Pria tegap dalam balutan kemeja putih yang dipasangkan dengan celana hitam panjang tersebut mempercepat langkahnya. Di tengah aktifitas kantor yang mulai riuh, dia justru melalui lorong untuk menuju ruang presdir. Segera dia mendapat atensi, terlebih akan status rendahnya. Orang-orang jadi bertanya akan tujuannya menghampiri ruang presdir. Tidak mungkin urusan kerja dan itulah yang membuat orang-orang tertarik untuk tahu. Sintia menatap serius layar komputer di hadapannya. Dia tengah memeriksa ulang beberapa laporan. Sesekali itu membuat dia mengumpat sebab menemui banyak kesalahan. Percayalah, Sean sudah dihantui kemalasan begitu melihat wajah Sintia. Bagaimana tidak? Perempuan itu terkenal akan sifatnya yang suka mengurusi kehidupan orang lain. Mempertanyakan sampai akar-akar dan meng

