Cuma salah satu

2647 Kata
Bola mata Nolan bergeser ngeri dari ketiga tuan muda pada tuannya. Tatapan tidak senang bercampur kesal memenuhi matanya. Itu telah berlangsung sejak mereka bergabung di meja makan. Suga mendorong sedikit wajahnya ke pada Saga tanpa melepas pandangan dari sang papa. "Papa lo kenapa?" "Palingan ngambek karena gak diajak piknik sama mama." Giliran Saga mendorong tubuhnya ke pada Suga. "Salah sendiri jadi duda yang tidak menarik di mata mama." "Barangkali karena wajahnya kurang tampan," sahut Suga. "Atau karena gayanya yang terlampau kuno." Andrew meletakkan sendok dan garpunya. Menarik serbet untuk menyeka mulut. Mood makannya menurun drastis, sama seperti tadi siang ketika dia mendengar Arlin piknik bersama anak-anaknya. Oh jelas dia cemburu. Ketiga putranya selalu dengan mudah mendekati Arlin, sedangkan dia malah diperlakukan seperti parasit. Arlin bukan saja menunjukkan sikap tidak nyaman ketika bersamanya, malah selalu berusaha menghindar. Apa coba yang salah dengan dirinya? Terlalu tampan kah hingga Arlin tidak sanggup lebih dekat? "Adam, tuh bujuk papa kamu." Mendengar perkataan Suga membuat Adam mengangkat bola mata jernihnya menuju Andrew. Ia tidak dapat menemukan sesuatu yang salah. "Mukanya itu masam loh, Dam," ujar Suga membantu Adam untuk mengerti. "Jelek banget kan?" Adam mengangguki. Nolan menahan tawa. Pembullyan nyata akan tuannya terjadi di depan mata. Pelakunya adalah anaknya sendiri pula. Sungguh lelucon luar biasa. "Kamu mentertawakan saya?" Nolan meluruskan lengkungan bibirnya dan menggeleng bersamaan. "Tidak, Tuan." "Kamu pikir saya buta?" Kepalanya tertunduk. Masih berusaha menahan tawa. Boleh saja di kantor memasang wajah seperti patung yang menekan semua karyawan, tapi kalau di rumah lain cerita. Dia adalah patung yang menjadi bahan bully-an ketiga anaknya. Lalu bagain paling menyenangkan adalah wajah marahnya yang bercampur ketidakberdayaan. Itulah alasan Nolan terus bertahan di bawah perintah Andrew. Karena pria tersebut tidak sedingin dan sekaku yang kelihatan. Memang, kepada semua orang dua sifat tersebut akan terus ditunjukkan. Tidak bagi orang-orang terdekatnya. Andrew akan menunjukkan sisi sebaliknya, yaitu sisi hangat yang istimewa. Usai makan malam hal biasa bagi mereka berkumpul di ruang tengah. Itu adalah basecamp keempatnya untuk bergabung menghabiskan waktu. Adam sudah cukup akan kebahagiaan hari ini. Dia dapat berjalan-jalan dengan Arlin, dimanja dan juga telah selesai makan malam. Kini waktunya dia menonton kartun. Saga sibuk bersama ponsel. Di sebelahnya Suga juga melakukan yang sama, sesekali ia melirik pada Andrew yang masih menatap mereka sinis. "Bujuk gih papa lo," bisiknya kepada Saga. "Dih ogah." "Cepetan ih. Semakin lama gue makin merinding. Jangan-jangan kita mau dirajam lagi." "Aelah besok palingan udah baik lagi." Andrew mengeluarkan ponselnya dari saku. Dia akan menunjukkan bahwa dirinya juga mendapat tempat di hati Arlin. Itu pasti kan? Semua yang melekat padanya adalah pesona untuk kaum hawa. Arlin pasti juga mendapatinya begitu. "Selamat malam, Pak." Suga dan Saga sama-sama mengangkat kepala. Bergedik jijik kemudian akan wajah sombong Andrew. "Selamat malam, Ar. Besok kamu luang tidak?" "Maaf, Pak. Saya ada urusan penting." Tawa keras Saga dan Suga melepas ke udara. Andrew mengeraskan rahang seraya bangkit. Dasar Arlin! Tidak bisa sekalipun membuat hatinya puas. "Arlin, kamu jangan pilih kasih. Tadi pagi kamu jalan-jalan bersama mereka tanpa mengajak saya. Besok harusnya adalah bagian saya." "Besok saya akan kembali ke kampung halaman. Saya benar-benar tidak punya waktu." "Kalau begitu biar saya mengantarkan kamu ke bandara." Dia bahkan tidak ingat lagi akan jadwal padanya besok. Yang terpenting kini adalah mengajak Arlin untuk jalan bersamanya. "Tidak perlu, sudah ada Indah untuk melakukan itu." "Arlin..apa saya begitu menjijikkan untuk kamu?" Terpaksa dia membuat drama, tepatnya berusaha mencari tahu alasan Arlin enggan berada di dekatnya. Dia cukup sadar diri. Umurnya sudah 42 tahun. Bukan fresh lagi seperti yang mungkin Arlin inginkan. Tapi rasanya itu tidak dapat menjadi masalah karena apa yang melekat padanya menutup rapat kekurangan tersebut. "Maaf, bapak bilang apa?" "Saya tahu kamu mendengarnya, Arlin." Matanya mendelik karena berikutnya suara tut tut saja yang terdengar. Oh bukan suara kereta api, tapi pertanda panggilan diputus. Pegangan tangan Andrew pada ponsel mengerat. "Arlin, kamu benar-benar membuat saya marah." *** "Kenapa lo tolak?" Arlin menoleh pada Indah di lantai yang tengah menonton drama korea. Padahal sejam yang lalu dia bilang hanya satu episode lagi, tapi entah kenapa masih bertahan sampai sekarang. "Bukannya sudah jelas. Gue gak suka sama dia. Kalau disetujui nanti malah dikira memberi harapan. Kan gue juga yang ujung-ujungnya keribetan." "Astaghfirullah, Ar. Lo ini b**o atau t***l sih? Pak Andrew loh. Andrew Thompson!" "Stop ah, Ndah." "Ngeyel bener dibilangin. Niat gue baik. Pak Andrew itu rezeki. Terima dong. Nanti keburu hilang baru lo tahu rasa." "Rezeki apaan sih." Arlin membuka aplikasi i********:. Tadi dia sempat mengambil beberapa foto di pantai. Lumayanlah untuk ditambahkan ke postingan. "Anyway, lo beneran mau pulang kampung?" "Ya enggak lah." Tidak bisa menahan kegemesan. Indah memukul lengan Arlin. "Yeee bohongin Pak Andrew. Dosa, Ar." "Sesekali." "Lama-lama kebiasaan." Dia tidak peduli. Yang penting besok dia tidak akan diteror oleh Andrew. Semoga saja begitu seterusnya. "Lo udah 23 tahun dan ada yang mau. Nikah dong, Ar. Gue kan mau punya ponakan." "Kenapa gak lo aja? Gue juga mau punya ponakan." "Jodoh gue belum sampai. Beda sama lo, sinyalnya udah terlihat." "Pak Andrew?Jodoh gue?" Alrin tertawa. "Jangan bercanda lo. Gue cuma guru biasa, jodoh gue gak mungkin seseorang yang luar biasa begitu." "Siapa juga yang bercanda." Indah melepas pandangan sepenuhnya dari layar laptop. Percayalah, kalau menyangkut Alrin dan Andrew dia akan rela meninggalkan tugas apapun. "Nih ya, Ar. Setiap orang yang ada di jalan kita itu memiliki makna. Sekalipun itu musuh lo atau orang asing yang lo lihat di bus. Mereka bukan sekedar terlihat di mata lo, tapi membawa makna. Pak Andrew, dia juga memiliki makna. Dan karena dia laki-laki, salah satu makna keberadaannya bisa jadi sinyal jodoh untuk lo." "Cuma salah satu. Itu berarti ada juga kemungkinan bahwa Pak Andrew sekedar pengecoh dari jodoh asli gue. Iya kan?" Ingin rasanya Indah mengetuk kepala Arlin agar sifat keras kepalanya mencair. Karena hanya begitu sajalah menurutnya Arlin mampu melihat Andrew dengan berbeda. Tapi dia tidak bisa melakukannya karena Arlin harus sadar sendiri. Satu-satunya yang bisa dia menjadi cara ya begini, sekedar memberikan pencerahan. "Gue tanya sekali lagi. Apa yang membuat lo menolak Pak Andrew?" Arlin mengedikkan bahu. "Gue gak tahu, gue cuma gak suka sama dia." "Ya kenapa? Suka ataupun gak suka itu punya alasan." "Well, gue gak tahu." "Tuh kan. Lo aja gak tahu. Berati lo hanya belum sadar, Ar. Besok dekat-dekat deh sama Pak Andrew. Lama kelamaan nanti lo pasti akan sadar sama perasaan lo." "Dih ogah." "Ngeyel banget ya lo dibilangin. Untung bukan anak gue." "Kalau iya?" "Gue gantung lo di tiang listrik biar modar." Indah mematikan laptopnya, menutup dan kemudian meletakkan ke nakas Arlin. Sudah cukup drama koreanya. Dia harus mandi. "Besok lo free kan? Temenin gue ke salon ya? Nanti gue traktir seblak deh satu mangkuk." "Saga ngajak ke taman buah." "Itu bocah makin lengket kayaknya." Niat mandinya pun urung. Ah pokoknya kalau tentang para Thompson dia selalu tertarik. "Saga tidak memiliki ibu. Meskipun ada papanya sebagai sumber kasih sayang, tapi tetap aja ada kecacatan karena dia tidak memiliki ibu. Wajar ketika gue memberikan kasih sayang dia jadi ketagihan. Toh dia memang kekurangan kasih sayang, tapi itu tetap tidak akan pernah merubah perasaan gue pada papanya. Tidak akan! Gue benar-benar hanya sayang kepada ketiga anak itu." "Kenapa lo sayang sama anak-anak itu? Meskipun mereka ganteng-ganteng, tapi mereka juga menyebalkan. Akan lebih baik jika lo sayang sama papanya karena itu membuat lo menerima cinta. Kalau begini, lo hanya memberi doang. Hayati aja memikirkannya lelah. Apalagi lo yang jalanin." "Gue gak tahu, tapi pertama kali melihat ketiganya membuat gue tertarik ingin memberikan mereka kebahagiaan." "Fix, lo adalah ibu yang dikirimkan Tuhan untuk mereka. Dan juga istri untuk Pak Andrew." "Ngawur lo!" "Hey, kebanyakan hal yang lo katakan ngawur adalah kenyataan. Hati-hati." "Dikira gue mau nyebrang apa." "Udah ah gue mau mandi. Ngomong sama lo mah malah bikin gue darah tinggi." Indah akhirnya beranjak dari lantai kamar Arlin setelah lima jam rebahan di atasnya. Tadi sore dia pulang lebih awal. Katanya karena supermarket tempatnya bekerja tengah mengadakan perbaikan, kegiatan operasional pun dikurangi untuk mempercepat perbaikan. Itu yang menjadi alasan dia memiliki waktu luang untuk menonton drama. "AR, GUE LAPAR." Arlin mendengus mendengar teriakan Indah. Padahal hanya terpisah dengan tembok saja, tapi teriakannya seolah jarak mereka antara Sumatra dan Amerika. Ngomong-ngomong soal lapar Arlin jadi teringat akan bahan makanan yang telah habis. Besok dia akan pergi ke taman buah, tentunya mewajibkan dia harus membuat makanan. Kalau begitu bukan sepertinya lagi, tapi dia memang harus pergi belanja. Bangkit dari kasur dan memasukkan ponsel ke saku. Arlin menatap pantulan dirinya di cermin. Piyama putih motif sapi, rambut tergerai dan wajah tanpa make up. Tidak apa-apa kan? Toh supermarket tempatnya akan belanja juga hanya berjarak seratus dua puluh puluh meter dari rumahnya. Setelah setuju bahwa dia tidak perlu berganti pakaian, Arlin melangkahkan kaki keluar rumah. Sebenarnya ada motor Indah yang bisa dipakai. Hanya saja dia merasa lebih nyaman berjalan kaki karena dapat menikmati langit berbintang sekaligus. Di jam sembilan begini pengunjung supermarket mulai lenggang. Arlin jadi dapat dengan nyaman memilih barang tanpa berdesakan. "Eh kesayangan." Tidak perlu menoleh, Arlin tahu siapa pemilik suara ceria tersebut. "Mau beli apa?" Dia mengembus nafas pelan. Tidak mungkin mengabaikan Sean yang jelas-jelas tidak membuat kesalahan. "Lauk untuk besok." "Kebetulan sekali. Aku juga mencari lauk untuk besok." Kebetulan yang tidak penting bagi Arlin. Tentunya tidak untuk Sean. Dia menganggap itu semacam takdir. "Mau dimasak apa ayamnya?" tanya Sean mendapati Arlin memasukkan beberapa bungkus ayam ke dalam trolley. Dia sendiri juga mengambil beberapa bungkus. "Semur." "Enak ya jadi kamu. Bisa menikmati masakan lezat setiap hari." "Kamu bisa melakukan yang sama. Toh kamu punya banyak uang meskipun tidak bisa memasak." "Kamu benar, tapi aku tetap percaya makanan yang paling lezat adalah buatan kamu." "Liar!" Sean berhenti mencari apa yang dia butuhkan untuk memandang Arlin penuh. Kecantikannya masih sama meskipun dia tidak melihat lapisan bedak di pipi ataupun maskara di bulu lentiknya. Kecantikan Arlin memang natural. Itu yang menjadi kesukaan Sean setelah pembawaannya yang apa adanya dan tenang. "Aku bukan jenis pria yang mampu menahan diri apalagi menyembunyikan perasaan. Ketika aku menyukai seseorang, aku akan mengatakannya terus terang. Jika jika itu akhirnya membuat kamu merasa tidak nyaman, maka kamu sebaiknya berpura-pura tidak tahu saja. Aku sangat menyukai dan menginginkan kamu, tapi kamu juga memiliki pilihan pribadi." Sebelum Sean menyatakan perasaannya hubungan mereka baik-baik saja. Memang hanya teman masa kuliah, namun interaksinya dipenuhi dengan kehangatan dan kemanisan. Lalu segalanya berubah semenjak Sean menyatakan perasaan. Arlin awalnya hanya merasa perlu berhati-hati agar Sean tidak salah paham, namun lama kelamaan membuat dia semakin mundur dan berakhir membela diri dengan kedinginan. Mereka pun terpisah dinding tersebut. "Aku memang memiliki pilihan, tapi aku masih bingung melaksanakannya. Maaf kalau itu jadi membuat kamu merasa kesal." "Aku tidak kesal." Sean mengambil tiga bungkus sosis dan memasukkan ke dalam trolleynya. "Hanya merasa sakit hati akan fakta bahwa kita jadi sejauh ini." "Sudah jangan pasang wajah sedih begitu. Kamu jadi membuat aku ingin menangis tahu." Arlin mendorong trolleynya pergi. Segera membuat Sean mempercepat pencariannya. Ketika akhirnya selesai, Arlin sudah berada di kasir. Siap membayar belanjaannya. "Tiga ratus dua belas ribu rupiah, Mbak." Arlin baru saja membuka dompet, tapi Sean pula telah lebih dulu meletakkan kartu ATMnya di meja. "Biar aku yang bayar." "Sean!" Bukannya terintimidasi oleh pelototan Arlin, Sean justru menjepit hidung mungil Arlin dan tersenyum. "Biar aku saja." "Setengah-setengah," final Arlin. Dia tidak bisa menolak keputusan Sean mengingat betapa kerasnya pendirian pria itu, namun di saat yang sama dia juga tidak mungkin membiarkan Sean membayar semua belanjaannya. Terlebih itu sama sekali bukan tanggung jawab Sean. "Fine." Sean tidak pernah merasa keberatan membayar apapun atas nama Arlin. Dulu saja dia pernah diam-diam membayar tunggakan uang kuliah Arlin. Pada awalnya dia menawarkan dengan tulus, tapi Arlin langsung menolak mentah-mentah. Dasarnya keras kepala dan tidak suka penolakan membuatnya memilih melakukan diam-diam. Tidak hanya itu. Ketika Arlin pertama kali mengontrak, dia membantu membayar tunggakan Arlin. Dengan begitu Arlin tidak pernah mendapatkan teguran dari pemilik kontrakan meskipun telat satu bulan. Ketika dia berhasil membayar, uang tersebut akan dibayarkan untuk bulan selanjutnya. Baginya tidak ada yang mahal jika menyangkut Arlin. Apapun akan dia usahakan sekalipun membuat dia terpaksa harus berkerja. Arlin sendiri pada akhirnya telah mengetahui perbuatan Sean. Dan meskipun dia mewanti-wanti, pria itu tetap tidak berhenti. Dia membantu Arlin menanggung banyak hal tanpa protes. Kalau mengingat momen itu Arlin jadi merasa semakin tidak enak hati. Sean jelas-jelas sudah sangat baik, tapi dia masih tidak mau memberikan hatinya. Bukankah dia jahat? "Aku duluan." Arlin melangkah berlawanan dengan Sean yang menunju mobilnya. Aneh. Biasanya Sean akan kukuh mengikutinya. Ini malah tidak dan apa itu? Sean tidak membalas perkataannya. Apa dia marah? "Sean!" Arlin menyentak tatapan marah pada Sean. Salahkan pria itu yang diam-diam merebut kedua plastik belanjaannya. "Seperti biasa, aku mau memastikan calon ibu dari anak-anakku pulang dengan selamat." "Aku sudah hampir lima tahun di sini dan selalu sampai dengan selamat sekalipun pulang sendirian." "Lima tahun yang lalu tidak sama dengan sekarang, sayang. Kejahatan semakin banyak, aku jelas tidak akan membiarkan kamu berkeliaran sendirian." "Terserah deh." Akhirnya Arlin pasrah. Tidak berminat juga untuk mengusir Sean. "Bagaimana dengan liburan pertama kamu?" "Menyenangkan." "Kamu jalan-jalan ke pantai dengan tiga bocah itu kan?" "Darimana kamu tahu?" Arlin hanya memposting fotonya sendiri. Apa itu saja telah mampu membuat Sean tahu? Ah tidak mungkin. "Aku berteman dengan Sagara di i********:. Dia mengunggah foto kalian." "Benarkah?" Arlin membuka ponselnya. Penasaran akan kebenaran Sagara mengunggah foto mereka. Meskipun Sagara menyukainya, namun anak itu berkepribadian tertutup. Mengunggah sesuatu di sosial media jelas tidak cocok untuk kepribadian tersebut. Akan tetapi sepertinya Arlin salah. Sagara benar-benar mengunggah foto mereka ke story instagramnya, malah juga menambahkan ke dalam highlight yang dia beri emoticon keluarga. Manisnya. "Ayo makan." Dia tidak sempat menolak karena tangannya sudah ditarik oleh Sean untuk menyebrangi jalan. Begitu sampai Sean membantu meletakkan barang belanjaan Arlin ke kursi agar pemiliknya bisa duduk dengan tenang. "Mbak Arlin." Aisha, pemilik warung langsung menyapa ramah. Arlin yang tadinya hendak pergi pun terpaksa tersenyum. Dia tidak dapat melakukannya, Aisha telah menganggapnya sebagai pembeli. "Mau makan apa, Mbak?" "Mie ayam saja. Minumannya es teh." Pandangan Aisha bergeser pada Sean. Ada kegugupan yang dapat Arlin baca. Mungkin karena Aisha tidak mampu menahan pesona Sean. Apalagi dia masih remaja, pasti pikirannya langsung menjurus pada cinta-cintaan. "Samakan saja." "Malah pacaran. Gak tahu apa sahabatnya udah mau mati kelaparan." Datang-datang Indah langsung duduk di samping Arlin. Mengabaikan sepenuhnya tatapan tidak suka pengunjung lain akan suara tarzannya yang baru mengudara. "Sha, nasi satu." "Lauk apa, Mbak?" "Dua potong ayam rendang, bakwan, telur, kerupuk dan jangan lupa banyakin sambelnya." "Minumannya, Mbak?" "Es teh manis. Nanti tagihannya lo kasih sama nih orang." Ditepuknya bahu Sean, pemiliknya langsung melotot. Ini bukan pertama kalinya dia dipalak oleh Indah, namun tetap saja masih membuat dia terkejut. Dimana-mana perempuan selalu menjaga image. Lah indah malah sama sekali tidak tahu malu. "Jangan pilih kasih lo. Arlin saja ditraktir, masa gue enggak." "Itu karena Arlin kesayangan gue, kalau lo siapa?" "Kesayangan lo juga dong." Indah memeluk lengan kekar Sean dengan alis dinaik turunkan untuk menggoda. Bukannya tergoda, Sean malah merasa naik darah. Didorongnya kuat dahi Indah. "Mimpi lo! Gak mungkin gue suka sama cewek jadi-jadian kayak lo." "Eh eh.." Indah mengancungkan telunjuknya ke hidung Sean. "Karma berlaku loh." "Lagipula ibu guru kita ini lebih cocok sama Pak Andrew." Mendadak telinga Sean terasa panas. "Lo bilang apa?" "Arlin lebih cocok sama Pak Andrew." "Gak! Arlin cocoknya sama gue." "Ngelantur lo? Arlin cantik dan cerdas begitu mana cocok berpasangan sama makhluk b**o kayak lo." "b**o lo bilang? Lo lupa berapa IPK kelulusan gue? Oh jangan lupa siapa yang sekarang pengangguran." "Gue gak pengangguran, gue kerja di supermarket." "Jadi babu, padahal lo kuliahnya di manjemen. Terbukti gak tuh otak lo gak berguna?" "Gak nyambung lo, bangke." "Lo yang gak nyambung, kecebong." Sean berdiri, bermaksud menarik kursinya ke sisi Arlin. Oh tidak semudah itu. Indah menahan kursi Sean. "Lo jangan jadi perusak kapal gue yang mau berlayar." "Enak aja gue perusak. Lo tuh yang perusak." Arlin membuka ponselnya. Mencari kesibukan untuk tetap waras ditengah-tengah peperangan kedua orang tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN