Harus Nikah 2

2017 Kata
"Ar, suami lo di depan tuh." Arlin mengerti langsung siapa yang Indah maksud dan itu menjadi alasan kekesalannya. "Dia bukan suami gue." "Calon suami," koreksi Indah. Terserah lah. Arlin malas mendebat, lagipula dia tengah sibuk membuat adonan kue. Tidak ada waktu untuk meladeni kegilaan Indah. Seenaknya Indah mencuil adonan kue dan memakannya.Dia lah jenis omnivora sejati. Arlin sih tidak peduli, toh Indah juga tidak berujung sakit perut. "Terus di mana Pak Andrew-nya? Lo gak suruh masuk?" Pertanyaan yang cukup beralasan. Karena biasanya Andrew akan segera menghampirinya begitu tiba. Begini kan dia jadi curiga kalau Indah tidak mengizinkan Andrew masuk. "Di mana Saga?" Orang yang ditanya pun datang. Indah menepuk bahu Arlin untuk penguatan. Sialannya memberi tatapan meledek pula. Andrew melirik sedikit Indah yang lewat di sampingnya. Berusaha mencari tahu apa maksud kode wajah perempuan itu tadi kepada Arlin. Sia-sia saja. Dia tidak dapat mengerti maksudnya. "Saga dan Suga pergi bermain bersama teman-temannya. Mungkin sebentar lagi akan pulang," tutur Arlin. Tadinya dia juga takut memberi izin kedua anak tersebut, namun keduanya mengatakan bahwa mereka telah memberitahu Nolan. Arlin pun setuju dibuatnya karena yang terpenting adalah Andrew tahu. Anehnya kenapa malah Andrew bertanya? Apa anak-anak itu berbohong? Arlin menepis pikirannya. Saga dan Suga tidak seperti itu. "Mereka tidak memberitahu?" "Tidak, malah pesanku sejak tadi siang tidak dibalas." "Tapi kata mereka, mereka telah memberitahu Pak Nolan." "Mungkin saja. Mereka terkadang menyampaikan hal penting lewat Nolan, tapi karena terlalu sibuk Nolan tidak meneruskannya. Itu sejak pukul berapa?" Andrew menurunkan Adam ke kursi. Anak itu tadinya tengah menonton kartun sembari menikmati beberapa kue kering. Sendirian dalam ketenangan. Itu hal biasa Andrew lihat dari Adam. "Dua." "Pukul dua ya?" gumam Andrew. "Berarti sudah enam jam juga." Dia tidak pernah melarang kedua anak tersebut bermain, bahkan dengan porsi waktu yang banyak. Tapi tetap ada batasan yang dia buat. Untuk Suga dia harus ada di rumah paling lambat pukul tujuh malam, sementara Saga yang lebih besar mendapatkan batasan sampai pukul sembilan. Alasan dibuatnya batasan tersebut adalah untuk menjaga keseimbangan waktu kedua anaknya dalam bermain dan istirahat. Kalau untuk belajar dia tidak terlalu menuntut. Paling-paling hanya dua jam setiap subuh. Itu pun pasif dengan dia yang menerangkan ulang materi sekolah. Hanya untuk menjaga agar otak kedua putranya tidak terlalu kosong dan di waktu yang sama memberikan motivasi. Kali ini Andrew merasa tidak senang. Bukan karena keduanya melampaui jam, tapi karena mereka meninggalkan Adam sendirian. Adamnya sudah terbiasa, tapi Arlin mungkin tidak. Waktu tidur atau bersantainya bisa jadi terganggu karena keberadaan Adam. "Maaf, aku jadi merepotkan kamu." Kening Arlin berkedut samar. Merepotkan? Kenapa dia tidak merasakan itu sama sekali dan lagi akan hal apa? "Adam gak ganggu mama kok," celetuk Adam tiba-tiba. Wajah cerianya yang tadi ada pun sirna seketika menjadi cemberut. Dia tahu apa yang papanya maksud. Sangat-sangat tahu. Sejak di meja makan tadi pagi juga telah mewanti-wanti dirinya untuk tidak merepotkan Arlin. Padahal dia memang tidak pernah merepotkan Arlin. "Maksud papa bukan begitu, sayang." Tidak membalas. Adam memalingkan wajahnya ke arah lain dan menekuk bibir. Arlin mengangkat kedua tangannya ketika Andrew melempar tatapan memohon. Dia tidak mau membujuk. Toh Andrew yang membuat masalah. Bisa-bisanya dia mengatakan Adam merepotkan. Padahal jelas tidak begitu. Sedari tadi datang Adam sekalipun dia tidak menangis. Merengek juga tidak. Hebatnya lagi saat Arlin ke supermarket dia tidak rewel sama sekali. Hanya meminta satu buah coklat saja dan itupun dengan ukuran kecil. Dia seolah tahu uang Arlin tidak cukup banyak. Diam-diam Arlin jadi mengidamkan anak seperti Adam. Yang pintar dan dewasa. Imut dan juga pengertian. Sempurna sekali. "Papa tadi ada beli sesuatu loh." Andrew berjongkok di bawah kaki Adam dan menarik kedua tangannya. Percuma saja. Anak itu tetap tidak mau melihat ke arahnya. "Itu makanan kesukaan Adam. Coba tebak." Arlin tertawa kecil akan ekspresi Adam yang begitu lempeng. Ah harusnya dia tidak heran. Toh Saga selaku kakaknya juga memiliki wajah begitu. Yang mana menjadi perbedaan kental antara mereka berdua dan Suga juga Andrew. Keduanya berwajah ceria, manis dan ramah. Perbedaan tersebut membuat Arlin menduga bahwa Adam dan Saga berkiblat ke karakter lain, yakni ibu mereka. Bicara tentang ibu, Arlin sebenarnya menaruh penasaran akan sosok ibu anak-anak tersebut. Kalau berdasarkan dugaan pribadi, Arlin kira ibu mereka pastilah seorang perempuan yang terhormat dan cerdas. Itu dijelaskan secara tidak langsung oleh latar belakang Andrew yang mewah. Karena menurut Alrin tidak mungkin seorang pangeran berpasangan dengan rakyat jelata. Meski di dongeng-dongeng itu dibenarkan, namun Arlin tidak yakin di dunia nyata juga begitu. Belum lagi Andrew dibesarkan oleh keluarga yang berkiprah pada bisnis. Ketika dia menikah, maka pendampingnya bukan saja harus berpendidikan tinggi, tapi juga membawa keuntungan. Dugaan tetap lah dugaan. Arlin belum melihat atau mendengar fakta yang sebenarnya tentang almarhum Nyonya Thompson. Jika Saga tidak mau membicarakannya, Arlin merasa maklum. Ketika ibu mereka pergi, Saga saat itu yang paling mengerti dibandingkan Suga. Tapi Suga yang terlihat rajin mengekspresikan perasaannya itu pun tidak pernah menyinggung ibunya. Hal sama juga berlaku pada Andrew. Kemudian mudahnya mereka memanggil mama padanya, membuat Arlin berpikir bahwa mereka tidak menganggap penting sosok ibu mereka lagi. Kelopak mata Arlin berkedip. Hanya beberapa detik, tapi dia telah berpikir begitu jauh dan dalam. Kerjaan pun jadi terlupakan. Ia menoleh sesaat pada Andrew yang masih berusaha membujuk. Lalu berpaling pada kerjaannya tanpa peduli. Andrew memang cari masalah. Adam sudah baik begitu malah dikatakan merepotkan. Kurang bersyukur sekali. "Adam, jangan marah dong. Nanti papa beliin coklat banyak-banyak, mau gak?" Tetap tidak ada respon. Adam malah menggambar pola-pola abstrak di meja dengan telunjuknya. Bahu Andrew melemah. Harusnya tadi dia menutup telinga Adam sebelum berbicara. Tapi dia terlalu meremehkan kalimatnya. Berpikir bahwa Adam tidak mengerti objek yang dia maksud. Melupakan fakta bahwa Adam adalah anak luar biasa. "Ini, Pak." Nolan meletakkan beberapa plastik ke meja. Setelah sampai di rumah Arlin, Andrew memintanya kembali pergi untuk membeli kue coklat. Sayangnya dia bertemu Indah—si perempuan yang cantik rupanya, tapi dia dengan kelakuannya. Dia dipaksa mampir ke warung sumpek dan menjadi terlambat kembali. "Tumben lama." Andrew membuka isi plastik. Mengambil satu kotak kue coklat untuk disajikan kepada Adam. Ada untungnya juga tadi dia menyuruh Nolan membeli. Karena jika tidak, maka dia tidak memiliki bahkan bujukan untuk Adam. "Ibu Indah tadi meminta diantarkan ke warung." "Meminta atau memaksa?" tanya Arlin. Dia tahu benar seperti apa tingkah laku perempuan itu. Lalu karena tidak enak akan kedekatan Indah padanya, Nolan pun berbohong. Hoho, Arlin tahu sekali. Melihat calon nyonya masa depan telah mengetahui, Nolan pun merasa yakin untuk jujur. "Memaksa, Bu." "Indah-indah." Arlin geleng-geleng kepala karenanya. Sedikitpun tidak pernah merubah kelakuan. Nanti jika diberitahu akan berdalih sampai benar, namun giliran menggurui orang lain dia nomor satu. "Ma!" Seruan Suga di ruang tamu terdengar sampai ke dapur. Ingatkan Andrew untuk memberikannya pelajaran karena secara tidak langsung telah menunjukkan ketidakberhasilannya mendidik. "Widih ada kue." Hampir tangan Suga mencapai kue saat tangan Andrew menjulur, memukul tangannya pelan. "Cuci tangan dulu." Yang mendapat teguran pun tercengir lebar saja. Andrew kira kelakuan itu tidak pernah ada pada dirinya. Tidak juga pada diri almarhum istrinya. Dia murni produk yang orisinil. Itu sebabnya Andrew merasa tidak terima setiap Nolan menyamakan dia dan Suga. "Adam," panggil Andrew. "Ayo papa suap. Nanti kue coklatnya dihabisin Abang Suga loh." Karena risih terus diganggu Adam pun memutuskan turun dari kursi untuk bergabung dengan Arlin. Kelakuan tersebut terjadi dalam pengawasan mata Suga. "Merajuk?" tanyanya. Andrew hanya berdehem untuk menjawabnya. Sudah terlalu letih hati membujuk Adam. "Kenapa?" "Kesalahpahaman aja." "Masa?" Suga menoleh untuk memeriksa raut wajah Adam. "Tapi kayaknya dia beneran marah tuh." "Papa minta maaf sama mama karena jadi kerepotan gara-gara kalian." "Kami bertiga atau Adam doang nih?" Andrew mendorong wajahnya, mencegah spasi yang akan membuat suaranya terdengar oleh Adam. "Adam," jujurnya. "Terus dia peka dan merajuk?" Suga sudah tahu kelanjutannya tanpa diberitahu karena itu bukan yang pertama kali terjadi. "Salah sendiri ngomong gak difilter. Jelas-jelas papa kan tahu itu tuyul kecil kepekaannya luar biasa." "Yah papa kan gak sengaja." Suga mengibaskan tangan. Menolak untuk mendengar lebih lanjut alasan Andrew. Alhasil Andrew jadi uring-uringan sendiri. "Oh iya, Pa. Tadi Bang Saga bilang kita pulang aja duluan, dia masih ada urusan." "Urusan apa?" "Gak tahu. Mungkin mau kencan sama pacarnya." Suga mengigit kue coklat di tangannya, membawa bersama untuk bergabung dengan Adam dan Arlin di depan pantry. "Kue apaan, Ma?" "Coklat." Arlin mengambil toples, meletakkannya ke atas meja. "Ayo masukin. Nanti boleh Adam bawa pulang." Segera saja semangat membara mengalir dalam darah Adam. Dia boleh membawa pulang kue buatan Arlin. Bukan tentang enaknya saja yang membuat dia ingin, tapi juga niat untuk memberitahu pada Bibi Ina kalau dia benar-benar memiliki mama yang perhatian. "Papa bantu ya biar cepat." Adam mengamankan segera toples ke dadanya. Memberikan sorot permusuhan pula pada sang papa. "Biarkan saja dulu." Arlin memberikan toples kaca kepada Andrew. Meski menerima, pria itu sebenarnya kebingungan. "Untuk apa?" "Apa lagi?" Mata Arlin melirik pada kue kering yang ia panggang sebagai kode. "Nanti saya dibilangin tidak adil pula." "Huuuu, papa kekanak-kanakan." Andrew mendelik akan sorakan Suga. Semakin mendelik lagi karena Arlin ikut mentertawainya. Kan jadi malu. *** Arlin memeriksa jendela. Setelah memastikan semuanya tertutup dia bergerak menuju pintu utama. Hari sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Dia telah mengantuk dan kedua temannya juga telah tepar di depan televisi setelah menghabiskan begitu banyak kue kering. Deru suara mobil terdengar mendekat. Arlin mengangkat pandangan untuk melihat. Itu adalah mobil Saga. "Kenapa.." Lidah Arlin terdiam akan sosok yang mendekatinya. Masih Saga, tapi wajahnya dihiasi memar. Sudut bibirnya bahkan juga robek. Lalu karena kulitnya begitu putih darah yang basah di wajahnya jadi terlihat begitu jelas. Tidak mau bertanya. Arlin tahu pasti anak itu terlibat dalam perkelahian. Toh di sekolah juga sudah sering begitu. "Ayo masuk." Arlin membuka pintu lebih lebar. Setelah Saga masuk dia menguncinya dan menuju dapur untuk mengambil segelas air. "Ma, ada es batu gak?" Tangannya yang sibuk menyendok es batu berhenti. Menoleh kaget untuk kedatangan Saga. Lebih kaget lagi karena tidak ada emosi yang terseret dalam kalimat Saga, melainkan kemanjaan saja. Manik coklat gelap Saga jatuh pada tangan Arlin. Perlahan-lahan bahu tegangannya melemah. Ia kira Arlin tidak akan peduli sebab dia telah menunjukkan diri sebagai berandalan. Itu kan identitas yang tidak disukai oleh orang-orang khususnya guru. "Minum dulu itu airnya," kata Arlin melanjutkan kegiatan. Saga menurut, menegak habis segelas air mineral yang telah Arlin sediakan. "Nih." Arlin mendaratkan baskom berisi kubikan es batu . Saga meraihnya satu dan langsung menempelkan ke wajahnya. Asalnya bukan main. Tangan Arlin jadi tidak bisa tahan untuk tidak memberikan pukulan. "Dicuci dulu itu darahnya." Saga tertawa kecil. Menimbulkan keanehan untuk Arlin yang melihatnya. Tawa dari bibir Saga itu sangat langka. Ketika muncul jadi membuat curiga. Sebab lelucon aneka ragam saja tidak mampu membuatnya tertawa, lalu apa yang lebih hebat dari perasaan itu untuk memicu tawa? Arlin kira tidak ada, makanya dia aneh akan tawa Suga. Jangankan Arlin. Saga sendiri mulai merenungi maksud tawanya. Dalam rangka apa coba? Gak jelas banget. Tapi sudahlah, dia malas berpikir. "Mau masak, Ma?" Saga kira sudah terlalu malam untuk makan malam. Tapi apa lagi yang akan Arlin lakukan jika menyalakan kompor kalau bukan memasak. "Enggak, cuma mau manasin gulai ayam." "Mau dong." Dia tidak lagi memikirkan denyut di wajahnya. Lagipula itu sudah terlalu biasa dia rasakan hingga efeknya mulai tidak lagi menyiksa sama sekali. "Nasinya ada di rice cooker. Itu di freezer ada juga kue coklat kalau kamu mau." Lidahnya paling tidak suka rasa manis. Memuakkan dan membuatnya cepat mual. Akhir-akhir ini dia mulai tidak lagi merasakannya. Terlebih Arlin suka makanan manis. Dia jadi terpaksa ikut menikmati karena enggan mengecewakan usaha Arlin. Seperti biasa, freezer Arlin penuh dengan bahan makanan. Selain suka makan dan memasak, Arlin kan rajin berbagi. Jadi Saga tidak heran melihatnya. "Mama buat sendiri?" "Enggak, itu dari papa kamu. Kalau yang saya buat yang itu." Arlin menunjukkan lemari penyimpanan makanan keringnya. Saga terperangah karena di sana ada begitu banyak toples kue kering. "Banyak banget." "Untuk stok." Keduanya terdiam kemudian dengan masing-masing pikiran berkelana. Saga senang karena mamanya tidak mengusik atau bertanya akan luka di wajahnya. Bagi beberapa orang itu mengiritasi karena menunjukkan ketidakpedulian, tapi bagi Saga itu adalah sebuah pengertian. Arlin tidak mau merecoki sampai dirinya merasa siap bercerita. Itu adalah hal yang dia butuhkan dari seorang ibu selain kasih sayang. "Mama harus nikah sama papa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN