Happy Reading !!!
Aku tidak perduli dengan apa yang orang katakan di luar sana, Karena orang - orang di luar sana hanya bisa berbicara tanpa bisa merasakan apa yang saat ini aku rasakan.
Aku mendengar kan setiap cacian, Kritikan bahkan perkataan pedas yang sangat luar biasa pun juga sama aku dengar kan karena bagiku Perkataan mereka layak nya motivasi yang membuat rasa yakin dan kekuatan ku bersumber dari mereka.
Di sini di dalam rumah ini dan juga di kota ini aku hidup sendiri jauh dari kedua orang tua dan keluarga. Tidak ada harapan bagiku untuk sekedar mengadu maupun menangis meratapi masalah yang kian hari kian bertambah.
Masalah yang membuat ku harus jadi istri kedua dan menyakiti Laras istri tua Fahri suamiku dan masalah kebencian orang - orang di luar sana keluarga Laras Dan Keluarga Fahri.
Hanya Bunda Nia yang tidak membenci ku bahkan Bunda dengan senang hati memberikan ku tempat tinggal di kala semua orang menyakiti dan menuduh ku.
"Tidak Fiya! Jangan Ingat Itu lagi."
Ku tepuk - tepuk d**a ku pelan berusaha keras untuk membuang semua rasa bersalah dan tertekan yang selama ini seolah menggerogoti perasaan ku.
Aku memilih untuk tidak memikirkan masalah yang berangsur mulai berakhir, memilih untuk melihat beberapa artikel yang saat ini tengah aku baca di salah satu blog mengenai cara make up dan cara melayani suami dengan baik dan benar. Aku sengaja melihat beberapa artikel karena berada jauh dari orang tua sangat menyulitkan ku untuk sekedar belajar.
Aku memang wanita, tapi jujur saja aku sangat bodoh dalam hal make up dan melayani suami pasal nya aku belum sempat bertanya kepada Ibu dan sekarang pun aku sangat malu bila bertanya pada Bunda Nia.
Konyol memang membaca artikel mengenai make up dan melayani suami, namun ini semua harus ku lakukan karena saat ini aku sudah mempunyai suami. Yah meski hanya suami sementara yang beberapa Bulan Lagi akan menceraikan Ku.
"Ini dan Ini. Hmmm Tidak sulit."
Aku bergumam pelan seraya beberapa kali mengerinyit bingung membaca beberapa Artikel yang membuat ku berulang kali menengguk air liur dengan wajah yang terasa panas.
"Seperti nya saya salah Masuk Kamar."
Ponsel ku, ku genggam erat-erat mendengar suara yang seolah membuat seluruh tubuh ku meremang, suara yang sangat tidak asing dan sangat aku rindukan.
Suara itu, suara Lembut namun tegas sangat jelas ku dengar dan aku sangat tau pasti suara siapa itu. Aku bisa menebak suara nya meski tidak melihat nya secara langsung.
"Hei. Apa kabar?"
Wajah ku menoleh menatap kearah Fahri yang berdiri di dekat pintu kamar yang terbuka. Senyum ku mengembang dengan perasaan yang seolah campur aduk.
Rasanya saat ini aku sangat ingin berteriak memanggil namanya dan berlari memeluk tubuh nya erat. Namu semua itu hanya bisa ku khayalkan bagaimana pun Aku sangat tidak pantas bila berlari dan langsung memeluk nya begitu saja.
"Tidak merindukan ku hmm." Tanya Fahri wajah nya menatap ku seolah penuh rasa ingin tau.
"Tidak usah Malu Fiya." Katanya Lagi.
Aku berfikir sejenak memikirkan perkataan Fahri kemudian menatap nya dengan senyuman semanis mungkin, Entah mengapa kedua kaki ku seolah tidak bisa ku tahan selangkah kaki ku bergerak kemudian tanpa bisa aku tahan lagi kaki ku sudah berjalan cepat menghampiri Fahri.
Kedua tangan ku bergerak pelan meraih tubuh Fahri kemudian memeluk nya erat, nyaman dan rasa bahagia begitu kuat aku rasakan sebelum akhir nya bayangan wajah Laras tergambar jelas dalam benak pikiran ku. Aku mengingat wajah Laras, wajah cantik dan sangat anggun yang seolah menggambarkan ketidak ikhlasan suami nya ku peluk, kedua tangan yang semula memeluk tubuh Fahri kuat perlahan meluruh jatuh tanpa memeluk tubuh nya lagi.
"Maaf. Sungguh Kak Fiya tidak bermaksud."
Aku merasa menjadi wanita paling Bodoh yang dengan rasa percaya diri nya berjalan cepat dan langsung memeluk tubuh pria yang baru saja memberikan secuil perhatian lewat pesan singkat yang bisa saja itu hanya kepalsuan semata.
"Kenapa? Jangan menjauh, ayo kemarilah biar Ku peluk."
Tubuh ku diam tanpa bergerak mundur lagi hanya untuk sekedar menjaga jarak mendengar suara Fahri yang seolah menjadi magnet tersendiri.
Fahri melangkah kan kaki nya maju merangkul tubuh ku lalu memeluk ku erat. Tangan nya menyusuri rambut panjang ku yang tergerai seraya meletakan bibir nya di kening ku mengecup nya hangat. Wajah ku terasa panas merasakan pelukan nya yang hangat serta ciuman nya yang mampu membuat sekujur tubuh ku meremang tidak karuan.
Pelan ku balas pelukan nya menyembunyikan wajah ku yang memerah di bagian d**a nya seraya mendengar kan irama detak jantung nya yang sangat pelan dan normal. Ku raba pelan bagian d**a ku sekedar ingin menyamakan detakkan ku yang sangat cepat sama sekali tidak seperti Fahri.
"Sudahh." desisi ku malu-malu.
Fahri menggelengkan kepalanya mengusap pucuk kepala ku lembut "Kenapa? Bukan kah kamu mengingin kan nya. Nikmati lah selama Aku ada di sini." Ucap Fahri, bibir nya kembali mengecup kening ku lama bahkan lebih lama dari beberapa menit yang Lalu.
"Kak. Sudah." Ringis ku yang sudah tidak tahan merasakan detakkan yang semakin menjadi-jadi, napas ku juga seolah sesak berdekatan lama dengan nya.
"Iya. Iya.. Cukup" Ujar Fahri sambil pelan melepaskan pelukan nya.
Aku bisa bernapas lega Mengusap d**a ini agar sedikit jauh lebih tenang, jujur saja aku benar-benar tidak pernah menyangka bahwa rasa yang sudah mulai ku sadari bisa mendorong ku berbuat nekat.
Rasa ini benar-benar gila, aneh dan bahkan bisa menggelapkan rasa malu yang tadinya sangat mempengaruhi hidup ku, namun semenjak rasa ini muncul semua rasa malu seolah hilang tergantikan dengan rasa yang sedikit berubah-ubah tanpa bisa di tahan.
"Hari ini Aku hanya ingin istirahat tidak ingin di ganggu oleh siapa Pun." Ucap Fahri seraya membuka Pakaian kerjanya tepat di hadapan ku.
Wajah ku sedikit memaling kearah samping kanan mencoba menghindari kelakuan Fahri yang menurut ku terasa aneh. Bagaimana aku tidak berfikir dia aneh pasal nya ini kali pertamanya Fahri membuka pakaian nya tepat di hadapan ku.
"Aku ini suami mu Fiya. Bukan musuh mu."
Fahri berdecak kesal melempar pakaian nya di atas sofa yang berada dekat dengan meja kecil yang berada di dalam kamar, tubuh Fahri sudah masuk kedalam kamar mandi membuat ku hanya bisa menatap heran.
"Sebentar baik sebentar marah, Aneh!" cicit ku sambil mengambil pakaian Fahri dan meletakan nya di dalam keranjang pakaian kotor.
"Aku dengar Fiya." Sahut Fahri dari dalam kamar mandi.
Telinga seperti apa yang Fahri Punya hingga suara ku yang pelan masih bisa dia dengar, sungguh tajam pendengaran nya.
Aku berdiam diri duduk di atas ranjang dengan kedua kaki saling bersila melihat Fahri yang baru saja keluar dari kamar mandi seraya menggosok-gosok rambut nya yang basah dengan handuk.
"Sudah berapa Bulan Kita menikah Fy?" tanya Fahri menatap ku dengan kedua tangan saling menarik Kaos yang tengah Ia Kenakan.
"Hmm. Tiga bulan dua puluh lima hari Kak." Ujar Ku sedikit pelan.
Fahri mengangguk-anggukan kepala nya kemudian Ikut duduk di samping ku "Ingatan mu sungguh hebat. Jujur saja aku sama sekali lupa kapan kita menikah dan sudah berapa lama."
"Berarti tinggal dua bulan lebih lagi kita saling terikat Fiy." Katanya Lagi.
Bibir ku saling mengatup rapat memilih untuk diam tidak ingin menyahuti apa yang Fahri ucapkan. Sebenar nya aku sama sekali tidak ingin mengingat kapan aku dan Fahri akan bercerai karena bagaimana pun saat ini aku sudah mulai menerima keadaan ku sekarang.
Rasanya kalau aku boleh memilih aku tidak ingin ada perpisahan meski dulu aku sangat ingin berpisah namum sekarang rasa ingin itu sudah hilang.
"Tidur lah Fiy ini sudah malam."
Aku mengangguk pelan berbaring di samping Fahri dengan wajah yang saling berhadapan dengan nya. Aku bisa merasakan aroma tubuh Fahri yang menurut ku sangat luar biasa harum, aroma Pria yang mungkin akan selalu aku rindukan.
"Kak.."
"Hmm"
"Apa kita sungguh akan bercerai?" Tanya tidak yakin.
Kedua mata Fahri yang semula terpejam kini terbuka menatap ku dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.
"Iya tentu saja Fiya! Kita akan bercerai bagaimana pun keadaan nya Laras tidak bisa di Madu."
"Dan kamu juga berhak menikah lagi dengan Pria yang jauh lebih baik" ujar nya yakin.
"Tapi ...."
"Sssttt. Tidur lah Fiy kita bahas masalah ini nanti."
Fahri merentangkan tangan nya memeluk ku erat seraya mengecup kening ku lembut. Aku tersenyum Manis kearah Fahri melihat wajah tampan nya yang membuat ku semakin jatuh cinta.
Satu harapan ku malam ini semoga malam ini menjadi malam yang panjang antara aku dan Fahri.