SELAMAT MEMBACA!!!
"Morning Affiya." Ucap Fahri seraya mengecup kedua kelopak mata Fiya.
Fahri tersenyum melihat tubuh Fiya menggeliat dengan kedua mata mengerjap - ngerjap kemudian mengucek Matanya pelan.
Fiya hampir saja terjingkat melihat wajah Fahri tepat berada di hadapan nya, tubuhnya sangat dekat dengan tubuh Fiya yang masih berbaring. Aroma tubuh Fahri langsung menyeruak memenuhi penciuman Fiya.
"Sudah jam delapan ayo bangun." Seru Fahri berbisik.
Fiya menggeleng pelan mengangkat kedua tangan nya lalu ia lingkarkan di leher Fahri. Senyuman nya mengembang dengan kedua bola mata membulat sempurna.
"Sebentar saja."
Fiya meminta dengan wajah semanis mungkin mengerdipkan kedua matanya membuat Fahri terkikik geli.
Fahri memang sempat kaget dengan sikap Fiya yang sedikit agresif berbeda dari biasanya namun sesegera mungkin Fahri memahami apa kemauan Fiya. Bagaimana juga Fiya adalah istrinya, tidak masalah bila ia ingin dimanja oleh suaminya.
"Iya. Hanya sebentar." Fahri menyetujuinya, membiarkan Fiya untuk mengumpulkan semua kesadarannya.
Fiya ini tipikal wanita kuat namun sedikit manja dan menggemaskan membuat Fahri selalu tersenyum melihat nya.
"Tidak berat?" Tanya Fahri dengan kening mengerinyit takut - takut tubuhnya terlalu berat.
Fiya langsung menggeleng senyum nya terus mengembang dengan wajah berseri - seri, ia menatap wajah Fahri yang masih Bisa Fiya tatap Secara dekat berulang kali seakan ingin merekam baik - baik wajah suaminya.
Fiya selalu memanfaatkan waktu bersama Fahri sebaik mungkin dan selalu membayangkan bahwa hari ini hari terakhir bersama Fahri.
Bagi Fiya setiap detik kebersamaan nya bersama Fahri adalah hal yang sangat langka. Baru kali ini Fiya bisa merasa dekat dengan Fahri -- suaminya sendiri, menatap Wajah nya sangat dekat, memeluk tubuh nya dan mencium aroma tubuh Fahri yang seolah menjadi pengingat tersendiri bagi Fiya.
"Sudah?"
"10 Menit Lagi" Kata Fiya memberi tau.
Fahri hanya tersenyum melihat Fiya betah berlama-lama dalam Posisi seperti ini. Fahri sempat berfikir apa bisa seorang Fiya Bersikap Manja seperti Laras? Dan semua itu sudah terjawab Fiya dan Laras mempunyai kesamaan --- sama - sama manja.
"Apa kita akan terus seperti ini? Bagaimana bila Bunda Lihat?" Ujar Fahri berbisik.
Wajah Fiya sedikit memerah membayangkan bila Bunda sampai melihat kelakuan nya yang seperti ini. Buru - buru Fiya menarik tangan nya dari leher Fahri menyingkirkan tubuh Fahri agar turun dari atas nya.
"Belum 10 menit loh Fiy?"
"Sudah." elak Fiya.
Fiya memang tau ini belum sepuluh menit namun baginya sudah cukup lama Ia bersama Fahri Pagi ini dan Fiya tidak ingin kepalang malu bila Bunda memergoki dirinya dan Fahri.
"Baik lah.. Segera mandi dan bereskan beberapa pakaian aku akan mengajak mu ke Bali."
"Sungguh?" Fiya menyahut dengan sumringah, senyumannya semakin lebar mengembang di bibirnya.
"Iya hanya tiga hari. Kebetulan Aku ada pertemuan di sana dengan beberapa rekan bisnis" Jelas Fahri.
Fiya langsung bangkit lalu duduk menatap Fahri dengan tatapan penuh kebahagiaan. Jarang sekali, atau bahkan sangat tidak pernah sekalipun Fahri mau mengajaknya pergi apalagi selama tiga hari.
"Berdua?" Tanya Fiya ragu.
"Iya. Tidak ada Bunda dan tidak ada Laras. Sudah bersiap Lah"
Mendengar jawaban Fahri rasanya Fiya ingin berteriak sekeras mungkin bayangkan saja ini kali pertamanya perlu di tegaskan pertama kali Fahri mengajak Fiya pergi berdua meski beralasan ada pertemuan namun tetap saja ini sangat luar biasa.
"Aku keluar. Cepatlah!"
Fiya mengangguk - anggukan kepala nya menatap pintu yang terbuka kemudian tertutup kembali.
Segera Fiya masuk kedalam kamar mandi membersihkan tubuh nya sebersih dan sewangi mungkin.
Bayangan liburan berdua dengan Fahri dan melakukan hal - hal yang di lakukan pasangan lain nya terus memutari kepala Fiya.
Fiya tidak bisa menutupi kebahagiaan nya saat ini meski hanya tiga hari namun bagi Fiya ini sudah cukup.
"Tapi.. Bagaimana dengan Mba Laras" gumam Fiya.
Namun Pikiran mengenai Laras segera Fiya buang jauh - jauh. Fiya tidak mau hari ini dan seterus nya Hanya memikirkan Laras sementara Laras belum tentu memikirkan Kebaikan Fiya juga.
Fiya egois....
Iya kali ini Fiya ingin bersikap egois Fiya tidak ingin lagi merasa tersiksa dan merana dengan kehidupan nya yang sudah penuh tekanan dan masalah. Bagi Fiya keegoisan nya ini sangat lah wajar mengingat selama ini Fiya sudah cukup bersabar dan sabar nya tidak membuah kan hasil.
Tidak ada dalam benak Fiya untuk merebut Fahri dari Laras namun lain dulu lain sekarang Fiya sudah terlanjur jatuh dan masuk kedalam hubungan ini dan Fiya Ingin meneruskan kan nya sampai akhir.
"Hanya sebentar Mba.. " Gumam Fiya.
Fiya hanya ingin egois sekarang dan nanti sampai waktu perceraian antara dirinya dan Fahri tiba. Setelahnya ia berjanji tidak akan lagi egois kepada Laras
Bagaimana pun dan sebesar apa pun keegoisan Fiya Tidak akan bisa menghalangi perceraian nya dengan Fahri yang sudah pasti akan terjadi.
Sementara itu tubuh Laras bergetar hebat dengan kedua sudut mata berair. Wajah nya memerah dengan bibir terkatup rapat.
Laras meremas Ponsel nya Kuat - kuat menatap kearah depan dengan tatapan penuh amarah.
"Aaaaarrrrggghhh"
Laras melempar Ponsel nya jatuh di atas lantai tangis nya pecah merasakan sakit yang luar biasa. Laras tidak bisa membayangkan suami yang sangat Laras cintai akan pergi bersama istri kedua nya.
Laras mengetahui suaminya Fahri akan pergi ke Bali dengan Fiya setelah tadi Fahri menghubungi Laras dan memberi taukan Pada Laras bahwa gari ini selama tiga hari Fahri akan pergi bersama Fiya.
Fahri meminta Izin pada Laras dan dengan bodoh nya Laras berkata Iya mengizinkan Fahri pergi bersama Fiya.
"Bodoh Laras! Aarrggghh!"
Laras memaki kebodohan nya sendiri yang dengan senang hati memberikan izin tanpa memikirkan perasaan nya sendiri.
Laras menyesal kenapa tidak Ia tolak saja permintaan Fahri kalau pada akhir nya Laras sendiri lah yang merasakan sakit nya.
"Kenapa Harus wanita Itu? Kenapa? Fiya dasar Madu kurang Ajar!"
Laras tidak bisa menahan amarah nya membayangkan Wanita liar Itu bersama suaminya.
Bayangan - bayangan Fiya menggoda Fahri dan mereka yang akan tidur satu kamar membuat amarah Laras sama sekali Tidak bisa Ia tahan.
Laras tidak bisa membiarkan suaminya berada satu ranjang dengan wanita lain. Bagi Laras hanya dirinya yang boleh tidur satu ranjang dengan suaminya Fahri, tidak untuk wanita Lain.
"Wajah dan kelakuan Mu sangat berbeda. Dasar wanita ular!"
Laras tidak bisa membiarkan Fahri masuk kedalam pesona Fiya yang mungkin saja akan bisa membuat rasa cinta nya terbagi dua.
Hidup di madu saja sudah sangat menyiksa bagi Laras apa lagi harus menapaki kenyataan suaminya berpaling ke wanita lain.
"Aku harus Pergi! Iya Aku akan menyusul Mas Fahri".
Laras yakin akan keputusan nya yang ingin menyusul Fahri dan menyingkir kan Jauh - jauh wanita sialan yang sudah Membuat Rumah tangga nya berantakan.
"Jangan Bodoh Kak"
"Kakak Mau Kemana? Mau menyusul Kak Fahri?"
Kata Nona yang membuat Laras menatap Nona tajam.
"Iya! Tidak ada satu wanita pun selain aku yang bisa tidur satu ranjang dengan Mas Fahri" Sahut Laras.
Nona menggeleng kan kepalanya mengusap lembut lengan Laras seraya menatap Laras penuh dengan rasa kasihan.
Nona tidak bisa memungkiri bahwa ia sebagai seorang wanita yang mempunyai perasaan yang peka bisa merasakan penderitaan Kakak nya -- Laras.
Di usia pernikahan yang masih seumur jagung harus di landa masalah yang luar biasa meluluh lantah kan rumah tangga Laras dan Fahri.
"Kakak Tidak Boleh seperti ini kak. Kakak bukan wanita liar yang asal datang dan melabrak wanita itu."
"Kakak Wanita baik - baik, kakak Wanita terhormat dan berpendidikan tidak pantas Kakak bersikap seperti wanita kurang ajar Itu. Kak Percaya lah ada jalan untuk bisa membuat wanita itu pergi dari Kak Fahri" Ujar Nona.
"Bagaimana kalau Fiya tidur bersama Mas Fahri? Kakak tidak bisa membayangkan nya De!".
"Yakin lah Kak, bahwa Kak Fahri tidak akan jatuh kedalam dekapan wanita ular itu."
Bohong bila sepasang wanita dan pria tinggal dalam satu atap dan tidur dalam satu ranjang tidak ada sentuhan fisik di antara kedua nya. Itu sangat mustahil dan Laras yakin bahwa Fahri dan Fiya tidak akan mampu menghindari itu.
"Kak Tenang lah"
Laras tidak bisa tenang membayangkan suami nya berada dalam Kungkungan wanita Lain. Wanita mana yang bisa tenang mengetahui suami nya pergi dan tidur dengan wanita Lain.
Laras yakin tidak ada satu wanita pun yang rela dan bisa tenang dengan keadaan nya yang sekarang ini.
Laras meraih tubuh Nona memeluk Adik nya erat. Laras tidak bisa membohongi perasaan nya yang teramat sakit melihat kenyataan yang luar bisa membuat semua pikiran perasaan dan tubuh nya terasa sangat sakit.