PART 4

1604 Kata
Happy Reading .... ?? "Sudah tutup mata mu!" perintah Fahri, Fahri menatap ku tajam dengan kedua tangan kanan mengangkat seakan memberikan Kode agar Aku segera menutup Mata. Kedua mata ku langsung terpejam dengan kedua tangan memeluk nampan Putih yang sedari tadi ku pegang. "Apa kau tidak punya sopan santun?! Apa kedua orang tua mu tidak mengajari mu. Seenak nya saja masuk kedalam kamar tanpa permisi" Aku menghela napas masih memejamkan mata seraya mendengarkan omelan Fahri. "Ini kamar ku dan akan selama nya menjadi kamar ku! Jangan bermimpi ini semua akan berubah menjadi milik mu." Fahri segera memakai baju nya setelah tadi ada gangguan kecil yang membuat Fahri harus memaksa ku untuk menutup mata. Bukan nya aku wanita t***l yang tidak tahu sopan santun, aku sudah mengetuk pintu namun sama sekali tidak ada jawaban. "Sudah Buka mata mu." perintah Fahri. Mata ku terbuka setelah menerima izin dari Fahri untuk membuka mata. Ada rasa takjub ketika bola mata ku tanpa sengaja menangkap sekilas bola mata coklat milik nya. Teduh dan damai .... Itu yang aku rasakan ketika melihat bola mata nya yang sama sekali belum pernah ku lihat sebelum nya. Meski aku hanya melihat sekilas tapi itu sudah membuat ku merasa teduh dan nyaman. Aku seperti melihat sosok lain ketika melihat matanya. Mata yang teduh dan damai sangat berbeda dengan sikap dan kelakuan nya yang terlihat begitu dingin dan angkuh. Entah mengapa aku mulai merasa suka memperhatikan nya meski sikap nya sangat membuat ku malas tapi dengan melihatnya diam itu sudah membuat ku merasa puas. Puas dalam artian hanya mencuri pandang tanpa ia tahu. Aku tidak ada nyali untuk memperhatikan nya jauh lebih dalam, melihat ia membuang muka saat melihat ku saja sudah membuat ku takut apa lagi kalau aku sampai ketahuan mencuri pandang. Entahlah apa yang akan terjadi dengan ku. "Sana pergi! Untuk apa kau berada di sini." usirnya tanpa melihat kearah ku. Fahri menatap kearah kaca besar tanpa menoleh sama sekali kearah ku. Dia hanya mengusir tanpa menatap. Kaki ku melangkah dengan ritme yang lambat dengan kedua tangan saling memeluk nampan yang sedari tadi ku pegang. "Kau hanya benalu yang akan menghancurkan rumah tangga ku dengan Laras." lirih nya tajam. Seketika langkah ku terhenti dengan tubuh mematung di ambang pintu. Tangan ku sudah menyentuh kenop pintu namun segera ku urungkan niat ku untuk membuka tatkala ucapan tajam itu terdengar jelas di telinga ku. Tangan ku meremas ujung nampan seakan merasa kesal karena tanpa Bosan ia selalu saja melimpah kan kesalahan pernikahan ini pada ku. "Ini bukan salah ku Kak." bantah ku. Entah mengapa suara bantahan itu seketika keluar dari dalam mulut ini, padahal sekuat tenaga aku selalu mencoba menahan meski semua orang selalu saja menghakimi ku seolah aku lah yang paling salah dan Fahri benar. "Memang benar bukan. Kau yang menggoda ku Fiya. Kau juga yang pura - pura jatuh untuk mencuri perhatian ku." Aku membalikan tubuh ini, melepas kenop pintu dan berjalan cepat kearah Fahri. Aku sudah muak mendengar cacian itu. Cukup, cukup keluarga besar nya saja yang menghakimi bahkan mencemooh ku sebagai w************n. Aku tidak mau mendengar hinaan itu lagi. Aku yakin aku bukan lah tersangka utama dalam masalah ini. Fahri, Fahri juga sama tersangka ini kesalahan kami berdua bukan hanya kesalahan ku. "Aku tidak menggoda mu Kak!" bantah ku tegas. Fahri membalikan tubuh nya tepat menghadap kearah ku namun wajah nya masih sama memaling kearah lain seolah ia merasa jijik untuk sekedar melirik ku sekilas. "Lalu apa namanya kalau kau bukan w*************a? Jalang? Atau simpanan?" Dada ku kian meradang merasakan hawa panas kian menyelimuti tubuh ku. Ada rasa sakit yang sama sekali tidak bisa ku ucapkan namun lara bila di rasa. "Cukup Kak! Ini semua bukan salah ku. Ini kesalahan kita berdua" bentakku. Tangan ku melempar nampan hingga jatuh di atas lantai membuat wajah Fahri seketika melihat kearah ku dengan rahang mengeras. Bola mata nya menatap ku tajam seolah aku ini adalah musuh besar nya. Tidak ada lagi sorot mata teduh dan damai, saat ini yang ada hanya sorot mata menyeramkan penuh emosi. Kedua tangan nya mencengkram lengan ku kuat, membuat wajah ku langsung meringis merasakan rasa sakit akibat cengkraman nya yang begitu kuat. "Kau menggoda ku dan kau juga menjebak ku Fiya! Ini fakta. Buka mata mu Fiya dan coba lah kau ingat kejadian gila malam itu." geram Fahri masih mencengkram lengan ku. Wajah ku menunduk menahan tangis agar tidak pecah di hadapan Fahri, pria bermental lembek yang tidak mau mengakui bahwa ia sama salahnya dengan ku. Fahri seakan gelap mata melimpahkan semua kesalahan malam itu kepada ku. Dia bukan laki-laki dia hanya pria bermental rendah dengan cara bersembunyi di balik tubuh ku dan menjadikan ku sebagai pelindung nya. "Kau ini hanya anak pelayan Vila yang bagi ku hanya seutas kain kotor yang bisa ku buang kapan saja. Ingat Fiya kau yang salah bukan aku jadi jangan coba - coba lagi kau masuk kedalam hidup ku" "Kau juga salah!" Bantahku. "Aku?" Fahri tertawa sumbang "Jelas kau yang salah! Seorang anak penjaga yang sengaja menjebak ku demi uang bukan." Rasanya seperti ada tumpukan beban berat yang menimpa ku, sesak dan sakit. Napas ku seakan tercekat mendengar perkataan Fahri yang menganggap ku jauh lebih rendah dari orang lain. Aku mengutuk kebodohan ku yang sempat mengagumi mata teduh nya. Mata teduh yang bisa berubah menjadi gelap ketika melihat kearah ku. "Cerai kan aku sekarang!" Pinta dengan lirih. Aku berusaha mengucapakan nya hati-hati tanpa suara keras apa lagi emosi, meski di sini di dalam d**a ini rasanya aku ingin memaki dan memukuli nya tapi sekuat tenaga aku mencoba menahan nya. "Enam bulan baru kau akan ku ceraikan!" jawabnya dingin lantas melepaskan tangannya dari lenganku. Fahri melenggang pergi tanpa melihat kearah ku sama sekali. Fahri meraih ponselnya yang ada diatas nakas sama sekali tidak perduli dengan keberadaanku. "Apa bedanya sekarang dan nanti? Itu sama saja, sama-sama aku akan di cerai kan!" Cecar ku masih berusaha agar Fahri mau menceraikan ku sekarang. Ia menghentikan gerakan jarinya pada layar ponsel, berbaik menatap ku dengan raut wajah sama sekali tidak bisa k*****a. "Tidak sekarang tapi nanti!" Jawab Fahri seakan Final atas keputusannya. Aku mendekatinya kedua mataku menatap Fahri seakan memohon agar Ia melepaskan ku. "Aku mau sekarang!" "Tidak!" "Tapi kau tidak bisa adil! Kau selalu menyalahkan ku." Aku mengungkapkan apa yang seharusnya aku katakan sejak awal. "Aku sudah berusaha adil Fiya jadi diam lah. Jangan membahas masalah ini lagi!" jawabnya enteng. Apa aku tidak salah dengar, adil? Apa nya yang adil. Dia sama sekali tidak bisa berbuat adil ia justru menindas ku dengan tatapan nya, perkataan nya yang pedas dan selalu menyudutkan dan perlakuan nya yang kasar. Apa itu di sebut adil? Aku akui ia memberi ku harta berlimpah tapi apa itu cukup, sementara dalam hal kasih sayang dan rasa perduli saja dia tidak sanggup membagi. Bila menurut Fahri ia sudah adil apa itu benar Aku tidak buta dan bodoh aku tahu mana yang adil dan Tidak. Ia bukan adil tapi ia cenderung membedakan antara aku dan Laras istri pertamanya. "Adil? Kalau Kak Fahri merasa adil makan ceraikan aku secepat mungkin!" tegas ku tidak mau kalah. Fahri meletakan kedua tangannya diatas bahuku menekannya dengan kuat tanpa perduli aku wanita di hadapan nya meringis menahan sakit. Aku lebih suka dia bunuh dari pada harus ia siksa secara batin. "Tolong ceraikan aku Kak" pinta ku memohon. Aku sama sekali sudah tidak kuat menjadi istri muda Fahri yang hanya menjadi tameng pelindung untuk menutupi semua kesalahan nya. Mungkin bagi mereka aku lah yang salah karena mau menjadi madu, aku lah wanita yang paling rendah karena mau merebut suami orang. Tapi apa kalian semua bisa melihat dan merasa di balik cap buruk istri muda mereka juga sama merasakan sakit yang istri tua alami. Bukan hanya harta dan kepuasan yang diinginkan istri muda tapi lebih rasa cinta dan sayang. Untuk apa menguasai suami di atas ranjang tapi tidak bisa menguasai perasaan dan hatinya. Mungkin sebagian madu di luar sana masih bisa tersenyum bergandengan mesra dengan suaminya sementara aku hanya bisa gigit jari merasakan hidup ku jauh jungkir balik dari kehidupan wanita biasanya. "Mas.. Mas Fahri" Mata ku dan mata Fahri saling bertatapan, Fahri langsung menjauhiku melepaskan tekanannya dibahuku. Fahri mengernyitkan dahi nya ia seakan mengenali suara itu. "Mba Laras" gumam ku menebak. Fahri mengangguk, berjalan dengan langkah lebar ia menarik lengan ku membuat tubuh ku harus terhimpit di sela dekapan tangan nya. Mata nya menatap ku penuh penekanan dan perintah, namun dengan sigap aku langsung menggeleng menolak tatapan yang membuat ku pahan. "Jangan pernah keluar. Aku tidak mau Laras sakit hati karena ulah mu!" tegas nya. Aku menggeleng menolak tegas perintahnya. Biar lah Mba Laras tahu suaminya menginap di rumah ini dan Biar saja Mba Laras tahu bahwa aku sahabat adiknya adalah Selir suaminya. "Mas keluar.. Aku tahu kamu sedang bersama jalang kecil itu!" Fahri mencengkram kedua tangan nya kuat ia seakan tengah menahan emosi akibat ulah ku yang menolak untuk sembunyi. Untuk apa aku sembunyi aku istri nya dan untuk apa juga aku takut toh aku juga ingin bercerai dari nya. "Kau bukan hanya picik Fiya tapi kau Juga pembangkang!" geram nya. Fahri segera keluar dari kamar berlari kecil menuruni anak tangga sementara aku hanya bisa berdiri mendempet di dekat pintu melihat Fahri dan Laras yang nampak saling menyapa satu sama lain. "Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi di sentuh oleh mu yang dengan tega memadu kasih dengan wanita bodoh itu!" tolak Laras. Laras menghentakkan kedua kaki nya berusaha mundur dari rayuan Fahri. Tangan kanan ku terulur mengusap d**a ini yang kian bergetar melihat Fahri dengan telaten dan sabar membujuk Laras. Aku bisa melihat suasana bahagia di kala Laras sudah kembali luluh dan menghambur salam pelukan Fahri. ?? Honahon
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN