BAB 1: Bau Darah di Balik Wangi Kopi

1138 Kata
Dimitri Alexei Volkov tidak pernah menyukai bau kopi yang terlalu pekat. Baginya, aroma itu selalu mengingatkan pada kafe-kafe remang di sudut St. Petersburg, tempat dia biasa menunggu target dengan jari telunjuk yang menempel pada pelatuk dingin. Namun siang ini, di sebuah kafe kecil di sudut kota yang gerah, dia harus terbiasa. Di depannya, seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda sedang sibuk mencoret-coret buku kalkulus. Katarina. Adiknya. Sepuluh tahun Dimitri hidup dalam lubang hitam, percaya bahwa seluruh keluarganya telah menjadi abu saat faksi pengkhianat di Moskow meledakkan apartemen mereka. Dia berubah menjadi Amor Tigro—Membunuh dengan Hati—seorang hantu yang ditakuti Interpol karena kemampuannya mencabut nyawa tanpa menyisakan jeritan. Namun, sebulan lalu, sebuah intelijen rahasia dari organisasi lamanya, The Iron Ouroboros, mengirimkan koordinat yang mengubah segalanya. Katarina masih hidup. Dan dia hanya seorang mahasiswi biasa yang hobi mengeluh tentang dosen statistika. "Dimi, kamu melamun lagi. Es krimmu sudah jadi genangan s**u tuh," suara Katarina memecah keheningan batin Dimitri. Dimitri mengerjapkan mata. Pupil matanya yang berwarna abu-abu baja, yang biasanya memindai titik nadi di leher lawan, kini dipaksa fokus pada sendok plastik kecil. "Hanya... sedikit pusing dengan persiapan kuliah besok," dustanya. Suaranya serak, seperti suara logam yang bergesekan, hasil dari tahun-tahun di mana dia lebih banyak diam atau memberi perintah eksekusi. "Makanya, jangan terlalu ambisius. Umurmu sudah tiga puluh lima, Kak. Jadi mahasiswa baru di umur segini itu berat," Katarina tertawa kecil, suara yang bagi Dimitri lebih merdu daripada dentang koin emas hasil kontrak pembunuhan. Tepat saat Dimitri hendak membalas, lonceng di pintu kafe berdenting keras. Bukan denting yang sopan, tapi dentuman yang dipaksakan. Lima pria masuk. Mereka memakai jaket kulit imitasi dengan logo "Red Fang"—geng lokal yang merasa memiliki jalanan ini. Atmosfer di dalam kafe mendadak berubah. Para pengunjung lain menunduk, pura-pura sibuk dengan ponsel mereka. Udara mendadak terasa tipis, penuh dengan kecemasan yang mencekik. Dimitri tidak menoleh. Dia tidak perlu melihat untuk tahu posisi mereka. Instingnya, yang telah diasah melalui latihan Systema yang brutal, langsung memetakan ruangan. Langkah kaki berat di jam 2. Napas tidak teratur di jam 4. Bau nikotin murah dan alkohol basi di jam 11. "Hei, Kat! Ternyata kamu di sini," salah satu dari mereka, pria dengan tato kalajengking di jakunnya, menendang kursi di meja sebelah. "Bos bilang kamu telat bayar uang perlindungan untuk toko bungamu. Kamu pikir kita ini yayasan amal?" Katarina memucat. Tangannya yang memegang pulpen mulai bergetar. "Aku... aku sudah bayar minggu lalu. Roy bilang itu cukup untuk sebulan." "Roy tertangkap polisi kemarin. Jadi, kesepakatan itu hangus," si tato kalajengking mendekat, tangannya yang kasar hendak menyentuh pipi Katarina. Dimitri masih duduk diam. Secara lahiriah, dia tampak seperti pria tua yang kikuk dengan kemeja flanel yang sedikit kebesaran. Namun di bawah meja, otot-otot kakinya sudah mengunci posisi. Dia menghitung detik. Dia ingin menjadi manusia normal, dia benar-benar ingin pensiun. Tapi ketika dia melihat setetes air mata mulai menggenang di sudut mata adiknya, sesuatu di dalam dirinya yang sudah lama dia kunci, mulai mendobrak keluar. Brak! Si tato kalajengking menggebrak meja, membuat kopi Katarina tumpah membasahi buku tugasnya. "Jangan sok tuli, Cantik. Ikut kami sekarang atau—" "Tanganmu," suara Dimitri memotong pembicaraan. Pelan, dingin, dan memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah. Si preman menoleh, menatap Dimitri dengan tatapan meremehkan. "Apa kamu bilang, Om-om?" Dimitri mendongak. Untuk pertama kalinya, dia melepaskan sedikit—hanya sedikit—aura dari masa lalunya. Matanya yang tadinya sayu mendadak menjadi setajam silet yang siap menyayat. "Singkirkan tanganmu dari mejanya. Sebelum aku lupa bagaimana cara menjadi warga negara yang baik." Tawa pecah dari gerombolan itu. "Dengar ini! Paman ini mau jadi pahlawan!" Si tato kalajengking merogoh pinggangnya, mengeluarkan pisau lipat dan memainkannya dengan gerakan amatir yang memuakkan bagi mata Dimitri. "Pergi sana sebelum aku membuat lubang baru di perut buncitmu itu." "Kak, sudah... jangan," bisik Katarina ketakutan, dia tahu kakaknya baru saja kembali dari "bekerja di luar negeri" dan tidak ingin kakaknya celaka. Dia tidak tahu bahwa pria yang duduk di depannya adalah alasan mengapa para diktator di Eropa Timur tidak bisa tidur nyenyak. Dimitri berdiri. Gerakannya sangat lambat, namun memberikan tekanan psikologis yang luar biasa. Dia berdiri satu kepala lebih tinggi dari si preman. "Katarina, tutup matamu," perintah Dimitri. "Tapi Kak—" "Tutup. Matamu." Katarina terkesiap dan refleks memejamkan mata. Dalam hitungan milidetik, saat si preman hendak mengayunkan pisaunya, Dimitri bergerak. Itu bukan pukulan biasa. Itu adalah seni penghancuran. Tangan kiri Dimitri menangkap pergelangan tangan lawan, sementara telapak tangan kanannya menghantam sendi siku si preman dari arah berlawanan. Krak! Bunyi tulang yang patah terdengar seperti ranting kering yang diinjak. Si tato kalajengking bahkan tidak sempat berteriak sebelum Dimitri menekan titik saraf di lehernya, membungkam suaranya secara paksa. Empat temannya yang lain terpaku. Mereka tidak melihat kecepatan itu. Mereka hanya melihat teman mereka tiba-tiba terkulai lemas seperti boneka kain di tangan pria flanel itu. "Apa yang kalian lihat?" tanya Dimitri datar. Dia menjatuhkan tubuh pria itu ke lantai dengan bunyi debub yang berat. "Bawa teman kalian keluar. Dan beri tahu bos kalian... jika ada satu butir debu pun jatuh ke kepala adikku lagi, aku akan mendatangi rumahnya. Bukan untuk bicara, tapi untuk memastikan dia tidak punya rumah lagi untuk ditinggali." Salah satu dari mereka mencoba mengeluarkan pistol rakitan. Dimitri tidak memberinya kesempatan. Dengan gerakan yang hampir tidak tertangkap mata, dia melempar sendok besi kecil dari mejanya. Sendok itu melesat, menghantam saraf di punggung tangan si pemegang pistol hingga senjatanya terjatuh. "Pergi," kata Dimitri. Satu kata itu mengandung getaran kematian yang begitu nyata hingga keempat preman itu merasa bulu kuduk mereka berdiri. Mereka menyambar tubuh pimpinan mereka dan lari tunggang langgang keluar kafe, meninggalkan jejak bau pesing di lantai. Dimitri menghela napas panjang. Dia merapikan kembali kemejanya, mengambil tisu, dan mulai mengelap tumpahan kopi di buku kalkulus Katarina seolah-olah baru saja mengusir seekor lalat. "Sudah, Kat. Mereka sudah pergi," ucap Dimitri, suaranya kembali lembut, meski sisa-sisa kegelapan masih menari di matanya. Katarina membuka mata, melihat kakaknya yang tenang dan kafe yang mendadak sunyi. Dia menatap Dimitri dengan bingung. "Kak... bagaimana bisa?" "Mereka hanya pengecut, Kat. Orang-orang seperti itu akan lari jika kamu berdiri tegak," jawab Dimitri sambil tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata. Di luar kafe, di dalam sebuah mobil SUV hitam yang terparkir jauh, seorang pria dengan teropong menurunkan alatnya. Dia gemetar. Dia segera mengambil radio komunikasi. "Lapor. Kode 0-1 terdeteksi di sektor 7. Amor Tigro telah bangun dari tidurnya. Ulangi, Harimau itu telah bangun." Dimitri melirik ke arah jendela, seolah tahu ada yang mengawasinya dari kejauhan. Dia tahu masa pensiunnya tidak akan semudah yang dia bayangkan. Tapi saat dia melihat adiknya kembali tersenyum tipis meski masih trauma, Dimitri tahu satu hal: Dia akan membakar seluruh dunia jika itu diperlukan untuk menjaga senyum tersebut tetap ada. Kuliah akan dimulai besok. Dan bagi siapa pun yang mencoba mengusik kedamaiannya, mereka baru saja mendaftarkan diri ke pemakaman paling sunyi di dunia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN