Hari sudah menjelang sore. Kediaman Zahrenta menjadi sunyi. Sama-sama kelelahan karena terlalu banyak bercerita. Arlin mengambil waktu tersebut untuk membersihkan diri. Melotot kemudian karena dia baru menyadari belum sempat memberi kabar pada Indah. Matilah, perempuan tersebut pasti sudah berpikir macam-macam akan kepergiannya. Membuka ponsel. Arlin disambut langsung oleh puluhan panggilan atas nama Sean dan Andrew. Indah pula hanya beberapa belas kali. Begitu juga dengan mawar, Saga dan Suga. Mendadak jantungnya berpacu cepat. Ketakutan akan pikiran negatif masing-masing si penelepon yang menerornya. Lagipula dia heran. Kenapa mereka peduli? Dia kan bukan orang penting. Nomor Indah sedang sibuk. Sean menjadi pilihan Arlin. Kalau Andrew dia tidak terlalu peduli. Pria itu termasuk baru

