Darrell melihat Aurel yang beberapa kali mendengus bosan. Darrell tak ingin peduli sebelumnya, tapi dengusan Aurel dan helaan napasnya berkali kali menganggu Darrell.
“Kalau mau jalan-jalan. Sana pergi.” ucap Darrell.
Aurel memajukan bibirnya sembari menatap Darrell. Ia menggeleng.
“Lo kapan sembuh?” tanya Aurel.
Darrell mengedikkan bahunya tak tanda tak tau. Ia kan bukan tuhan.
“Lo lemah banget sih, masa gara-gara bunga bisa tepar sampe 2 hari. Gue bosen.” kata Aurel. Percayalah Darrell sudah berbaring di ranjang hotel selama 2 hari.
Dan selama itu, Aurel nggak pernah pergi dari kamar hotelnya. Kecuali mengambil makanan dari gofoodnya.
Dari melihat jam tangannya. Jam 2 siang. Ia langsung mengirimkan pesan kepada driver sewaannya untuk menjemputnya.
Darrell bangun dan masuk ke kamar mandi. Ia mulai mandi sekeluarnya Irenee bingung bercampur kaget.
“Lo ngapain?” tanya Aurel.
Darrell membersihkan hidungnya dengan tisu.
“Sana mandi. Ayok jalan-jalan.” kata Darrell.
“Nggak. Nggak. Lo kan sakit. “
“Kenapa khawatir sama gue?” tanya Darrell sambil tersenyum miring.
Aurel menatapnya kesal.
“Ya jelaslah.. Ntar kalo mati gara-gara alergi bunga lo kambuh kan nggak lucu.” Jawab Aurel.
“Serriouslly?? Bukan karna lo naksir gue?”
“Najis.”
Setelah itu Aurel langsung berdiri dan masuk kamar mandi.
****❤****
Mereka masuk mobil dan pak Yudha mulai menjalankan mobil di tempat yang di inginkan Darrell. Melihat Darrell sedikit pucat Pak Yudha bertanya kepada kliennya itu.
“Masih sakit mas?” tanya pa Yudha.
“Udah mendingan.” jawab Darrell dengan tersenyum.
“Kita mau kemana?” tanya Aurel
“Pantai.” jawab Darrell.
“Btw Rell, kemaren kan lo habis dari sini sama temen lo, emang lo jalan-jalan kemana aja?”
“Malioboro, borobudur, pantai Ngelambor, Parangtritis, Jungwok, Gesing, Slili, Sadeng, Jogan, Watu kodok gunung kidul, Wohkudu. “
“Apaan tuh?” tanya Aurel tak tau.
“Itu pantai semua mbak.” jawab Pak Yudha. Aurel mangut-mangut. Sekarang ia tau jika Darrell suka pantai.
“Jadi, kita ke pantai mana? “
“Parangtritis.” jawab Darrell pelan.
“Bagus nggak?”
“Bagus.”
Aurel menganguk saat ia akan bertanya lagi
“Diam Bintang.” potong Darrell cepat.
Setelah itu Darrell menidurkan dirinya. Kepalanya masih pusing. Aurel diam tak berapa lama ia menjemput Darrell ke alam mimpinya.
Kepala Aurel jatuh ke pundak Darrell. Pak Yudha melihatnya tersenyum manis pikirnya.
Sesampainya di parangtritis Aurel langsung menyambut air pantai dengan kakinya. Sedangkan Darrell memilih duduk dan memperhatikan Aurel.
Aurel menarik Darrell supaya laki-laki itu ikut menikmati air di parangtritis bukan hanya diam melihatnya dari jauh-jauh.
Tapi sayang kekuatannya tak sebesar laki-laki itu. Yang ada Aurel jatuh karena Darrell menariknya. Wajah mereka berdua hanya berjarak satu centi dan itu mampu membuat Aurel berdebar. Aurel heran sekarang, padahal laki-laki di depannya ini sedang sakit, tapi masih kuat saja tenaganya.
Aurel dan Darrell duduk bersampingan menikmati tenggelamnya matahari.
“bagus ya?”
“Iya.”
“Gue suka, kapan-kapan kita kesini lagi.” ujar Aurel yang sukses mendapat tatapan dari Darrell Archer.
“kalau gitu kapan-kapan kita camping ke wohkudu.” kata Darrell yang kini memperhatikan matahari
“Wohkudu?”
“Pantai.” jelas Darrell.
Aurel menganguk.
“ Janji ya..”
“ Iya.” kata Darrell.
Darrell tak tau, mungkin nanti pasti ia akan menyesal telah berjanji seperti itu kepada Aurel.
Selesai menikmati Pantai Parangtritis mereka akhirnya memutuskan untuk makan malam di restoran yang menurut pak Yudha sangat mewah.
Mereka makan bertiga dalam keadaan diam sembari menikmati danau disamping tempat mereka makan.
Melihat noda disamping bibir Aurel, Darrell segera mengambil tisu dan membersihkan noda itu. Aurel kaget. Saat akan protes Darrell memberikan tisu yang ada nodanya tadi.
“Thanks “ ucapnya malu.
“Kalian ini tunangan ya?” tanya pak Yudha.
“Iya.” “Penjajakan doang.” jawab mereka serempak.
Darrell melihat Aurel sinis begitu pun sebaliknya. Mood makan Darrell tadi hilang sudah.
“Gue belum setuju buat tunangan sama lo.” Kata Darrell.
“Emang gue peduli?” tanya Aurel tak kalah songong.
“Lo punya pacar kan?” tanya Darrell.
“Namanya Dimas. Lo udah ketemu juga.”
“Terus maksud lo apa?”
“Ya.. Gue tunangan sama lo buat nenangin nyokap gue doang. “ jawab Aurel.
“Lo nggak mikir kalo nyokap lo bakal nyuruh kita nikah?”
Aurel diam. Ia baru ingat tentang hal penting itu.
“Ya.. Kalo pihak keluarga lo nggak setuju buat nikah ya kita nggak nikah. Selama harapan itu masih ada. Lo cukup nyakinin nyokap lo. Kalau nyokap lo nyuruh nikah misalnya sebulan lagi, ya lo bisa nunda, nunda 4 tahun lagi kek dengan alasan nunggu lo selesai kuliah atau gimana gitu.” jelas Aurel.
“Gue udah tahun terakhir kuliah. S2” kata Darrell.
Aurel diam ia tak tahu lagi harus gimana.
“Kenapa nggak lo aja yang nyegah?” kata Darrell kali ini.
“Lo kan tau gue nggak bisa nolak permintaan nyokap gue. “
“Lo manusia bukan boneka Marionette.” kata Darrell yang tiba-tiba ia langsung mengangkat tangannya meminta bil untuk membayar.
Pelayan tersebut datang dan memberikan tagihan makanan, Darrell memberikan kartunya tak berapa lama Pelayan tersebut kembali lagi.
“Ini pak, terimakasih.”
Darrell sedikit tersenyum dan menganguk.
“Aku tunggu di mobil.” Kata Darrell yang langsung berjalan pergi.
Pak Yudha mengikuti Darrell, begitu pun dengan Aurel.
Darrell memicingkan matanya melihat Aurel yang mengikutinya seolah bertanya Aurel kenapa
“Gue nggak suka makan sendirian.” jawab Aurel.
Darrell tak berkomentar, ia lalu masuk dan duduk. Begitu pula dengan Aurel.
Pak Yudha mulai mengemudikan jalannya.
“Kita kembali ke hotel atau kemana mas?”
“Hotel.”
“Besok mau ke mana mbak?”
“Hutan pinus.” jawab Aurel dengan memainkan handphonenya.
“Kalau gitu, gimana kalau berangkat jam 8 mbak mas?”
“Boleh pak.”