Ketukan di pintu terdengar berulang kali. Desakan cepatnya memberikan Indah pengertian bahwa si pelaku terburu-buru menyampaikan sesuatu. Indah memutar kunci. Menarik knop pintu untuk terbuka. Sean menjulang di depannya. Tidak lagi dengan kemeja rapi, melainkan kaos biasa saja. Itu sudah menjadi satu kejanggalan. Bertambah lagi saat dia tidak menemukan Arlin. "Mana Arlin?" Sean mendelik. "Dia belum pulang?" "Eh bangke, kenapa lo malah nanya sama gue. Tadi kan dia pergi sama lo." Sean mengeluarkan ponsel. Buru-buru mencari kontak Arlin untuk melakukan panggilan. Tadi dia sudah melakukannya, namun tidak mendapat jawaban. Datang ke rumah Arlin langsung dia pikir jalan terbaik. Sebab dari yang dia ketahui Arlin tidak suka berlama-lama di dalam keramaian. Jika tidak ada lagi di mall, m

