Happy Reading
-----------
"Tidak Kak Fiya tidak mau. Fiya masih ingin di Sini"
Fiya menarik kembali tangan nya yang di genggam Fahri, menatap Fahri dengan tatapan memelas. Kedua Kaki Fiya juga sengaja Fiya hantak - hentak agar Fahri tidak lagi mengajaknya untuk segera pergi.
"Fiya."
"Nggak. Fiya masih mau disini!" Kekeh Fiya.
Fahri menarik napas dalam - dalam lalu menghembuskan nya pelan, di tatap nya Fiya dengan tatapan seserius mungkin.
"Iya. Baiklah tapi setelah ini kau harus mau!"
Kata Fahri seraya menatap tepat di bola mata hitam Fiya, kepala Fiya mengangguk - angguk pelan menyetujui persyaratan yang Fahri berikan.
Fiya berjalan kesana kemari mengelilingi pusat perbelanjaan dengan Fahri yang berjalan santai di belakang Fiya.
Fahri memang kesal melihat Fiya yang seolah tidak bosan naik turun lantai atas bawah dan keluar masuk toko, namun mau bagaimana lagi mau tidak mau Fahri harus bisa sabar mengikuti Fiya.
"Fiya hati - hati." Teriak Fahri yang melihat Fiya berjalan kesana kemari di tengah kerumunan orang.
Fiya hanya melambaikan tangan nya seraya berjalan terlebih dahulu jauh dari Fahri.
Fahri sedikit berlari untuk mengejar Fiya, Fahri tidak bisa melihat Fiya terlalu berada jauh dari nya karena bagaimana pun saat ini Fiya tengah bersamanya jadi sudah menjadi tanggung jawab Fahri untuk mengawasi Fiya.
"Fiya berhenti!"
Fiya menghentikan langkah kaki nya menatap Fahri dengan kening berkerut.
"Jangan jauh - jauh Fiya!" Bisik Fahri seraya melingkarkan tangan nya di pinggang Fiya membuat wajah Fiya langsung berubah warna.
Fiya tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya berada dekat dengan Fahri meski waktu di bali Fiya juga sudah merasakan hal yang sama namun kali ini rasanya berbeda.
Fahri sama sekali tidak merasa malu melingkarkan tangan nya di pinggang Fiya, meski situasi tempat yang cukup ramai.
"Kak."
"Iya."
"Kak Fahri tidak merasa malu?" Tanya Fiya akhirnya.
"Malu? Kenapa? Kita sudah Sah." Jawab Fahri cuek.
"Bukan! Tapi bagaimana bila ada teman, rekan kerja atau Mba Laras yang Melihat?" Fiya mulai merasa takut sendiri, melihat sekeliling.
Fahri menatap Fiya dengan tatapan penuh keyakinan, semakin mengeratkan tangan nya yang berada di pinggang Fiya hingga tubuh Fiya semakin melekat dengan tubuh Fahri.
Fiya berusaha menahan tubuh nya dengan kedua tangan agar tidak terlalu menempel di tubuh Fahri.
"Bisa kita singkirkan orang - orang Itu Fiya? Ini kesenangan kita dan juga kehidupan kita."
Fahri menjelaskan pada Fiya bahwa ini semua tidak salah dan juga tidak memalukan. Bagi Fahri, Fiya juga sama istri nya meski hanya istri kedua namun Fiya juga mempunyai hak yang sama dengan Laras.
"I-ya Maaf" Lirih Fiya mengalah.
Fahri mengangguk menatap Fiya dengan senyuman yang manis, entah mengapa Fahri sangat suka menatap Fiya sedekat ini seakan ada desiran yang membuat nya bisa melupakan semua masalah yang saat ini menumpuk di kehidupan Fahri.
"Kak Fahri."
"Apa?"
"Lepas. Semua orang melihat kita" Lirih Fiya mencoba mengingatkan Fahri.
Fahri melihat kearah samping kanan dan kiri melihat banyak pandang mata yang melihat kearahnya dan Fiya.
Fahri mengendurkan tangan nya di pinggang Fiya, membuat Fiya buru - buru sedikit menjauhinya.
Fiya bisa bernapas lega mendengar jawaban Fahri yang benar - benar di luar dugaan, masih sangat jelas di bayangan Fiya ketika awal mereka menikah.
Fahri Bukan yang sekarang, Fahri yang dulu, yang Fiya kenal begitu angkuh dan tidak bertanggung Jawab. Fiya tau betul setiap apa yang di ucapkan Fahri harus selalu benar.
Fahri juga Selalu menyalahkan Fiya akan keadaan mereka sekarang ini, menyalahkan pernikahan yang seharus nya tidak terjadi.
Namun sekarang Fiya bisa merasa sedikit lega karena Perubahan Fahri yang benar - benar membuat Fiya merasa bahagia.
Fiya memang tidak berharap banyak dari pernikahan ini namun setidak nya beri Fiya kebahagian dan kenangan indah bersama Fahri.
"Kita pulang!"
"Eum .... Iya"
Fahri mengajak Fiya untuk pulang, karena sudah cukup lama Fiya berada di tempat ini.
Fiya dan Fahri sama - sama diam berada dalam satu mobil, Fahri sibuk dengan jalanan dan Fiya juga sama sibuk dengan pikiran nya sendiri.
"Kak. Bisa kita pulang saja? Eum .... Maksud Fiya jangan menginap di hotel Fiya nggak nyaman" Ujar Fiya seraya menatap Fahri, Fahri melihat kearah Fiya lalu tersenyum.
Fahri menyetujui permintaan Fiya yang meminta untuk pulang ke rumah dari pada harus menginap di hotel. Meski sebenar nya Fahri ingin menginap di hotel tapi yasudah lah.
"Bunda Kapan Pulang Fiy?"
Fahri bertanya pada Fiya setelah mereka berdua sampai di rumah.
"Besok Kak. Bunda bilang tidak akan lama" Fiya menjawab Pertanyaan Fahri sambil meletakan gelas berisi air di atas meja.
Fahri mengulum senyuman melihat Fiya yang berada di hadapannya, kedua mata Fahri meneliti wajah Fiya, wajah yang cantik tanpa make Up dan Fahri sangat suka itu.
Fahri meraih ponsel nya setelah sebelum nya Fahri melihat banyak Pesan masuk namun tidak ada satu pun yang Fahri baca. Fahri lebih memilih mematikan nya dan meletakan nya di atas meja kamar dekat dengan sofa.
Fahri membaringkan tubuh nya diatas ranjang memikirkan masalah antara dirinya dan Fiya yang entah tidak tau akan bagaimana masa depan nya.
"Fiya .... Tidur lah"
Fahri menepuk tempat tidur di sebelah nya setelah melihat Fiya masuk kedalam kamar.
Fiya hanya mengangguk kemudian naik berbaring di sebelah Fahri. Entah mengapa Fiya merasa suasana kamar tidak seperti biasanya membuat Fiya sedikit canggung dan merasa gugup.
"Boleh aku menagih janji yang tadi?"
"Apa? Janji?" Fiya bingung tidak mengerti dengan janji yang Fahri maksud.
"Yang itu Fiya."
"Ehh. Yang mana Kak?"
Fahri berbisik pada Fiya seraya memeluk tubuh Fiya yang terlentang, lama Fahri menunggu jawaban Fiya sebelum akhir nya Fiya mengangguk.
"Kalau kamu tidak mau kamu bisa menolak Fiya."
Fiya langsung menggeleng menyentuh tangan Fahri yang melingkari perut nya.
Kedua tangan Fiya saling mengadu satu sama lain wajah nya merunduk kemudian memaling kearah lain dengan peluh yang mulai membasahi wajah nya.
Fahri mengulurkan tangan nya mengusap kedua pipi Fiya membuat wajah Fiya menatap kearah Fahri.
Fahri tersenyum melihat wajah Fiya yang basah akibat keringan. Wajah nya yang putih bersih, kedua bola matanya yang hitam dan hidung nya yang bangir membuat Fahri merasa beruntung bisa memiliki Fiya.
"Fiya. Mungkin ini bukan saat yang tepat, tapi bagaimana pun tugas ku menjaga mu akan segera berakhir. Aku memang laki - laki bodoh yang harus menyakiti dua perempuan sekali gus" Ujar Fahri pelan - pelan seakan tidak ingin menyinggung perasaan Fiya.
"Iya Kak satu bulan lagi. Fiya ingat dan akan mengingat nya"
Fiya berkata lirih, suaranya tidak sama lagi dengan suara tadi yang Fahri dengar, suara Fiya ang sekarang terdengar begitu lirih seakan ada banyak penderitaan yang ia rasakan.
Kedua mata Fiya terpejam merasakan rasa sesak ketika mengingat satu bulan lagi antara dirinya dan Fahri tidak akan bisa saling bersama lagi. Fiya tau ini sudah takdir nya namun bagaimana Pun Fiya sangat ingin bisa jauh lebih lama lagi bersama Fahri.
Fiya menyadari posisi nya yang hanya istri kedua dan Fiya sangat tau betul bagaimana perasaan Fahri kepada Laras. Sudah cukup bagi Fiya selama ini membuat hubungan mereka kurang baik dan mungkin Ini sudah saat nya Fiya mengalah.
"Boleh aku jujur Kak?" Lirih Fiya.
"Boleh"
Fiya menarik napas dalam - dalam lalu menghembuskan nya seraya menatap wajah Fahri.
"Aku Mencintai Mu. Tapi aku tidak berharap kau menerima nya. Cukup dengan aku jujur saja itu sudah membuat perasaan ku jauh lebih lega"
Fiya berkata jujur pada Fahri mengenai perasaan nya, perasaan yang mulai muncul sejak beberapa bulan yang lalu. Bukan maksud Fiya untuk membuat Fahri merasa Bingung, Fiya hanya ingin Fahri tau mengenai Perasaan nya.
Fahri mengusap lembut lengan Fiya menatap Fiya dengan tatapan penuh kebahagiaan, Fahri memang sudah menyadari akan perasaan Fiya namun bagaimana pun Fahri tidak mungkin membalas perasaan Fiya.
"Terimakasih Untuk Rasa Cinta Mu Fiya. Tapi ...."
"Jangan di jawab Kak.. Fiya hanya ingin mengungkapkannya tidak ingin jawaban."
Fiya memotong ucapan Fahri yang sudah sangat bisa Fiya tebak bagaimana jawaban Fahri nanti nya.
Dari awal niat Fiya hanya ingin mengungkap kan bagaimana Perasaan nya tidak ingin menuntut lebih apa lagi memaksakan Perasaan nya.
Fiya sangat tau betapa cintanya Fahri kepada Laras dan begitu pun sebalik nya jadi bagaimana Pun Fiya tidak akan membebani Fahri.
"Boleh Fiya Minta Satu Permintaan?"
"Boleh Fiy"
"Berikan Fiya Kenangan Terindah"
Fahri mengangguk mengiyakan keinginan Fiya, keinginan pertama dan mungkin akan menjadi keinginan terakhir juga untuk Nya.
Pelan Fahri menyusuri wajah Fiya menatap wajah polos nan lugu di hadapan nya dengan tatapan penuh kebahagiaan.
Fiya membalas menatap wajah Fahri, wajah tampan dengan dengan hidung bangir dan juga mata coklat yang membuat Fiya merasa nyaman menatap wajah suaminya.
Tangan Fiya terulur mengusap lembut wajah Fahri yang ada di hadapan nya, wajah yang seolah selalu berada di dalam ingatan Fiya, Wajah yang tidak pernah lepas dari Mimpi Fiya.
Fiya meraba bagian dadanya merasakan detakan yang cukup keras dengan ritme lumayan cepat membuat Peluh semakin deras mengaliri wajah nya.
Pelan Fiya memejamkan kedua matanya merasakan bibir Fahri menempel di tepi bibir nya, Entah siapa yang memulai duluan yang jelas keduanya sama - sama larut dalam ciuman.
Fahri menggerakkan Bibir nya mencecap bibir tipis manis milik Fiya secara bergantian, Fahri melumat bibir atas dan bawah Fiya secara bergantian membuat Fiya sedikit membalas lumatan Fahri dengan ritme yang sama.
Tidak ada ciuman yang menuntut dan di paksakan, Fahri mencium Fiya pelan tanpa memaksa membuat sekujur tubuh Fiya terasa panas, Fahri seolah sabar melumat Bibir Fiya membuat keduanya saling membelit kan lidah bertukar saliva satu sama Lain.
"Kamu Yakin?"
Fiya mengangguk seraya kedua tangan nya meremas bahu Fahri kuat - kuat merasakan tangan Fahri yang bergerak menyusuri setiap lekuk tubuh nya.
Fahri kembali mencium bibir Fiya, mencium kedua pipi nya kemudian mencium kedua kelopak mata Fiya, Pelan Fahri menenggelamkan wajah nya di lekuk leher Fiya mencium lalu menghisap nya membuat Bibir Fiya saling mengadu menahan suara yang rasa nya ingin keluar.
Fahri menghisap kulit leher Fiya seraya meremas d**a Fiya pelan, kedua Kaki Fiya saling mengadu merasakan ciuman dan remasan Fahri yang membuat nya merasa melayang.
Fahri mengusap wajah Fiya yang basah, Sedetik Fahri diam melihat wajah Fiya yang semakin memerah entah karena apa.
"Akan sedikit sakit .... Mungkin"