Happy Reading
??
"Sumpah yah Fy gue sebel banget sama istri muda nya kak Fahri. Bisa-bisanya tuh orang rela jadi istri muda, padahal usia dia masih mudah loh," Ujar Nona seraya melumat es krim nya.
Aku hanya diam membeku duduk di sebelah Nona dengan wajah menunduk. Rasanya bingung harus mengatakan apa, es krim yang aku genggam saja sama sekali tidak aku makan.
"Gue yakin dia itu wanita mata duitan dan penggoda suami orang," Katanya lagi.
Aku menghela nafas berusaha mengusap d**a ini agar rasa sakit karena perkataan Nona barusan tidak semakin menjalar. Rasanya saat ini aku ingin mengatakan yang sejujur nya mengenai aku lah wanita yang tengah Nona Bicarakan.
"Menurut kamu bagaimana Fy?" Tanya Nona, Nona menatap ku seakan menunggu jawaban memiringkan kepalanya agar bisa melihatku.
"Ah .... Aduh bagaimana yah Na aku nggak tahu Na. Tapi mungkin saja istri kedua kakak Ipar mu itu sebenar nya baik," Jawab ku sedikit gugup, aku mencoba untuk berkata agak pelan agar Nona tidak curiga.
"Nggak mungkin. Gue nggak yakin dia baik Fy, lagian dimana- mana yang namanya istri kedua itu ketus, jahat dan kejam. Cap yang melekat di dirinya saja sudah jelas w*************a. jadi menurut gue madu nya kak Laras itu yah sama saja kaya di sinetron."
Nona kembali melumat es krimnya sementara aku hanya bisa diam tanpa bicara lagi, percuma bila aku mengatakan tidak semua istri muda itu jahat pasti Nona tidak akan terima mengingat di sinetron maupun di dunia nyata cap Istri muda sudah terlanjur jahat.
"Bagi gue istri muda itu sama saja seperti ibu tiri, sama-sama kejam," Ujar Nona lagi Sambil bergidik ngeri.
"Na .... Itu kan cuma di sinetron kalau di dunia nyata mungkin mereka baik, tidak semua istri muda dan ibu tiri itu kejam loh Na" Terang ku yang langsung mendapatkan lirikan kesal dari Nona.
Aku menelan ludahku dengan susah payah menyadari lirikan Nona yang seakan penuh curiga dan kekesalan.
"Issh .... Lo nggak tahu Fy kan lo bukan simpanan om - om jadi nggak usah sok tahu kalau Madu kak Fahri itu baik," Tukas nya.
Aku hanya bisa diam, mendengar jawabannya tadi yang membuat ku selaku madu merasa berada di dalam himpitan yang membuat ku seakan terjepit.
"Gua tahu Na .... Gue tahu, nggak semua Madu itu jahat, mungkin cap mereka sudah buruk tapi gue tegasin sama lo Na nggak semua istri Muda itu jahat."
Nona melempar sisa es krimnya kedalam tong sampah membuat ku menatap Nona semkin heran.
"Kok lo gitu sih Fy? Seharusnya lo dukung gue buat hancurin Istri Muda kak Fahri dia itu w************n yang merebut suami orang, yah meski kak Fahri nggak pernah tinggal bersamanya tapi tetap saja dia wanita penggoda."
Nona mengetakan nya dengan tegas membuat ku terpaksa diam dan lebih memilih menghela nafas.
"Iya deh Na terserah lo aja deh," Tutur ku.
Aku merasa pembicaraan ini mesti di akhiri kalau tidak Nona bisa tahu kalau aku lah wanita itu.
"Aku pulang yah Na," Pamit ku yang langsung di iyakan Nona.
Kaki ku melangkah pelan masuk ke mobil. Sesekali aku melirik Nona yang masih duduk di kantin belum juga bergerak dari sana.
Sedikit susah memang memberikan pengertian kepada Nona, Nona terlanjur membenci istri muda seperti diriku.
"Pak pulang." Aku masuk ke mobil memutuskan untuk pulang lebih cepat.
Pikiran ku seakan mendadak kacau ketika mengingat ucapan Nona yang begitu membuat ku merasa seakan orang yang paling bersalah. Sebenar nya aku ingin mengatakan yang sejujur nya pada Nona dan berniat untuk menjauhinya tapi rasanya itu semua sangat sulit.
Aku jujur, bukan tidak mungkin Nona akan merasakan kekecewaan menapaki kenyataan bahwa aku sahabat nya ternyata istri muda kakak Ipar nya yang sejak tadi ia bicarakan.
Bagaimana pun Mba Laras itu kakan Kandung Nona jadi sangat besar kemungkinan Nona akan jauh lebih mencaci ku dari pada kakak nya Mba Laras.
Saat ini aku bisa apa, aku hanya bisa pasrah menuruti kemauan kak Fahri yang mendesak ku agar secepat mungkin menjauhi Nona. Kak Fahri memang benar, semakin aku dekat dengan Nona maka semakin cepat pula Rumah Tangga kak Fahri dan Mba Laras akan goyah karena ulah ku lagi.
Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, menjauhi Nona sama saja membuat ku kehilangan sahabat tapi dengan aku diam tanpa menjauh itu sama saja aku menghancurkan dua perasaan sekali gus, perasaan Mba Laras dan Nona.
Sudah bisa ku tebak Nona akan marah besar pada ku kalau sampai Ia tahu bahwa aku lah sahabat nya yang telah menjadi benalu dalam hubungan rumah tangga kakak nya.
"Jangan melamun Fy."
Aku celingukan melihat kearah Bunda yang tengah berdiri di pintu Mobil yang sudah terbuka. Aku mengedarkan pandangan melihat sekeliling yang bukan lagi jalanan melainkan rumah Bunda Nia.
"Ehh .... Bunda, sudah lama Bun?" kata ku sedikit gugup seraya menyalami tangan Bunda.
"Masuk Fy. Jangan melamun di dalam Mobil," Seru Bunda.
Bunda menarik lengan ku agar ikut masuk ke rumah membuatku mengerinyit bingung. Tumben sekali Bunda memintaku cepat masuk biasanya bunda Nia selalu memintaku untuk jalan - jalan tanpa diketahui Fahri.
"Kenapa Bun?" Tanya ku bingung setelah melihat Bunda Nia yang semakin menarik ku.
"Fahri pulang Fy." Bunda Nia menjawab dengan cepat membuat langkahku terhenti.
Ada Rasa gemetar ketika nama Fahri Bunda sebutkan, entah mengapa tubuh ku seakan merasa panas dingin untuk sekedar masuk kedalam rumah dan bertemu dengan nya.
"Kenapa diam?" Bunda Nia menggenggam tanganku membuatku sadar lalu tersenyum.
Bunda menarik lengan ku lagi untuk segera masuk. Aku hanya bisa mendesah pasrah mengikuti Bunda Nia.
"Bawakan Fahri makanan Fy. Tadi Fahri hanya minum air putih saja."
Bunda Nia mengatakannya dengan sedikit berbisik lalu mengangkat nampan coklat yang ada di atas meja dan menyerahkan nya pada ku.
"Tapi Bun ...."
"Sudah tidak apa - apa."
Aku diam mematung masih bingung bagaimana cara menolak perintah Bunda.
"Bun ...."
"Kamu istrinya kan?"
Aku mengangguk pelan "Iya Bun."
"Layani dia yah."
Aku menghembuskan nafas, menyerah karena apapun yang Bunda Nia katakan memang benar. Aku istrinya dan wajar bila harus menyiapkan makanan untuk Kak Fahri.
"Kak Fahri suka nya apa yah Bun?" Gumam ku tidak jelas.
Berulang kali aku menarik nafas panjang berusaha menghilangkan rasa gugup yang kian menjadi-jadi, pasal nya baru kali ini aku melihat Kak Fahri datang ke rumah Bunda dan menginap.
"Ambilkan ayam goreng dan sayur Fy, Fahri tidak suka sambal."
Aku langsung mengangguk, mengambil satu potong ayam goreng dan semangkuk sayur lalu meletakkannya di atas nampan yang tadi ku pegang.
Aku berjalan ragu menaiki satu persatu anak tangga setelah tadi selesai menyiapkan makanan untuk Kak Fahri. Kedua kakiku melangkah mendekati kamar, meski ragu aku tetap berusaha memberanikan dirinya.
Mata ku menatap bingung kearah pintu Coklat yang masih tertutup rapat. Tangan ku terulur untuk mengetuk pintu namun segera ku tarik kembali.
"Ah .... Tidak nanti kak Fahri marah." Gumam ku seraya mengigit ujung kuku jari telunjuk.
Pikiranku bimbang antara mengetuk pintu atau tetap diam, rasanya benar - benar ragu tidak berani mengetuk pintu kamar meski sedikit.
Wajah ku mendongak menatap pintu coklat yang tiba - tiba saja terbuka dengan sendiri nya. Aku mengerjap berulang kali lalu sedikit melangkah mundur.
"Maaf. Ini makanan nya."
Aku menyodorkan nampan berisi makanan kearah kak Fahri sementara kak Fahri hanya diam.
Tidak ada jawaban maupun uluran tangan Fahri untuk meraih nampan yang kuberikan. Fahri masih diam menatapku dengan tatapan tajamnya.
"Aku taruh di meja sini yah kak."
Aku meletakan nampan berisi makanan di atas meja dekat dengan pintu kamar kak Fahri.
Tubuh ku langsung berbalik berniat untuk pergi dari hadapan Kak Fahri, rasanya aku belum siap bila harus mendengar perkataan pedas Kak Fahri yang begitu menyakitkan.
"Jangan coba menggoda ku!" ketus nya.
Aku mengerinyit bingung sama sekali tidak mengerti apapun yang barusan Kak Fahri katakan. Menggoda, bagaimana aku bisa menggoda aku hanya berdiri berniat mengantarkan makanan bukan menggoda.
"Minggir!" Ucapnya.
Tubuhku langsung bergeser memberikan Kak Fahri jalan untuk lewat. Punggung Kak Fahri semakin menjauh dan hilang entah akan pergi kemana.
Melihat kak Fahri yang seolah tidak menganggap ku ada membuat hati dan jiwa ku seakan tertekan. Aku tahu aku memang salah menjadi istri kedua dari kak Fahri tapi itu semua bukan semata - mata karena aku yang menginginkan nya.
Bukan, bukan aku yang ingin menjadi madu tapi takdir lah yang membuat ku harus masuk kedalam keluarga ini. Takdir yang membalikan masa depan ku yang harus menanggung beban berat di tengah hinaan semua orang.
Andai saja aku tahu kedatangan ku waktu itu ke Villa menjadi awal ke hancuran hidupku, pastilah aku tidak akan pernah mau datang bahkan mungkin aku lebih memilih bersembunyi dari pada harus menikah dengan kak Fahri yang menjadikan ku sebagai istri keduanya.
Aku tidak pernah berharap dia mencintai ku atau pun mengaggap ku istri nya, tapi setidaknya ajak lah aku bicara meski itu hanya sekedar sapaan biasa.
"Jangan melamun lagi Fy. Biarkan saja dia pergi nanti juga Fahri akan pulang."
Aku menoleh melihat kearah Bunda yang sudah berdiri di samping ku.
"Eh .... Bunda," jawab ku sedikit bingung, tangan Bunda terulur mengusap wajah ku pelan lalu tersenyum.
"Jangan pikirkan Fahri Fy, bersabar lah tinggal Lima bulan lagi kamu akan segera bebas dari kehidupan ini" Seru Bunda Nia berusaha menyemangatiku.
"Iya Bun hanya lima bulan lagi dan semua ini akan berakhir." Aku tersenyum lebar membayangkan aku akan segera lepas dari ikatan ini.
Bunda memang benar hanya lima bulan meski itu bukan waktu yang singkat tapi jika di jalani dengan penuh kesabaran pasti akan berlalu dengan cepat tanpa terasa.
"Tidur Fy sudah malam, jangan menunggu Fahri, Buda yakin ia pulang larut malam."
Aku mengangguk patuh kemudian masuk kedalam kamar kak Fahri yang sudah ku tempati selama tinggal di sini.
Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang setelah selesai merapikan semuanya dan membersihkan diri. Kedua mataku terpejam namun terbuka kembali, aku merasa tidak bisa tertidur. Pikiranku melayang memikirkan Fahri yang belum juga pulang.
Aku melirik jam yang ada di atas meja sudah pukul sembilan malam dan Fahri belum pulang mungkin benar yang Bunda Nia katakan Fahri akan pulang larut
Aku hanya berguling - guling kesana kemari tanpa bisa tertidur sedetikpun. Aku duduk menatap dengan penuh harapan kearah pintu kamar yang belum juga terbuka.
Kedua jari-jari ku saling beradu satu sama lain seraya sesekali melirik kearah jam dinding yang sudah menunjukan pukul satu dini hari. Aku bangkit melangkah kearah jendela melirik ke halaman namun tidak ada mobil Fahri disana, berulang kali aku terus melirik kearah halaman bawah berharap Mobil hitam milik kak Fahri segera pulang, namun nihil masih tetap tidak ada.
Bukan niat ku untuk menunggunya pulang, tapi entah mengapa kedua mata ku ini sama sekali tidak bisa terpejam meski hanya sebentar. Perasaanku juga menjadi tidak enak memikirkan Kak Fahri yang belum juga pulang.
"Tidur Fy tidur." Seru ku membatin.
Aku mencoba membaringkan tubuh ini lagi, memejamkan kedua bola mata namun nihil lagi dan lagi kedua mata ku terbuka sempurna ketika telinga ini mendengar suara derap langkah kaki.
Aku celingukan bingung ketika melihat tubuh kak Fahri sudah berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan saling bersidekap.
"Sudah ku bilang jangan menggoda ku" Tegas nya.
"Eh.." Aku bingung dengan ucapannya, aku sama sekali tidak menggoda.
Kedua mataku coba melihat pakaian yang aku gunakan, tidak ada yang salah dengan piyama tidur panjang dengan gambar salah satu tokoh kartun terkenal.
Aku segera bangun dari atas ranjang memeluk satu bantal lalu meliriknya lagi.
"Maaf. Aku sama sekali tidak menggoda mu kak." Ujar ku pelan.
Aku buru - buru berdiri hendak ingin keluar saja dari dalam kamar ini. Lebih baik aku pindah ke kamar Bunda atau pun ke kamar Bibi.
"Jangan membuat ku menyandang gelar suami kejam karena mengusir istrinya untuk tidur di luar. kau bisa tidur di sini di dalam kamar ini tapi tidak untuk tidur di atas ranjang ini." Tegasnya.
Ada rasa sedikit bahagia ketika untuk pertama kali nya ia mengatakan bahwa aku ini istrinya meski perlakuan nya masih kasar, angkuh dan dingin tapi bagi ku itu sudah cukup membuat ku bisa tidur nyenyak.
Aku mengangguk mengerti lalu mengambil selimut yang ada didalam lemari dan menggelarnya diatas lantai sebagi alas untuk tidur.
??
Honahon