BAB 19

1127 Kata
Darrell membuka pintu tersebut. Ia melihat mamanya Mira membaca sebuah buku. Sedangkan Mira tertidur sembari duduk. Wajah cantik mamanya Mira masih tercetak jelas. Melihat Darrell Mamanya Mira langsung meletakan buku yang ia pegang. Ia tersenyum melihat Darrell. Ketika ia ingin membangunkan Mira, Darrell menggeleng melarangnya. Darrell melihat Mira yang tertidur pulas. Terlihat wajah lelahnya disana. “Apa kabar Rell?” Tanya Mamanya Mira pelan. “Baik, tante gimana kabarnya?” “Tante jauh lebih baik. Makasih ya.. Udah nolong Tante sama Mira.” Kata Mamanya Mira sembari tersenyum. “Darrell nggak bantu apa-apa tante.” Kata Darrell tak enak. “Mira bilang kamu banyak bantu dia. Makasih banget.” Darrell menganguk. “Maaf tante saya nggak bawa apa-apa.” “Gapapa. Kamu dateng jenguk tante aja tante udah seneng. “ “Duduk dulu.” Suruhnya. Darrell menggeleng ia menolak. “Saya langsung balik aja. Tante istirahat ya..” “Kok cepet banget?” “Gapapa Tante, saya masih ada urusan. Cuma sempet kesini sebentar.” “Yaudah hati-hati ya.” Kata Mamanya Mira. Darrell menganguk ia lalu mendekati Mira dan memasangkan jaket yang ia kenakan ke badan Mira. Darrell tersenyum melihat mamanya Mira. “Makasih.” “Sama-sama Tante, Darrell permisi.” Pamit Darrell yang menyalami mamanya Mira ia langsung keluar. Darrell langsung menghampiri Edgar lalu Edgar mengantarkannya pulang. Sesampainya di apartemen Darrell menatap keluar jendela. ****❤**** Mira terbangun dan merasakan punggungnya terasa sakit. Melihat sebuah jaket jatuh ketika ia bangun Mira langsung mengambilnya. “Punya Darrell tadi ia kesini.” Kata Mamanya. “Kok nggak bangunin Mira sih Ma??” Tanya Mira. “Kasian, lihat kamu kecapean.” Jawab mamanya. “Mama udah makan?” Tanya Mira. “Udah. Kamu mau nginep disini?” Tanya mamanya. Mira menganguk. “Kamu pulang aja. Mama gapapa disini. Lagian kamu pasti capek banget.” Suruh mamanya. Mira menggeleng. “Demira..” “Maharani..” Sambung Mira. “Agashi.” Lanjut mamanya sambil tertawa. “Yaudah kalau kamu mau tidur disini.” Putus mamanya akhirnya. Mira tersenyum lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi. Ruangan mamanya memiliki kamar mandi dalam. Perawatan mamanya ini, di tanggung oleh Darrell. Mangkanya Mira sangat berterimakasih. Dan rasanya tak pantas jika Mira memakai Kartu yang diberikan Darrell. Setelah pengeluaran yang telah dilakukan Darrell selama ini. Selesai mandi, Mira menelfon Darrell. Darrell terbangun dari tidurnya lalu melihat siapa yang menelfonnya malam-malam begini. Demira Darrell mengangkat panggilannya. “Aku ganggu ya??” tanya suara disebrang sana. Mira hafal dengan sifat Darrell. Jika ia tak mengatakan apapun selama 5 detik setalah Darrell mengangkat panggilannya Darrell akan mematikan panggilan tersebut. “Iya.” Jawab Darrell. “Jujur banget sih.” Kata Mira menahan kekesalannya. “Dari dulu.” Mira menghela napas mendengar jawaban Darrell. “Makasih jaketnya..” Ucapnya akhirnya. “Hmm.” “Kenapa tadi nggak bangunin aku dulu?” “Males.” Mira mendesis. Sialan memang Darrell. “Ini jaketnya.” “Ambil aja!” Potong Darrell cepat. “Hah??” “Buat lo!! Ambil aja!” “Oh.. Oke. Makasih!” Ucap Mira yang masih tak paham kenapa Darrell memberikan jaketnya. Padahal dulu sewaktu pacaran ia minta jaket Darrell, atau berusaha meminta Darrell memberikan jaketnya kalau malam mingguan Darrell pasti akan menolaknya dan mengatakan jika Mira ingin jaket lebih baik mereka sekarang ke mall beli jaket daripada Mira meminta jaketnya. Lah ini nggak ada angin nggak ada hujan Darrell memberikan jaketnya. “Jangan dijual ya....” Kata Darrell lagi. “Rese Ih.. Gua jual besok di pasar loak!!” Kesal Mira. “Terserah.” Jawab Darrell lagi sembari menahan senyumnya. Ia tak tau kenapa bisa sesenang ini mendengar kekesalan Mira. “Udah pulang?” Tanya Darrell kemudian. Mira tersenyum perasaannya menghangat. Ini pertama kalinya juga Darrell bertanya tentang keadaannya. Biasanya Darrell hanya akan menjawab iya tidak dan hmm lalu terserah. Kalau tidak, dia hanya akan diam tidak menjawab pertanyaan Mira. Jadi, jangan harap Mira akan telfonan dengan Darrell sampai berjam jam. “Nggak, nginep disini nungguin mama.” Jawab Mira. “Kapan balik?” Tanya Mira kemudian. “Bentar lagi. “ “Kalau balik, mampir kesini ya...” “Dimana?” “Hmm... Kafe tempatku kerja.” “Iya.” “Kalau gitu, Good Night! Mimpi indah Darrell.” “Iya.” “Tch, bilang mimpi indah balik kek..” Darrell tertawa kecil mendengarnya. “Bad Dream!!” “Darrell!!” Darrell mematikan telfonnya. Tak lama ia tertawa karena membayangkan wajah kesal Mira. “Hahahah...” ****❤**** Darrell terkejut melihat Merenya berada di Apartemennya. Ia lalu mandi ketika merenya menyuruhnya mandi. “Mere ngapain disini?” Tanya Darrell sembari memakan sandwich. “Mere pusing nyariin adik kamu, Mere khawatir. Dia pergi kemana sebenarnya?” Keluh Merenya itu. “Mere blok aja kartunya Libra. Nanti juga pulang.” “Kalau pulang, kalau nggak?? Nanti kalau dia kelaparan dijalan gimana??” Tanya Merenya. “Mere terlalu manjain Libra.” “Kamu kapan pulang?” “Bentar lagi.” “Yaudah, kalau mau balik jangan lupa jalan dengan Aurel.” Darrell menganguk. Setelah itu Merenya bangkit mengajak Darrell mendatangi rumah Aurel. Darrell menurut. Sesampainya disana Dewi Mamanya Aurel, menyuruh Darrell mengajak Aurel jalan. Darrell menurutinya. Ia lalu mengajak Aurel jalan. Aurel mengajak Darrell ke Pantai, makan Seafood. Darrell menolak. Menolaknya mentah-mentah. Ia alergi Seafood. Akhirnya Darrell mengajak Aurel pergi ke restorannya makan Donat. Aurel memakannya dengan lahap. Darrell hannya memperhatikannya. Tanpa berniat ikut makan. Ia tak minat karena setiap hari sudah memakan Donat. Tak lama mata Aurel menatap sekumpulan anak-anak yang datang belajar. Beberapa anak itu mengeluh karna Dosen yang memberinya banyak pekerjaan. Darrell mengikuti pandangan Aurel yang menatap mereka iri. “Kenapa nggak kuliah?” Tanya Darrell. Dari data yang di peroleh Darrell, Aurel tak kuliah karna tak punya uang. Uang hasil kerjanya di pegang semua oleh Mamanya. Aurel hanya di kasih uang jika ia pergi belanja dengan mamanya atau keperluan yang memang Aurel pergi keluar. Aurel bahkan dilarang makan banyak karna takut Aurel gendut. Dan tidak cocok menjadi model lagi. Aurel juga tidak di izinkan untuk ikut gym atau olahraga apapun di luar, ia hanya boleh olahraga di rumah. Darrell sampai tak habis fikir, kenapa ada manusia sepelit mamanya Aurel itu. Aurel diam saja tak menjawab apapun. “Mau kuliah?” “Mau bangetlah! Gue pingin banget kuliah.” Jawab Aurel cepat. “So, pinter?” “Hah??” “Kalau pinter bisa dapat Beasiswa. “ Kata Darrell. Aurel menggeleng. Ia tak pintar. Bahkan bicara bahasa Inggris saja ia tak bisa. Dia golongan anak yang biasa-biasa. Pintar tidak, bodoh juga tidak. Darrell menaruh tangannya di atas meja menyanggah kepalanya. Berfikir. “Ayo pulang!” “Eh.. Tapi ini kan belum habis. Aku habisin dulu. Cepet kok” Kata Aurel yang langsung memakan Donatnya dengan cepat. Darrell menggelengkan kepalanya. Kurang harapan anak ini batinnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN