PART 5

1205 Kata
FAHRI Sesuka hati Dia meminta cerai, memang nya dia siapa, dia hanya istri kedua ku yang hanya hidup sebagai benalu di dalam hubungan rumah tangga ku dengan Laras. Dia seolah tidak pernah berfikir bahwa dia lah yang salah bukan aku ataupun Laras. Dia yang menggoda ku dan jelas aku sangat membenci dan menyalahkan nya. Aku bisa saja menceraikan nya sekarang juga mengingat Aku dan Fiya hanya menikah secara siri, namun janji ku pada Bunda dan Orang Tua Fiya yang baru bisa mencerai kan Fiya bila pernikahan kita sudah berjalan selama Enam bulan, itu yang ku janjikan kepada Bunda dan mau tidak mau aku harus menepatinya. "Menikah itu bukan permainan Fahri. Kamu tidak bisa menikahi wanita kemudian menceraikan nya begitu saja. Dimana letak hati mu? Fiya itu gadis polos jangan sampai tanggung jawab mu lepas begitu saja terhadap Fiya" "Setidak nya kamu jalani dulu pernikahan ini dengan Fiya. Jangan menceraikan nya sekarang atau besok coba lah untuk mengerti keadaan Fiya, Fahri. Bunda memang tidak setuju kamu mempunyai istri baru tapi mau bagaimana lagi ini sudah terjadi. Bunda siap menampung Fiya asal kamu mau menunggu selama beberapa Bulan untuk mencoba mengenal Fiya dan kamu bisa menceraikan nya jika memang di antara kamu dan Fiya tidak saling menyukai." Itu lah yang membuat ku harus menahan diri untuk tidak menceraikan Fiya meski pernikahan laknat ini tinggal beberapa bulan lagi tapi tetap saja Laras yang akan tersiksa. Aku memikirkan perasaan Laras yang Pasti sangat tersakiti dengan keadaan seperti ini. Aku tidak bisa berbuat apa - apa selain menjanjikan kepada Laras bahwa aku akan menceraikannya setelah enam bulan. Mungkin Fiya senang bila rumah tangga ku dan Laras hancur karena ulah Fiya yang menjebak ku sehingga Aku harus rela menikahi nya dan menjadikan nya istri kedua. Aku bisa mengerti bila Laras marah ataupun membenci Fiya mengingat Fiya lah yang salah merebut suami orang. Tentu sangat jelas bukan cap yang di sandang oleh Fiya -- w*************a. "Kamu benar kan Mas tidak tidur bersama wanita itu?" tanya Laras akhir nya. Laras memperhatikan setiap bagian tubuhku yang bisa Laras lihat seakan mencari - cari sesuatu yang bisa membuktikan tuduhannya. "Benarkan aku tidak berbohong." Ucapku seraya menggenggam tangan Laras. Laras menatap ku lekat lalu mengangguk, ia menarik tangannya dengan lembut lalu melingkarkan dipinggangku. Senyum bahagia tergambar jelas di bibir Laras ketika mendengar jawaban ku. Aku mencium pipi Laras dengan gemas, rasanya melihat dia seperti ini sangat manis dan menggemaskan. "Kau percaya?" Tanyaku memastikan. "Iya aku percaya." Kedua mata Laras melihat kesana kemari seakan mencari sesuatu. "Lalu sekarang dimana w*************a itu?" Aku mengerinyit mulai memahami maksud pembicaraan Laras. Aku menghela napas lalu tersenyum dan kembali mencium pipinya. "Dia sedang Pergi." jawab ku berbohong. Aku tau Fiya berada di Rumah ini atau mungkin dia juga sedang menyaksikan kemesraan ku dengan Laras. Namun aku masih berusaha untuk menyembunyikannya saja mencoba untuk menghindari pertengkaran. "Mas tidak berbohong?" "Iya sayang." jawabku. Aku bukanlah pria jahat yang suka menyakiti hati perempuan buktinya Laras, dia tidak pernah sekali pun ku sakiti tapi semenjak Fiya masuk kedalam kehidupan ku semua nya menjadi berubah. Laras istri yang paling ku sayangi harus rela berbagi dan merasa tersakiti itu semua karena Fiya dan sudah sangat jelas Fiya lah yang salah. Fiya memang membantah mengenai semua tuduhan ku yang menjurus padanya tapi bagi ku tetap saja Fiya dan selalu Fiya lah yang salah. Andai saja Fiya tidak datang ke Vila dengan alasan menggantikan Ibu nya yang harus membereskan Vila pasti semua ini tidak akan terjadi. Itu lah yang membuat keyakinan ku akan Fiya lah yang salah semakin kuat, apa lagi di tambah kejadian kaki Fiya yang terkilir itu semua semakin menguatkan ku bahwa ada drama yang Fiya dan keluarganya main kan hanya untuk menjerat Pria kaya seperti ku ini. "Nama wanita itu siapa Mas?" tanya Laras. Laras memang belum tau mengenai Fiya apa lagi namanya, Laras benar-benar tidak tau. Kalau pun Laras tau pasti kejadian di Mall Antara Fiya dan Nona sudah menjadi akhir dari semuanya. Aku sudah bisa menebak bagaiman marah nya Laras bila Dia tau bahwa sahabat adik nya Nona adalah Madunya. Karena itu lah aku menekan Fiya agar segera menjauhi Nona agar keluarga besar Laras tidak tahu mengenai identitas Fiya. Aku tidak mau bila Laras sampai berbuat nekat Pada Fiya apa lagi sampai membuat perasaan Laras sendiri terluka. "Ramania" jawab ku yang hanya menyebutkan nama belakang Fiya. "Masih muda tapi ko kelakuan nya seperti wanita penghibur yang sudah lihai." gumam Laras yang sangat jelas bisa ku dengar. "Mas tidak menyentuh nya kan, Mas juga tidak menggodanya kan?" Aku langsung menggeleng menjawab pertanyaan Laras. Memang benar bukan Aku sama sekali belum pernah menyentuh Fiya. Jangan kan menyentuh sekedar Menatap nya saja rasanya darah ku kian mendidih. Bayangan Fiya yang jatuh dan terkilir sehingga membuat ku harus menikah paksa rasanya selalu muncul di setiap inci wajah gadis kecil itu. Dari bayangan dia datang sampai pernikahan memalukan semua ada di bayangan wajah Fiya. Melihat itu semua di wajah Fiya membuat ku sama sekali tidak bisa melupakan nya dan rasanya kebencian ku Pada Fiya semakin hari semakin bertambah. Aku membenci Fiya. Benar sangat benar ku akui memang kebencian ku pada Fiya sudah sangat menggunung rasanya saat Fiya meminta cerai Aku sangat ingin mengabulkan nya tapi janji ku pada Bunda yang membuat ku mengurungkan nya. "Ingat Mas enam Bulan. Kamu harus menceraikan nya kalau tidak aku yang akan menggugat cerai mu" Ancaman Laras akan perceraian antara Aku dan Laras membuat aku harus menghela napas. Mencerai kan Fiya mudah saja tapi bagaimana dengan Bunda. Bunda sudah terlanjur dekat dan sayang terhadap Fiya sangat berbeda dengan Laras. Bunda cenderung tidak perduli pada Laras apa lagi semenjak Aku dan Laras menikah, Aku dan Laras sangat jarang mengunjungi Bunda, itu lah yang membuat Laras dan Bunda seperti air dan Minyak saling sapa tapi tidak akrab. Laras bilang Bunda lah yang tidak mengerti akan keinginan menantu nya yang hanya ingin tinggal di rumah orang tua Laras tanpa mau tinggal di rumah Bunda, begitu pun sebalik nya Bunda beralasan bahwa Laras lah yang merebut kasih sayang ku Pada Bunda karena Aku dan Laras yang sangat jarang datang ke rumah apa lagi untuk menginap, selama aku menikah dengan Laras baru malam tadi lah Aku menginap bersama Fiya. Aku sudah menyadari kedekatan Bunda dengan Fiya yang semakin hari semakin kuat sementara dengan Laras kedekatan Bunda dengan Laras semakin menjauh bahkan sekarang saja di saat Laras berada di rumah Bunda untuk mencari ku, Bunda tidak ada dan lebih memilih berada di dalam kamar dari pada sekedar menyapa menantu nya Laras, begitu pun juga Laras dia datang tanpa menanyakan keadaan Bunda dan seakan tidak perduli dengan Ibu mertua nya. "Mas Pulang. Rumah Bunda terasa tidak nyaman." rajuk Laras seraya menarik ku paksa agar segera pulang tanpa pamit sama sekali kepada Bunda. Terkadang sikap Laras yang manja dan seperti ini masabodo membuat ku kesal, tapi di balik sikap cuek dan masabodo nya Laras wanita yang baik cantik dan bisa membuat ku merasa nyaman bila berada di dekat nya. "Sayang Pamit dulu sama Bunda" bujuk ku yang langsung di jawabi gelengan kepala oleh Laras. Aku bisa melihat Bunda dan Fiya berdiri di balkon lantai dua melihat aku dan Laras yang pulang tanpa pamit atau sekedar menyapa Bunda tapi mau bagaimana lagi Sikap Laras memang seperti ini cuek namun baik. HONAHON
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN