekan-rekan lamanya menjaganya dari jauh. Dia menatap langit sore yang mulai menguning. Dia hanya ingin hidup tenang bersama adiknya. Tapi sepertinya, dunia tidak akan membiarkan seorang iblis beristirahat dalam damai. ‎"Dimi! Ayo pulang!" teriak Katarina dari jauh, melambaikan tangan dengan ceria. ‎Dimitri tersenyum tipis. Kegelapan di matanya sejenak sirna, digantikan oleh kehangatan yang rapuh. Dia berjalaan menghampiri adiknya, meninggalkan bayang-bayang kematian yang terus mengekor di belakangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN