AUTHOR
"Setidaknya berilah kesempatan untuk Fiya bahagia Ri. Bunda tidak meminta banyak dari mu tapi Bunda hanya meminta Kamu membahagiakan Fiya meski hanya Sebentar." Bunda Nia berbicara lembut pada Fahri yang masih duduk di Salah satu kursi yang berhadapan dengan Bunda Nia.
"Bunda mengerti kamu sangat menyayangi Laras tapi bagaimana pun Fiya juga istri mu. Dosa Fahri jika kamu tidak bisa berbuat Adil. Belajar lah Fahri untuk bisa memperlakukan Fiya layak nya seorang istri juga!!"
Yang di katakan Bunda Nia memang Benar ini sudah terlanjur terjadi bagaimana pun kondisinya Fiya tetap Istri kedua Fahri dan harus mendapatkan perhatian yang sama seperti Laras.
"Fahri tidak Yakin Bun. Tapi Fahri akan berusaha membuat Fiya merasakan seperti Laras. Fahri tau ini cuma sementara sampai perceraian itu tiba dan untuk masalah Laras setuju atau Tidak Fahri Akan mencoba nya dulu Bun."
Fahri kembali mengingat apa yang sudah ia katakan pada Bunda Nia, Kemarin Bunda Nia sengaja datang menemui Fahri di kantornya untuk menyampaikan mengenai pertemuan Fiya dengan Laras.
Rasanya kepala Fahri ingin meledak memikirkan masalah antara dirinya Laras dan juga Fiya. Di satu sisi Fahri menyadari bahwa perlakuan nya selama ini sangat salah kepada Fiya namun di sisi Lain Fahri juga sangat tau bagaimana perasaan Laras bila Mengetahui perhatian nya Harus terbagi.
Jujur Fahri sama sekali tidak mencintai Fiya meski ada rasa tertarik setiap kali Fahri mengunjungi rumah Bunda Nia dan melihat Fiya namun Fahri tidak bisa melanjutkan Rasa tertariknya mengingat ada Laras wanita yang sangat Fahri sayangi.
"Apa susahnya Mas hanya menjauh dan Setelah itu bercerai." Ucap Laras yang sedari tadi memang berada di dalam kamar bersama Fahri.
"Apa Bunda mu itu menyuruh mu datang lagi kesana. Itu hanya alasan saja Mas, Bunda ingin kamu bersama Fiya bukan bersama ku."
Fahri menarik napas panjang lalu membuangnya, entah kenapa setiap kali Laras menuduh Bundanya perasaan Fahri seolah terbakar, rasanya Fahri ingin membentak Laras namun Fahri tidak Bisa. Laras wanita, tidak baik bila di perlakuan dengan buruk.
"Mas Jawab Aku!" Sentak Laras.
Wajah Fahri menoleh menatap kearah Laras yang saat ini berada di hadapan nya. Pelan Fahri mengatur napas nya kemudian kembali menatap Laras.
"Laras mengerti lah. Aku tidak bisa mengabaikan Fiya, dia juga istri ku Laras. Sudah cukup sabar dia menerima semua perlakuan buruk dari diriku bahkan dari dirimu dan keluarga mu, tapi Setidak nya biarkan dia bahagia. Aku janji akan menceraikan nya bila saat itu Sudah tiba." Terang Fahri seraya mengusap kedua bahu Laras kemudian membawa Laras dalam pelukan nya.
Fahri memeluk erat tubuh Laras menciumi keningnya berulang kali, seraya mengucapkan kata maaf karena masalah ini sudah melukai Laras.
"Aku tidak akan menyakiti mu. Jangan temui Fiya lagi Laras. Biarkan Dia tinggal bersama Bunda."
Laras menganggukkan kepalanya meski rasanya Laras sangat tidak terima dengan apa yang Fahri katakan, namun apa lah daya saat ini Fiya sudah terlanjur masuk kedalam kehidupan rumah tangganya dan hanya waktu yang bisa segera memutuskan hubungan mereka berdua.
Laras memang tidak bisa menolak takdir yang saat ini di goreskan oleh Tuhan. Meski rasanya sangat berat harus mengalami cobaan rumah tangga di usia pernikahan yang masih seumur jagung namun apa boleh buat Fiya madunya sudah terlanjur berada di tengah-tengah hubungan Laras dan Fahri.
Wajar bukan bila Laras marah dan membenci Fiya --- madunya. Laras berhak marah menghadapi wanita muda dengan wajah polos telah resmi menjadi madu terlebih Lagi Laras harus kuat melihat oleh - oleh yang di bawakan Fahri.
Laras ingin berteriak sekeras mungkin memaki takdir buruk yang Ia rasakan. Rasanya Laras sangat tidak terima dengan apa yang saat ini tengah menimpa rumah tangga nya. Laras tau Fahri sangat mencintainya, namun siapa yang bisa menjamin bahwa cinta juga tidak akan tumbuh di hati Fiya dan Fahri.
Laras bisa menyadari itu, lambat laun bisa saja bayangan buruk yang sangat Laras takutkan benar- benar terjadi. Laras takut bila Fiya dan Fahri bertemu dan berada dalam satu ranjang yang sama.
"Jangan temui dia Lagi. Aku mohon.." Lirih Laras suaranya terdengar bergetar di dalam pelukan Fahri.
Pelan Fahri menjawab iya tanpa berjanji. Fahri tidak berjanji Fahri hanya mengatakan iya di hadapan Laras. Bagaimana Pun kondisi nya Fahri tidak bisa mengabaikan Fiya, meski Laras memaksanya untuk tidak menemui Fiya namun Semua itu sudah kewajiban bagi Fahri untuk berbuat seadil Mungkin.
"Hanya beberapa hari, iya aku tidak akan menemui Fiya." Jawab Fahri Yakin.
Laras menyambut jawaban Fahri dengan senyuman meski Fahri tidak akan menemui Fiya selama beberapa hari, tapi tetap saja suatu hari nanti entah itu minggu depan atau bulan depan Fahri juga akan tetap kembali menemui Fiya.
Sementara itu senyuman manis tercetak jelas di wajah cantik Fiya, Kedua bola matanya seolah berbinar memperlihatkan betapa bahagianya Fiya saat ini.
Sudah hampir empat hari senyuman di bibir Fiya tidak pernah Pudar. Senyuman yang seolah kembali Muncul setelah sekian lama menghilang.
Bunda Nia juga sama merasa bahagia melihat menantunya yang cantik kini sudah kembali tersenyum dan lebih banyak bercerita mengenai apa saja yang beru Fiya lakukan entah itu pada saat di Kampus maupun di rumah.
Bunda Nia awal nya memang merasa heran melihat perubahan Fiya yang sangat luar biasa berubah. Senyum nya, rawa nya, tatapan nya seolah kini kembali hidup seperti semula.
Kedua mata Bunda Nia juga tidak bisa lepas dari gerak gerik Fiya yang sejak pagi hingga siang tidak henti-henti nya bergerak kesana kemari dengan senyuman yang sumringah.
"Fiy. Kamu Kenapa?" Tanya Bunda Nia yang sudah tidak kuasa menahan rasa ingin tau nya melihat Fiya kembali seperti dulu.
Fiya hanya menggeleng pelan kemudian tersenyum manis dan memilih untuk meninggal kan Bunda Nia yang menatap Fiya penuh Keheranan.
Ini kali pertamanya Fiya tidak menjawab apa yang Bunda Nia katakan. Setau Bunda Nia, Fiya adalah menantu yang sangat terbuka kepadanya namun saat ini Fiya seolah Belum bisa berbicara mengenai perubahan nya sekarang ini.
"Bunda harap kamu selalu bahagia baik sekarang maupun nanti" Lirih Bunda Nia seraya kembali masuk kedalam kamar.
Bunda Nia memilih untuk memendam rasa ingin taunya dari pada harus mengganggu kebahagian Fiya, biar saja Fiya bahagia entah itu karena apa yang jelas saat ini Fiya Bahagia.
Fiya tidak henti - henti nya mengumbar senyuman kesana kemari, dari mulai keluar kamar hingga masuk lagi senyuman Fiya seolah tidak pernah Pudar. Fiya juga tidak pernah sekali pun meninggal kan Ponselnya, Setiap hari hanya ponsel dan ponsel yang ia genggam.
Wajah Fiya berbinar Lagi melihat kearah ponsel yang menyala menandakan ada pesan masuk segera Fiya membacanya dengan senyuman yang semakin melebar.
Sudah hampir sepuluh hari Fahri tidak pulang ke rumah sejak kejadian Laras datang dan bertemu dengan Fiya, sampai hari ini Fiya belum sekali pun bertemu dengan Fahri namun beban tidak bertemu dengan Fahri seolah tidak ada bagi Fiya.
Fahri memang tidak datang namun perhatian Fahri selalu Ada. Sejak empat hari yang lalu Fahri selalu Rutin mengirimkan pesan untuk Fiya, entah Itu pesan ucapan selamat pagi hingga pesan perhatian Lain nya.
Ini memang hanya hal kecil namun bagi Fiya ini sangat luar biasa, mengingat dulu Fahri sangat angkuh dan jahat pada Fiya. Jangan kan menatapnya sekedar berbicara saja Fahri seolah tidak mau namun sekarang meski Fahri tidak menemui nya Namun perhatian dan kabar Selalu Fahri beritahu Pada Fiya.
"Dia akan pulang" Fiya bergumam pelan meloncat - loncat kecil membaca Pesan yang baru saja Fahri kirim kan.
Fahri akan Pulang hari ini, dia akan datang mengunjungi Fiya. Fahri mengatakan bahwa sore ini dia akan segera pulang dan menginap.
Fiya tidak bisa menahan rasa kegembiraan nya membaca Pesan dari Fahri yang memberitahu akan segera pulang. Rasanya Kegembiraan Fiya berlipat ganda, Bayangan melihat wajah Fahri lagi yang selama ini selalu diam - diam Fiya bayangkan tanpa jujur kesiapapun akan segera terkabul.
Fiya menyadari bahwa perasaan nya sangat lah salah besar mengagumi pria yang sudah beristri meski Fiya juga sama istri nya namun rasa sayang dan cinta bukan lah hak Fiya untuk menolak.
"Setidak nya Cukup hanya Aku saja yang merasakan dan mengetahui nya"
Fiya segera berlari kecil menaiki setiap anak tangga berniat masuk kedalam kamar untuk sekedar bersiap - siap. Jujur saja ini kali pertamanya Fiya merasa bahagia setelah beberapa bulan Fiya merasakan beban berat namun sekarang beban itu seolah hilang tergantikan dengan Sikap Fahri yang seolah menjadi magnet senyum dan tawa Fiya.
Ada banyak rasa bahagia yang saat ini Fiya rasakan. Bahagia melihat Fahri akan pulang dan menginap, bahagia juga karena ada sesuatu rasa yang seolah semakin tumbuh subur di dalam perasaan nya.
Fiya memang masih muda Tapi bagaimanapun Fiya juga pernah merasakan Yang namanya jatuh cinta dan rasa bahagia ini bukan lah bahagia karena yang lain melainkan rasa ini yah rasa untuk Fahri suami nya.
Bodoh memang mencintai pria yang sama sekali tidak mencintai Fiya, namun satu hal yang Fiya ketahui hari ini dan beberapa hari ke depan Fahri masih suaminya dan akan menjadi suami nya hingga putusan cerai terucap.
"Apa Fahri akan Pulang?"
Fiya menoleh seraya melepas kenop pintu kamar nya melihat kearah Bunda Nia yang entah sejak kapan berada di belakang Fiya.
"Mmm. Iya Bun"
Senyuman Fiya mengembang melihat kearah Bunda Nia dengan tatapan malu - malu. Fiya merasa malu melihat Bunda Nia yang terus menatap nya dengan tatapan penuh selidik.
"Bersiap lah. Mungkin Fahri akan menginap" Ujar Bunda Nia seraya berjalan pelan meninggal kan Fiya.
"Bun?"
Bunda Nia menoleh melihat kearah Fiya "Fiya bahagia Bunda.. Sungguh." Bunda Nia kembali tersenyum mendekati Fiya lalu merai tubuh mungil itu kemudian mendekapnya lembut.
"Bunda senang kamu Bahagia. Selalu bahagia lah Fiya, Bunda yakin kamu wanita yang Luar Biasa".
"Maaf kan putra Bunda Fahri yang sempat menyalahkan mu, membenci mu. Yakin lah Fiya kebahagiaan Ini tidak akan pernah berakhir"