PART 8

1531 Kata
Happy Reading Bibir ranum ku menggoreskan Senyuman manis, melihat Fahri mengambil segelas air yang tadi aku bawakan, meski wajahnya masih terlihat angkuh dan jahat namun segelas air putih ia minum hingga habis. "Mau lagi?" Tawar ku. Fahri tidak menjawab ia hanya diam saja, namun lirikan matanya yang tajam membuat ku mengerti bahwa Ia tidak ingin lagi. "Kak Fahri mau makan?" Tanya Ku pelan, namun kali ini tidak ada jawaban dari Fahri apa lagi lirikan membuat ku menjadi bingung harus menawarkan apa lagi. "Eem. Apa Kakak butuh sesuatu?" Tanya ku lagi sembari harap harap menunggu jawabannya yang pedas itu. "Tidak Afiya! Bisa diam!" Sahut Fahri tajam tanpa melihat Ku sama sekali, wajah Fahri masih terlalu fokus menatap Berkas-berkas yang ada di hadapan nya. Ada sedikit senyuman manis yang tergores jelas di wajah ku mendengar nama lengkap ku Fahri sebut Tanpa kesalahan. Rasanya aku ingin berteriak sekeras mungkin di depan wajah Fahri mendengar Fahri sebegitu ingat nya nama panjang ku, Bukan kah Fahri sangat membenci ku? Lalu kenapa Ia hafal nama Panjang ku. Mungkin sekarang aku terlalu berlebihan menanggapi hal sepele yang Sama sekali tidak ada artinya. Aku sadar betul mungkin saja Dia tidak sengaja ingat akan itu. Aku mengangguk - angguk kan kepala ku memilih untuk diam, keluar dari dunia khayalan yang ingin berteriak di hadapan wajah Fahri. Aku memutar tubuhku berjalan mendekati lemari lalu membukanya dan mengambil selimut untuk alas Tidur. Aku lebih memilih membuang jauh -jauh Masalah tadi meski tidak bisa ku pungkiri bahwa hanya dengan Ia menyebutkan nama lengkap ku saja sudah bisa membuat ku sedikit bahagia. Ku letakan selimut tebal sebagai alas tidur diatas lantai membentangkan nya sedikit luas seraya meletakan bantal di atas nya. "Tidak usah berulah lagi Fiya! Ambil selimut dan bantal mu naik lah keatas ranjang." Ujar Fahri dengan suara tegasnya. Tubuh ku membeku menatap wajah jahat Fahri, sama sekali tidak percaya mengenai apa yang baru saja Fahri Katakan. Bagaikan keajaiban di tengah hujan Fahri hanya berkata sekali namun itu sangat berarti bagiku. "Cepat pindah atau kau mau sampai pagi berdiri mematung di situ." Katanya lagi meski wajah nya sama sekali tidak melihat kearah ku namun ucapan nya jelas ia tujukan padaku. Aku gelagapan bergerak kikuk kemudian mengangguk iya menarik selimut melipatnya kembali lalu buru - buru memasukannya kedalam lemari takut Fahri berubah pikiran lagi. Aku ragu dengan apa yang baru ku dengar tadi, ragu akan segala ucapan Fahri yang seolah mulai memperdulikan ku. Aku hanya bisa berharap semua ini nyata bukan hanya mimpi yang akan menyakitiku lagi. Meski tidak bisa ku bohongi bahwa aku sangat menyukai perubahan sikap nya kali ini namun sekuat tenaga aku berusaha agar tidak ada rasa apa pun untuk nya. Aku selau menguatkan diriku sendiri agar tidak mudah jatuh dalam pesona Fahri. "Jangan Berfikir Aku sekejam tokoh yang ada di film." "Eh ...." Aku mengerinyit bingung. "Dan satu lagi. Jangan berharap sesuatu yang lebih karena ini hanya sekedar kasihan." Aku memilih untuk diam tidak mau menyahuti apa yang Fahri katakan, memilih untuk naik keatas ranjang meringkuk membelakangi Fahri. Ucapan pedas Fahri yang seperti ini nih yang sangat ku benci, sikapnya yang mudah berubah - ubah membuatku kadang bingung sama sekali tidak bisa membaca tentang Fahri. Entah mengapa bibir ku seakan ingin mengeluarkan senyuman Manis mengingat tadi Fahri meminum air yang aku bawa, meminta ku untuk tidur di ranjang yang sama dengan nya dan menyebut nama lengkap ku yang bahkan baru Fahri tau pada saat pernikahan dan sekarang dengan lancar nya Ia menyebutkan nama ku lengkap. Bukan kah itu keajaiban yang tidak terduga, meski Berulang kali Fahri Pernah menyebutkan Nama ku Namun baru kali ini lah Dia berhasil menyebut nya sangat lengkap. "Fiya." Kedua mata ku mengerjap - ngerjap mendengar suara pelan seperti berbisik menyebut nama aku. Tubuh ku langsung berbalik menatap wajah Fahri yang entah sejak kapan sudah menghadap kearah ku. "Kak Fahri manggil Fiya?" tanya ku meski sedikit ragu namun tetap saja ku tanyakan. Kepala Fahri mengangguk dengan kedua bola mata nya menatap ku dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. "Eem. Kakak butuh sesuatu?" tanya ku seraya bangkit kemudian duduk di samping Fahri. Tubuh ku seakan bergetar menghirup aroma tubuh Fahri yang sangat terasa di bagian napas ku. Di sini di dalam d**a ini seolah ada yang tertawa riang melihat aku dan Fahri duduk berdekatan. "Eem.Ka?" ucap Ku lembut. Aku menggeser tubuh ku sedikit agak menjauh dari Fahri, Suasana yang tenang dengan suara hujan di luar membuat ku merasa canggung dan aneh. Ada rasa takut di hati ku merasakan suasana yang menurutku sangat menakutkan, suasana dimana Fahri bersikap sedikit aneh namun aku menyukai nya. "Ck. Ada apa dengan wajah mu? Jangan berfikir yang tidak-tidak aku sama sekali tidak berniat memakan mu. Ambilkan secangkir teh!" Fahri berdecak seraya melihatku dengan tatapan mengejek. Aku menghela napas lega mendengar permintaan Fahri yang benar-benar di luar dugaan. "Iya Ka" Segera ku ambilkan secangkir Teh untuk Fahri meletakan nya di atas meja kecil dekat dengan ranjang. Ini pertama kali nya Fahri meminta sesuatu dari ku meski hanya secangkir teh namun bagiku itu semua sudah cukup berarti. Ada rasa heran yang tengah aku rasakan melihat perubahan Fahri yang sangat tidak bisa di duga. Meski perubahan ini sangat aku sukai namun tetap saja ada banyak pertanyaan yang saat ini memenuhi kepala ku. Kenapa dan ada apa? Pertanyaan seperti itu yang sangat ingin aku tanyakan. Kedua jari-jari ku saling bertautan melirik sekilas kearah Fahri yang tengah meminum Teh. Rasanya bibir ku sangat gatal ingin menanyakan sesuatu pada Fahri. "Ka?" Panggil ku ragu. "Diam Fiya! Ini sudah malam, tidurlah." Bibir ku langsung mengatup rapat diam menyimpan suara yang sebenar nya ingin aku keluarkan. Aku tidak bisa berkata lagi sikap angkuh dan sombong nya kembali muncul. "Setidak nya Bilang terimakasih," ujar ku seraya duduk di atas ranjang menaikan kedua kaki kemudian menarik selimut hingga menutup tubuh ku rapat. Mata ku, ku pejam kan paksa meski rasanya aku ingin melempar bantal kearah si angkuh Fahri yang sama sekali tidak tau terimakasih. "Fiya?" Aku berdecak kesal mendengar suara Fahri lagi yang seenak hati memanggil - manggil nama ku. Jelas dia yang menyuruhku untuk diam lalu kenapa sekarang nama ku di panggil lagi. Aku bangkit duduk menatap kearah si angkuh Fahri yang dengan senang nya menguji kesabaran ku, rasanya kedua tangan ku gatal ingin meremas Fahri kuat - kuat. "Apa? Ada apa? Mau apa lagi? Astagaa bukan kah Kak Fahri yang menyuruh ku diam lalu kenapa Kaka Memanggil ku lagi?" Semburku dengan kesal "Sangat bawel!" Hanya itu, cuma itu? Hanya itu saja kah yang ingin dia katakan. Astaga Fahri dasar Si angkuh kejam. Tidak bisa kah dia membiarkan ku untuk tidur sebentar saja Apa sikap nya yang sangat menyebalkan itu sama seperti ketika Fahri bersama Laras. Kalau memang sama sikap dan kelakuan nya seperti itu, itu sangat luar biasa Bodoh nya. Kedua mata ku mengerjap - ngerjap melihat Fahri mempermainkan ku sesuka Hati. Sebentar membentak menyuruh ku diam, lalu sebentar - sebentar Memanggil ku. Apa maksud nya coba. "Aku mau tidur!" Putus ku sepihak. Tidak perduli mau berulang kali dia memanggil ku, aku akan pura-pura Diam saja. "Tidak boleh!" ucap nya Membentak. Aku menatap nya tidak percaya pasal nya dia membentak dengan wajah memandang kearah berkas sementara tangan nya mencekal lengan ku. "Bukan kah tadi Kak Fahri yang menyuruh ku untuk tidur, lalu kenapa sekarang aku tidak boleh tidur?" geram ku seraya berbicara sedikit cepat. Wajah Fahri menoleh menatap kedua bola mata hitam ku sementara aku hanya mampu memalingkan wajah ini menolak untuk membalas tatapan nya. Aku wanita normal yang punya rasa malu dan perasaan, aku sudah cukup sadar diri dengan secuil rasa yang saat ini mulai menyiksa ku secara perlahan. Aku tidak bisa mengelak hanya dengan tatapan dan melihat Fahri saja sudah membuat secuil Rasa itu seolah mengakar semakin banyak. "Aku tidak melarang mu untuk Tidur. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Laras sudah tau mengenai dirimu dan Nona juga sama sudah mengetahui itu semua. Coba lah untuk menghindarinya Fiya setidak nya sampai beberapa bulan ke depan!" ujar Fahri. Wajah Fahri terlihat serius menatap ku seolah Ia takut kalau sampai Laras berbuat nekat. Entah itu memaki ku atau mungkin mencelakai ku. "Bagaimana pun Fiya, kamu tetap Istri ku. Meski aku sama sekali tidak menginginkan mu ada namun apa boleh buat semua ini sudah terjadi. Jaga dirimu baik-baik Afiya." Aku diam menatap tidak percaya kearah wajah Fahri melihat betapa lembut nya perkataan Fahri yang baru kali ini aku dengar. Tidak ada kesan menyalahkan meski ku yakin bahwa Fahri tahu kalau aku lah yang terlanjur jujur pada Nona namun Fahri tidak menyalahkan ku lagi justru ia menghawatirkan ku. Kedua tangan Fahri mengusap rambut panjang ku pelan menyusuri nya seraya menatap kearah ku. Tatapan Fahri, tatapan nya kali ini bukan seperti tatapan Kemarin atau beberapa bulan lalu tapi kali ini tatapan nya penuh dengan keteduhan membuat ku merasa nyaman. Fahri mendorong kepalaku pelan, hingga wajahku dekat dengannya. Ia mencium keningku sebentar lalu menatapku kedua mata ku terpejam merasakan bibir Fahri menempel di tepi bibir ku, ia diam sebentar sebelum ia melumat bibirku lalu menghisapnya. Aku tidak bisa menolak apa lagi mendorong nya aku justru sangat merasa bahagia. "Maaf." lirih nya seakan penuh penyesalan. Aku mengangguk pelan membuka kedua mata ku dengan senyuman yang mengembang. Jujur saja aku tidak bisa menutupi kebahagian ku malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN