Dosen Baru
Denting jam klasik berbunyi. Seorang gadis masih berada di alam mimpinya dengan balutan selimut yang hangat.
"Ren, bangun! Ini udah jam berapa?"ibunya berusaha membangunkan gadis itu. Namun, tidak di hiraukan olehnya. Ia malah semakin membenamkan tubuhnya di balik selimut.
"Ren, teman Kamu datang." Kata sang Ibu yang melihat putrinya masih berada dalam balutan selimut.
"Biar Saya aja yang bangunin, Tante."Ucap gadis itu.
"Baiklah, Nak."Ucap sang Ibu. Ia kembali menuju dapur.
"Kebiasaan deh ini anak. Gak bisa gitu? Pas Gue kesini, ini anak dah mandi. Kalau sleeping beauty mending di bangunin pangeran pake sun. Nah, Gue kalau kayak gitu di sangka gak normal,"gerutu gadis bernama Sisil itu, sembari melangkah menuju tempat tidur Renata. Ia pun geli membayangkan apa yang ia ucapkan barusan.
Gadis itu memang sulit di bangunkan di akhir pekan. Ia terlalu nyaman dalam mimpi indahnya. Tidak menghiraukan ibunya yang membangunkannya, ia pun tetap terbuai dalam hangatnya balutan selimut dan mimpinya.
Ibu Renata pun membiarkan teman dari putrinya untuk masuk ke kamar. Ia pun memilih pergi ke dapur kembali setelahnya.
"Woy bangun! Gue kesini, Lo masih tidur,"teriak Sisil sembari menggoyangkan tubuh temannya itu. Renata tidak menggubris teriakan temannya.
"Woy! Gadis tidur mulu. Rezeki di patok ayam kalau jam segini gak bangun,"ucap Sisil kesal. "Ini udah jam sembilan. Anak gadis harusnya udah mandi, bukan masih bikin pulau,"sambungnya kesal. Selalu seperti itu setiap ia ke rumah Renata. Karena itulah setiap ada janji Sisil akan lebih awal menuju rumah gadis itu.
"Biasa aja kali, Sil. Lo gitu amat, nyokap Gue aja gak gitu,"protes gadis bernama Renata itu. Ia mengerucutkan bibirnya, karena mimpi indahnya terganggu.
"Alaah, Lo. Bukannya nurut sama nyokap. Punya nyokap baik juga. Lah Gue, kalau di bangunin gak bangun air segayung atau seember bisa jadi sarapan. Harusnya Lo bersyukur! Bantui apa 'ke buat nyokap Lo. Ini malah enak tidur, lama-lama Gue darah tinggi gara-gara bangunin Lo,"celoteh Sisil yang memang akan seperti itu jika ia telat bangun. Karena hal itu jugalah ia memasang double alarm di kamarnya.
"Iya, Gue bangun. Cerewet,"gerutu gadis itu, sembari menyibakkan selimut. Lo kebiasaan, tiap bangunin Gue malah kultum kayak bulan puasa,"sambungnya kesal.
Renata pun beranjak dari tempat tidurnya dengan malas dan bergegas ke kamar mandi. Jika tidak ada janji, mungkin hari ini ia tidak akan beranjak dari tempat tidurnya.
-----
Renata dan Sisil pergi menuju tempat mereka biasa mengerjakan tugas. Setelah sampai ia pun mulai membuka laptopnya. Namun, setelah beberapa lama ia pun kembali menutup laptopnya dengan kesal.
"Sil, Gue jenuh. Pindah tempat! Gue gak konsen. Lagian ngapain ngerjain disini, sih,"omel Renata. Sepertinya perasaannya sedang tidak ingin berlama-lama disana seperti biasanya.
"Ini 'kan maunya Vanya, Ren. Lagian, kita 'kan sering disini. Mau dimana lagi?"cerca Sisil.
"Alah, dia belum dateng juga. Bilang aja! Ubah lokasi dari tadi kita lama nunggu."titah Renata yang memang harus di turuti.
"Iya-iya, okelah terserah Lo aja,"ucap Sisil pasrah dengan yang di ucapkan Renata.
Mereka berdua akhirnya meninggalkan tempat itu. Kebersamaan mereka memang tidak luput dengan perbincangan seputar kekasih mereka. Mengeluh, tapi masih suka. Mereka pun berusaha untuk tidak ambil pusing lagi, soal pasangan mereka yang sama-sama sok sibuk saat mereka ingin pacar mereka menemani. Walau hanya sekedar makan angin atau melihat senja.
"Ren, Gue denger bakal ada Dosen baru,"celoteh Sisil, saat menyantap makanan di genggamannya.
Mereka duduk di bangku taman, karena permintaan Renata. Ya, mungkin juga Renata butuh suasana yang baik untuk mengerjakan tugas dari Dosen. Gadis itu kembali membuka laptop di pangkuannya.
"I don't know,"jawab Renata, sembari mengangkat kedua bahunya. Ia memang tidak terlalu menanggapi isu tentang Dosen baru itu dan kembali fokus pada layar di depannya.
"Dia dari Al-azhar Kairo loh, hebat 'kan?"puji Sisil. Matanya berbinar, karena ia dengar Dosen itu sangatlah tampan dan kata yang pernah lihat Dosen itu seperti oppa tampan di drama korea.
"Hebat apanya? Biasa aja,"ucap Renata ketus.
"Universitas terkenal loh, Ren."
"Apa pengaruhnya sih, Sil? Enggak ada 'kan?"
"Ya elah gitu amat sih Lo ama cowok,"protes Sisil, sembari menyikut temannya itu.
"Udah kelilipan sama si Vino, jadi gitu deh,"celoteh Vanya yang baru datang. Ia mendaratkan bokongnya tepat di dekat Sisil dan mengambil cemilan temannya itu tanpa permisi. Sisil pun mengerucutkan bibirnya.
"Emang Lo tahu, dia siapa?"tanya Sisil antusias. Walau agak kesal makanannya berpindah tangan dan dinikmati begitu saja oleh Vanya.
"Ya iyalah, dia masih sodara Gue,"jawab Vanya, sembari mengunyah makanan. Renata tidak menghiraukan kedua sahabatnya itu.
"Kenapa Lo beda, ya?"tanya Renata tiba-tiba dengan nada mengejek, tapi mata dan tangannya fokus pada layar di depannya. Ia dan Sisil pun tertawa mengingat Sisil yang ceplas-ceplos jika bicara, hoby jalan-jalan dan terkesan tomboy.
"Hush...bedalah. Dia anak shaleh hafiz Al-quran juga. Lah Gue 'kan kalian tahu sendiri."mereka mengangguk dengan pernyataan jujur gadis itu.
Setelah perbincangan usai. Mereka kembali ke pokok permasalahan, yaitu tugas-tugas yang belum selesai dari Dosen killer yang bisa saja membuat nilai mereka jelek.
-----
Renata menuju ruang kelas. Semua begitu riuh dari biasanya. Gadis-gadis tampak merapikan diri mereka, seolah akan ada tamu kehormatan.
"Ada apa sih, Sil? Rame amat, amat aja gak rame,"celoteh Renata yang heran dengan kelas yang ramai seperti pasar. Bahkan para gadis begitu senang, seperti memenangkan undian atau uang untuk belanja ke Mall.
"Dosen killer kita di ganti, Ren. Ya...pada seneng lah,"ujar Sisil sumringah. Dosen killer itu memang di takuti mahasiswa dan mereka sangat bahagia jika benar Dosen itu di ganti.
"Sama siapa?"tanya Renata datar. Ia pun duduk di kursi dekat Sisil.
"Namanya pak Reyhan. Itu loh Dosen baru yang dari Kairo itu,"jawab Sisil dengan semangat.
Gadis itu pasti semangat, jika ada laki-laki tampan. Padahal, dia punya pacar cukup tampan juga.
"Oh kirain siapa, heboh,"ujar Renata. "Kalau Dosennya langsung dari Luar Negeri yang Universitasnya terkenal. Gue baru seneng."sambungnya.
Renata memang bercita-cita kuliah di Luar Negeri. Akan tetapi, harapan itu mungkin hanya tinggal harapan. Ia berpikir ibunya tidak mungkin sanggup membayar kuliah.
Suasana ruangan ramai seketika. Saat Reyhan datang. Namun, Renata dan Vanya tampak biasa saja. Vanya tentu dengan alasan pasti, karena pria itu tidak asing baginya. Namun, untuk Renata. Ia memang tidak begitu fanatik terhadap pria tampan baru. Sehingga ia bisa bersikap normal tanpa di lebih-lebihkan.
Para gadis terpesona melihat Dosen mereka. Seolah ada artis dari Negeri gingseng datang.
-----
Kelas telah usai, semua membicarakan pria itu. Gadis-gadis dengan antusias membahas pria yang telah menjadi Dosen mereka. Mereka pun senang dengan sikapnya yang ramah.
"Lo langsung pulang?"tanya Sisil.
"Yap, Gue capek. Sorry ya, Gue gak nongkrong dulu,"ujar Renata.
Ia melangkah untuk segera pulang. Ia benar-benar lelah di tambah bising yang terjadi saat Dosen itu masuk, membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
"Harus cepet pulang nih, capek banget."gumam Renata.
Ia bergegas melangkah, tapi terlihat Reyhan tak jauh dari sana. Gadis itu hanya bersikap cuek seperti biasa. Walau ia melihat pria itu di kerumuni banyak gadis, seperti gula yang di kerumuni semut karena manisnya.
Renata memasang earphone dan berjalan menunduk. Ia fokus pada jalan, karena ingin segera sampai di rumahnya. Mengabaikan teriakan para gadis yang berkerumun menghalangi langkah Dosen itu. Baginya tidak ada yang lebih special dari Vino pacarnya, walau pemuda itu tanpa kabar. Ia tersenyum saat mengingat pemuda itu berjuang untuk bisa di terima olehnya. Gadis itu memang terkesan cuek, tapi perhatian dan pengertian. Terkesan menyebalkan, tapi setia kawan.