Happy Reading
"Lo sinting Kak! Lo seharusnya mikir bagaimana perasaan kak Fahri."
Nona masih tidak bisa percaya mengenai kelakuan Laras di singapore kemarin. Dengan gaya santai ya Laras memamerkan hasil karya pria lain yang jelas - jelas Tidak ada dalam rencana awal mereka.
"Kakak khilaf Na. Aku kalut, aku nggak bisa berfikiran jernih, bayangan percintaan panas Mas Fahri dan jalang sialan itu benar - benar tidak bisa aku hilangkan."
"Tapi belum tentukan mereka melakukannya. Kakak harus yakin itu!" Ujar Nona.
"Bagaimana caranya agar aku yakin, sementara suami ku tidur dalam satu ranjang yang sama dengan perempuan lain. Kamu tidak mengerti rasa sakit macam apa yang aku rasakan, sakit Na demi Tuhan aku terluka!" Laras berkata lirih, suaranya bergetar.
Laras tidak bisa menutupi rasa penyesalan nya pada Fahri karena bagi Laras dia sama seperti wanita penghianat lain nya. Namun rasa sakit yang ia rasakan berulang - ulang membuatnya tidak mampu menolak sentuhan Alang disaat tubuh dah hatinya membutuhkan kasih sayang.
Laras mengakui kesalahan nya, mengakui kebodohannya sendiri pada Nona, berharap Nona diam tidak lagi membahas masalah ini.
Dari kemarin sampai saat ini ketika Laras dan Nona baru sampai rumah Nona masih saja terus memarahi Laras karena kebodohan nya yang menurut Nona bisa berakibat buruk.
"Gue udah bilang kan Kak?! Kita main cantik, tapi segitu mudah nya Kakak menghancurkan semuanya" Nona menatap Kakaknya dengan tatapan penuh kekesalan.
"Cukup Nona!" Sentak Laras mulai jengah karena Nona yang terus memarahinya.
"Kak. Kakak bukan wanita bodoh! Kakak wanita cerdas dari keluarga terhormat tapi kelakuan kakak benar - benar sama persisi p*****r di luar sana."
"Berpikirlah sebelum bertindak!"
Nona menekankan kata terakhir nya di hadapan Laras, Nona merasa kecewa dengan sikap Laras yang benar - benar gila. Nona sudah berulang kali mengingatkan Laras untuk tidak berbuat Sembrono dan nekat namun sekarang Laras malah melakukan nya.
"Aargh!!"
Nona menggeram kesal dilirik nya Laras yang masih diam dengan Pemikiran nya sendiri. Nona harap Laras menyadari kebodohannya yang akan berakibat fatal.
Nona memutuskan untuk pergi Ke kamar nya meninggalkan kakak nya Laras yang hanya duduk diam.
"Gue yakin lo bakal nyesel Kak"
Laras hanya melirik sekilas kearah Nona yang masuk kedalam kamar, Laras tau dan sadar bahwa yang ia lakukan ini salah dan sangat salah besar namun apa daya semua sudah terjadi.
Laras tidak tau Nona akan semarah ini, setelah Nona tau Laras bersama pria lain. Nona memutuskan liburan dan memilih kembali meninggalkan liburan yang sudah di rencanakan.
"Lo Persis Jalang Kak"
"Lo sama saja kaya Fiya. Dan satu hal yang harus kakak tau, semua ini akan ada akibat nya!"
"Gue nggak akan bantu lo lagi Kak! Cukup sekali ini!"
Laras memijit kepalanya merasakan sakit di bagian kepala karena pertengkaran nya dengan Nona. Ya Laras mengerti kalau Nona marah padanya, namun tidak bisa seperti ini Nona juga harus bisa memahami keadaanya yang kalut waktu itu.
"Bodoh! Kau bodoh Laras!"
Laras memukul - mukul sofa yang tengah Laras duduki, Laras benar -benar merasa gila karena masalah hidup nya yang semakin rumit. Laras merenung, menyenderkan tubuhnya dengan kedua mata terpejam.
"Aku Pulang ...."
Laras membuka kedua matanya, mengerjap - ngerjap sebentar lalu mengerinyit merasa bingung.
"Laras."
Laras bisa menebak suara siapa itu, Laras sangat hapal suara itu dan benar suara itu suara suaminya Fahri.
"Dia Pulang," Batin Laras.
Laras merasa d**a nya bergemuruh mendengar suara Fahri yang terdengar bahagia. Entah mengapa Laras masih saja curiga mengenai liburan Fahri dan Fiya.
Segera Laras membuang pikiran itu Jauh - jauh, pikiran yang membuat perasaan nya semakin hancur dan kacau.
Laras merapihkan pakaian nya, mengusap wajah nya yang basah dan merapihkan rambut nya agar bisa menutupi bekas kecupan Alang di singapore kemarin.
"Kamu Di sini?"
Pelan Fahri mendekati istrinya, meraih tubuh Laras lalu memeluk nya erat. Laras nampak terkejut dengan pelukan Fahri, jantung nya berdetak sangat cepat membuat wajah Laras sudah basah karena keringat.
"Kamu sudah pulang Mas?"
Tanya Laras hati - hati, mata Laras melirik kearah wajah Fahri yang kini sudah ada di hadapan nya, melihat dari wajah hingga bagian leher Fahri yang benar - benar masih bersih tidak ada tanda apa pun.
"Kau melihat ku penuh curiga"
Laras kembali fokus mendengar ucapan Fahri di elus nya wajah Fahri pelan seraya tersenyum lebar.
"Kau Puas? Aku tidak melakukan apa pun dengan Fiya, yakin lah." Jelas Fahri yang sangat mengetahui dengan jelas arti tatapan istri nya Laras.
"Benar kah? Kau yakin Mas" Tanya Laras yang tidak bisa menahan rasa bahagia nya.
Fahri mengangguk mengusap pipi Laras lembut seraya mendekatkan wajah nya untuk mencium pipi Laras. Namun pandangan Fahri tertuju pada bagian kulit leher putih Laras yang sangat kontras dengan warna merah kebiru - biruan yang tercetak jelas.
"Apa ada pria lain?" Tanya Fahri menatap tajam istrinya.
Laras diam di tempat, tubuh nya seolah kaku dengan pertanyaan Fahri yang benar - benar membuat Laras tidak bisa menjawab apa Pun.
"Sudah lah. Aku masih ada urusan, jaga dirimu baik - baik sayang" Ujar Fahri seraya mengusap lembut pucuk kepala Laras.
Fahri pergi meninggalkan Laras dengan penuh tanda tanya dan rasa curiga yang semakin kuat. Laras tidak tau apa Fahri tau mengenai ia dan Alang.
Banyak pertanyaan yang memenuhi isi kepala Laras dan pertanyaan itu seolah siap membunuh Laras hidup-hidup.
"Dia tidak tidur dengan Fiya. Sekarang lo nyesel?"
Laras menatap Kearah Nona Yang Baru saja keluar dari kamar, Menatap Adik nya dengan tatapan Penuh penyesalan.
Laras menyesal tidak bisa menjaga kepercayaan nya pada Fahri dan Laras menyesal karena telah mengkhianati Fahri.
Sementara itu Fahri meremas gagang pintu rumah bunda Nia Kuat - kuat meluapkan segala emosi uang saat ini tengah Fahri rasakan.
Fahri bukan pria bodoh yang tidak bisa membedakan dan Fahri sangat tau Pasti bekas itu bukan milik nya.
Fahri mengatur napas nya pelan agar Fahri bisa menghilangkan amarah nya ada Laras, rasanya d**a Fahri bergemuruh ingin langsung menanyakan pada Laras. Namun Fahri tidak bisa menanyakan itu sekarang karena Fahri tidak yakin bisa mengendalikan amarah nya.
"Loh. Kak Fahri?"
Fiya membuka pintu dan melihat Fahri berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang sulit di tebak.
"Eh .... Fiy"
"Masuk Kak."
Fahri mengangguk mengikuti Fiya yang masuk kedalam rumah,tatapan Fahri terus tertuju pada Fiya --- Istri Kedunya.
"Mau minum Kak?"
"Nggak Fiy. Aku hanya Butuh Istirahat sebentar." Ujar Fahri
Fiya hanya beroh ria mengikuti Fahri yang masuk kedalam kamar tanpa berkata apa - apa lagi.
Fiya merasa heran melihat Fahri yang tiba - tiba saja sudah berada di depan rumah bunda Nia, padahal beberapa jam yang lalu, Fahri begitu semangat ingin pulang ke rumah Laras meski bunda Nia meminta Fahri untuk bermalam dulu menemani Fiya karena bunda Nia yang harus pergi ke bandung untuk menjenguk saudara Bunda.
"Kak. Kakak Sakit?" Tanya Fiya ragu.
Fahri menatap Fiya sejenak, kemudian mendekat kearah Fiya lalu mencium pipi Fiya sekilas.
Wajah Fiya langsung merona mendapat ciuman dari Fahri, Fiya merasa darah nya berdesir d**a nya juga bergemuruh seolah ingin melompat keluar.
Fiya memang menyadari bahwa ia sudah jatuh cinta pada Fahri suami yang saat ini berada satu kamar dengan nya, namun sekuat yang Fiya mampu Ia mencoba untuk menahan perasaan nya.
Fiya tidak ingin menyesal dan berat nanti nya bila kenyataan perceraian sudah di depan mata.
"Ini malam minggu kan?!" Fahri menatap Fiya mengusap pipi istrinya lembut.
"Kencan?" Potong Fiya sambil menatap Fahri dengan tatapan penuh harap
Fahri terkekeh pelan tidak kuasa melihat wajah Fiya yang tadinya tersipu malu kini langsung berubah sumringah.
"Iya. Bersiaplah" Kata Fahri akhir nya.
"Emm.. Baiklah Tunggu sebentar"
Fiya segera melesat kedalam kamar mandi meninggalkan Fahri yang masih tertawa geli.
"Fiy.. Aku tunggu di bawah" kata Fahri memberi tau.
Fahri tidak menyangka efek bertemu dengan istri muda bisa membuat nya lupa akan masalah Laras Yang membuat nya hampir gila.
Fahri menatap layar ponsel nya melihat nama Laras ada disana, Fahri memilih untuk tidak mengangkat telpon dari Laras dan membahas masalah tadi sore.
"Sudah?" Tanya Fahri seraya melihat Fiya yang sudah rapih dan tentunya cantik berdiri di hadapan Nya.
"Cantik" Batin Fahri.
Fiya mengangguk kemudian mengikuti Fahri masuk kedalam mobil.
Kedua tangan Fiya saling meremas satu sama lain, rasanya Fiya ingin bertanya pada Fahri namun niat nya Kembali Ia urungkan.
"Tidak enak bertanya mengenai Mba Laras" Batin Fiya.
Selama perjalanan Fiya dan Fahri sama - sama diam, hanya Sedikit saling lirik kemudian kembali fokus dengan Fikiran masing - masing.
"Turun Fiya sudah sampai"
Fiya mengangguk kemudian turun, sedetik Fiya diam, ragu Fiya melingkarkan tangan nya di lengan Fahri dan Fahri pun menyambut baik tangan Fiya.
"Sudah Sah Kan. Tidak masalah" Kata Fahri.
Fiya Rasanya ingin teriak sekencang mungkin entah mengapa dengan malam ini Fahri datang saja itu sudah membuat Fiya merasa bahagia apa lagi sekarang sikap Fahri yang manis dan adil membuat Fiya merasa menjadi Istri yang sama seperti Laras.
"Apa Kita akan Nonton?"
"Iyah."
"Beli Es Krim?"
"Iyah"
"Lalu apa lagi?" Tanya Fiya.
"Cari hotel untuk bermalam. Mungkin!" Jawab Fahri seraya mengerdikan bahu nya.
Fiya hanya diam berusaha untuk mencerna kata - kata Fahri barusan yang membuat kepala nya di penuhi khayalan - khayalan aneh yang terus saja mondar mandir tidak mau pergi.
"Ini?"
Fahri menunjuk tayangan Film yang Fiya Pilih untuk di tonton malam ini.
"Iya. Kenapa?" Tanya Fiya bingung.
"Jangan Nonton itu. Ayo keluar"
Fiya bingung merasakan tangan nya di tarik - tarik Fahri untuk keluar dan meninggalkan film yang tadi akan mereka tonton.
Bibir Fiya mengerucut wajah nya sengaja Fiya tekuk agar Fahri tau betapa kesal nya Fiya malam ini.
Ini malam minggu pertama bagi Fiya bisa bersama Fahri dan ini juga kencan malam minggu pertama bersama Fahri, ini juga minggu pertama Fahri bersikap menyebalkan.
"Itu Romantis" Cicit Fiya masih tidak ikhlas.
"Tidak.." Kata Fahri seraya memberikan es krim pada Fiya.
Fiya diam tidak berniat untuk mengambil es krim itu, meski Fahri menyodorkan nya namun tetap saja Fiya tidak berminat. Fahri menarik tangan istrinya, menggenggam nya lalu mengajak Fiya untuk duduk.
"Ambil Fiya. Kita bisa nonton lain Kali"
Fahri menatap Fiya lembut, Tangannya terulur mengusap pipi Fiya dan menempelkan es krim tepat di tepi Bibir Fiya. Fiya membuka bibir nya dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari Fahri.
"Seperti ini. Sangat manis" Puji Fahri.
Fiya kembali tersenyum melupakan segela kekesalan nya pada Fahri, Fiya tidak bisa memungkiri memang tatapan Fahri mampu membuyarkan segala kekesalan nya.
"Fiya.."
"Ben"
Fiya melihat kearah Ben yang berdiri di hadapan nya kemudian Fiya ikut berdiri menyalami Ben.
"Sama siapa Fiy?" Tanya Ben sambil melihat kearah Fahri.
"Saya Fahri. Suami Fiya" Ujar Fahri ikut berdiri dan menyalami Ben.
"Oh. Saya Ben, kalian sudah menikah? Kapan?" Tanya Ben Pada Fiya.
"Ah. Sudah lumayan lama Ben" Jawab Fiya seraya melirik kearah Fahri yang sudah kembali duduk.
"Selamat yah Fiya.. Gue akan cepat nyusul" Kata Ben sebelum pamit dan pergi meninggalkan Fiya dan Fahri.
Fiya kembali duduk memakan Es krim nya dengan pandangan yang terus tertuju Pada Fahri.
"Dia siapa?"
"Ah.. Itu Ben Kak"
"Iya Ben Itu siapa??".
"Dia mantan pacar nya Nona Kak"
"Om Mantan" Ujar Fahri santai.
Fahri menyunggingkan senyuman mendengar jawaban Fiya yang membuat perasaan nya menjadi lega.
Entah mengapa ketika tadi ada yang menyapa Fiya, Fahri merasa gelisah dan tidak nyaman, apalagi melihat Ben yang seolah curi - curi pandang pada Fiya membuat Fahri semakin geram.
"Kita cari hotel sekarang!"
"Apa?" Fiya bingung.
"Ayo Fiya cepat Bangun"
"Ehh. Sebentar kak, Fiya masih mau disini."
"Fiya!"
"Apasih Kak. Sebentar."
"Affiya!"