Ada Sesuatu di Mata Kamu

1702 Kata
Andrew memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya. Meluruskan pandangan pada pintu coklat yang masih belum terbuka. Selang beberapa detik knopnya beputar, diikuti oleh pintu yang terbuka. Arlin berdiri tegap, sudah dalam balutan piyama motif donat. Manisnya. Andrew jadi ingin memeluk. "Ini." Alrin menerima plastik yang Andrew ulurkan. Tanpa membuka dia sudah tahu apa isinya. Toh aroma kuah kacang dan daging ayamnya menguar ke udara. Nah yang tidak dia ketahui adalah alasan Andrew berdiri di depannya. Seorang diri, tanpa ketiga putranya. Apa maksudnya itu? Mana segala membawakan makanan pula. "Aku sengaja membelinya tadi." Terdengar seperti pamer bagi Arlin, namun dia tidak mau peduli. "Terimakasih." Senyum saja yang Andrew berikan sebagai balasan. Matanya lalu bergerak melewati bahu Arlin. "Apa aku tidak diizinkan masuk?" "Ah maaf.." Arlin membuka pintu lebih lebar. Tidak sadar bahwa Andrew tetap juga seorang tamu yang perlu dia berikan jamuan. "Dimana kedua temanmu itu?" Ruang TV Arlin pasalnya terlihat sepi. Andrew jadi mengira Arlin hanya sendiri di dalamnya. "Ada di kamar." Sengaja Arlin mengambil duduk di hadapan Andrew. Sedikit bergeser ke kiri agar mata mereka tidak langsung saling melurus. Andrew manggut-manggut, lalu mengurut jarinya canggung. Setelah kematian istrinya, perempuan lah yang selalu mendekati dan membuat percakapan. Itu perlahan menjadikan dia sosok yang payah berurusan pada perempuan. "Saya akan membuat teh sebentar." Kepergian Arlin membuat nafas Andrew lega. Astaga, bisa-bisanya dia sepayah itu. Beberapa menit kemudian Arlin kembali dengan dua cangkir teh dan satu toples kue kacang. Tidak peduli Andrew suka atau tidak. Bagi Alrin yang penting dia sudah mencoba menjamu Andrew dengan baik. "Silahkan." "Terimakasih." Andrew membawa sisi cangkir ke bibirnya, meniup pelan dan menyesap sedikit. Aroma teh tersebut berbeda dari yang biasa dia minum, tapi rasa manisnya begitu pas. "Kenapa Adam tidak diajak." Tentu tidak. Andrew kan mau malam mingguan. Berdua saja dengan Arlin. "Dia sibuk menonton kartun bersama Suga." Image baik tetap harus dijaga. Andrew tidak boleh melakukan hal yang membuat Arlin berujung ilfeel. "Kalau Saga dia pergi malam mingguan dengan pacarnya." Andrew meletakkan kembali cangkir ke meja. Sengaja menekan malam mingguan agar Arlin peka akan maksudnya. "Saga sudah memiliki pacar?" Arlin malah terpicu rasa penasaran. Saga itu berhati dingin dan cuek. Pacar dia kira bukan hal yang tampak akan Saga cari. Bibir Andrew sempurna menjadi garis lurus. Kode yang dia tekankan ternyata malah diartikan Arlin ke arah lain. "Mungkin," ketus Andrew. Dahi Arlin alhasil berkerut halus mendengarnya. Mungkin? Tapi tadi dia sendiri yang bilang Saga malam mingguan. Aneh sekali. "Aku tadi membawa dua bungkus sate." Tangan Arlin segera membuka plastik. Benar saja, ada dua bungkus di dalamnya. Ah dia mengerti sekarang. Andrew ingin makan bersama rupanya. "Aku akan mengambil piring sebentar." "Hati batu," umpat Andrew begitu Arlin tidak terlihat. Padahal sudah jelas kedatangannya di malam minggu. Tanpa mengatakan tujuan harusnya Arlin tahu ke mana arah Andrew. "Selain sate, apa makanan yang kamu suka?" Pertanyaan tersebut meluncur kala Arlin tengah memindahkan sate ke piring. "Bakso bakar manis." Makanan yang sederhana juga. Padahal Andrew mengharapakan yang mewah agar dia bisa memiliki alasan mengajak Arlin makan malam romantis di restauran. "Arlin.." Dia mengangkat pandangan, bertemu langsung dengan manik Andrew yang berkilat putus asa. "Aku sebenarnya datang untuk hal lain." Oke. Arlin mulai curiga sekarang. "Aku mau malam mingguan bersama kamu." Jawaban yang terlalu terus terang dengan nada datar. Arlin kira hanya keterkejutan saja yang mendominasi, tapi nyatanya beberapa detik kemudian sesuatu yang aneh melesak di perutnya. Butterfly in the stomach. Tidak mungkin. Arlin yakin dia salah menerjemahkan. Segala yang mengarah pada cinta untuk dia dan Andrew tidak dapat dibenarkan. "Aku mengatakan cinta, tapi masih pasif menunjukannya. Tidak mengejutkan kalau kamu tidak menerima. Memang aku yang tidak berusaha, tapi kini aku akan menunjukan cinta yang aku maksud dengan sungguh-sungguh." Entah kenapa Arlin jadi tidak berani melihat mata Andrew. Kalimat pria itu terlalu berat, dia merasa terbebani langsung. "Tidak apa-apa kalau kamu masih ragu atau kukuh tidak mau mencintaiku. Seiring waktu tanpa usaha, itu juga akan berubah. Kamu tidak perlu berusaha sama sekali. Aku yang akan mengerjakan semuanya." Haruskah Arlin katakan kalau dia masih tidak mengerti? Ah tidak mungkin. Nanti Andrew malah kian bersemangat mengatakan kalimat-kalimat cinta. "Arlin, ada sesuatu di mata kamu." Pupil mata Arlin melebar. "Apa?" "Wajah saya." Andrew tersenyum tipis. "Saya melihatnya jelas." Sungguh kalimat tidak jelas bagi Arlin, namun bibirnya tertawa. Tidak mengira di saat yang sama bahwa Tuan Andrew Thompson yang kata orang-orang dingin tersebut mampu membuat kalimat menggoda. "Anda aneh," gumam Arlin tanpa sadar. "Ya memang aneh. Aku terlalu tampan dan sempurna. Benar kan?" Lagi, Arlin tertawa. Selain bisa membuat kalimat menggoda Andrew ternya memiliki bakat lain yang mengejutkannya yakni terlalu narsis. "Jadi?" Andrew mendorong wajahnya maju. "Kenapa kamu tidak menyukai aku? Apa yang kurang?" "Tidak ada. Anda sempurna, tapi hati saya memang tidak suka. Seperti kata orang-orang, cinta tidak bisa dipaksakan." "Kenapa? Padahal dipaksakan pun hanya sakit di awal, setelahnya hanya akan ada kenikmatan saja." Mata Arlin melotot. Andrew sudah terlalu jauh. "Bercanda." Tangan Andrew mengangkat satu tusuk sate. "Aku hanya tidak ingin kamu menganggap aku bakteri pengganggu. Kini jelas tidak, aku membuat kamu tertawa. Aku bukan bakteri pengganggu." "Maaf." Arlin tidak berbohong. Dia memang terkadang mengatakan Andrew demikian kepada Sean ataupun Indah. Awalnya dia kira tidak menjadi masalah ketika Andrew tahu, namun kini dia merasa bersalah karena Andrew memikirkan kalimatnya. "Tidak aku maafkan." "Aku tidak peduli lagi kalau begitu." Tangan Arlin ikut mengambil satu tusuk sate untuk dinikmati. "Kamu berhati batu sekali ya?" "Beberapa memang mengatakan aku begitu." Secara pongah Arlin mengakuinya. Tidak peduli sama sekali jika Andrew akan mengurangi image baik dirinya. "Apa itu berarti kamu belum pernah mencintai pria?" "Eum." Arlin mengangguk, mengembalikan tusukan sate ke atas plastik. "Aku tidak pernah pernah mencintai pria secara serius. Paling hebat hanya sebatas suka dan itu pun tidak pernah berakhir dalam suatu hubungan." "Kalau begitu sepertinya perjuangku akan semakin berat. Hati kamu bukan batu lagi, tapi baja." "Benar," koreksi Arlin. "Itu sebabnya anda lebih baik mencari perempuan lain." "Bagaimana kalau aku tidak mau?" tantang Andrew. "Itu urusan anda." "Apa itu kode kalau aku boleh mengejar?" "Tidak juga." Yang Andrew lihat bukan penolakan, melainkan keraguan Arlin. Seperti caranya memanggil. Dia masih terlihat tidak mengerti siapa Andrew untuknya. Sama juga dengan sikapnya, dia tidak ingin dikejar namun tidak langsung mengatakannya. Kalau begitu Arlin itu sebenarnya masih memiliki pertimbangan untuk menerima dia. "Tapi menurutku iya." Well, Arlin tidak peduli. Dia melanjutkan makan saja sementara Andrew senyam-senyum tidak jelas. "Jangan bilang kalau anda kerasukan." "Tidak, saya tidak tersenyum karena kerasukan. Tapi karena melihat wajah kamu yang manis." Gombalannya astaga. Murahan sekali, tapi bibir Arlin sepertinya tidak setuju karena itu justru tertawa. Hati Andrew sendiri kian membuncah oleh bahagia. Arlin tertawa manis bersamanya. *** "Papa mana sih?" gerutu Suga melirik kepada jam dinding. Sudah hampir pukul sepuluh namun belum kunjung pulang. Padahal tadi katanya hanya sebentar. Lagipula kan cuma membeli martabak, masa iya memakan tiga jam lebih? "Tabur," celetuk Adam di sampingnya. "Bener juga. Itu orangtua jangan-jangan mau kabur atau tepatnya nyantol di tempat lain. Wah gak bisa dibiarin nih." Suga meraih ponselnya dari meja. Segera mencari nomor sang papa untuk mengirim pesan. Hanya centang satu. Bukti valid bahwa sang papa mematikan ponselnya. "Kayaknya ini bukan hal biasa deh," gumam Suga mulai curiga. Papanya itu tidak pernah mematikan ponsel kecuali saat akan tidur. Meski tidak langsung dibaca, tapi mestinya centang dua. "Tunggu, tadi papa berangkat pakai baju apa?" "Kemeja hitam,dua kancing terasa terbuka, lengannya ditarik sebatas siku dan kemudian dipadukan bersama celana panjang hitam. Rambut pula ditata rapi ke atas dengan gel," jelas Nolan sembari mengingat-ingat tampilan tuannya beberapa menit jam lalu. "Sebenarnya keberadaan paman saja sudah mencurigakan. Iya kan?" Suga mengangguk. Nolan memang sering bermalam di rumahnya, tapi itu hanya ketika hari kerja saja. Jika sabtu dan minggu, maka dia biasanya tidak akan bermalam. "Tadi sebelum paman datang, papa ada bilang sesuatu gak?" Nolan berpikir sejenak. Memundurkan kembali ingatkannya ke jam tujuh dimana Andrew meneleponnya. "Tolong jaga anak-anak sebentar. Saya ada urusan penting," ujar Nolan mengulangi kalimat Andrew. "Cuma itu." "Urusan penting? Yang benar aja. Tadi kan papa bilangnya mau beli martabak." "Mungkin itu urusan pentingnya, Tuan Muda." Nolan mah mencoba positif saja. Soalnya baru kali ini Andrew begini. Jadi tidak boleh langsung mengatakan buruk, sebab mereka belum tahu sama sekali. "Mungkin deh." Suga juga ikut mencoba positif. Namun itu lambat laun memudar karena papanya tidak kunjung pulang. Jam padahal sudah berubah menjadi pukul sebelas. Tidak lagi bisa dikatakan hanya pergi membeli martabak kan? "Papa pulang." Seruan Andrew membuat empat pasang mata di sofa bergerak malas. "Udah jam berapa ini?" tanya Suga. "Jam ya?" Andrew meletakkan lebih dulu plastik martabak ke meja. Kemudian memeriksa jam di pergelangan tangannya. "Emmm...pukul sebelas lewat tiga menit." Senyumnya merekah kemudian saat mengangkat wajah. "Biasa lah, habis malam mingguan. Waktunya jadi tidak terasa habis." "Apa-apa?" Suga mencongkel telinganya dengan kuku. Takut-takut ada yang menyumbat di sana dan menyebabkan dia salah mendengar. "Papa malam mingguan sama mama." Andrew bergabung di samping Adam. Mengangkat anak itu untuk naik ke pangkuannya. "Papa jangan ngadi-ngadi. Mama kan jijik sama papa." "Suga, kalimat kamu tidak bisa lebih kejam lagi ya?" Bodo amat. Suga tidak mau memikirkan kesalahannya yang disindir oleh sang papa. "Jadi beneran?" Andrew mengangguk bersama raut pongkah. See! Dia bisa mendapatkan perhatian Arlin juga. "Widih, pakai pelet apa nih?" "Pelet-pelet, papa tidak semurahan itu kali." Adam menarik kemeja Andrew. Membawa perhatian sang papa padannya. "Papa te lumah mama kok gak adak Adam?" Tangan Andrew menjepit pipi gembil Adam. "Maaf ya, sayang. Papa lagi menjalankan misi penting tadi. Kalau Adam ikut nanti misinya hancur." Mana Adam mengerti, tapi dia mempercayai alasan Andrew adalah baik. Itu sudah cukup baginya untuk menikmati martabak dengan tenang. Suga mendorong tubuhnya ke dekat Andrew. "Jadi gimana?" Cerita panjang lebar pun naik ke udara. Suga yang antusias terus menimpali, sedang Nolan dan Saga tetap stay cool. Pura-pura tidak mendengarkan. Padahal mah telinganya dibuka lebar-lebar. Prestasi Andrew malam ini cukup luar biasa. Mereka tidak bisa mencegah diri untuk tidak ingin tahu lengkapnya. "Widih hebat juga papa." Suga menuangkan air mineral ke dua gelas berbeda. Memberikan pada papanya dan Saga. "Gue gak haus," kata Saga. Suga tidak menanggapi, dia mengisi gelasnya sendiri. Mengajak keduanya untuk bersulang. "Demi mama Arlin dan papa." Andrew senang hati mengikuti. Itu adalah perayaan dari keberhasilannya. Sementara itu Saga menghela pelan. Pantas adiknya gila. Ternyata gen tersebut juga ada pada sang papa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN