BAB 10

1136 Kata
Aurel segera mengabadikan momennya di hutan pinus. Sedangkan Darrell melihat Aurel yang kesulitan untuk mengambil foto full satu badannya. Melihat seorang fotografer Darrell menghampirinya. Ia melihat foto-foto yang telah di potret fotografer tersebut. “Kalau saya sewa sehari berapa?” tanya Darrell. “Sewa sehari mas?? Dua juta.” jawab laki laki itu. “Itu..” kata Darrel dengan menunjuk ke arah Aurel. “Foto perempuan itu. Jangan bilang kalau saya yang nyuruh.” lanjut Darell. Fotografer tersebut menganguk. “Kalau bayarnya saya transfer bisa?” tanya Darrell. “Bisa mas.” kata fotografer tersebut. Ia kemudian memberikan nomor rekeningnya. Darrell langsung mentransfernya. Fotografer tersebut tersenyum tertawa sumrigah. Darrell memberikannya uang tips sebesar satujuta. Ia segera menghampiri Aurel dan memotret perempuan itu. Darrell memesan kopi di warung terdekat. Tapi tak lama Aurel menariknya mengajaknya berfoto bersama. “Sini.. Gue dapat fotografer gratis. “ kata Aurel. Ia langsung mengeluarkan jarinya membentuk huruf V. Darrell tak memperdulikannya ia malah meminum kopinya. Aurel melihat hasilnya. Ia sedikit terpukau. Visual Darrell sangat indah. Bahkan saat Darrell tak berminat gambarnya di kamera tetap cantik. “Ish..” kesal Aurel. Karena Potret Darrell sangat bagus. Darrell meliriknya. Aurel mengajak Fotografer itu pergi dan foto untuk di tempat lain. Mengetahui Darrell tak mengikutinya Aurel kembali dan menarik Darrell supaya mengikutinya. “Gue mau foto di atas sana.” pinta Aurel dengan menunjuk rumah pohon. Darrell mendesah... Ia memperhatikan Aurel naik ke atas dengan meminum kopinya. Aurel tertawa ketika mengetahui ia berhasil naik sampai atas. Darrell menunggunya di bawah. Ia malas dan tak mau ikut. “Rell.. Naik.” Darrell menggeleng. Ia lalu mencari tempat sampah untuk membuang bungkus kopinya. Darrell bersedekap d**a sembari menunggu Aurel mengambil gambar. Tak lama, Aurel kemudian turun. Tapi baru sampai di tengah tangga ia kakinya terpleset dan jatuh ke bawah. Deg..deg..deg.. Aurel berdebar ke takutan ketika jatuh. Beruntung Darrell mempunyai reflek yang bagus. Darrell menangkapnya. Sehingga kepalanya masih aman. Darrell membantu Aurel berdiri tapi, “Awh.. Sakit” rintih Aurel. “Terkilir??” Tanya Darrell yang langsung melihat pergelangan kaki milik Aurel. Darrell menghela napas. Ia langsung berdiri menatap Aurel yang menahan sakit di kakinya. “Mangkanya hati-hati.” “Di sekitar sini ada tukang urut mas. Mari sana antarkan sampai sana. Kasian itu kaki mbaknya.” Kata Fotografer tersebut. “Makasih.” Ucap Darrell. Darrell langsung menggendong Aurel ala Bridal Style. Tentu saja Aurel terlonjak kaget. Aurel pov.. Deg...deg .deg... Aku menatap Darrell yang serius berjalan kedepan. Tatapan matanya tajam. Dan lagi, wajahnya tak mengeluarkan ekspresi. Melihatnya seperti itu, jantungku tak mau diam untuk berdebar lebih keras. “Gue berat ya?” tanyaku untuk memecah kesunyian. Dan menyembunyikan debaranku. Aku berharap laki laki es ini tak sadar. Atau bahkan mendengarnya. Darrell menganguk sebagi jawaban. “Gue capek juga.” tambahnya. Mendengar jawabannya aku mendecak. s**t!! Aku baru saja terpesona dengannya tapi mendengar perkataannya membuatku ingin menjambak laki-laki ini. Tapi tak mungkin, aku tak mau di turunkan dan di suruh Darrell berjalan sendiri. “Lo aja yang lemah.” Kataku kesal. “Lemah?? Gue udah jalan sambil gendong lo ada 400m.” balas Darrell. Aku menatapnya terkejut. Dia bahkan menghitung sudah berapa jauh menggendongku. Uh... Mukanya aja yang ganteng. Aku langsung mengalihkan pandanganku dan melihat ke arah depan. Tapi badanku seolah memberontak perintaku. Kepalaku mendongak menatap Darrell. Tampan. “Lo suka sama gue dari tadi ngeliatin gue kayak gitu.” Cetus Darrell. Damn it!! Gue pasti gila. Mana mungkin gue suka sama cowok kayak Darrell. Oke, Ingett Aurel lo udah punya Dimas. Dimas. Dimas. Calm down. Lo udah punya Dimas. “Nggakk.. Gue cuma penasaran lo perawatan pake apa kok muka lo mulus gitu!” alihku. Anjir.... s**t. Demi apa?? Darrell senyum? senyum?? Cowok ini senyum?? Demi apa?? Aku menatap Darrell yang yang mengangkat bibirnya melengkung ke atas sedikit. Senyumnya kecil bahkan tidak terlihat. “Nggak ada perawatan.” jawabnya dengan wajah yang sudah berubah datar. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke depan. Tak lama aku sampai di tukang pijat. Darrell menurunkanku dan membiarkanku di urut di kaki. “Ah... Sakit.” jeritku. Aku langsung melihatnya sebal. “Ini sakit beneran tau!” “Aku tau!” ****❤***** Aurel dan Darrell bersiap pulang hari ini. Kaki Aurel masih terasa sakit, Jadi Darrell memutuskan untuk ke bandara menggunakan Helikopter. Aurel sangat terkejut ketika Darrell membawanya ke rofftop hotel dan melihat Helikopter. Ada beberapa orang yang menunduk hormat kepada Darrell. “Ini tuan muda, silahkan di pake.” kata seorang disana dengan memberikan headphone untuk di pake Darrell. Darrell menerimanya lalu memakainya. Tak lama Aurel juga mendapat hal serupa. Darrell melihat Aurel yang tersenyum sembari menikamti pemandangan dari atas. Sesampainya di Bandara, Darrell membantu Aurel untuk sampai di Privat Jet miliknya dengan menggendongnya ala Bridal Style. Lagi-lagi Aurel melihat logo ADB grup. Yang menandakan jika privat jet tersebut milik keluarga Darrell. “Wow, orang kaya memang beda. Ini milik keluargamu?” tanya Aurel dengan meminum Red Wine yang di sajikan oleh Pramugari. “Bukan. Ini milikku.” Jawab Darrell yang mengerti jika Aurel menyinggung tentang Jet yang sedang ia naiki. “Milikmu??” “Iya, Kado ulangtahun ke 11 dari Mere.” jawab Darrell santai dengan menikmati Steak. “Hah ke 11?? “ Kejut Aurel. Jika ulang tahun ke 11 saja Jet. Terus ulang tahun seterusnya apa?? “Umur lo berapa?” tanya Aurel “21. Lo?” “19 tahun.” Darrell menganguk mengerti. “Ulang tahun ke 17mu dapat apa?” “Hak tinggal di Indonesia.” “Yang ke 20?” “Pulau Pribadi di Maldives.” “Wah... Hebat.” “Terus yang ke 21 kemaren apa kadomu?” tanya Aurel penasaran. Apa yang lebih hebat dari pulau Pribadi. “Lo!” “Lo?? “ “Tunganangan sama lo, kado ulangtahun dari Mere.” Aurel menganga syokk. Tak lama ia meneguk saliva lalu ikut memakan Steaknya. “Jadi, dari semua hadiahmu, Apa yang paling kau sukai?” “Kado di umur 15. Aku bisa tinggal di Indonesia selama 2 tahun.” Jawab Darrell. Aurel menaikan alisnya tak paham. “Aku suka disini daripada di Perancis.” “Kenapa?” “Apa bagusnya dikenal karena kau seorang pewaris? Dan apa bagusnya di dekati karna uang dan kekuasaan?” “Termasuk keluargaku.” tambah Aurel. “Mendekatimu karna kekuasaan dan uang.” lanjutnya. Darrell spontan langsung menoleh ke arah Aurel. Jarang bahkan hampir tak ada orang yang mau mengakui jika mereka mendekati Darrell atau keluarganya hanya karna uang atau bisnis. Darrell sendiri sering melihat Irenee adik kembarnya mentraktir teman temannya berpesta di klub. Atau membelikan mereka pakaian merk yang mahal. Atau juga makan makanan mahal sekelas Kavier. Dan semua itu, Irenee yang membayar. Atau tidak adiknya yang terakhir, Libra. Ia juga sering sekali melakukan hal serupa dengan Irenee. Tapi, Libra lebih parah karena hobi membelikan perhiasan, baju, tas, sepatu atau lainnya kepada para perempuan yang menjadi kekasihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN