Darrell pergi ke rumah Aurel tepat di jam 6 pagi selesai mendapat laporan dari Edgar.
Dewi kaget melihat Darrell yang datang pagi-pagi buta. Darrell sudah memikirkan tindakannya kali ini.
Orang bernama Dewi harus di beri pelajaran. Mana ada seorang ibu yang memukul anaknya seperti itu. Yang menjadikan anaknya sebagai alat pencari uang.
Darrell langsung naik ke atas menuju kamar Aurel. Ia tak mau jika Dewi memanggilkan Aurel. Ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Ceklik..
Aurel terkejut melihat Darrell di depan kamarnya. Terlebih ibunya yang sedakit panik. Melihat wajah lebam Aurel!! Darrell langsung memegang wajah Aurel.
“Kenapa dengan wajahmu?” Tanya Darrell.
“Eh in..ini..”
Aurel menatap ibunya yang menggeleng gelengkan kepalanya.
“Nggak sengaja kejedot pintu kamar mandi.” Jawab Aurel pelan.
Darrell langsung melepaskan pegangannya. Dewi buru-buru menyuruh Aurel masuk dan cuci muka. Sedangkan Dewi mengajak Darrell turun ikut sarapan.
Darrell duduk di depan meja makan menunggu Aurel. Tak lama Aurel langsung duduk disamping Darrell.
“Hasil tamparan!” kata Darrell.
Dewi beserta suaminya dan Aurel langsung menatap Darrell.
“Mirip luka hasil tamparan.” Ulang Darrell sekali lagi dengan menunjuk lebam di pipi Aurel.
“Bukan nak Darrell. Aurel kan udah jawab tadi kalau nggak sengaja kejedot pintu kamar mandi.” Kata Dewi sembari tertawa.
Darrell tak peduli dengan omongan Dewi. Ia menatap Aurel lekat.
“Jika ada yang memukulmu kau bisa bilang padaku, Bintang!” tegas Darrell.
Aurel langsung menatap Darrell terharu. Selama ini tak ada orang yang membelanya seperti itu. Tapi, tetap saja ia ditampar karna Darrell. Jika saja ia tidak dijodohkan dengan Darrell pasti sekarang ia bisa menemui Dimas.
“Kalau gitu, ayo makan dulu.” Ajak Papanya Aurel.
Darrell menatap nasi yang diambilkan oleh mamanya Aurel. Ia lalu mengambil Ayam goreng. Setelah itu ia mengambil Ayam goreng lagi dan memeberikannya kepada Aurel.
“Rell ini kebanyakan.” Kata Aurel. Darrell mengambil semua ayam goreng di piring tersebut dan memberikan ke piring Aurel.
“Mamamu bisa masak lagi. Iya kan Tante?” Tanya Darrell dengan tersenyum.
Entah kenapa Dewi merasa senyuman tersebut seperti mengancamnya.
“I.. Iya. Tapi, Aurel harus jaga berat badannya.” Katanya.
“Masa calon menantu ADB grup kurus kering kayak nggak pernah di kasih makan?” Sindir Darrell.
“Yaudah.. Ayo makan habiskan.” Suruh papanya kemudian.
***❤***
Aurel menatap Darrell yang sikapnya tiba-tiba baik. Ia menatap Darrell yang mengemudikan mobilnya mengantar ke pemotretan tantenya.
“Kenapa baik banget kayak tadi?” Tanya Aurel.
Darrell melirik Aurel, melarang perempuan itu meneruskan ucapannya. Ia malas menjawab pertanyaan Aurel.
“Nggak mungkin kan, Lo suka sama gue?”
Crittt...Brakk...
“Awh..”
Darrell langsung menatap Aurel terkejut.
“Jangan salah faham!! Gue nggak suka lo!! Bener-bener nggak suka lo!! Jangan salah faham!!” Peringat Darrell.
“Oke.” Jawab Aurel.
Darrell langsung melajukan mobilnya lagi.
“Lo beneran nggak pernah suka sama seseorang?” Tanya Aurel.
Darrell menatap datar jalanan.
“Kita pernah bicarain itu di Jogja.” Ungkit Darrell.
“Bener-bener nggak pernah suka sama orang ya??” Tanya Aurel menggoda Darrell.
Darrell melirik Aurel sebal.
“Rasa suka itu ya, lo nggak suka lihat dia menderita. Terus.. Lo selalu mau lihat dia tersenyum. Lo selalu rindu dia. Kalau lihat dia susah pasti langsung lo tolongin kayak gue tadi.” Ucap Aurel.
Darrell menahan tawanya agar tidak pecah. “Ngarang!! Itu tadi cuma rasa kasian aja!!” Sambung Darrell yang menyunggikan senyumnya.
“Loh.. Kalo mau ketawa-ketawa aja. Jangan di tahan-tahan gitu.” Saut Aurel.
“Rasa kasian sama rasa peduli itu beda tipis tau!!” Lanjut Aurel.
“Oh ya??”
“Iya.” Jawab Aurel yakin.
“Berarti beneran lo nggak pernah suka sama seseorang?” Tanya Aurel.
Darrell menggeleng. Ia saja ingin merasakan seperti apa rasanya jatuh cinta. Seperti apa rasanya merindukan seseorang. Tapi sekali lagi, ia tak pernah merasakan hal itu.
****❤****
Disisi lain Mira menatap langit-langit di sudut kasir tempatnya bekerja. Ia merindukan Darrell. Sangat merindukan laki-laki itu. Sejak ia berkata kepada Darrell tentang sikap manisnya yang bisa membuatnya salah faham. Darrell tak pernah mengunjungi Mira lagi.
Mira menghela napas. Ternyata benar perkataan Darrell tempo hari yang melarangnya untuk jangan berharap lagi padanya. Darrell menjauhinya sekarang.
Apa yang harus di lakukannya sekarang.
“Mir.. Nggak balik?” tegur seseorang.
Mira langsung menatap orang yang menegurnya. Lalu melihat jam di hpnya. Shift bekerjanya udah selesai.
“Aku balik dulu ya Kak..”
“Iya hati-hati.” Jawabnya.
Mira langsung berganti baju dan menunggu ojek online. Ia akan pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi ibunya. Sampai di rumah sakit, Mira langsung masuk ke kamar ruang mamanya di rawat. Mira tersenyum melihat mamanya yang tertidur tenang. Ia menaikan selimut mamanya lalu duduk di samping mamanya menunggu mamanya bangun.
***❤***
Sudah beberapa hari berlalu sejak pertemuannya dengan Mira. Darrell ingin menghindari Mira terkait perkataannya tempo hari. Sedangkan hubungannya dengan Aurel membaik.
Tapi, ia tak tau. Sekarang rasanya ia sangat ingin bertemu Mira. Darrell meminum Anggurnya lagi.
Aurel memperhatikan Darrell yang menuangkan Anggurnya lalu meminumnya cepat. Seperti seseorang yang gelisah.
“Ada masalah?” Tanya Aurel.
Darrell menggeleng lalu meminum Anggurnya lagi. Aurel tak percaya. Bahkan Steak kesukaan Darrell yang selalu di pesan saja tak di sentuhnya.
“Kalau ada masalah bilang aja. Aku ini calon tunanganmu.”
“Kalau begitu, bukannya kamu harus segara putus dengan orang bernama Dimas itu?” Tanya Darrell.
Duk...
Aurel menendang tulang Darrell. Darrell tak memberikan respon kesakitan. Ia bersikap datar. Tak lama Darrell menghela napas.
“Kita pulang.” Ajak Darrell.
Aurel menurut. Ia lalu menelfon Edgar agar Edgar menjemputnya dan mengantarkan mereka pulang.
Aurel duduk bersebelahan dengan Darrell di jok belakang. Aurel memainkan handphonenya membalas pesan kepada Dimas. Sedangkan Darrell diam menatap keluar jendela.
“Belikan Expresso.” Kata Darrell.
Edgar menganguk. Lalu membawa tuan mudanya di tempat kerja Mira. Darrell sering membeli kopi disana.
Aurel menatap tempat yang didatangi Edgar. Ia tak tau jika Darrell menyukai kopi. Edgar bertanya apakah ada yang ingin di pesan Aurel sebelum turun membeli Expresso kesukaan Darrell. Aurel menggeleng.
Tak lama Edgar kembali memberikam Expresso tersebut kepada Darrell. Darrell menerimanya lalu meminumnya pelan.
“Nona Mira berada di Rumah sakit sekarang.” Kata Edgar.
Mendengarnya Darrell langsung berdiri tegak lalu menatap Edgar. Aurel sendiri terkejut mendengar dan melihat apa yang baru saja terjadi.
Darrell duduk tenang kemudian.
“Aku nggak tanya keadaannya. “ Jawab Darrell.
Edgar tersenyum melihatnya. Lalu menganguk.
“Saya pikir tuan muda ingin mengetahui kabar Nona Mira dengan beralasan ingin meminum Expresso.” Jawab Darrell kemudian.
Nyut...
Aurel tak tau kenapa, ia tiba-tiba merasakan sakit di hatinya. Spontan Aurel langsung menyentuh dadanya. Kenapa dengan perasaannya. Ia langsung mengenyahkan perasannya tadi.
Ia lalu menatap Darrell dan Edgar.
“Nggak!! Aku cuma minum kopi.” Sanggah Darrell.
“Dia di Anggrek Hospital. Ruang Anggrek nomor 3.” Kata Edgar lagi.
Darrell tak merespon. Ia meminum kopinya lalu memejamkan matanya.
Aurel menatap Darrell.
“Siapa Mira?” Tanya Aurel penasaran.
“Mantan pacar sekaligus teman SMA tuan muda, Nona.”
“Wah.. Bau-bau kangen nih, CLBK nih keknya.” Goda Aurel. Entah kenapa ia merasakan sakit ketika berkata seperti sekarang.
Darrell tak memperdulikannya. Ia tetap memejamkan matanya. Ia ingat, jika ibunya Mira dirawat di rumah sakit sedangkan Ayahnya meninggal sekitar 3 tahun lalu.
Sesampainya di depan rumah Aurel,
“Kalau kangen temuin!” Kata Aurel sebelum keluar dari mobil.
Darrell tak memperdulikannya. Ia tetap duduk tenang seperti itu sampai Edgar mengantarkannya ke Apartemennya.
“Tuan muda sudah sampai.” Kata Edgar.
Darrell langsung membuka matanya. Ketika melihat tempat berhentinya berbeda seperti yang ia bayangkan Darrell mendelik kepada Edgar.
“Apa maksudnya ini?” Tanya Darrell karena Edgar menurunkannya di depan lobi rumah sakit.
Edgar memang sengaja menurunkannya disana. Karena ini kesekian kalinya Darrell diam lalu minta dipesankan kopi. Biasanya Darrell melihat Mira dari dalam mobil tapi kali ini ia tak bisa melihat Mira.
“Saya kira saya salah berhenti tuan muda...”
Ceklik...
Edgar tersenyum melihat Darrell yang turun dari mobil lalu berjalan masuk. Edgar tak tau, bagaimana dengan perasan tuan mudanya, semula ia pikir Tuan mudanya hanya kasian dan merasa bersalah.
Tapi, setiap kali datang ke Indonesia atau mau pulang ke Perancis tuan mudanya akan mengajak Ke tempat bekerja Mira. Ia memesan kopi sementara Darrell melihat Mira dari dalam mobil.
Darrell tak menemuinya. Ia hanya mengawasi Mira dari jauh. Edgar pernah sekali bertanya kenapa tuan mudanya tak menemui Mira langsung. Dan hanya melihatnya dari jauh.
Darrell hanya menjawab.
“ Je veux juste la voir sous le ciel du soir. “
Yang berarti, Aku hanya ingin melihatnya di bawah langit sore.
Setelah di jodohkan dengan Aurel, kebiasaan Darrell sedikit berkurang mengajak membeli kopi. Akhirnya ia pikir tuan mudanya menyukai Calon tunangannya itu karena selalu memintanya untuk menyelidiki Aurel. Terlebih hubungan mereka mulai akrab. Tapi, setelah hari ini ia bingung sebenarnya apa yang dirasakan tuan mudanya terhadap kedua perempuan itu?