AUTHOR
Laras mengepalkan kedua tangan nya kuat - kuat melihat Fahri baru saja keluar dari rumah Bunda Nia, di barengi dengan keluar nya Affiya Yang sengaja mengantar Fahri.
Laras melihat semuanya, melihat betapa genitnya seorang perempuan yang Laras kenal bernama Affiya, jalang cilik yang saat ini tengah menjadi benalu dalam hubungan rumah tangga Laras dan Fahri.
Entah apa yang saat ini ada di dalam kepala Fahri hingga sudah dua kali Fahri menginap di rumah Bunda Nia yang menjadi tempat tinggal Affiya. Laras sudah mengetahui siapa Madunya yang selama ini tidak Pernah Ia Lihat. Namun, berkat Nona Laras jadi mengetahui Seperti apa wujud Affiya Madu yang selama ini menjadi musuh keluarga besar nya.
Fahri memang memberi tahu Laras Bahwa Ia akan Mengunjungi rumah Bunda Nia tapi Fahri sama sekali tidak memberi tahu Laras bahwa Ia akan menginap. Fahri membohonginya dengan Bundanya yang ia jadikan sebagai alasan
Bayangan Madu kecil Itu menggoda Fahri seakan memenuhi seluruh pikiran Laras membuat nya semakin meradang, kedua tangan nya mengerat meremas kuat tas tangan yang ia pegang.
"Fiya. Aargh."
Laras sudah tidak bisa lagi menahan emosinya melihat wajah Fahri terlihat begitu segar tanpa raut kesal apa lagi angkuh yang seperti biasa Fahri tunjukan, justru yang Laras lihat Fahri begitu bahagia.
"Aku tidak bisa melihat jalang itu bahagia. Dia suami ku, bukan suaminya, Dia miliku bukan miliknya!"
Laras keluar dari Mobil, setelah melihat mobil Fahri melesat pergi. Langkah kaki Laras sedikit lebih cepat dengan kedua tangan masih mengepal. Wajah nya memerah dengan bibir terkatup rapat.
Laras berusaha menahan emosinya yang saat ini ingin meledak melihat suaminya Fahri keluar dengan wanita lain. Laras tidak bisa memungkiri bahwa Saat ini rasa cemburu bercampur amarah tengah menguasai tubuh nya. Laras tidak bisa diam melihat Fiya wanita licik yang sudah menjebak suaminya bisa mendapatkan senyuman Fahri.
Bagi Laras senyuman Fahri, perhatian Fahri, kasih sayang Fahri dan cinta Fahri hanya untuk Laras tidak untuk yang Lain. Meski Laras tau bahwa Fahri suami nya tidak akan mungkin membagi Cinta tetap saja keyakinan Laras Sedikit luntur melihat Fiya mulai bisa masuk kedalam Pikiran Fahri.
"Dia Milikku Fiya. Tidak ada satu wanita pun bisa merebutnya dari ku," Lirih Laras seraya mengusap Sudut matanya yang berair.
Laras tidak bisa memungkiri sebesar apa pun amarahnya, sekuat apa Ia menahannya, sebisa apa Ia terlihat tegar namun di dalam hatinya Laras bisa merasakan sakit yang luar biasa melihat Fahri suami yang selama satu tahun ini menemani hidup nya kini harus keluar dari pintu rumah wanita lain.
Tidak ada sedikit bayangan pun didalam benak Laras melihat Suami yang paling Laras cintai harus berdiri, bertatapan, tersenyum dan satu kamar dengan wanita Lain. Laras tidak bisa merelakan begitu saja melihat Fahri harus tersenyum kepada wanita lain.
"Affiya!!" Panggil Laras berdiri tetap di belakang Fiya.
Fiya menoleh mengurungkan niatnya yang ingin membuka Pintu dan masuk.
"Iya," Sahut Fiya tanpa tahu siapa yang memanggil nya.
Fiya diam melihat wajah Wanita yang selama ini Ia hindari, wanita yang bahkan Fahri sendiri memintanya untuk menghindar, wanita yang sangat ia kenal dan Fiya tahu itu.
"Mba Laras," Gumam Fiya pelan.
"Kau mengenalku?!" Sinis Laras.
Wajah Fiya menunduk mengalihkan pandangannya yang semula tertuju pada Laras namun kini Ia palingkan kearah Lain.
Jujur saja Fiya sama sekali tidak bisa membayangkan bisa bertemu dengan Laras Istri Fahri atau lebih tepat nya Istri Tua Fahri secepat ini.
"Fahri menginap? Apa yang kalian lakukan? Apa kamu menggodanya?" Tanya Laras langsung dengan tatapan jelas menusuk relung hati Fiya.
Wajah Laras terlihat serius menatap tajam kearah Fiya madu yang seolah ingin ia cekik sekarang juga. Rasanya saat ini Laras ingin menarik tangan Wanita yang ada di hadapan nya, menampar nya bahkan mungkin Laras ingin membunuh nya sekarang juga. Namun semua itu tidak mungkin Laras lalukan bagaimana pun, sekesal apa pun dan semarah apa pun Laras tidak bisa menghakimi wanita yang teramat ia benci ini.
"Jawab Fiya!" Bentak Laras kedua tangan nya mengepal dengan napas yang terdengar jelas.
Bibir Fiya seolah keluh kedua tangan nya bergetar tidak tahu apa yang harus ia jawab dan ia lakukan. Fiya tidak bisa menatap apa lagi menyahuti Perkataan Laras, ia tahu dia salah dan Laras benar.
"Dia suami ku Fiya, dia milik ku, dia hidup ku Fiya. Tolong mengertilah!!" Ucap Laras Menekankan setiap kata yang Ia ucapkan, suaranya terdengar bergetar.
"Bagun Fiya. Saya minta kamu untuk bangun dari alam mimpimu itu. Tolong bangun lah dan sadar diri kamu siapa dan Fahri siapa. Ingat satu hal Fiya Istri Muda tidak akan pernah menang!" ujar Laras.
Laras menekankan Setiap perkataan yang Ia ucapan kan untuk Fiya, Laras seolah ingin Fiya mengetahui posisi dan Siapa dia di dalan hidup Fahri.
Wajah Fiya mendongak menatap wajah Laras yang memerah karena amarah. Fita menatap nya dengan senyuman semanis mungkin, berusaha kuat agar menahan dirinya sendiri. Wajar Laras marah Fiya memang salah, menikah dengan laki - laki yang sudah mempunyai istri.
"Fiya sadar diri Mba. Fiya tahu diri dan Fiya sangat tau posisi Fiya. Fiya menyadari bahwa Semua ini salah namun bagaimana pun ini semua sudah terjadi. Tolong Mba Mengerti lah bahwa ini bukan kehendak Fiya." Ucap Fiya.
Laras tersenyum sini "Mengerti?! Saya tidak akan pernah mengerti posisimu. Kau tetap salah, wanita bodoh yang merebut suami orang."
"Sedikit Pun Mba, tidak ada niat di hati Fiya untuk memiliki Kak Fahri Fiya cukup tahu diri antara Fiya dan Mba sangatlah jauh berbeda."
"Fiya memang bodoh Mba. Tapi bagaimana lagi ini semua sudah terjadi tidak bisa seperti awal lagi. Maafkan Fiya mba."
Fiya mengatakan semua yang selama ini Ia simpan, mengatakan sejujur- jujur nya mengenai dirinya dan Pernikahan ini.
Meski Fiya tau betul bahwa posisi nya saat ini sangat lah tidak bisa dirubah namun bagaimana pun ini sudah terlanjur terjadi.
Fiya sendiri yang membongkar siapa dia di hadapan Nona Adik Laras dan sekarang ini lah resiko yang harus Fiya tangung berhadapan langsung dengan Laras Istri tua Fahri.
Fiya tidak bisa menghindar dari Laras meski Fahri mencoba meyakinkan Fiya Bahwa Fiya harus mencoba menghindar namun takdir berkata Lain, hari ini hari dimana Fahri pergi Fiya harus mau Bertatap langsung dengan Laras.
"Ingat Fiya Enam bulan dan sekarang tinggal beberapa Bulan Lagi. Jangan Bermimpi Fiya ingat satu hal waktu itu akan cepat berlalu dan kamu akan segera di lempar dari kehidupan Fahri!"
Fiya diam menatap manis kearah Laras yang sudah melenggang keluar dari rumah Bunda Nia. Perlahan senyuman Manis Yang Fiya tunjukan dan pertontonkan di hadapan Laras berangsur hilang entah kemana.
Fiya meremas gagang pintu dengan kuat memejamkan kedua matanya sejenak. Jujur saja Fiya tidak bisa menutupi kesedihan nya kesedihan yang seolah membuat seluruh kebahagiaan nya terputus.
Fiya cukup tau diri akan hal itu, hal mengenai Pernikahan yang hanya Fiya seorang yang mengaggap pernikahan Itu nyata. Namun bagi Laras dan keluarga besar Pernikahan antara Fiya dan Fahri hanya sebatas pernikahan di alam mimpi dan tidak akan pernah nyata.
"Enam Bulan!" Lirih Fiya
Tangis Fiya pecah membayangkan Enam bulan waktu yang sangat singkat. Fiya tidak bisa memungkiri bahwa Fiya mulai merasa nyaman berada dekat dengan Fahri, Fiya tidak bisa menolak meski berulang kali ucapan pedas yang Fahri katakan namun rasanya untuk jauh dengan Fahri sangat berat.
Wajar kah bila Fiya merasakan hal yang seharusnya tidak boleh Fiya rasakan. Wajar kah bila Fiya merasa nyaman bila dekat dengan Fahri, apa salah Fiya menginginkan Pernikahan ini nyata bukan hanya seperti mimpi.