BAB 17

1234 Kata
Darrell termenung di dalam kamarnya sembari menatap indahnya lampu lampu di kota yang terlihat dari kamar Apartemennya. Ia masih terkejut mendengar perkataan Mira tadi. “Tolong jangan bersikap terlalu manis seperti tadi. Nanti aku bisa salah faham.” Kata Mira dengan tersenyum. Darrell tak tau kenapa ia memikirkan perkataan Mira. Bersikap manis?? Ia tak bersikap manis. Sikapnya biasa saja. Tapi, Jika ia pikir lagi memang benar. Akhir-akhir ini ia terlalu banyak bicara dan bersikap baik kepada Aurel dan Mira. ****❤**** Hari ini Darrell menjemput Aurel di pemotretan karena Merenya memaksa agar Darrell harus sering-sering makan siang bersama dengan Aurel agar hubungan mereka dekat. Darrell menolaknya. Tapi, Merenya yang keukuh memaksanya. Tak punya pilihan lain Darrell pun menyetujui akhirnya. Aurel masuk ke dalam mobil Darrell. “Mau lunch dimana?” Tanya Aurel. “Terserah.” Jawab Darrell cuek. Aurel menatap Darrell. Entah hanya perasaannya atau memang hari ini Darrell terasa sangat dingin. Aurel tak menyukainya. Ia tak suka Darrell terasa dingin. Tiba-tiba saja ia teringat masalah kemaren, apa Darrell masih marah karena ia menghina Darrell kaya karna Warisan?? “Es krim.” Kata Aurel. Darrell langsung melihat ke arah Aurel. “Aku mau eskrim Darrell.” Ulang Aurel pelan. Darrell membelalakan matanya. Aku?? “Oke..” Jawab Darrell akhirnya. “Aku tau es krim yang enak.” Kata Aurel lagi. “Tunjukin jalannya.” Aurel menganguk antusias. Darrell mengendari mobilnya sesuai intruksi dari Aurel. Sampai di tempatnya, Darrell merasa tak asing. Ia langsung mengedarkan pandangannya, dan tepat dugaannya. Kedai es krim ini tak jauh dari kedai kopi tempat Mira bekerja. Aurel memesan es krim berukuran jumpo sedangkan Darrell memesan es krim Coklat berukuran sedang. Ia menatap kafe di depannya. “Enak kan??” Tanya Aurel. Darrell langsung fokus kepada Aurel. Ia menganguk. Es krim nya memang enak. “Btw, kapan balik ke Paris?” “Kenapa?? Berharap aku segera balik??” Tanya Darrell balik dengan tajam. “Iyalah!!! Males kali kalau harus sok akrab kayak gini!!” Jawab Aurel tak berdosa. Darrell medecak. “Bentar lagi. “ Jawab Darrell. “Jadi, selama itu tolong bersabar dan jangan sering-sering menemui pacarmu!” Tegas Darrell. Bukan karna Darrell cemburu. Tidak!! ia tidak cemburu!! Hanya saja Darrell merasa kasian jika Aurel di pukul karna ketahuan keluar dengan Dimas. Darrell tidak memata-matahi Aurel. Tapi, mbak Tyas pegawai tukang rias Tantenya mengatakan jika wajah Aurel lebam. Darrell membayangkan, pasti rasanya sangat sakit. Tapi, melihat Aurel yang bersikap biasa saja seperti saat ini. pasti orang tuanya sering sekali memukulnya. Darrell merasa kasian. Darrell menatap Aurel yang memakan eskrimnya lahap. “Aku boleh pesan lagi?” Tanya Aurel antusias. “Boleh. “ Jawab Darrell. “Asyik... Makasih tunangan.” Darrell menganguk. Aurel langsung memesan lagi. “Habis ini mau makan Ayam bakar nggak?? Aku tau tempat Ayam bakar yang enak.” Ajak Aurel. Darrell menganguk lagi. Mengiyakan. Selesai makan Eskrim mereka pindah menuju tempat makan yang disebutkan Aurel lagi. Darrell menatap Aurel yang memakan Ayam bakarnya cepat. Sama seperti dahulu, Cara makan Aurel tak ada anggun anggunya. Mira!! Ah.. Darrell mengingat perempuan itu lagi. Aurel berbeda dengan Mira. Mira selalu bersikap sangat anggun jika makan bersamannya. Dan tak pernah menghabiskan makanannya karena selalu berkata jika dia diet. “Kenapa bengong begitu?” Tegur Aurel. “Kaget, cara makanmu kayak nggak pernah di kasih makan!” “Enak aja!! Mau gue jambak lu?” “Ohh... Udah balik lagi??” “Maksudnya??” Tanya Aurel tak paham. “Bukannya tadi aku kamu?? Sekarang lu..” “Suka suka gue dong...” Ketus Aurel. Darrell menahan tawanya agar tidak pecah melihat kekesalan Aurel. Deg...deg...deg.... Aurel berdebar melihat Darrell yang berusaha menahan tawanya. Tak lama Darrell menaruh Ayam bakarnya di piring Aurel. “Makan lagi, biar gemuk.” Aurel tersenyum lembut. Entah kenapa ia merasa nyaman dengan Darrell yang sekarang. Darrell sedikit terasa hangat tak seperti tadi. “Ogah!!” Tolak Aurel yang langsung mengembalikan Ayam Darrell. Ia berusaha menghilangkan kegugupannya. “Kalau nggak dimakan. Bayar sendiri semua makanan disini!!” Mendengar ancaman Darrell Aurel langsung menatap Darrell kesal. Ia tak punya uang untuk membayar semua ini. Aurel langsung mengambil Ayam bakar milik Darrell lagi dan memakannya. “Good Girl.” Kata Darrell sembari menatap Aurel dengan tangan yang memangku dagunya. “Bayarin pokoknya semua ini!” Kata Aurel sembari menggigit Ayamnya kesal. “Kan yang makan semua ini kamu.” Balas Darrell. “Kenapa aku yang harus bayar??” “Darrell..” Sebut Aurel yang hampir menahan tangisnya. Seketika ia mengingat masa masa dulunya. Waktu itu juga sama seperti ini, bedanya ia yang memakan makanan ini bukan teman-temannya. Ia beruntung dulu karena ada seseorang yang baik hati mau membayarkan makanannya. Ia lupa wajahnya. Yang ia ingat orang itu sangat tampan! Kalau sekarang siapa yang akan membantunya. “Pokoknya bayarin!! Aku nggak punya uang tau!!” Darrell menaikan satu alisnya. Tak punya uang?? “Emang kau buat apa gajimu?” Tanya Darrell. Aurel diam tak menjawabnya. Ia tak mau menjawabnya. “Kau suka foya foya ya ?” Tebak Darrell. Aurel hanya diam tak menjawab. Ia tak memakan Ayam bakar itu lagi. Ia tak suka foya-foya. Selama ini semua gajinya mamanya yang memegang. Dan ia sama sekali tak mendapat apapun. Kecuali hanya jatah kecil. Melihat raut wajah Aurel, Darrell sedikit mengerti. Tebakannya, selama ini ia tak pernah memegang uang gajinya itu sama sekali. Ia tak pernah bisa menikmatinya. “Habisin!! Kalau nggak bayar sendiri nanti!! “ Suruh Darrell. Aurel menganguk cepat. Ia memakan lagi ayam bakarnya. Selesai itu Darrell membayarnya dan mengantarkan Aurel pulang. Tapi, sebelum Aurel keluar. “Bintang..” Panggil Darrell. Aurel langsung menoleh. Rasanya nyaman Darrell memanggilnya begitu lagi. “Kalau berat, Kau bisa memberitahuku.” Kata Darrell. Deg...deg....deg... Aurel berdebar kembali. Seperginya Darrell ia langsung memegang dadanya. Ada apa dengannya hari ini. Kenapa ia berdebar di depan Darrell. Terlebih perkataan Darrell tadi, Seolah olah Darrell tau semua masalahnya. Disisi lain, sesampainya di Apartemen Darrell menyuruh Edgar menemuinya. “Maaf Mons..” “Darrell Edgar!” peringat Darrell sembari menatap tajam Edgar. “Maaf tuan muda,” Darrell menghela napas. “Saya belum menemukan hubungan Madame dengan ibunya nona Aurel.” Ucap Edgar sopan. “Cari tau semua tentang Aurel dengan keluarganya yang sekarang tanpa terlewat sedikit pun.” Perintah Darrell. “Termasuk selama ini dia makan apa, dan gajinya pergi kemana.” Lanjutnya. Edgar menganguk paham. Setelah itu ia berpamitan pergi. Disisi lain Aurel keluar diam-diam dan menemui Dimas yang menunggunya di taman dekat komplek rumahnya. Dimas tersenyum melihat Aurel. Ia memberikan salep untuk Aurel. Dimas tau jika mamanya menampar Aurel lagi ketika tidak sengaja menemuinya. Dimas waktu itu marah kepada Aurel karena Aurel berada di dalam mobil dengan seorang laki-laki. Ia sempat membentak Aurel di depan rumahnya. Alhasil ia ketahuan jika menemui Aurel. Aurel langsung di seret dan di tampar. Sedangkan ia tak bisa berbuat apa apa. Aurel sendiri hanya bisa berdiam diri ketika Dimas marah kepadanya. Ia tak bisa mengatakan jika laki-laki itu adalah Darrell calon tunangannya dan bos di perusaannya. Dimas memeluk Aurel erat. “Maaf.. Jika saja aku nggak marah. Pasti kamu nggak akan kayak gini sekarang.” Kata Dimas penuh penyesalan. Ia mengusap lebam di pipi Aurel. “Gapapa. Aku harus balik dulu. Nanti mama tau kalau aku keluar.” Kata Aurel yang berjalan pergi meninggalkan Dimas. Ada yang aneh dengan Aurel. Ia tak memahami perasannya. Ia berdebar ketika melihat Darrell dan ia kesal karena merasa bersalah dengan Dimas. Apa yang harus dilkukannya sekarang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN