Harus Nikah

2148 Kata
"Berhenti atau gue gampar lo curut tanah?" "Sabar, gue lagi bingung." Bukannya berhenti Suga malah terus mondar-mandir. Dari kiri ke kanan, lalu kanan ke kiri. Begitu terus sering pikirannya yang tidak kunjung menemui titik terang. Ini liburan semester. Hampir semua sahabatnya tidak dapat berkumpul. Beberapa pergi liburan keluarga dan beberapa lagi diminta membantu orang tuanya. Dia sendiri pula terjebak dalam kebingungan. Bisa saja pergi sesuka hati, namun rasanya tidak seru karena dia sendirian. Papanya telah berjanji akan mengajak ke taman hiburan. Namun itu hanya terjadi ketika pekerjaannya telah usai. Empat jam telah berlalu, tapi papanya masih terus berkutat dengan komputer. Harapan mereka pun mulai memudar. "Pa, udah siap belum?" tanya Saga sembari menjatuhkan kepala ke pembatas sofa. Tampangnya memang tenang, tapi sejujurnya ia mulai jemu duduk di sofa dan hanya mendengar suara keyboard komputer papanya. Belum lagi ditambah dengan Suga yang mondar-mandir. Kepalanya kian terasa semakin jemu. Harusnya liburannya tidak berjalan seperti ini. Tadinya dia berniat berkumpul bersama teman-temannya, namun ajakan sang papa membuat dia membatalkan niat. Eh siapa sangka justru membuat dia berakhir tidak mendapatkan liburan sama sekali. "Sebentar lagi." Andrew bukannya tidak berusaha. Ia secepat mungkin mengurusi dokumen-dokumen yang memerlukan persetujuannya. Hanya saja itu tetap tidak dapat menyeimbangi dengan banyaknya dokumen yang ada. Lagipula dia juga harus teliti di saat yang sama. Ah sepertinya tadi dia seharusnya tidak berjanji. Begini malah membuat ketiga putranya marah padanya. Adam mengerucutkan bibir dan kemudian menjatuhkan diri ke sofa. "Adam ngantuk," adunya bersama jemu yang kentara. "Tuh, Pa. Adam sampai ngantuk loh," kata Saga berharap papanya mulai tergoyah untuk berhenti. "Sedikit lagi." "Sedikit terus," dengusnya akhirnya tidak tahan. Suga mengetukkan tangannya ke telapak kiri. Keputusan telah ia dapati. "Oke. Ayo kita keluar." Saga menyipitkan mata. Tampak curiga akan keputusan sang adik. "Kemana?" "Udah ikut aja." Suga beranjak, membuat kepala Saga berputar cepat. Ikut atau tidak? Tapi rasanya itu lebih baik daripada dia terus di ruangan Andrew. "Adam itut." Melihat sang kakak hendak berdiri ia segera berseru dan mengangkat kedua tangannya. Saga meraihnya, membawa Adam berakhir di pelukannya. "Kalian mau kemana?" tanya Andrew tanpa melepas pandangan dari komputer. "Jalan-jalan sebentar. Bosan nungguin papa." Andrew mendesah pelan. "Yah papa kan mau ikut juga." "Udah papa mesra-mesraan aja sama itu berkas," celetuk Suga yang ternyata masih bersandar di daun pintu. "Ingat ya, cuma sebentar." Perkataan Andrew tidak lagi masuk ke telinga ketiganya. Mereka malah mulai terlena oleh ide-ide sendiri untuk menikmati waktu. *** "Adam ingat! Harus merengek sama mama, oke!" Suga memberikan perintah pada Adam. Sedikit kejam karena ia memaksa Adam menangis. Tapi mau bagaimana lagi, hanya dengan begitu mereka dapat keluar bersama Arlin. "Nanti kalau Adam gak merengek mama gak mau jalan sama kita. Ngerti?" Si bocah kecil yang memang ingin berjalan-jalan dan bermanja bersama Arlin mengangguk setuju. Usai perintah, Suga keluar. "Ayo cepat. Nanti Kak Saga beliin kue coklat." "Lah gue bangke." "Elah cuma kue coklat aja pelit. Meledak kuburan lo baru tahu. Eh tunggu." Suga menggendong Adam kembali ke kursi. Ia menarik laci dasboard dan mengeluarkan obat tetes mata. "Diam," pintanya pada Adam. Bocah kecil imut itu patuh saja saat dagunya ditarik pelan. Tidak juga memberontak saat tetes air jatuh di matanya. "Nah kalau begini aktingnya pasti menyakinkan." Kembali Suga menggendong Adam turun. Dari tempatnya berdiri tersebut dia sudah dapat melihat sosok Arlin yang tengah menjemur pakaian. Setelannya sendiri masih piyama merah jambu, mengindetifikasi bahwa pemiliknya belum mandi sama sekali. Bukankah itu bagus? Arlin tidak terlihat memiliki jadwal apapun. Suga menurunkan Adam begitu jarak antara mereka dan Arlin tinggal beberapa meter. "Akting yang bener." Adam mengangguk sebelum berlari ke arah Arlin. "Mama, mau dalan-dalan." "Loh Adam?" Bukan main dia terperanjat. Ini masih pagi. Untuk apa anak itu datang. Mana bersama kedua kakaknya pula. Apa papanya tidak marah? "Merengek dari pagi." Suga tidak mungkin membiarkan Adam melakukan akting sendirian. Jadi dia menambahi agar lebih dramatis. "Katanya mau jalan-jalan ke taman hiburan sama mama." Arlin meletakkan keranjang pakaiannya ke tanah. Berjongkok untuk menangkup kedua pipi Adam. "Kan ada Abang Saga dan Suga, sayang." "Tahu tuh Adam. Cengeng banget," sungut Suga. Adam merengut, lalu melempar kekesalan kepada Suga. Enak saja dia dikatakan cengeng. Cepat-cepat Suga menekan ketajaman lewat maniknya untuk mengancam. Itu mengingatkan Adam kembali tujuan mereka. "Mau dalan-dalan." "Aduh gimana ya sayang. Aunty masih harus beres-beres rumah. Ini aja baju cucian belum dijemur." Adam tidak berkata lagi. Hanya menjatuhkan pandangannya dan mengusak-usak mata. Awalnya Arlin bersumpah tidak akan mau luluh. Adam memang imut, tapi tidak berarti semua keinginannya harus dituruti. Lagipula dia memiliki tugas yang perlu dituntaskan. Helaan pada akhirnya terjadi. Salahkan hatinya yang terlalu lembut seperti es krim. Sekali melihat ekspresi sedih Adam pun langsung meleleh. "Oke, kita jalan-jalan. Tapi selesai mama beres-beres." Senyum yang terbit di wajah Adam membangkitkan senyum Arlin pula. Ah dia memang bahagia jika membuat anak itu bahagia. "Ayo masuk." Arlin mengangkat Adam ke dalam gendongannya. "Suga, itu ada bihun goreng di meja kalau mau makan." "Suga doang yang ditawarin?" Arlin memutar mata. "Iya kamu juga." Dia tidak tersenyum, tapi merasa senang luar biasa. Ini bukan tentang makanan yang ditawarkan, tapi fakta bahwa Arlin yang memasaknya langsung. Tidak ada tuntutan tugas seperti koki di rumah mereka. Arlin resmi memasak dengan tulus. Apalagi baginya yang lebih membahagiakan daripada ketulusan? Tidak ada. "Nah ini untuk Adam." Satu piring bihun Arlin sajikan kepada Adam. "Coba di rasa dulu, enak atau tidak?" Tidak peduli bahwa dia benci sayuran, namun jika Arlin yang membuatnya maka dia dengan senang hati membawa suapan ke mulut. "Gimana?" Kata Bi Ina Adam sulit makan, apalagi jika ada sayurannya. Kemudian yang paling ribetnya pula Adam tidak memiliki makanan kesukaan selain kue coklat. Apa yang dia bilang enak hari ini bisa saja besok menjadi yang paling dia benci. Jadi Arlin bertanya untuk memastikan bahwa dia tidak perlu membuat masakan lain. "Enak, Adam cuka." "Ar, gue mau keluar." Suara Indah yang lebih terdengar seperti teriakan tarzan membuat siapa saja mengangkat pandangan. "Eh ada keponakan." "Pagi, Bu." Suga menyalami tangan Indah dengan santai. Sama sekali tidak peduli akan wajah pemilik tangan yang kebingungan. "Dalam rangka apa nih berkunjung?" Matanya bergeser untuk melihat Saga dan Adam yang menikmati makanan. "Mau dalan-dalan sama mama," sahut Adam gembira. "Katanya mau beres-beres." "Tadinya, tapi.." Arlin mengedikan bahu. Tidak mengerti juga akan jalan pikirannya yang berubah begitu cepat. "Have fun deh. Gue mau pergi kerja dulu. Bye." Indah menyempatkan diri mencium pipi Adam sebelum beranjak. Adam langsung mengerucutkan bibir. Dia yakin benar, pasti ada stempel bibir kini di pipinya. Nasib anak imut ya begitu. "Saya mau jemur baju lagi. Itu piring-piringnya kalau sudah selesai taruh di wastafel saja." "Tenang, Ma." Suga menepuk bahu Saga. "Bang Saga nanti yang cuci piring." Bibirnya ingin menolak, tapi senyum Arlin membuat dia membatalkan niat. "Great! Dengan begitu pekerjaan saya akan cepat terselesaikan, which is mean kita akan berangkat lebih awal." Adam berseru hore sementara Saga mendorong bibir ke telinga Suga. "Gimana cara nyuci piringnya, bangke?" Di rumah dia tidak pernah sekalipun mencuci piring. Jika iya pun dia hanya perlu memasukkan piring ke dalam mesinnya dan voila...selesai. "Gampang, tinggal gosok-gosok aja. Selesai." Tidak dapat dipercaya, tapi Saga tidak punya pilihan. Dia harus membantu Arlin agar semakin cepat bersantai. *** "Diangkat?" Untuk kesekian kali Andrew mengangkat kepala. Nolan juga untuk kesekian kali terus berusaha menghubungi nomor Saga maupaun Suga bergantian. Namun hasilnya tetap nihil. "Belum, Tuan." "Tadi katanya cuma jalan-jalan sebentar," dengus Andrew mulai merengut. "Gimana sih? Suka bener gak konsisten sama ucapan. Nurun dari siapa coba?" Sebuah dugaan tiba-tiba melintas di pikirannya. "Coba telepon Arlin." Nolan menurut. Segera menelepon nomor Arlin. Hanya sekali saja dan panggilan pun tersambung. "Assalamualaikum, Pak. Ada apa ya?" "Ibu dimana?" Mendengar itu Andrew menunggu. "Saya di pantai. Ini juga bersama Saga, Suga dan Adam." "Tadi saya menelepon ponsel Tuan Saga dan Suga, tapi tidak diangkat. Saya kira mereka pergi kemana, ternyata bersama Ibu." "Maaf, Pak. Saya kira mereka sudah meminta izin dari Pak Andrew. Jadi saya.." "Tidak apa-apa, Bu. Saya senang mereka bersama anda." Ini liburan sekolah. Anak-anak memang seharusnya mendapatkan hiburan, bukan mendekam di rumah. Begitulah yang selalu Nolan inginkan untuk ketiga tuan mudanya. Dia lalu menambahkan beberapa kata untuk menenangkan Arlin bahwa tindakannya tidak salah. Lagipula memang jelas tidak, karena ketiga anak tersebut yang pasti mengajak lebih dulu. Begitu Arlin setuju akan mengembalikan anak-anak sebelum pukul lima sore dia pun memutuskan panggilan. "Mereka di pantai?" "Benar, Tuan." "Piknik?" "Sepertinya begitu." Andrew mengerutkan kening. "Kenapa saya tidak diajak?" Nolan menggeleng pelan. Tidak tahu juga alasan tuannya tidak diajak bergabung. Memang dia memiliki pekerjaan penting, tapi jika ketiga tuan muda mengajaknya dengan embel-embel Arlin pastilah Andrew akan langsung setuju. Perlahan-lahan jarinya terkepal satu. "Anak-anak itu pasti sengaja memonopoli Arlin untuk mereka. Dasar licik!" *** "Ma, papa kan ganteng. Ya meskipun jelas lebih ganteng daripada aku sih." Suga mengigit keripiknya sesaat. "Kaya juga. Bukannya mau mengatakan mama matre. Tapi kalau mama menikah sama papa kebutuhan mama pasti terjamin. Tapi kenapa mama gak mau nikah sama papa?" Arlin merebut kantong snack Suga dan meraup isinya. "Bagaimana ya. Cinta itu berbeda dengan suka. Lebih mendalam dari sekedar kagum akan penampilan dan kekayaan. Dan itu jelas lebih kuat untuk menjadi alasan 'mau'. Kalau cuma karena kagum dan saya memutuskan 'mau' dengan papa kamu itu tidak akan bertahan lama." "Jadi papa harus bagaimana biar mama jatuh cinta?" tanya Suga kian penasaran. Setahunya sang papa tidak luput dari kekaguman kaum hawa. Rasa kagum itu jelas membuat mereka mau naik menjadi istri dari papanya. "Ya mau bagaimana?" Arlin mengirim kembali pertanyaan. "Saya tetap tidak suka." "Gak mungkin," kukuh Suga. "Coba deh sekarang mama pikirin apa yang bisa membuat papa menarik di hati mama atau sifat apa yang perlu papa buang." Arlin malas memikirkannya, tapi karena tidak ada kegiatan ia setuju. Mengunyah keripik sambil mencoba mencari hal apa yang perlu ditambah pada seorang Andrew Thompson agar dia tertarik. Tidak ada. Ya itu jawabannya. Andrew Thompson sudah sempurna. Dia punya wajah tampan, tubuh hot, kekayaan dan juga kekuasaan. Apa lagi yang perlu ditambahkan? Tidak ada. "Entahlah, saya tidak tahu." Arlin akhirnya menyerah. Tidak mau memaksa otaknya lebih keras. Toh tidak penting juga. Dia beranjak dari duduknya. Menghampiri Adam yang tampak antusias bermain air, namun terus dibatasi oleh Sagara. "Adam ayo." Anak itu segera menarik tangannya dari genggaman Saga, berlari pada Arlin dengan kebahagiaan penuh di wajahnya. Arlin merendahkan tubuh untuk membawa Adam ke dalam gendongan. "Ayo kita berenang." "Ayo," seru Adam Sagara yang memang sama sekali tidak berminat berenang kembali pada tempat dimana karpet mereka ditebar. "Geser lo." Suga sempat memberikan tatapan tajam, namun akhirnya dia menggeser tubuh. "Gue kira lo mau berenang." "Gak bawa baju ganti." Benar juga. Mereka tidak membawa pakaian ganti. Kalau Adam mah langsung dibelikan oleh Arlin baju baru. "Lo cari cara dong. Mama itu udah tipe tepat banget buat kita. Kalau kelamaan dibiarin nanti malah direbut sama laki-laki lain." "Bukannya lo bilang mau riset." Ini terjadi beberapa minggu setelah kedatangan Arlin yang rutin ke rumah mereka. Suga mengatakan kesetujuannya jika Arlin menjadi ibu mereka. Sayangnya saat itu hanya sang papa yang mendominasi. Simpelnya cinta sang papanya bertepuk sebelah tangan. Tentu tidak dapat bersatu sampai Arlin juga menyukai Andrew dengan porsi yang sama. Mereka pun kemudian mencoba melakukan riset. Berharap hasilnya dapat menjadi formula pemersatu papanya dan Arlin. "Nihil. Mama memang gak suka sama papa. Ya iya sih, udah tua renta dan alot begitu." Suga membuka plastik snack lagi. Piknik yang tiba-tiba membuat mereka hanya bisa mendapatkan makanan dengan membelinya. Snack pun menjadi pilihan. Padahal dia maunya masakan Arlin. "Kadang gue berpikir mama sama seperti perempuan-perempuan yang mendekati papa. Hanya mau papa dan kekayaannya, tidak dengan kita bertiga. Kebaikan mama pada kita pula gue kira hanya salah satu cara mendapatkan papa, tapi mama malah tidak berpihak kepada papa sedikitpun. Semua kebaikannya benar-benar cuma untuk kita. Aneh gak sih?" "Sometimes." Saga setuju. Lagipula dia lebih dewasa daripada Suga untuk mengerti akan hal semacam itu. "Gue juga merasa mama terlalu aneh." Mata Sagara terfokus pada Arlin yang tengah mengajari Adam berenang. "Dia cantik, pintar dan masih muda. Kenapa mau repot-repot memberikan perhatian sama kita bertiga? Harusnya dia bersenang-senang dengan masa mudanya. Hangout, pergi ke club, shopping dan sebagainya. Memberikan waktu untuk menemani kesepian kita seperti ini jelas bukan yang seharusnya." "Ini udah empat bulan. Mama semakin baik sama kita, tapi malah berbanding terbalik sama papa." "Mama cuma mau kita?" Sagara masih tidak yakin mengatakannya, tapi hanya itu yang paling tepat untuk kesimpulan dari seluruh sikap Arlin. "Itu yang aneh. Dimana-mana ibu tiri enggak suka sama anak suaminya, lah mama malah suka sama kita. Suka bukan sekadar suka. Hari-hari dibawain bekal, ditanyain keadaan...mama malah bertindak lebih dari seorang ibu yang seharusnya." "Papa harus nikah sama mama," ujar Sagara. "Jelas lah. Kapan lagi coba kita dapat ibu tiri berhati malaikat begini." "Makanya lo nasehatin gih papa lo. Suruh cari cara, jangan ngegombal terus. Bikin gue mual aja." Sagara mengeluarkan ponsel dari sakunya, mengarahkan kamera pada Arlin dan Adam yang tertawa. Cekrek. Satu foto tertangkap. Candid sekali. Selain untuk kenang-kenangan itu nanti juga bisa dibarter pada Adam ataupun papanya. Kan lumayan untuk menambah isi dompet.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN