"Cieee semalam diapelin Pak Thompson."
Arlin menarik diri ke kiri, menjauhi Indah yang baru berseru di telinganya.
"Rese banget sih lo," gerutunya.
"Emang." Indah menarik piring ke dekatnya. Arlin sudah bangun lebih awal, tentu saja sarapan juga telah tersaji. Itu lah salah satu alasan Indah betah satu kontrakan dengan Arlin. Sudah orangnya cantik, rajin dan baik hati pula. Cocok benar untuk dirinya yang bertipe pemalas nauzubillah.
"Gimana, baik kan orangnya?"
"Gue gak pernah bilang Pak Andrew jahat."
"Baik untuk hati lo maksud gue, say. Elah, masa gitu aja enggak ngerti."
"Baik untuk hati? Lo kira dia vitamin?"
"Nah kan. Kembali lagi sifat biadap lo."
Arlin mengedikkan bahu. Tidak tahu menahu sifat biadap yang dimaksud oleh Indah.
"Jelas-jelas semalam gue lihat wajah lo secerah matahari saat ngobrol sama Pak Andrew. Pasti ada jedag-jedug kan di d**a lo?"
Mata Arlin berkedut dalam. Darimana Indah bisa tahu hatinya jedag-jedug? Apa terdengar jelas? Ah gak mungkin. Indah kan bukan cenayang.
"Jedag-jedug mah bikin kepala pusing kali," dumel Arlin. "Kalau gitu Pak Andrew bukan baik untuk hati dong, tapi berbahaya. Iya kan? Coba bayangin gimana jadinya kalau setiap hari hati gue jedag-jedug? Kalau cuma pusing mending, lah gimana kalau jantung gue tiba-tiba copot?"
"Bukan begitu juga konsepnya, Maemunah." Indah keki sendiri jadinya. Arlin t***l bukan main kalau soal cinta, tapi seratus kalau dalam urusan pendidikan. Tidak balance sekali.
"Ah pokoknya semalam itu cuma ngobrol biasa. Gak ada unsur cinta-cinta seperti yang lo bilang. Kalau Pak Andrew sih kayaknya iya."
"Ngobrol biasa? Gak ada unsur cinta? Heh Maemunah! Jaangan dibekukan itu hati. Isi hati lo semalam terlihat jelas lewat wajah lo."
"Persepsi orang akan gue itu tidak murni, Ndah. Tujuh puluh persen dipengaruhi oleh pemikiran subjektif mereka, nah tiga puluh persennya baru benar-benar objektif tentang gue. Itu pun gak bisa dipercaya karena tetap semuanya di proses berdasarkan pikiran dan hati mereka aja." Arlin mendekatkan piringnya."Pokoknya gue gak mau setuju dan percaya sama omongan lo."
"Iya deh nyonya kepala batu kan selalu benar," sarkas Indah. "Anyway, besok lo gak usah buatin gue bekal lagi."
"Kenapa?"
Indah meletakan sendok dan garpu yang baru saja dia angkat. Bahunya menurun tanpa dia sadari, sama seperti mood di dalam dirinya.
"Gue dipecat."
"Dipecat? Lo serius?" Setahu Arlin, Indah adalah karyawati paling rajin di tempatnya. Itu membuat dia mendapatkan label kesayangan bos. Label itu bahkan membuat dia mendapatkan banyak hak istimewa. Salah satunya menjadi karyawati tetap, namun kenapa tiba-tiba dipecat?
"Sebenarnya bukan dipecat sih. Gue mengundurkan diri." Indah menopang dagunya. Meluruskan tatapan lesu pada Arlin. "Lo tahu kan Si Siti cabe-cabean itu? Bukan puluhan kali doang dia cari masalah sama gue, tapi udah ratusan. Muak tahu lama-lama gue dibuatnya. Lagipula gue sekarang gak butuh-butuh amat uang."
Gak butuh? Hoho, Arlin tidak akan percaya. Indah menghabiskan banyak uang berkali lipat darinya. Seandainya pun sama banyak mereka tetap memiliki perbedaan jauh dalam urusan pengeluaran. Arlin menghabiskan banyak uang untuk jasa dan barang yang bersifat "must to have", sementara Indah pula menghabiskan banyak uang untuk jasa dan barang yang bersifat "nice to have". Itu yang parah. Pengeluaran Indah semakin bertambah seiring dengan keinginan hatinya yang kian banyak dan jelas tanpa pikiran rasional sama sekali. Hal tersebut menjadikan Indah selalu lebih butuh uang daripada Arlin.
"Gak usah sok bilang gak butuh lo. Itu muka aja udah kelihatan butuh banget uang."
Indah mengerucutkan bibir. Pada akhirnya peran yang coba dia jalankan tidak dapat berjalan baik. Ah dia memang bukan Arlin yang mampu baik-baik saja dalam situasi buruk.
"Seingat gue lo kan jago cari lowongan kerja. Ngapain dipusingin lagi?"
Jago yang Arlin maksud adalah dalam memaksa. Indah tidak akan pernah terima jika dia ditolak dalam suatu lowongan pekerjaan. Berbagai cara akan dia lakukan sampai di terima. Dari menggunakan wajah cantiknya hingga kekerasan sekalipun. Yang Arlin herankan kebanyakan orang yang ditekan Indah itu pun menurut pada akhirnya. Padahal mereka bisa saja mengusir dengan kekuasaan. Sungguh mengherankan.
"Jago sih jago, tapi lowongan yang sesuai dengan mood gue itu susah."
"Iya juga, lo kan maunya pekerjaan santuy tapi gaji kayak direktur."
Gak masuk akal sama sekali, tapi pada kenyataannya itu nyata. Ya seperti pekerjaan Indah sebelum ini. Hanya menjadi kasir dengan jam kerja delapan jam, tapi gajinya melampaui UMR.
"Itu dia. Apa gue jadi sugar baby aja ya?"
Bola mata Arlin yang indah hampir keluar dibuatnya. Omongan Indah bukan saja tidak masuk akal, tapi keluar dari jalur kewarasan.
"Ngawur lo!"
"Lah kenapa ngawur? Wajah gue cantik, body juga lumayan." Sengaja tangan Indah naik untuk memegang dadaanya. "Nih besar kan?"
"Ndah, lo mau gue siram air panas gak?"
"Kenapa sih? Sugar baby kan juga pekerjaan."
"Iya pekerjaan, tapi pekerjaan haram yang mengikis harga diri lo. Mau?"
"Gak apa-apa sih. Harga diri gue juga memang gak tinggi-tinggi amat. Sekalian aja dibulatkan ke bawah biar ringkas."
"Udah ayo makan. Lo makin lama makin sinting deh. Jangan-jangan kekurangan karbohidrat lagi." Arlin menyendok nasi bersama lauk pauknya, siap memulai sarapan pagi. Indah ikut melakukan yang sama.
"Wait.." Telunjuk Indah mengarah pada sebuah rantang. "Buat siapa?"
"Anak-anak itu."
"Oh iya ya. Lo kan suka sama anak-anak itu? Kenapa gak langsung ngajak nikah Pak Andrew sih? Lo bakalan bisa setiap hari ngurusin mereka dan plusnya hidup dalam lumbung emas. Kemudian secara gak langsung gue bisa numpang hidup di bawah kaki lo. Jadi kepala pelayan juga gak apa-apa asal gajinya di atas UMR."
Arlin menarik nafas dalam-dalam. Panas dari emosinya sudah terasa mengambil alih. Indah benar-benar pandai deh kalau soal menaikan emosi manusia.
"Ayo deh, Ar. Lamar Pak Andrew. Gak usah takut. Sekarang ini abad 21, kesetaraan gender yang dipegang sama manusia."
Melihat Arlin yang melanjutkan makan dengan tenang menjadikan hati Indah kesal. "Ar, lo gak bisa apa sekali aja menerima saran gue?"
Tidak membalas. Arlin hanya menatap datar wajah Indah yang telah membutuhkan kalimat manis.
"Kita udah sahabatan dari kuliah loh. Gue tahu lo luar dan dalam. Apa yang gue sarankan sama lo berdasarkan pertimbangan itu."
"Ndah...kita gak bisa hidup atas saran orang lain. Sekalipun saran yang diri kita pegang adalah salah. Itu tetap yang lebih bagus untuk diikuti."
"Sempit banget pikiran lo, Ar. Kita itu hidup bersama ribuan manusia selaku makhluk sosial. Harus open minded biar menerima banyak pelajaran."
Arlin mengarahkan sendok pada Indah. "Itu yang lo percayai, bukan yang gue percayai."
"Oke," pasrah Indah. "Gue lupa kalau lo nona hati batu."
Percakapan mereka pun sampai di situ. Ketika usai sarapan, Indah kembali ke kamar sementara Arlin mencuci piring. Memang tidak tahu diri sama sekali, tapi itu adalah Indah. Jadi segalanya menjadi wajar-wajar saja.
***
"Jangan nyusahin mama," kata Andrew saat ketiga putranya bergantian menyalami tangannya. Mereka akan sama-sama berangkat dengan mobil berbeda. Ketiganya ke rumah Arlin, sementara Andrew menuju kantor.
"Yes, Bos." Suga memberi hormat. Usai itu dia mengajak Adam masuk ke mobil lebih dulu.
"Tadi papa transfer sepuluh juta ke rekening kamu. Itu untuk jajan kalian bulan ini. Usahakan pakai uang itu, jangan bergantung sama mama kamu."
Saga mengangguk. Dia juga mengerti bahwa gaji Arlin sebagai guru tidaklah besar. Jadi meskipun dia senang akan perhatian Arlin berupa traktiran tersebut, dia tetap berusaha untuk tidak terlalu menyusahkan.
"Tentang Adam bagaimana? Apa dia.."
Andrew tidak tahu bagiamana mengatakannya. Putra kecilnya tersebut sangat berbeda dari anak kebanyakan. Tidak terlihat sama sekali seperti anak kecil yang seharusnya dan itu adalah sesuatu yang menyakitkan untuk dia katakan.
"Mulai normal," lanjut Saga. Dia tahu papanya berat mengatakan kalimat tersebut. Bukan hanya perasaan tidak terima, tapi juga rasa bersalah atau mungkin kekecewaan akan dirinya yang belum mampu menjadi ayah sempurna.
"Papa sendiri udah melihat kan? Adam mulai sering menangis dan lebih manja."
Andrew mengangguk. Dia juga telah melihat perubahan Adam. Lebih terlihat seperti anak kecil yang seharusnya.
"Mama gak pernah keberatan merawat Adam. Papa gak perlu khawatir."
Tanpa dikatakan Saga yakin itu yang ada di pikiran sang papa. Sebagai anak kecil Adam cukup kompleks untuk diurus. Arlin yang notabenenya perempuan single dan muda berkemungkinan risih mengurusnya. Jadi Andrew tidak bisa menahan diri untuk tidak khawatir seandainya Arlin mengabaikan Adam.
"Pulanglah sebelum jam empat sore."
Saga menyetujuinya. Menjadi percakapan pemisah keduanya untuk pergi ke masing-masing tujuan.
"Mampir dulu di Happy Cake," pinta Suga. "Kita beli kue untuk mama. Kan gak enak tiap datang tangan kosong, tapi pulang bawa buah tangan."
"Tumben." Karena yang Saga tahu Suga adalah tipe makhluk tidak tahu malu. Mana ada rasa segan di hatinya saat mendapatkan tanpa membayar.
"Gue mau jadi anak baik."
Saga berdecih mendengarnya. Anak baik?
"Sejak kapan otak lo bisa mikir ke arah itu?"
"Entah." Suga mengambil earmuff musim dingin dari dasboard, memasangkannya ke telinga Adam sebagai penangkal dari kalimat-kalimat yang akan dia bicarakan bersama Saga. Adam yang telah terbiasa diperlakukan begitu setiap akan ada pembicaraan penting pun tidak menolak. Dia tahu dan sadar, ada sesuatu yang memang tidak pantas telinganya dengar.
"Papa tadi ngomong apa?"
Saga memutar stir ke kiri, menjauhi truk besar di belakang mereka yang terus menekan klakson. Suga dibuatnya menyandarkan tubuh sembari menunggu kesenggaangan sang kakak.
"Soal Adam," ujar Saga setelahnya.
"Dia mulai normal. Apa lagi yang papa khawatirkan?"
"Lo mikir dong, Adam normal karena kehadiran mama. Saat ini mama belum suka sama papa, jelas lah papa jadi khawatir kalau dia bisa menjadi kemungkinan mama menjauhi Adam."
"Mama bukan orang seperti itu."
Aneh memang. Suga baru mengenalnya selama empat bulan, namun telah mengerti seperti apa sosok utama Arlin.
"Memang bukan, tapi ketakutan dengan alasan logis begitu mana bisa dicegah."
"Ah itu kan urusan papa. Ngapain kita ikut campur?"
"Emang gue ikut campur?"
Sudahlah. Memang sulit bercanda bersama Saga. Bawaannya lebih sering naik darah daripada tertawa.
"Tapi lo akhir-akhir ini berubah juga ya?"
"Berubah?" Alis tebal Suga saling bertautan memikirkannya. "Maksudnya?"
"Ya berubah. Lo jadi lebih... entahlah. Gua gak pandai mendeskripsikan, tapi lo dan diri lo sebelum ini benar-benar berbeda."
"Berbeda?" gumam Saga malas. "Is it for good or bad?"
"Good. Gue suka lo yang sekarang."
Ada sesuatu yang aneh melesak ke dadanya. Perasaan asing yang tidak pernah dia rasakan sebelum ini. Tidak dapat mengerti, tapi mampu dia nikmati hadirnya.
"Mama memang membuat kita semua berubah." Suga tersenyum mengatakannya sebab itu adalah implementasi isi hatinya.
"Tapi apa kita juga merubah dia?"
Saga tidak bisa mengatakannya pada Suga. Karena itu akan menjadi kematian harapan yang ada. Cukup harapan dia saja yang jatuh, jangan adiknya.