PART 2

1756 Kata
AFFIYA RAMANIA KEDASIH Untuk kesekian kali nya tangan ku terulur mengelus d**a ini ketika rasa sakit menyerang ulu hatiku. Rasanya sakit dan perih Ketika mengingat sudah dua minggu aku menjadi istri kedua dari Pak Fahri dan selama itu pula aku dan dia tidak saling bertemu, jangankan bertemu untuk sekedar komunikasi saja tidak pernah. Pak Fahri memang sudah menjelaskan mengenai status ku yang hanya akan menjadi istri mudanya selama Enam bulan, mengingat Pak Fahri dan Mba Laras sudah sepakat dalam waktu enam bulan aku harus segera di ceraikan kalau tidak Mba Laras lah yang akan menggugat cerai Pak Fahri. Aku hanya bisa menelan ludah dan mengelus d**a ketika keputusan itu sudah Pak Fahri jelaskan dan Ia pun akan menurutinya. Ini lah nasib istri muda yang terbuang ketika status pernikahan ini hanya sementara, bukannya aku ingin terus dipertahankan namun mengapa haru menunggu enam bulan mengapa tidak sekarang saja kalau pada akhirnya nanti sama - sama diceraikan juga. Bila dalam dunia sinetron status istri muda akan jauh lebih tinggi bahkan mendapatkan kasih sayang seutuhnya tapi dalam pernikahan ku berbeda justru istri muda lah yang harus siap di buang karena ada perjanjian yang harus dipenuhi. Memang benar itu hanya ada dalam dunia sinetron dan berbeda dengan dunia ku, tapi setidaknya ada sedikit saja kasih sayang yang di berikan olah Pak Fahri entah itu dari pesan singkat atau telepon tapi ini ia sama sekali tidak memberikan perhatian apa pun. Pak Fahri seakan melupakan ku, setelah aku dititipkan di rumah Bundanya. Aku tinggal bersama Bunda Nia sementara dia tinggal bersama Mba Laras. Iri? Mungkin iya bukan kah rasa iri itu hal yang wajar mengingat aku juga sama istrinya tapi perlakuan nya yang membedakan antara aku dan Mba Laras. Mba Laras memang cantik tinggi putih mulus dan dia juga terlahir dari keluarga yang setara dengan keluarga Bunda Nia jadi wajar saja bila Pak Fahri sangat menyayangi dan mencintainya. Bunda Nia juga bercerita mengenai mereka yang bisa bertemu dan menikah. Mba Laras bertemu dengan Pak Fahri di acara keluarga yang di adakan oleh keluarga Mba Laras dari situlah awal mereka bertemu hingga pada akhirnya menikah setahun yang lalu. Aku memang belum pernah bertemu secara langsung dengan Mba Laras lagi pula bila aku bertemu dengan Mba Laras mau di taruh di mana muka ku yang sangat jauh dari kata cantik Ini. Aku hanya mendengar semua itu dari Bunda Nia dan dari beberapa foto yang aku temui di rumah ini. "Nggak kuliah Fy?" aku menengok kearah Bunda Nia yang membawa secangkir teh kemudian ikut duduk bersama ku di ruang tengah. Bunda Nia seorang ibu yang baik ramah dan sangat murah senyum beliau sama sekali tidak membenci ku, ketika semua keluarga Pak Fahri membenci bahkan menghakimi ku sebagai perusak rumah tangga orang Bunda lah satu-satu nya orang yang mengelus kepala ku ketika aku tertunduk dan menangis. "Masuk siang Bun. Bunda sudah makan?" Tanya ku. "Sudah." Jawab Bunda yang kembali menyesep teh nya. Aku hanya mengangguk singkat, memperhatikan Bunda yang tengah meletakan cangkir teh diatas meja. "Jangan banyak melamun Fy kamu itu masih muda bebaskan pikiran mu jangan terlalu terbebani dengan masalah ini." Ujar Bunda Nia beliau memang selalu memahami apa yang sedang aku rasakan dan aku pikirkan. Aku tersenyum kearah Bunda Nia "Iya Bun" jawab ku. "Sepulang kuliah pergilah ke mall atau kemana saja yang bisa membuat masa muda mu kembali berwarna jangan pikirkan mengenai status mu, Fy." Yang Bunda Nia katakan memang benar, untuk apa memikirkan status ku yang menjadi istri muda di usia delapan belas tahun masa depan ku masih panjang dan harus berwarna, lagi pula mengenai status ini tidak ada orang luar yang tahu selain keluarga inti Bunda Nia. Senyumku merekah mengangguk antusias, hari ini aku akan pergi kemanapun yang aku suka membebaskan diriku sendiri tanpa terbebani dengan apapun. "Nanti pulang nya jangan terlalu malam yah." Beliau mengusap kepalaku pelan lantas bangkit berjalan kearah kamar. Disini semua yang aku mau ada, dari uang yang selalu Pak Fahri berikan hingga supir yang siap mengantar ku untuk kuliah dan pergi kemana pun. Pak Fahri memang bukan pria b******k yang lepas tanggung jawab begitu saja tapi Ia pria yang bertanggung jawab memenuhi semua kebutuhan ku meski Pak Fahri sama sekali tidak pernah mengunjungi ku. Bunda Nia bilang Pak Fahri selalu datang ke rumah untuk mengantarkan semua keperluan ku baik itu buku atau pun barang lain nya tapi Ia akan datang sesudah aku pergi. Jadi bisa ku simpulkan bahwa Ia akan datang ketika aku pergi dan itu pertanda bahwa ia memang tidak mau melihat wajah ku. Aku baru saja keluar setelah mengikuti kelas. Tadi setelah berbicara dengan Bunda Nia aku langsung pergi ke kampus karena ada jam kuliah hari ini meski tidak lama. Rencananya siang ini hingga sore tiba aku akan menghabiskan waktuku untuk jalan - jalan sebentar. Entah itu nonton, makan atau membeli beberapa buku yang ku butuhkan. Aku juga sudah membawa uang secukupnya, uang yang selalu Pak Fahri berikan lebih dari kata cukup. "Pak antarkan saya ke mall yah." Pinta ku pada Pak Imam setelah sampai diparkiran. "Iya Non." Aku membuka pintu mobil hendak ingin masuk namun tarikan pelan ditanganku membuat wajah ku menoleh. "Fy gue ikut yah." Pinta Nona. Aku mengerinyit bingung melihat Nona sebentar sebelum aku mengangguk setuju dan menyuruh nya untuk masuk. "Ayo Na." Seruku mempersilahkan. Nona ini teman ku di kampus dia gadis yang baik dan juga dari keluarga yang berkecukupan. Wajahnya cantik, penampilannya juga sangat kekinian sangat jauh sekali dengan ku. Aku belum terlalu tau bagaimana sikap Nona yang sebenarnya, karena aku baru beberapa hari mengenal Nona. "Gue nggak nyangka Fy ternyata lo orang kaya yah." Ujar Nona seraya berdecak, Nona memperhatikan setiap sudut mobil ini aku hanya tersenyum bingung mau menjawab apa, lagipula ini milik Pak Fahri bukan benar - benar milikku. Selama perjalanan kami habiskan dengan banyak cerita, aku dan Nona saling bergantian menceritakan apa saja. Mulai dari hobi, makanan kesukaan sampai masalah cinta pun kami ceritakan meski lebih banyak Nona yang bercerita. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, aku dan Nona keluar dari mobil berjalan beriringan masuk ke salah satu Mall terbesar di kota ini. "Na kamu mau beli apa?" tanya ku seraya melangkah menuju salah satu toko buku terbesar yang ada disini. "Gue cari novel aja deh Fy." jawabnya. "Yasudah ayo." Aku mengajak Nona masuk kedalam Toko buku, mencari - ceri sebentar apa saja yang ingin aku beli. Aku membeli tiga buku dan semuanya Novel, sama dengan Nona. Nona juga membeli satu Novel kesukaannya. Nona teman yang enak untuk diajak ngobrol dia juga tipikal sahabat yang mau mendengarkan setiap curhatan sahabatnya baik itu membosankan atau tidak Ia akan tetap mendengarkan nya. Aku cukup nyaman dekat dengan Nona meski dia terlalu ceplas-ceplos ceplos dalam urusan bicara namun Nona cukup menyenangkan. Setelah selesai membayar aku dan Nona keluar, berniat untuk mencari tempat makan lalu setelahnya Kita akan menonton Film. "Dek. Nona" Aku dan Nona sama - sama menoleh kearah belakang ketika mendengar nama Nona dipanggil. Suaranya terdengar lembut, khas sekali suara perempuan yang lembut. Aku menatap penuh takjub kearah wanita cantik tinggi putih dengan hidung mancung dan sangat sexy. Tubuhnya yang ramping berbalutkan dengan dress selutut serta sepasang kaki jenjang yang berbalutkan sepatu hak tinggi. "Kak Laras." Seru Nona. Senyumku yang tadi mengembang kini hilang ketika Nona memanggil wanita itu dengan nama yang sama sekali tidak asing untukku. Laras, Apa wanita ini Mba Laras istri Pak Fahri? Semua pertanyaan yang menumpuk di kepala ku ini akhirnya terjawab sudah, ketika seorang pria tinggi gagah dan tampan datang dan memeluk wanita yang Nona sebut Laras itu dari samping, tangannya melingkari pinggang ramping perempuan itu. "Pak Fahri." Gumam ku dalam hati, sama sekali tidak berani menyebut namanya. Aku langsung menunduk ketika wajah Pak Fahri melihat ku dari atas hingga bawah. Kedua tanganku saling meremas satu sama lain merasa tidak nyaman melihat tatapan tajam Pak Fahri. "Sama siapa Na? Sendirian atau ...." Tanya Laras mengambang, Aku bisa melihat Mba Laras melirik ke arahku yang berdiri di samping Nona. "Oh yah kak Laras dan Kak Fahri ini Afiya sahabat Nona." Nona menyenggol lengan ku agar bersalaman dengan Pak Fahri dan Mba Laras. "Udah lah nggak usah salam-salaman dek." Ketus Mba Laras ketika tangan ku sudah terulur dan berniat menyalami nya. "Serah kakak deh .... Ayo Fy kita pulang." Aku mengikuti langkah Nona untuk segera pulang, mengabaikan tatapan Pak Fahri yang terus melihat ku. Aku terus berjalan cepat meninggalkan Nona, segera masuk ke mobil. Nona tidak ikut masuk, Nona bilang Ia akan pulang bersama kekasihnya. Aku menghelan napas setelah Pak Imam menjalankan mobilnya, menyeka keringat yang mengucur di keningku dengan tisu. Rasanya tubuhku bergetar setelah melihat Pak Fahri tadi bersama istrinya. Perjalanan tidak terlalu lama karema jalanan yang tidak terlalu ramai. Pak Imam membelokan mobilnya masuk ke halaman rumah Bunda Nia. Aku segera turun, melangkah cepat menaiki anak tangga tidak memperdulikan tatapan Bunda Nia yang menatapku dengan tatapan heran. "Fy." Panggil Bunda Nia, aku tidak menoleh aku terus berjalan masuk ke kamar lalu duduk diatas lantai meletakan novel yang baru saja ku beli diatas ranjang. Jujur saja aku merasa malu melihat istri Pak Fahri dan juga Nona. Istri Pak Fahri sangat cantik sangat jauh dengan ku dan Nona --- dia baru saja menjadi temanku lantas bagaimana bisa dia adik Mba Laras. "Bunda." "Bunda ...." Aku langsung bangkit setelah mendengar suara Pak Fahri yang memanggil - manggil Bunda Nia. "Ada apa Fahri?" Bunda Nia bertanya seraya keluar dari dalam kamar. Aku juga ikut keluar dari dalam kamar, tidak turun kebawah hanya melihat dari atas. Aku tahu Pak Fahri sangat membenciku, muak melihatku. "Bunda izinin dia keluar?" Tanya Pak Fahri pada Bunda Nia. "Siapa?" "Perempuan itu. Bagaimana bisa dia keluar!" "Iya Bunda yang memberikan izin. Lalu kenapa, memangnya ada yang salah?" Bunda Nia menjawab enteng pertanyaan Pak Fahri. Aku hanya bisa mengintip dari atas mendengarkan perdebatan antara Bunda dan Pak Fahri. Pak Fahri marah pada Bunda Nia karena mengijinkan ku untuk keluar rumah selain kuliah. "Sudah Fahri bilang Bun dia jangan sampai keluar dari rumah kecuali kuliah. Fahri tidak mau ambil resiko kalau Laras sampai bertemu dengan dia." "Dia bukan tahanan rumah Ri, biarkan dia bebas memangnya apa salahnya bila Fiya bertemu dengan Laras bukan kah Laras sudah tahu mengenai Fiya lalu apa masalahnya!" Bunda Nia masih coba menjelaskan kepada Pak Fahri. Dada ku kian bergemuruh melihat Bunda yang membelaku. Ada rasa sakit lagi yang aku rasakan ketika ucapan Pak Fahri yang menginginkan aku menjadi tahanan rumah. "Masalahnya dia berteman dengan Nona adik Laras bun," ujar nya. "Dan satu lagi bun Fahri mohon beri tahu dia untuk menjauhi Nona." Aku mengangguk lemah dari persembunyian ku mungkin benar kata Pak Fahri aku harus menjauhi Nona. ?? Honahon
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN