Fiya bergerak lincah berlari kesana kemari menikmati suasan pantai yang belum pernah Fiya lihat sebelum nya.
Meski pada saat perjalanan Fiya sempat sakit dan mabuk namun bisa dilihat sekarang ketika sampai sakit dan mual nya hilang seketika.
"Fiya. Jangan Seperti itu!" Seru Fahri yang melihat Fiya dari kejauhan.
Fahri masih menaruh rasa khawatir kepada Fiya mengingat dadi di pesawat wajah Fiya sangat pucat dan sedikit menggigil.
Ini memang salah Fahri yang mengajak Fiya pergi naik pesawat tanpa menanyakan dulu apa Fiya sudah pernah atau belum dan benar saja tanpa diduga Fiya muntah dan sakit di pesawat.
"Kak Kemari" panggil Fiya, kedua tangan Fiya melambai- lambai kearah Fahri Memberikan isyarat Agar Fahri menghampiri nya.
Fahri menggeleng Memilih untuk duduk di pinggir Pantai mengawasi Fiya yang masih asik berlari dan berloncatan kesana kemari.
Bibir Fahri menggoreskan senyuman melihat senyum sumringah tercetak jelas di bibir tipis Fiya. Senyuman yang sudah lama tidak pernah Fahri lihat, senyuman yang seolah mati kini kembali hidup.
"Aku senang Melihat mu bahagia Fiya, semoga senyuman itu tidak pernah hilang."
Suara Fahri terdengar Pelan entah mengapa ada rasa bersalah yang seolah saat ini Fahri rasakan. Rasa bersalah yang baru beberapa hari ini muncul, Fahri merasa mempunyai kesalahan yang besar kepada Fiya, Kesalahan yang mungkin tidak bisa ditebus dengan mengajak Fiya liburan.
Fahri mengakui alasan ada pertemuan dengan rekan bisnis di sini hanyalah alasan semata, alasan agar Fahri bisa mengajak Fiya pergi dan bisa memberikan alasan yang tepat agar Laras mau mengizinkannya.
Tidak ada niat sedikit pun bagi Fahri untuk berbohong pada Laras dan Fiya, Fahri hanya ingin bersikap adil untuk Fiya. Laras sudah cukup bahagia selama ini dan sekarang giliran Fiya yang menjadi tanggung jawab Fahri untuk membahagiakan nya.
"Kak Fahriiiiiii....."
Fiya memanggil Fahri dengan suara lantang kemudian kembali Lagi bermain bersama beberapa orang yang mungkin baru Fiya kenal.
"Setidak nya Rasa Bersalah Ku sedikit berkurang" Gumam Fahri.
"Dan rasa bersalah mu pada ku akan bertambah Mas."
Senyum di bibir Fahri meluruh mendengar suara yang baru saja menyahuti ucapan Fahri. Suara yang sangat Fahri kenal, Suara yang sangat Fahri tau.
Cepat Fahri Menoleh kearah samping kanan, Sedetik Fahri terdiam melihat istri pertamanya --- Laras duduk di sebelah Fahri dengan tatapan lurus. Kedua tangan Laras mengepal melihat kearah Fiya yang sedang berlari - lari kecil dengan tatapan Penuh kebencian.
"Kamu di sini? Sejak Kapan? Apa Baru sampai?"
Fahri bertanya pada Laras dengan suara yang lembut, tangan nya terulur mengusap lembut pucuk kepala Laras.
"Aku tidak bisa melihat suamiku berada satu ranjang dengan wanita Lain..Aku janji tidak akan mengganggu asal jangan tidur dengan nya."
Pinta Laras, wajahnya memelas kearah Fahri dengan kedua sudut mata berair. Fahri menatap wajah Laras dalam melihat betapa terluka nya jiwa dan raga istrinya --- Laras.
Fahri merasa telah berdosa menyakiti dua wanita yang sangat baik kepada dirinya. Laras wanita yang teramat Fahri cintai harus ikut terjun kedalam lembah pesakitan yang Fahri buat sendiri dan Fiya wanita yang baru - baru ini mengusik fikiran nya juga ikut masuk bersama Laras.
Fahri sama sekali tidak menyangka perjalanannya memeriksa perkebunan menjadi awal kehancuran dirinya sendiri. Kehancuran bagi hubungan nya dengan Laras dan kehancuran dengan Fiya.
"Aku seorang lelaki sekaligus Suami yang mempunyai dua istri. Aku tidak bisa berjanji akan hal itu karena audah menjadi kewajiban ku untuk memberikan Fiya hak nya sebagai seorang istri."
Fahri menarik nafas dalam menjawab Permintaan Laras, Fahri tau jawaban nya ini mungkin akan membuat Laras merasakan sakit hati namun Fahri seorang lelaki sekaligus suami yang harus mempunyai sikap untuk kebaikan Laras dan Fiya.
"Jadi tujuan mu kemari untuk bulan Madu?! Apa wanita Liar itu meracuni pikiran mu. Jawab aku Mas."
"Tidak Laras! Fiya tidak pernah meminta haknya. Dia selalu Pasrah dengan apa yang dia terima, aku mengajak nya hanya untuk membuat dia bahagia."
"Kalau kamu menyebut kepergian ku bersama Fiya untuk bulan madu itu hak kamu, Laras."
Laras diam menatap Fahri suami yang ada di hadapan nya dengan tatapan yang teramat tersiksa. Laras tidak pernah menyangka bahwa wanita kecil yang Fahri ---- suaminya bawa akan bisa merusak rumah tangga nya seperti ini.
"Aku pulang Mas. Berbahagia lah!"
Laras berkata seolah dirinya kuat, Laras pergi seolah dirinya melepaskan suaminya dengan wanita lain dan Laras berpaling demi menghindar dari semuanya.
Fahri meraih tangan Laras menarik nya membawa Laras berdiri di balik Pohon. Kedua tangan Fahri mengapit wajah Laras mengusap air mata Laras yang jatuh menangisi suaminya dengan wanita Lain.
"Jangan menangis sayang. Yakin lah masalah ini akan segera selesai. Aku tidak bisa mengabaikan Fiya, dia tanggung jawab ku dan kamu pun juga sama. Aku tidak akan berpaling dari kamu Laras!"
Fahri meraih tubuh Laras di peluk nya erat seraya mengecup setiap inci wajah Istri nya. Laras semakin terisak merasakan perlakuan Fahri yang semakin membuat Laras tidak rela bila perlakuan ini di bagi untuk wanita lain.
Laras membalas pelukan Fahri. Rasa ya Laras tidak ingin pelukan antara dirinya dan Fahri terlepas. Laras tidak ingin pelukan ciuman dan semuanya di bagi - bagi.
Laras egois? Iya Laras egois dan itu sangat wajar karena Laras tidak ingin suaminya memberikan hal yang sama kepada wanita lain.
"Pulang lah bersama Nona. Itu Nona sudah melihat kita"
Laras mengangguk mengecup kedua Pipi Fahri kemudian pergi bersama Nona untuk pulang dan meninggalkan Fahri dengan---- Istri muda nya.
Fahri menatap punggung Laras yang pergi bersama Nona kemudian Fahri kembali lagi melihat kearah Fiya yang sudah tidak ada ditempat semula.
Fahri berlari kecil mencari Fiya yang sama sekali tidak Fahri lihat. Rasa khawatir seolah merayapi perasaan Fahri, Fahri khawatir melihat Fiya tidak ada dan Fahri takut bila Fiya sampai menghilang.
"Kak."
Fiya menepuk bahu Fahri yang tengah memunggungi nya suara napas Fahri terasa jelas di dengar oleh Fiya.
Segera Fahri berbalik merai tubuh Fiya lalu memeluk nya erat "Dasar N nakal. Sudah ku bilang jangan jauh -jauh Fiy"
Fahri mengoceh memarahi Fiya dengan tubuh yang masih memeluk Fiya erat. Fahri seolah tidak mau melepaskan pelukannya kepada Fiya.
"Fiya disini Kak. Sudah lepas Kak Fiya sesak"
Fiya mencubit pinggang Fahri agar bisa melepaskan pelukan yang teramat kuat, Pelukan yang membuat napas Fiya tercekat.
Fahri melepaskan pelukan nya menatap Fiya dengan senyum sumringah nya. Pelan Fahri berjongkok di hadapan Fiya menarik tangan Fiya agar naik ke punggung nya.
"Masih ingin jalan - jalan? Ayoo naik lah aku akan mengajak mu menyusuri pantai tanpa rasa lelah"
Fiya diam sebentar berfikir sejenak kemudian senyum di wajah nya mengembang. Fiya naik keatas punggung Fahri di peluk nya tubuh Fahri kuat.
"Ini sangat Romantis... Aahhhhhh".
Fiya berteriak heboh membuat Fahri harus kuat - kuat menahan tawanya. Fiya seolah bahagia bisa merasakan Sesuatu yang selama ini hanya bisa Fiya Lihat di film - film saja.
"Ini seperti di Film - film Kak"
Fiya berteriak Lagi kali ini suaranya jauh lebih nyaring dan sangat Jelas terdengar kebahagiaan dari suaranya.
"Lalu apa Lagi yang ada di Film?" Tanya Fahri.
Fiya berfikir sebentar mengingat-ingat adegan demi adegan yang pernah Fiya lihat di Film kesukaan nya.
Ragu Fiya mengatakan, wajah nya langsung merona ketika bayangan lengkap setiap adegan tergambar di fikiran nya.
"Dinner Romantis"
Kata Fiya pelan, Fiya menggigit bibir bawah nya kuat - kuat takut apabila Fahri akan menertawakannya.
"Lalu apa lagi?"
"Pelukan"
"Terus?"
"Cium..an".
Fiya semakin gugup menjawabi Pertanyaan Fahri yang hanya berkata terus - terus dan terus saja.
"Hahaha. Korban sinetron, korban Film."
Fahri tertawa geli rasanya Fahri tidak kuasa menahan tawa nya mendengar jawaban Fiya yang kelewat Polos dan sangat menggemaskan.
Fiya mendengus kesal mendengar tawa Fahri yang membuat Fiya jadi malu sendiri karena dengan mudah nya menyebutkan semua adegan dalam Film yang Fiya tonton.
"Apa malam pertama juga ada?" Tanya Fahri.
Fiya celingukan kekanan dan kiri bingung harus menjawab Apa karena menurut film adegan itu memang ada.
"Ada"
Fiya menjawab sangat pelan bahkan mungkin suaranya seolah tidak ada dan sama sekali tidak bisa di dengar.
"Baiklah Kita Akan melakukan semuanya"
Putus Fahri lalu mengajak Fiya kembali berjalan menyusuri Pantai bersama istri Mudanya --- Affiya Ramania Kedasih.