bc

BUKAN PELAKOR

book_age18+
15
IKUTI
1K
BACA
contract marriage
drama
sweet
like
intro-logo
Uraian

Aku hanya seorang pilot wanita yang tak mempunyai siapa-siapa lagi selain Arka, kekasihku. Tetapi setelah kejadian dimana Arka dan Dinda terbang bersama, aku harus kehilangan Arka. Pria itu di jebak oleh Dinda sehingga sama-sama melakukan hal liar.

Aku akan merebut milikku kembali, tetapi semua orang menyebutku PELAKOR.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Hadiah empat tahun?
Aku menggeliat dari tidur nyenyak karena bantuan obat tidur semalam, mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali guna menetralisir cahaya masuk ke retina karena sinar matahari yang baru menampakkan sinar nya dan masih bersembunyi di balik tirai jendela berwarna putih. Menapakan kaki di lantai dingin lalu membuka penutup jendela agar sinar matahari masuk ke dalam kamar. Seketika aku tersadar kala melihat kalender di nakas bahwa hari ini adalah hari minggu tepat dimana hari yang tidak ingin aku jumpai. Ah mungkin lebih tepatnya hanya hari ini saja. Pikiranku berkecamuk, sedih dan marah mendominasi hati. Tepat satu minggu yang lalu Arka-Kekasihku dengan santai nya menghubungi ku untuk meminta izin menikahi wanita lain. Bahkan ia tidak menjelaskan sama sekali alasan apa Arka menikahi wanita itu, ia hanya mengajakku bertemu lalu memberi selembar kertas yang menjadi awal kehancuran ku. Minggu lalu adalah hari dimana aku dan Arka tepat menjalani hubungan selama empat tahun. Ku kira saat dia mengajakku bertemu dengan nada dingin nya ia akan memberikan surprise seperti film yang pernah ku tonton, tapi setelah bertemu Arka dia malah memberiku undangan bertuliskan namanya dan nama orang lain yang tidak asing untukku. Tidak kusangka sama sekali kalau kenyataannya Arka akan mengkhianati kisah yang sudah lama di bangun. Aku kira selama ini Arka setia, kukira selama ini Arka berpikir akan melabuhkan aku sebagai cinta terakhirnya. Namun itu semua salah, Arka malah memilih untuk bersanding dengan wanita lain. Salah satu fase terburuk yang pernah aku alami sekaligus untuk pendewasaan hidup, yaitu ditinggal menikah. Rasa sakit nya luar biasa, apalagi ditinggal menikah saat masih sayang-sayang nya dan masih menyandang sebuah status. Melihatnya di pelaminan bersama orang lain, menjabat tangan nya dengan senyum palsu, mengenang kembali masa-masa dimana dia pernah menjadi yang paling dekat sebelum menjadi yang paling asing nantinya. Sakit? Aku wanita yang sudah pasti mempunyai perasaan yang sangat lembut. Benteng pertahanan hati ini sangat tipis sehingga siapapun akan mampu merobeknya dengan gampang termasuk Arka. Arka bukan hanya merobeknya namun juga memporak-porandakan hati ku. Merenung sambil menatap luar jendela, yang menampilkan kendaraan dan padatnya jalan ibukota. Bertanya pada hati dan diri sendiri kenapa Arka setega itu meninggalkan aku? Kenapa Arka setega itu mengkhianati kisah cinta ini? Dulu pria itu berjanji akan menikahi ku jika ia sudah sukses, namun kenyataannya aku yang menemaninya berjuang malah wanita itu yang menikmati hasil. Haruskah aku terima ini semua begitu saja? YA! Aku harus membuktikan kalau aku kuat, kalau aku tidak selemah apa yang Arka dan wanita-Nya kira, ah bahkan untuk menyebut nama wanita itu saja enggak aku katakan rasanya seperti kotoran hewan yang sangat menjijikkan. Aku akan pergi ke Bandung dan melihat Arka memasangkan cincin di jari manis wanita lain, aku akan menyaksikan Arka mencium kening wanita lain. Dan aku akan menyaksikan kemesraan yang mereka ciptakan di atas pelaminan. Dan aku akan pura-pura untuk menjadi wanita kuat. Deals? *** "Aretha, lo gak harus dateng ke acara pernikahan Arka kalau lo gak sanggup. Jangan memaksakan diri, oke?!" itu adalah suara Bella teman terbaik ku dari masa kecil. Ia tak henti-hentinya menasehati agar aku tidak datang ke acara pernikahan Arka yang di selenggarakan di Bandung. "Gue gapapa Bel. Gue pengen liat aja cewek nya seperti apa. Gue penasaran cewek nya secantik apa sih hingga Arka berpaling dari gue. Btw, namanya gak aneh ya Bel." aku menjawab dengan senyum miris yang tercetak jelas di bibir ku. Jujur Rasa sesak masih tersimpan di hati ini, entah sampai kapan rasa sesak ini hilang. Tapi kurasa sampai kapan pun luka ini tidak akan hilang dan akan terus membekas meskipun aku mempunyai pria pengganti sekalipun. "Kalau gue satu penerbangan sama Arka, gue orang pertama yang bakalan nonjok muka Arka sampai bonyok!" Bella terlihat emosi mengucapkan itu. Logika nya, tidak ada teman ralat sahabat terbaik nya di sakiti oleh lelaki lain dia diam saja, kalau sahabatmu hanya diam berarti dia tak benar-benar peduli dan menyayangimu. Tanpa sadar ku lihat Bella meremas stir mobil dan menggertak- gertakkan giginya tanda ia kesal dan marah. "Gue gapapa Bel, gue kuat kok!" jawabku dengan senyum yang dipaksakan dan ucapan tegas agar Bella sedikit tenang. "Gue yang gak papa Tha, gue sakit liat lo disakitin kayak gini!" Bella masih saja emosi. Aku tidak ingin menjawab, biarkan lah Bella tenang dengan sendirinya. Kalau boleh jujur aku juga tidak ingin mempunyai takdir seperti ini. Arka orang yang selama ini ku jadikan tempat perlindungan ternyata malah menyakiti ku, aku tidak tahu lagi kalau misal nya Bella tidak ada di hidupku. mungkin bunuh diri adalah jalan yang tepat untuk mengakhiri semua kepedihan ini. Nama ku Aretha Sherilyn, aku hidup sebatang kara. Ayah ibu ku meninggal saat kecelakaan pesawat dua tahun yang lalu, aku tidak mempunyai sanak saudara dan keluarga lagi selain Bella, Bayu dan Arka. Tapi tidak untuk sekarang, buktinya Arka meninggalkan ku. Kali ini tempat untuk mencurahkan keluh kesah hanyalah kepada Bella seorang, ah mungkin dengan Bayu jika aku masih berhubungan baik dengannya. Memang hidupku terlalu miris, sampai-sampai Arka menjauh dengan cara yang paling sakit sekaligus. Satu hal yang harus ku banggakan, aku resmi menjadi pilot tiga tahun yang lalu, dan sekarang pekerjaan ku adalah sebagai pilot. Arka juga seorang pilot di maskapai penerbangan yang sama dengan ku, sedangkan Bella ia adalah seorang pramugari. ** Ku lihat dekorasinya sangat sederhana, Bahkan jauh dari kata megah seperti apa yang aku pikirkan. Padahal dulu Arka selalu bilang pada ku jika nanti kita menikah ia ingin pernikahan nya di gelar dengan sangat mewah. Karena ia hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Perkataan Arka memang selalu tidak sesuai dengan fakta, nyatanya semua yang dikatakan nya adalah bohong. Aku mulai masuk ke area depan sebuah rumah yang sederhana namun terlihat nyaman, hanya Dua lantai. Rumah itu didominasi dengan warna putih. Mobil di parkiran rumah tidak terlalu banyak aku menyangka kalau Arka tidak mengundang banyak orang. Bahkan saat aku mulai masuk pun dekorasi pelaminan nya memang sangat sederhana. Apa Arka tidak mempunyai uang untuk menyewa wedding organizer yang lebih bagus dan mewah? Ku rasa tidak. Arka adalah pilot berpangkat captain gaji nya pun lebih besar dari pada aku yang hanya sebatas Co-pilot. Bahkan hampir setiap bulan nya Arka selalu memberikanku barang-barang brand yang sedang trend. Dan alasan Arka tidak mempunyai uang itu adalah salah besar. Aku duduk di sebuah kursi dengan Bella yang terus saja menggenggam erat tangan ku, aku menyaksikan Arka mengikrarkan ijab qabul pada wanita ... Ahhh kenapa aku tidak menyadari nya sedari tadi. Pantas saja Bella terlihat sangat marah saat pertama kali kita menginjakkan kaki disini. Rupanya wanita itu adalah Dinda! Dinda adalah junior pramugari yang selalu menjadi pergosipan dunia penerbangan, wanita centil itu dikabarkan selalu mengemis cinta nya Arka. Ah hal licik apa yang selama ini Dinda lakukan agar Arka menikahi nya? YA! Setidaknya sekarang aku dapat menemukan titik terang kalau Arka terlihat terpaksa menikahi Dinda. Bahkan sedari tadi kulihat Arka hanya memasang wajah dingin dan cuek andalan nya. Pernikahan romantis yang aku bayangkan ternyata tidak terjadi. Hal itu mampu membuat ku bernafas sedikit lebih lega karena tidak melihat mereka bermesraan di pelaminan. Kini saatnya aku harus menguatkan hati, aku berjalan sendiri ke arah pelaminan karena aku menyuruh Bella untuk tidak naik, aku takut Bella akan meninju salah satu diantara mereka berdua. Arka menatapku dengan tatapan sendu yang bercampur dengan rindu. Pertemuan seminggu yang lalu adalah pertemuan kita setelah satu bulan tidak bertemu karena Arka ada jadwal penerbangan yang sangat padat selama sebulan itu. Aku mengulurkan tangan kepada Dinda, yang di sambut canggung olehnya, "Selamat atas pernikahannya. Semoga pernikahan kalian tidak bertahan lama!" ucap ku saat berdiri di depan Dinda tentu saja aku berbicara seperti itu sambil berbisik. Tak ingin orang tua Arka mendengar. Dinda terlihat langsung mengaitkan tangannya di tangan Arka, namun segera Arka tepis dengan kasar. Aku tersenyum miring dan semakin yakin Arka memang terpaksa melakukan pernikahan ini. Aku berjalan satu langkah untuk menghulurkan tangan kepada Arka, akan memberikan selamat, bukan selamat atas pernikahan nya namun selamat atas keberhasilan nya yang telah sukses membuat hati ini hancur sehancur-hancurnya. Tanpa kuduga Arka malah memelukku erat saat aku mengulurkan tangan, aku berusaha berontak karena malu dilihat oleh para tamu. Kebanyakan tamu adalah teman-teman satu maskapai jadi mereka tentu tahu hubunganku dan Arka yang sudah terjalin cukup lama. Aku menangis, aku tidak tahan melihat Arka menangis, aku membalas pelukan Arka meskipun Dinda sudah menggerutu di sebelahnya. Badan Arka bergetar dan aku malah mencoba menguatkan Arka dengan mengelus punggungnya. Aku yang tersakiti tapi kenapa seolah-olah Arka yang paling tersakiti? "Arka, aku harus pasang hati sekuat apa?" tanya ku di sela tangisan ini. Arka menggeleng di ceruk leherku. "Maafin aku Retha, aku telah melanggar janji agar tidak menyakiti mu. Aku gak tau harus apa selain menikahi nya." ucapan sederhana itu mampu membuat derai air mata ku mengalir dengan deras. "Hati sekuat baja yang aku pasang kamu runtuhin begitu saja. Aku gak tahu harus apa kedepan nya menjalani hidup tanpa kamu" Arka melepaskan pelukannya pada tubuhku. "Bersabarlah" Arka berbisik lirih di telinga, ia menghapus air mata yang tersisa di pelupuk mata ku. Aku segera pergi dan langsung menyalami mantan Calon ibu mertua ku. Mamah Nanda menangis dan langsung memelukku erat. Kenapa semua nya seperti tersakiti, padahal disini aku lah yang paling tersakiti. "Maafin mama sayang, Mama salah" ujar mama Nanda ia terisak di pelukan ku. Dan lagi-lagi aku harus menangis kembali. Aku menggeleng kan kepala ku kuat, "Ini takdir mah" jawabku mencoba menguatkan. sebenarnya aku lah yang butuh kekuatan. "Kamu harus janji, kamu harus sering main ke rumah mamah meskipun kamu gagal menjadi menantu mama. Mama sudah anggap kamu sebagai anak mama sendiri" Aku mengangguk lalu melepaskan pelukan mama. Bukan maksud tidak sopan tapi aku tidak kuat lagi. Tujuan ku sekarang adalah Pulang. Semua orang yang ada disana menatap kasihan dan nanar pada ku. Tentu saja karena mereka tahu aku adalah kekasih dari ARKA BRAMAWIJAYA. Ah ralat mantan tunangan maksud ku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook