Aku menatap nanar kearah tumpukan buku - buku yang sedari tadi ku tatap tanpa Aku buka apa lagi membacanya. Entah mengapa hari ini rasa kesal, jengkel dan Amarah kian menjadi satu bila bayangan Fahri dan Laras terus saja berputar jelas di dalam ingatan ku. Ingin rasa nya Aku teriak di hadapan mereka berdua bahwa Aku ini wanita baik-baik bukan wanita Perebut suami orang, Aku tidak ada niat sama sekali masuk kedalam kehidupan mereka berdua tapi takdir lah yang mendorong ku agar masuk dan menyandang gelar w*************a dan cap buruk lain nya.
Tidak ada yang Mengerti Posisi ku, tidak ada yang Bisa memahami bagaimana aku, Bagaimana sebenar nya Masalah ini dan Bagaimana nasib ku sekarang. Mereka hanya berkata sesuka hati mereka, Mereka hanya menyudutkan satu Pihak tanpa mau melihat posisi ku. Mereka tidak tau sebenar nya apa yang terjadi hingga pernikahan yang di sebut laknat ini bisa terjadi.
Taukah kalian Bahwa menjadi Aku wanita muda dengan Cap yang buruk sangat lah sulit. Bukan kebebasan yang ku dapat melain kan tekan yang seolah membuat hidup ku terhimpit dalam beban masalah yang sama sekali tidak bisa ku tahan sendiri. Andai Fahri bisa memahami ku, mengerti diriku dan mungkin dia bisa menjadi penengah di antara masalah ini pastilah beban berat yang menghimpit ku bisa sedikit terangkat. Tapi apa? Fahri layak nya pria penakut yang tidak mau bersikap bijak dan justru dia lah yang membuat beban ini semakin menumpuk dan kian membunuh ku.
Hanya satu harapan ku saat ini, berharap ada saja diantara Fahri, Laras, Nona dan anggota keluarga lainnya yang bisa memahami keadaan ku sekarang, bukan malah semakin menyalakan Api di antara masalah ini.
Aku sudah berniat ingin membongkar semuanya, membongkar pada Nona bahwa aku lah sahabat baik nya yang selama ini telah hidup diantara bayang - bayang Kakak nya. Aku sudah siap bila Pada Akhir nya Nona akan menghujat ku bahkan mungkin Dia akan Mempermalukan ku di depan umum semua itu sudah sangat siap ku hadapi. Aku sama sekali tidak berharap Nona akan menerima dan mengerti keadaan ku saat ini karena apa pun aku dan bagaimana pun diriku, Laras tetap kakak kandung Nona jadi sangat wajar bila dia akan menghujat ku.
"Melamun?" Aku terlonjat Kaget merasakan Sesuatu menepuk bahu kanan ku Pelan, membuat semua khayalan dan rencana ku hilang seketika.
"Ben?" balas ku seraya menoleh kearah Ben, Ben menatap ku bingung melihat kekanan dan kiri sebelum Akhir nya Ben ikut duduk di sebelah ku.
"Ada Masalah Fy?" tanya Ben Tiba-tiba.
Ben meletakan tas ransel yang dia bawa di atas kursi yang berada di hadapan ku dan Ben, sebelum akhir nya dia kembali duduk menatap ku seolah ingin tahu.
Ben kekasih Nona, Kekasih sahabat ku, Mereka menjalin hubungan baru beberapa minggu ini. Aku dan Ben sangat dekat bahkan kedekatan ku dengan Ben sangat jauh lebih dekat dari Pada Nona. Ben pria baik ramah dan sangat sopan, wajah nya yang tampan dan status orang berada tidak membuat Ben merasa dirinya angkuh dan sombong justru sikap nya sangat jauh dari kebanyakan orang lainnya.
"Nggak Ben. Oh iya dimana Nona?" jawab ku Akhir nya.
Ben menatap ku lekat mengedipkan kedua matanya lalu tersenyum kearah ku "Dasar Bodoh. Hey Fy ingat Aku tidak merantai Nona. Aku juga tidak tau Nona dimana" jawab Ben asal membuat ku harus menghela nafas kekesalan karena ulah nya.
"Kau ini kekasihnya kan?!"
"Kekasih beberapa hari." Sahut Ben dengan santainya.
"Beeennnnn kau ini ...." geram ku seraya memukuli lengan Ben tanpa Ampun. Ben semakin tertawa terbahak - bahak tanpa protes sedikit pun ketika aku memukuli nya.
Melihat sikap Ben ke pada ku seolah memberikan sedikit harapan bahwa suatu saat nanti sikap Fahri bisa sama dengan Ben, ramah dan sangat menyenangkan. Itu saja yang aku harapkan tidak lebih hanya sikap manis meski pada akhir nya yang Muda lah yang harus terbuang.
Enam bulan, waktu yang sangat sebentar namun sangat berat di jalani, menuju angka enam saja rasanya sangat sulit bahkan sangat menguras emosi dan kesabaran. Bila ada pintu kebebasan yang saat ini bisa ku lihat mungkin saat ini dan hari ini juga aku ingin lari sejauh mungkin, lari dari kenyataan dan masalah yang seolah membuat tubuh ku semakin kurus dan tertekan.
Banyak yang mengatakan bahwa madu itu selalu utama, penuh cinta dan sangat sulit bila di lepas. Tapi bagi ku bohong bila menjadi istri Muda itu menyenangkan, sangat Bohong bila menjadi istri Muda itu berlimpah akan kasih sayang, cinta dan harta. Mungkin semua itu bisa terasa menyenangkan bila suami yang menikahi kita memang bener-bener mencintai tapi pada kenyataan nya istri muda lah yang akan kalah meski di awali dengan kesenangan. Sangat jarang di lingkungan sekitar istri Muda menang dari istri tua meski di awal Madu selalu menang dan di utamakan tapi pada akhir nya perpisahan dan kehancuran lah yang di dapat.
Aku tidak ingin menaruh harapan terlalu tinggi pada pernikahan yang telah mengikat ku dan Fahri bila pada akhir nya kekecewaan lah yang akan di dapat. Aku menyadari bahwa posisi ku teramat memalukan tapi ini lah hidup yang sudah di garis kan oleh tuhan. Kehidupan yang harus di jalani oleh diriku.
"Hey Fy kenapa?" Ben melambai-lambaikan tangan nya tepat di hadapan wajah ku
"Melamun Lagi?" tanya Ben Seraya menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya.
Aku masih diam bingung harus mengatakan apa pada Ben, sejujur nya niat dalam hati ini sudah sangat bulat untuk menjelaskan masalah antara Aku, Fahri dan keluarga Nona tapi masih ada sedikit keraguan yang mulai menyusup seolah ingin mencegah nya.
"Bennnnnnnn ...." Aku dan Ben sama-sama menoleh kearah Pintu melihat Nona tengah berdiri dengan Senyuman merekah di bibir nya.
Nona berlari kecil mendekat ke tempat ku dan Ben, kedua tangan nya saling merentang memeluk Ben erat, Ben juga sama berbalik memeluk Nona seolah di ruangan ini hanya ada Nona dan Ben.
Senyum Bahagia tergores jelas di bibir ku melihat betapa bahagia nya Ben dan Nona. pasangan yang saling mencintai tanpa paksaan apa lagi tekanan, sama-sama mengerti satu sama lain tanpa ada yang menyalahkan dan menuduh.
Aku memutuskan kembali duduk meraih tumpukan Buku lalu memasukan nya kedalam tas hingga tidak ada satu buku pun yang tergeletak.
"Hay Fy.. Kamu di sini?" Tanya Nona akhir nya. Aku hanya mengangguk kan kepala sembari tersenyum kearah Nona.
"Kalian..?" Nona menggantungkan Ucapan nya mengacungkan jari telunjuk nya tepat mengarah di hadapan ku.
"Fy kamu Nggak ada main kan sama Ben?".
Aku menoleh kekanan dan Kiri kemudian menatap Nona dengan tatapan Biasa seakan tidak ada apa pun di antara aku dan Nona.
"Jangan bilang kamu..".
"Apa sih Na, Aku sama Fiya nggak ada apa-apa. Buang jauh - jauh Pikiran negatif mu itu" Sergah Ben yang langsung di turuti oleh Nona.
Aku bisa bernafas lega setidaknya tuduhan Nona yang sangat tidak masuk akal ini bisa di hilangkan. Aku dan Ben memang tidak ada hubungan apa-apa kita hanya bersahabat yah sahabat itu saja tidak lebih.
Terkadang sikap Nona yang kelewat was - was membuat ku harus lebih hati - hati lagi mengingat Laras kakak Nona mengalami hal yang dibayangkan Adik nya. Selingkuh, di duakan atau apa lah itu nama nya yang seolah membuat Nona jauh lebih hati - hati menjaga setiap apa yang menjadi Milik nya.
"Na. Bisa kita bicara sebentar saja" Pinta ku, Nona melihat kearah ku menatap sejenak lalu mengangguk dan membiarkan Ben untuk menunggu di luar kelas.
"Tumben Fy. Oh iya Fy Aku mau cerita dulu sama kamu. Kamu tau Fy kemarin malam w************n itu menggoda Kak Fahri untung saja Kak Laras segera datang ke rumah Bunda jadi Kak Laras bisa mencegah niatan jahat wanita itu." Oceh Nona seraya menarik kursi untuk dia duduki.
Wajah ku sedikit memaling kearah lain mendengarkan setiap jengkal ucapan Nona yang sangat jelas mengarah kearah ku. Semua yang Nona katakan sangat lah jauh dari kenyataan yang kemarin terjadi. Bukan niatan Aku mengundang apa lagi merancang rencana. Fahri sendiri yang datang ke rumah Bunda tanpa di undang apa lagi di paksa namun kenapa semua ini seolah berbalik menjadi salah ku.
"Benar bukan Dugaan ku. Dimana-mana wanita kedua itu sangat licik Fy aku harap secepat mungkin aku bisa bertemu dengan Dia. Aku hanya ingin tau secantik apa sih Madu nya kak Laras."
Kedua bola mata ku terpejam rapat dengan kedua tangan saling mengepal satu sama lain. Lelah dan bosan rasa itu lah yang saat ini kian membuncah dan siap meledak, Rasanya percuma aku menutupi semua ini kalau hanya aku dan selalu aku yang salah di mata semua orang.
"Aku Na. Aku wanita itu!" d**a ku seolah bergemuruh ketika suara itu tiba-tiba saja keluar dari mulut ku. Suara yang mewakili semua nya, semua beban yang seolah menggunung kini berangsur mulai berkurang.
"Aku wanita itu. Aku madu kakak mu Na. Madu mbak Laras istri kedua sari Kak Fahri!" Tegas ku lagi.
Nona menatap ku seolah tidak percaya kedua tangannya mengepal seolah ada sesuatu yang tengah dia tahan entah itu amarah, kesal atau rasa kecewa.
"Kita menikah terpaksa Na. Mengerti lah bukan aku yang menggoda apa lagi menjebak Fahri. Itu semua hanya kecelakaan yang membuat aku dan Fahri harus menikah"
"Ini kesalahan Na. Tolong percaya dan mengertilah."
"Cukup Fy! Ini kah wujud asli mu? Ini kah kelakuan asli mu Fy. Kelakuan yang sangat berbeda dari wajah polos dan sok tidak tahu yang selalu kamu pertontonkan. Kamu perempuan Fy, Kak Laras sama perempuan tapi mengapa kamu sama sekali tidak bisa mengerti bagaimana perasaan Kak Laras. Dia hancur Fy bahkan sama hancur nya dengan ku. Sahabat, sahabat yang sangat luar Biasa Fy".
"Kamu sama saja Fy seperti w************n diluar sana!"