"Dasar w************n. Tidak tahu diri, ingat Fy kamu hanya w************n yang di pungut oleh Kak Fahri hingga bisa menjadi Seperti sekarang, tanpa Kak Fahri kamu, Adik dan orang tua mu tidak bisa makan. Tapi apa balasan yang kamu berikan? Menyelip dan menjadi benalu dalam rumah tangga kak Fahri dan kak Laras. Cihhhh"
"Sadar Fy. Hey Sadar coba bangun dari alam mimpi yang seolah menerbangkan mu. Kak Fahri dan Kak Laras tidak akan hancur hanya karena ulah wanita seperti mu. Wanita yang hanya menjual wajah polos dan sok baik padahal busuk."
"Di bandingkan dengan Kak Laras jelas kamu kalah telak. Kak Laras Kaya sementara kamu? Hey Fiya kamu hanya anak petani yang numpang makan dari keluarga Kak Fahri. Kak Laras Cantik sexy dan sangat menggoda sementara kamu? Lihat Fiya sebagus apa pun pakaian yang kamu kenakan tidak akan pernah bisa membuat Kak Fahri tunduk. Ingat itu Fiya!"
Sadar Fiy kamu hanya wanita yang berasal dari desa datang ke kota pun karena Memenuhi tanggung jawab seorang istri yang mengikuti suami. Entah itu hanya Aku yang mengaggap dia suami sementara Dia sama sekali tidak pernah menganggap ku sebagai seorang istri.
Aku punya hak lahir dan batin meski dia sama sekali tidak pernah memenuhi hak ku namun saat ini aku masih bisa sabar menanti hari kemenangan itu segera tiba. Hari dimana aku dan keluarga ini tidak saling pandang dengan tatapan penuh kebencian lagi.
Hanya Enam bulan saja dan saat ini tinggal tersisa beberapa bulan lagi, Waktu yang singkat namun sangat lama bila di jalani. Banyak beban selama enam bulan yang harus di pikul beban yang seolah di limpahkan semua kepada ku.
Perkataan Nona tadi siang seolah menjadi magnet tersendiri yang seakan menyadarkan ku dari alam mimpi yang semula ku anggap nyata. Nona benar aku tidak bisa hidup dalam alam mimpi aku harus segera bangun, menyadari diri sendiri bahwa Fahri bukan lah milik ku dia milik Laras istri yang sangat dia cintai. Aku menyadari bahwa status ku sebagai istri kedua hanya sebutan semata tapi kenyataan nya aku hanya hiasan usang yang sengaja di lupakan.
Semua yang di katakan Nona sangat lah benar aku orang susah makan pun dari hasil upah mengurusi kebun dan peternakan Fahri. Seharusnya aku bersyukur keluarga ku bisa makan berkat Fahri tapi nyatanya aku malah menghancurkan semuanya.
"Apa yang kamu pikirkan Fiy?" wajah ku mendongak menatap kearah Bunda yang entah sejak kapan sudah berdiri tepat di hadapan ku.
"Ahh. Iya Bun, nggak ko nggak ada yang Fiya pikirin," Elak ku sedikit gugup.
Bunda tersenyum merangkul bahu ku Seraya mengajak ku masuk kedalam rumah "Wajah dan kedua bola mata Mu tidak bisa berbohong Fiya" Seru Bunda tiba-tiba.
Wajah ku celingukan kesamping kanan dan samping kiri berusaha untuk menutupi apa yang sebenar nya terjadi.
Aku tidak bisa menceritakan nya sekarang pada bunda, aku tidak mau di sangka dan di tuduh lagi. Sudah cukup banyak masalah yang Fahri limpahkan kepada ku dan sekarang Aku ingin hidup Sedikit lebih tenang.
"Tidak Bun. Sungguh Fiya Tidak ada masalah atau pun Pikiran yang mengganjal." Jawabku tenang.
Jujur saja aku merasa khawatir dan sedikit cemas mengingat perkataan Nona yang menurut ku sangat terkesan marah dan penuh kebencian. Aku merasa bersalah kepada Nona karena sudah melukai perasaan Nona dan Laras.
Aku tidak masalah bila Nona membenci ku karena masalah ini, hanya saja aku lebih mencemaskan Bunda, bagaimana bila Nona memberi tahu Laras bahwa Aku Madu nya yang selama ini Laras Cari berada satu rumah dengan Bunda dan aku adalah sahabat Nona adik Laras.
Kecemasan ku juga seolah semakin menjalar tatkala bayangan Laras yang beberapa Hari lalu datang ke rumah Bunda dan berteriak - teriak mencari ku.
"Hey Fiya melamun Lagi." Aku gelagapan lagi menyadari Bunda kembali mengusap bahu ku pelan.
Aku menoleh membalikan tubuh ku menghadap kearah Bunda, ku raih kedua tangan Bunda Lalu memeluk tubuh Bunda erat.
"Fiya harap Bunda dan Fiya tetap seperti ini." Lirih ku pelan.
Bunda mengusap - usap bahu ku pelan, Bunda seolah mengerti bagaimana perasaan ku saat ini. Perasaan yang benar - benar berantakan dengan rasa cemas yang kian menjadi - jadi seolah berangsur luntur dengan usapan Bunda yang mampu membuat ku tenang.
"Tidak salah memasrahkan Takdir kepada Tuhan, Fiy. Yakin lah Fiy, bahwa Wanita yang baik akan mendapatkan jodoh yang baik pula. Percaya lah Fiy mungkin bukan sekarang kamu bahagia tapi nanti akan tiba saat nya dimana kamu akan tersenyum lebar menyambut kebahagiaan mu." Jelas Bunda Panjang Lebar.
Aku berusaha mencerna maksud kata yang Bunda ucapkan tadi, kata -kata nasihat yang seolah menumbuhkan rasa percaya diri serta menghilangkan rasa takut.
"Tapi kan Bun. Ka Fahri?"
"Bunda mengerti mungkin sekarang kamu dan Fahri masih bersikap saling menyalahkan namun suatu saat nanti kalian berdua akan saling berbagi. Hanya waktu dan waktu yang kalian butuhkan" sahut Bunda lagi.
Bunda menarik tubuh ku dari pelukan nya menatap kedua bola mata ku yang terbuka dengan kedua sudut mata yang berair.
"Jangan terlalu berharap pada Fahri Fy. Bunda takut kamu akan merasa tersakiti."
Kepala ku mengangguk - angguk mendengar kan secara baik nasihat yang bunda berikan. Nasihat yang sangat berarti bagi ku dan masa depan ku.
Bunda memang benar menasihati ku agar tidak terlalu jauh mengharapkan sesuatu dari Fahri. Percuma aku berharap kalau pada akhir nya kesalahan dan kecewa yang aku dapatkan lagi.
"Fahri?"
Aku mengerinyit bingung mendengar Bunda memanggil nama Fahri. Aku langsung menoleh mengikuti Kedua bola mata Bunda yang menatap kearah depan.
Fahri yang berdiri tepat di depan anak tangga pertama juga sama menyapa Bunda dengan ramah.
"Fahri ingin istirahat Bun" seru Fahri seraya berjalan agak cepat menaiki anak tangga.
Aku dan Bunda sama-sama melihat tubuh Fahri bergerak masuk kedalam kamar yang biasa Aku tempati, kamar yang seolah menjadi saksi bisu betapa rendah nya aku di mata Fahri.
"Bawakan Air Putih Fiy. Seperti nya Fahri akan menginap." seru Bunda.
Rasanya Aku sama sekali tidak mampu menelan air ludah ku sendiri melihat Fahri yang untuk kedua kali nya memilih masuk dan beristirahat di kamar ku. Rasanya sulit dipercaya Fahri kembali pulang setelah beberapa hari yang lalu Fahri menginap lalu disusul Laras.
Bibir ku sedikit menyungging kan senyuman mendengar Bunda yang menebak bahwa Fahri akan menginap dan berada satu kamar dengan ku lagi.
"Iya Bun." Sahut ku seraya mengambil segelas air putih dan meletakan nya di atas nampan.
Aku berjalan pelan menaiki setiap anak tangga, kedua tangan ku menggenggam kuat ujung nampan, bibir bawah ku sengaja aku gigit pelan berharap rasa gugup dan cemas segera hilang.
Ini kedua kali nya aku merasakan rasa yang sama, rasa yang sebelum nya tidak pernah aku rasakan. Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa Aku merasa takut dan gemetar ketika nama Fahri terdengar di telinga ku. Bukan hanya itu setiap kali aku melihat wajah Fahri, wajah yang keras dan angkuh yang seolah menampakan kekejaman Aku merasa sepertu berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa yang siap mencabut nyawaku.
"Tenang Fy. Kalau Dia memaki mu Kamu harus bisa menatap dan mengatakan semua yang ingin kamu katakan." gumam ku pelan berusaha menguatkan diri seraya mengetuk kemudian memutar kenop pintu.
Ku letakan segelas air putih di atas meja kecil yang berada dekat dengan ranjang, melihat sekeliling kamar yang sedikit gelap karena seluruh lampu di kamar ini belum sepenuh nya menyala.
Aku melihat Fahri sekilas dengan lalu berjalan mendekati saklar lampu untuk menyalakan semuanya.
"Biarkan seperti ini Fiya." lirih Fahri.
Aku hampir saja menjerit mendengar lirihan suara Fahri yang benar-benar membuat ku terkejut pasal nya Fahri tengah berbaring di atas ranjang dengan tubuh terbungkus selimut.
"Air nya Ka" Ujar ku tidak jadi menyalakan lampu.
"Saya tidak menyalahkan mu Fiya apa lagi menuduh mu. Saya hanya mengucapkan apa yang saya lihat dan saya pahami. Cobalah mengerti"
Wajah ku menoleh kearah Fahri yang masih berbaring di atas ranjang menatap punggung Pria yang membuat ku menjadi tersangka utama.
"Bukan kah Kak Fahri yang seharusnya mengerti. Coba pahami aku Kak, Setidaknya pahami perasaan ku yang tertekan karena masalah ini. Jangan hanya menyalahkan aku dan menjadikan ku sebagain alat pelindung mu" Jawab Ku berusaha sepelan mungkin karena hari ini aku benar - benar tidak ingin berdebat dengan siapapun.
Fahri bangkit dari atas ranjang menarik lengan ku kuat hingga tubuh ku berbalik menatap wajah angkuh nya.
"Lepas Kak! Cukup sudah Kak Fahri menuduh ku." Ucap ku masih berusaha sabar, berusaha menyingkirkan pelan tangan Fahri.
Fahri menatap ku dengan tatapan rajam tatapan seolah melihat musuh yang siap ia bunuh.
"Aku datang kesini tidak Untuk berdebat dengan mu Fiya" Ujar Fahri seraya mencengkram kuat kedua bahu ku.
Aku meringis merasakan sakit nya remasan Fahri yang seolah membuat ku ingin berontak.
"Cukup sudah kamu membongkar semuanya pada Nona, Fiya. Sudah Saya bilang Nona atau pun Laras tidak boleh tau siapa kamu."
"Aku mengetakan yang sebenarnya Kak. Tidak ada yang aku tutup - tutupi lagi."
"Kau!"
Fahri melepaskan cengkeramannya
pada ku, menarik kepala ku agar wajah ku berada tepat di hadapan nya.
"Tutup mulutmu Fiya. Jangan pernah mengatakan apapun lagi kepada Nona."
"Kenapa aku harus menutupinya? Aku tidak ingin bersembunyi lagi, aku tidak ingin semua orang terus menyalahkan ku!" Sentak ku tidak tahan lagi.
"Tolong ceraikan aku, kak. Bila kau tidak bisa adil padaku."