“Jadi, kenapa?” tanya Rafan pada Ardan yang duduk kaku di tempatnya. Jelas sekali cowok itu tampak terlihat begitu frustrasi karena Rumaysha yang marah kepadanya. Ada rasa sedih juga saat melihat reaksi Rumaysha yang seakan menolak kehadiran buah hati mereka. “Rumaysha hamil, Pa,” ucap Ardan dengan nada bergetar. Rasa sesak kian menumpuk di dadanya. Sejak hari di mana dia memutuskan untuk menjadikan Rumaysha sebagai istrinya, tanggung jawabnya bertambah. Dia tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya. Ada jiwa lain yang harus dia penuhi kebutuhan hidupnya juga. Kalau boleh jujur, dia pun terkadang merasa takut. Ia takut tidak mampu menghidupi anak gadis orang dengan baik. Dia takut tidak bisa merawat istrinya hingga istrinya jadi tak terurus. Entah dalam urusan penampilan, makan, ataup

