BAB 8

1413 Kata
Arrell dan Aurel sudah siap untuk melanjutkan jadwal liburannya. Mereka menunggu sopir rental mobil untuk mengelilingi kota Jogja di depan hotel. “Maaf mbak mas saya telat.” kata bapak tersebut. “Loh bapaknya kok beda. Yang kemaren dimana?” Tanya Aurel. Ia ingat kemaren orang yang mengantarnya ke Prambanan buka orang yang sekarang. Bapak bapak ini lebih muda daripada yang kemaren. “Pak Arif izin libur mbak, orang tuanya nggak ada.” “Innalilahi.” “Masuk Mbak Mas, hari ini rencana mau kemana?” tanya bapak itu. Aurel dan Arrell masuk ke dalam mobil tersebut. “Mau jalan-jalan di area yang deket Malioboro aja pak. Pokoknya yang spot fotonya instgramnable. Yang kekinian gitu.” pinta Gisell. “Iya Mbak. Kenalin saya Yudha.” Ucap pak Yudha itu. “Au-” “Bintang. Saya Darrel.” potong Darrell cepat. “Saya Aurel pak. Bukan Bintang.” bantah Aurel. Sopir itu pun tertawa mendengar perdebatan Aurel dan Darrell. Mungkin yang lebih tepat Aurel yang mengoceh sedangkan Darrell lebih santai. “Mbak sama Masnya ini lagi bulan madu?” tanya pak Yudha penasaran. “Idih.. Nggak pak.” sangkal Aurel. “Saya cuma nemenin dia liburan. “ tambah Aurel. “Saya fikir kalian lagi bulan madu. Cocok soalnya.” ujar pak yudha dengan tersenyum. “Nggak cocok.” “Oh ya pak, Btw kita mau kemana?” tanya Aurel “Taman Sari gimana mbak?” “Bagus nggak?” “Bagus mbak.” “Oh oke kita kesana aja pak.” Aurel berbincang-bincang dengan pak Yudha untuk mengubur kekosongan dalam perjalanan. Tidak seperti Darrell, ia lebih memilih lihat keluar jendela sembari mendengarkan musik melalui handphonenya. Aurel melihat ke arah Darrell. Sekali lagi Aurel mengakui pesona laki-laki di sampingnya. Tapi sayang meskipun begitu Aurel tak akan tergoda. Hanya Dimas yang di hatinya. Aurel menarik hadphone milik Darrell. Darrell meliriknya kesal. Kenapa gadis seperti Aurel tak bisa tenang di sampingnya untuk sehari saja. “Kenapa?” tanya Darrell kesal. “Nggak sopan. Masa aku sama pak Yudha ngobrol. Lo diam aja.” kata Aurel. “Mau ngobrol apa?” Aurel tersenyum. Pak Yudha melihatnya dari kaca juga ikut tersenyum. “Hm.. Lo nggak ada rencana balik ke Paris habis dari jogja?” tanya Aurel. “Nggak.” “Kenapa?” “Spring.” “Spring??” tanya Aurel “Musim semi.” “O.. Musim semi. Kenapa?? Bagus dong malahan. Gue suka banget malah sama spring, winter, Autum also. Tapi sayang disini cuma 2 musim aja.” “Gue nggak suka.” “Nggak suka spring?” Darrell menganguk sebagai jawaban. “Why?” tanya Aurel. “Gapapa “ jawab Darrell. “Spring itu cantik loh.” “Memang.” “Terus kenapa nggak suka?” “Karena nggak bisa dimilikin. “ “Maksudnya?” tanya Aurel penasaran. Darrell tak peduli. Ia mengambil headphonenya dan memakainya kembali. Aurel mendecak melihat tingkah Darrell. Setelah menempuh 30 menit perjalanan mereka akhirnya sampai di Taman Sari. Aurel menyewa jasa Tour guide yang berada disana. Ia mendengarkan penjelasan Tour guide. Kadang sesekali ia meminta tolong untuk difotokan. Seperti halnya ini. Darrell mendengus melihat Aurel yang sudah berpose seperti foto model. Darrell memutar matanya jengah. “Rell.. Sini.” tarik Aurel saat mereka sampai di depan kolam. Aurel memegang lengan Darrell. Darrell melengos dia tidak melihat ke arah kamera. “Mas.. Lihat kesini.” Aurel langsung menyubit pinggang Darrell. “Tch..” Darrell menatapnya kesal. “Lihat depan.” Darrell menurut ia melihat ke arah depan. Aurel melihat gambarnya sedetik kemudian dia menatap Darrell marah. Darrell sama sekali tidak mengeluarkan senyumnya. “Hah.. Sudahlah.” kata Aurel menyesal. “Lanjut pak.” katanya kemudian. Mereka melanjutkan perjalanan sesekali bapak-bapak tour guide mengabadikan gamabar kedua orang itu tanpa mereka sadari. “Makasih pak.” kata Aurel ketika mereka berdua sudah selesai keliling. “Makasih.” Ucap Darrell dengan tersenyum. Aurel langsung berjalan ke parkiran disusul Darrell. “Langsung Malioboro mbak?” tanya Pak Yudha saat Aurel dan Darrel sudah masuk kedalam mobil. “Iya pak.” kata Aurel. Pak Yudha menganguk. Dan mulai menjalankan mobilnya, tapi baru 5 menit berjalan hujan deras sudah mengguyur. Badan Aurel yang semula tenang kini mulai memucat. “Pak berhenti.” kata Aurel. “Kenapa mbak?” “Saya bilang berhenti.” Ulang Aurel ketakutan. Napasnya semakin berat seolah-olah oksigen di sekitarnya menghilang. Pak Yudha menepi dan menghentikan mobilnya. Sampai terdengar suara petir Aurel langsung berteriak Menenggelamkan wajahnya ke d**a bidang milik Darrel. Kaget?? Sudah jelas. Darrell melihat Aurel yang ketakutan. Ia bingung harus berbuat apa. Sampai tangannya tiba-tiba menyentuh rambut Aurel. Darrell memeluknya. “It's oke.” kata Darrell. Ia tak mengira kalau Aurel akan ketakutan seperti ini ketika mendengar petir. Ia kira ketakutannya tidak separah ini. “Lanjut pak.” kata Darrell. “Jangan pak.” kata Aurel. “Ki- Kita la- Lanjut habis hujan aja.” sambung Aurel. Darrell melepaskan pelukannya dan memberikan minuman kepada Aurel. Terlihat wajah Aurel pucat. Sampai ia mendengar suara petir lagi. Ia langsung menenggelamkan wajahnya di d**a milik Darrell. Darrell menghela napas. Memeluk gadis itu berusaha menenangkannya. “Gapapa. Jangan takut. “ kata Darrell dengan mengelus rambut milik Aurel. Pak Yudha melihatnya kaget. Ia tak mengira penumpangnya akan setakut ini. Mungkin penumpangnya itu memiliki trauma. Tapi melihat penumpang laki-lakinya menenangkan sang perempuan membuatnya tersentuh. “Ga usah takut. Aku disini.” kata Darrel lembut. ***** Aurel berjalan dengan Darrell berkeliling. Sesekali Aurel mendekat ke penjual yang di dekat lesehan tersebut. Membeli Aksesoris. “Rell menurutmu yang bagus yang mana?” tanya Aurel. “Ini apa ini?” tanya Aurel lagi dengan menunjukan gelang ke arah Darrell. Darrell menunjuk ke arah gelang yang berada di tangan kanan Aurel. Aurel langsung mengambil dua dan membayarnya. Ia berniat couple-an dengan Dimas. Darrell menunjuk ke tempat penjual sate dan mengajak Aurel makan disana. Aurel menurut. “Rell, gue panggil pak Yudha ya. Sekalian makan bareng.” kata Aurel Darrell menganguk. Setelah itu dia langsung berlari kembali ke parkiran sedangkan Darrell memesan sate tersebut untuk 3 orang. Sampai sate tersebut jadi Aurel dan Pak Yudha tidak datang datang. Darrell berdiri. Tapi sebelum itu dia membayar makanan yang ia pesan. Takut akan dikira jika dia berniat kabur. Disisi lain Aurel mengambil bunga di tangan pak Yudha. “Makasih pak.” kata Aurel. Pak Yudha itu menganguk. “Ayo pak makan bareng.” “Nggak usah mbak.” “Pak ayok.” kata Aurel kemudian ia menarik tangan pak Yudha setelah itu ia melepaskan genggaman di tanganya. Aurel mencium bunga yang ia pegang. Aurel membeli bunga itu untuk Darrell. Sebagai ucapan terimakasih karena sudah menenangkannya. Ia ingat jika Darrell benci musim semi karena tidak bisa memilikinya. Jadi inisiatifnya dia membelikan bunga supaya Darrell bisa memilikinya. Aurel menahan tawanya melihat Darrell yang kebingungan. Aurel langsung mengagetkan Darrell dengan memberikan buket bunga itu dari belakang badannya. Darrell kaget melihat sebuket bunga di depannya. Ia langsung berbalik melihat siapa dalang dari buket bunga ini. Darrell terpengarah Melihat Aurel tersenyum dengan memberikan buket bunga tersebut. “Ini..” Perkataan Aurel berhenti saat Darrell merampas bunga tersebut dengan kasar lalu melemparnya di tanah. Darrell salah. Hari ini Malioboro berangin kencang. Aurel menatap buket bunga yang mulai berterbangan dengan nanar. Matanya beralih ke arah Darrell yang kini sedang memegangi d**a dan hidungnya. Mata Darrell merah seperti orang menangis. Di ikuti dengan bersin. “Rell..” Pak Yudha sempat kaget melihatnya bukan hanya pak Yudha tapi orang orang disana juga. Berikutnya ia langsung berlari ke arah Darrell menolongnya. “Gue alergi serbuk bunga.” kata Darrell terbata-bata. Muka Darrell memerah. Aurel yang tadinya sempat marah langsung panik mendengarnya. Saat akan pergi membawa Darrell kembali tukang sate memanggilnya dan menunjukan makanan mereka. “Mbak tunggu sini aja. Saya ambil mobilnya.” kata pak yudha setelah itu ia langsung berlari. ****** Aurel panik sekarang. Meskipun sudah di beri obat alergi dan dikatakan tidak apa-apa oleh dokter. Tapi saat ini Darrell demam. Alih-alih menginap di rumah sakit Darrel meminta kembali ke hotel. Jika sampai Darrell kenapa-kenapa Aurel tidak akan memaafkan dirinya. Aurel mengambil kompres dan mulai mengkompres Darrell. Darrell tertidur tenang membuat Aurel panik. Takut-takut nyawa Darrell hilang akibat ulanya tadi sore. “Rell lo jangan mati ya.” kata Aurel pelan tentu masih bisa di dengar oleh Darrell. Darrell mengambil kain di atas keningnya. Dan mulai duduk. “Rel.. Lo harus tidur. “ Darrell mengambil tisu di sampingnya dan mulai menggunakannya untuk hidungnya yang berair. “Lo mau makan?” tanya Aurel Darrell menganguk sebagai jawaban.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN