PART 19

1279 Kata
Affiya Ramania Kedasih Tatapan nya, tatapan nya, tatapan yang seolah penuh cinta, aku tidak tau apa arti dari tatapan nya, tapi ada satu yang aku mengerti dia mencium ku, dia melakukan dan dia menginginkan ku. Aku tidak tau apa arti dari ciuman nya, ciuman dalam dan sangat penuh gairah, aku tidak ingin tau apa alasan nya mau melakukan itu yang jelas aku dan dia saling menginginkan. "Tidur lah Fiy. Semoga kamu tidak menyesal." Katanya seraya mengecup kening ku dan kedua kelopak mata ku. Aku mengerjap - ngerjap berulang kali melihat matanya yang nampak berseri sama seperti ku, bola mata yang seolah menyiratkan kedamaian. "Yakin Kak. Aku tidak akan menyesal." Lirih ku seraya mengusap kedua pipi Kak Fahri yang masih berada di hadapan ku. Aku tidak ingin melepaskan nya walau hanya sebentar, Aku juga tidak ingin menyambut hari esok dan aku hanya ingin malam ini tiada akhir. "Aku mencintai mu, Kak." "Terimakasih atas cinta mu, Fiya. Tapi simpan lah cinta itu untuk pria yang benar - benar kamu cintai dan terimakasih untuk malam ini dan malam - malam yang lalu sayang." Wajah ku merona mengingat bayangan beberapa malam yang lalu, bayangan yang seolah menjadi teman ku beberapa hari ini. Aku tidak pernah bisa melupakan kenangan terindah yang sudah Kak Fahri berikan untuku. Kenangan yang mungkin jauh lebih indah dari kenangan liburan kemana pun. Di malam itu, di tempat itu aku benar - benar merasa di anggap sebagai seorang istri, di Perlakukan adil dan aku merasa menjadi istri sesungguh nya. Aku sama sekali tidak menyesal dan aku juga sama sekali tidak merasa kecewa, karena rasa cinta ku padanya hanya sebatas aku saja yang merasakan nya dan Kak Fahri mungkin belum merasakan hal yang sama seperti ku. Ku tepuk - tepuk kedua pipi ku yang masih saja merona, berusaha untuk membuyarakan semuanya seraya menutup buku dan memasukan nya kedalam tas untuk segera pulang. "Ben..." Gumam ku yang baru saja keluar kelas dan melihat Ben. "Ben. Hay" Aku menyapa Ben yang baru saja keluar dari kelas nya juga, menyapa dengan wajah penuh dengan senyuman. "Oh.. Hay Fiy." Ben membalas sapaan ku berjalan pelan dan aku pun sama berjalan untuk mendekati nya. Aku Ben dan Nona memang sudah cukup lama berteman baik, dulu semasa awal masuk Ben adalah sahabat pertama ku dan baru lah setelah itu aku bersahabat dengan Nona. "Makan siang?" Tawar Ben padaku. Aku tersenyum melihat Ben yang masih sama seperti dulu, kalem namun sedikit seram bila dia marah. Tidak banyak perubahan dari Ben, sikap dan senyuman nya masih sama, hanya berubah di penampilan yang jauh lebih rapih dan rambut yang sudah dipotong "Traktir?" "Tentu!" Senyum ku mengembang mendengar jawaban Ben yang akan mentraktir ku makan siang, sudah cukup lama Aku dan Ben tidak saling sapa apalagi untuk makan bersama. Sejak Ben berpacaran dengan Nona dia lebih sering pergi dan menghabiskan waktu bersama Nona. Sejak Nona tau bahwa aku istri muda kakak ipar nya, Nona sudah tidak pernah lagi bersama dengan ku dan Ben pun juga sama mereka berdua seolah mengaggap ku musuh. Namun kejadian beberapa hari yang lalu, ketika aku dan Ben saling sapa di salah satu pusat perbelanjaan membuat aku dan Ben kembali dekat dalam artian teman lama kembali lagi. "Sudah isi Fiy?" Tanya Ben di sela -sela nakan nya. Aku mengerinyit bingung melihat ke arah Ben kemudian nemahami maksud dari pertanyaan nya tadi. "Belum." Jawab ku akhir nya. Ben diam lagi memilih untuk melahap makanan nya tanpa bertanya lagi membuat ku merasa sedikit canggung. "Bagaimana dengan Nona?" Aku bertanya pada Ben meski aku sudah tau mengenai hubungan nya dengan Nona yang berakhir karena berita putus nya mereka berdua tersebar luas di kalangan teman -teman. "Sudah cukup lama berakhir." Ben menjawab santai, dia seolah tidak senang membicarakan masalah Nona dan aku pun memahami nya. "Kalau hubungan mu dengan Fahri?" "Eh. Aku?" Aku menatap Ben sejenak, kemudian berfikir mengenai hubungan ku dengan Fahri yang akan segera berakhir. "Baik.. Tidak Ada Masalah." "Bukan kah Nona bilang kalian akan berpisah setelah beberapa bulan menikah?" Berpisah, bercerai, apa aku bisa? Aku diam dengan wajah sedikit menunduk memikirkan pertanyaan Ben yang seolah menjadi alaram kesadaran ku bahwa hanya tinggal hitungan minggu hubungan ini akan berakhir. Aku merasa waktu seakan kejam pada ku, kejam mencepatkan tanggal dan bulan yang tanpa ku sadari sudah semakin dekat dengan waktu yang di tentukan. "Iya benar. Tapi aku masih belum tau." Aku memilih untuk menjawab seadanya saja, aku tidak bisa menjelaskan semua nya pada Ben, karena ini masalah ku dan juga masalah rumah tangga ku. "Mungkin maju jika masih berjodoh dan mundur jika sudah takdir." "Kau yakin Fiy akan maju? Aku rasa mundur pilihan yang tepat dan yakin lah akan ada pria yang menunggu mu, bahkan sudah memendam rasa sejak lama pada mu." Aku diam sesaat mendengar perkataan Ben menganai mundur dan pria yang baik. Bagi ku mundur memang akan ada saat nya, baik cepat mau pun lambat saat itu akan segera datang, dan untuk pria baik bagi ku saat ini pria baik hanya Fahri. Meski dia mungkin memiliki banyak kekurangan namun aku yakin dia sangat baik. "Sudah menentukan calon pengganti Fiy?" Aku mengerinyit bingung dengan pertanyaan Ben yang menurut ku sangat aneh. "Calon pengganti? Untuk apa?" tanya ku balik pada Ben. Ben menatap ku kemudian bibir nya menggoreskan senyuman, aku sama sekali tidak tau maksud dari senyuman dan tatapan nya yang menurut ku sedikit aneh. "Hmm. Nggak ada maksud ko Fiy. Cuma mungkin saja kamu butuh seseorang yang bisa membuat mu bahagia." Ujar Ben seraya meminum minuman nya. Sedetik aku diam, diam memikir kan apa yang Ben katakan, Aku tidak mempunyai bayangan apa pun mengenai pengganti Kak Fahri karena bagiku mencari pengganti Kak Fahri itu sangat sulit. "Mungkin Tidak" "Kau akan menjanda?" Tanya Ben seolah tidak percaya namun Aku mengagguki pertanyaan Ben karena memang benar yang ada di rencana hidup ku saat ini Ialah menjanda setelah aku dan Fahri bercerai. Ben masih menatap ku dengan tatapan yang sangat jelas bisa ku tebak, tatapan yang penuh rasa tidak percaya sama sekali. "Kamu di sini Fiy. Aku Tadi menunggu mu!" Aku dan Ben saling bertatapan kemudian wajah ku langsung menoleh ke arah Kak Fahri yang sudah berdiri di belakang ku dengan tangan kanan yang mengusap - usap kepala ku lembut. "Eh.. Kak" Aku masih menatap Kak Fahri dengan tatapan penuh rasa heran pasal nya ini baru pertama kali Kak Fahri datang ke sini dan menjemput ku. "Hai ini Ben kan?" Fahri menyapa Ben seramah mungkin, mengulurkan tangan nya untuk menyalami Ben, Ben juga membalas uluran tangan Kak Fahri. Aku menatap kedua nya secara bergantian, melihat wajah Kak Fahri yang terlihat memendam amarah ketika metanap Ben dan Ben pun juga sama, Ben menatap Kak Fahri dengan tatapan yang menurut ku sangat sulit di artikan. "Maaf Kak. Fiya bggak tau kalau Kak Fahri di sini" Kak Fahri hanya mengagguk kemudian duduk di sebelah ku, namun sorot matanya masih saja saling menatap satu sama lain dengan Ben, membuat ku Merasa canggung dan tak enak hati. "Kita pulang Fiy" Seru Kak Fahri. "Kenapa Buru-buru Fiy? Habiskan dulu makanan nya" Kata Ben. Aku menoleh ke arah Kak Fahri kemudian berganti menatap Ben yang masih saling menatap satu sama lain. Aku bisa merasakan aura ketegangan di antara kedua nya, ketegangan yang Benar - benar membuat ku merasa tidak nyaman. "Kita pulang Fiya!" Kata Kak Fahri dengan suara yang sedikit kuat Ku dengar. Kak Fahri menggenggam tangan ku menarik ku agar ikut berdiri dengan nya. "Ah.. Makasih yah Ben traktiran nya, aku pulang." Ujar ku pamit pada Ben. "Ben.. Masih banyak wanita single di luar Sana!" Bisik Fahri pada Ben yang samar - samar masih bisa ku dengar. Aku melihat Ben tertawa, kemudian Ben hanya mengerdikkan bahunya "Dan istri mu jauh lebih menggoda dari wanita di luaran Sana!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN