Setelah kaisar turun panggung dan para tamu bebas beraktivitas kembali, Sasha bergegas melangkah ke lain arah sebelum pergelangannya digenggam tangan Nellas dari belakang. Sasha berbalik badan menatap sahabatnya itu. "Kau mau ke mana? Setelah ini ada waltz dance. Temani aku berdansa," kata Nellas.
Sasha melirik sekilas ke balkon lantai dua. Kaisar Edelweis sedang berbicara bersama pejabat dengan dijaga pengawal berbadan kekar. Sasha pikir belum saatnya dia menemui kaisar sekarang, mungkin selesai berdansa dia akan langsung mendekati kaisar di saat sendiri. Ya, dia harus pandai melihat waktu agar bisa bicara leluasa. Maka Sasha tidak bisa menolak permintaan Nellas untuk berdansa malam ini.
Oh, Sasha lupa. Dia belum pernah berdansa sebelumnya!
"Nellas, maafkan aku jika nanti aku sering menginjak kakimu," bisik Sasha saat dibawa ke tengah lantai dansa.
Sembari sedikit menoleh ke balik bahu, seutas senyum tipis terbit begitu manis di bibir Nellas menaggapinya. "Aku tahu itu. Jadi jangan khawatir."
Nellas memang sahabat yang super baik. Sasha sangat menyukainya. Saking menyukainya, sampai dia telah melampaui batasan dinding di antara mereka. Berkali-kali Sasha terus berusaha membangun tembok tak kasat mata agar debaran ini tidak pernah berdetak lagi untuk lelaki yang sama.
Langkah Sasha masih terkesan kaku saat berdansa, akan tetapi Nellas yang perhatian, membimbingnya perlahan. "Lemaskah tubuhmu agar kau merasa nyaman," ujar Nellas. Dia memegang tangan kiri Sasha, sedangkan tangan lainnya merengkuh pinggang rampingnya, yang membuat mereka secara langsung memangkas jarak dan menciptakan dunia romansa yang tak disadari pasangan itu.
Lihat saja rambut putih laki-laki itu diikat jadi satu dan menjuntai di punggung berbalut tuxedo hitamnya. Kegagahan bentuk tubuh Nellas tidak dapat disembunyikan jas mahalnya ketika jas bagian punggungnya melengkung tegap, membungkus pinggang Nellas yang ramping, celana hitam sepanjang kedua kakinya, dan sepatu pantofel mengilat. Wanita mana yang tidak terpikat dalam sekali lihat? Semua wanita diam-diam memekik pelan melihat penampilan gentleman Nellas, dan mengabaikan fakta bahwa Nellas bukan manusia alias Elf.
Sementara Sasha sendiri, tidak ada yang menyangka Sasha akan seanggun dan seelegan itu dengan gaun serba hitam perpaduan kuning. Aksesoris di seluruh gaunnya menambah kesan kerlap-kerlip kemewahan. Ditambah dengan warna rambutnya yang semerah darah alami sukses menarik keunikan dari sosok Sasha.
"Malam ini Sasha menjadi bintang pesta di istana," celetuk Cayena senang saat berdansa dengan Julius.
"Aku setuju. Dia sangat cantik," kata Julius.
Netra Nellas menangkap sekilas bayangan seseorang melintas di depannya. Nellas merasa dia perlu berbicara dengan orang itu sebelum kehilangan kesempatan. "Sasha, aku harus menemui Raphael." Dia tersenyum ketika Sasha sedang melongo polos. Itu artinya dia akan ditinggal sendirian di sini di saat yang lain berdansa? Tapi senyuman Nellas seolah mengatakan akan baik-baik saja.
Akhirnya Sasha tidak bisa menghentikan langkah Nellas seperti saat Nellas menahan langkahnya tadi. Sasha terdiam membisu di lantai dansa. Siapa mengira wajah jelitanya menyendu dalam kesepian. Semakin ramai dunia di sekelilingnya, semakin sepi dunianya.
Semakin besar pula orang-orang membicarakan dirinya dibalik kipas lipat mereka.
Keberadaan Sasha di tengah pesta para bangsawan telah menyita seluruh perhatian. Karena rambut merah dan mata oranyenya paling mencolok di antara kepala-kepala lain di sini. Terlihat sangat aneh. Tidak umum. Banyak berspekulasi buruk.
"Dia persis seperti dongeng di buku anak-anak yang menjadi siluman jahat!"
"Kau lihat tadi, dia ditinggal begitu saja oleh Nellas! Dia memang tidak pantas di samping Nellas. Harusnya dia sadar diri dengan rambutnya yang aneh itu."
"Kudengar dia anggota Knightly Cane ya? Huh! Palingan juga dia tidak akan bertahan hidup lebih lama. Mungkin satu-dua misi langsung membuatnya pulang nama." Wanita bangsawan itu terkekeh mencemooh. Cibiran terus membanjiri eksistensi Sasha dibalik bayang-bayang.
Sasha menatap lantai dengan datar. Dia berdiri di tengah mereka. Merasa seperti boneka bod0h. Ingin rasanya dia berlari keluar dari tempat ini, tetapi kakinya terpaku kuat di atas lantai. Sasha sangsi jika harus meninggalkan pesta hanya karena cemooh mereka.
Hingga sebuah uluran tangan memotong lamunan Sasha. Dia terhenyak melihat telapak tangan khas seorang pria di hadapannya. Kemudian dengan perlahan Sasha menaikan pandangannya. Seorang pria dengan rompi hitam bermotif garis emas, jas putih perpaduan emas bermotif timbul di bagian kedua pundak lebarnya seakan menambah kesan elegan penuh karismatik, dasi abu-abu di d**a bidangnya dalam balutan kemeja putih, dan sebuah pin emas mengunci kerah kemejanya. Leher putih jenjang dengan Adam's apple yang menggoda, sampai kemudian mata Sasha berlabuh pada permata indah khas pria itu tanpa mampu berkedip. Bibir tipis kemerahannya mengulas senyum ramah yang terkesan manis. Ingatan Sasha langsung mengenali pemilik iris abu-abu itu. "Jarlen." Sasha berbisik lemah.
"Nona Sasha, kita bertemu lagi." Jarlen sangat memesona. Sasha sampai melongo dibuatnya. Tidak pernah dia sangka akan bertemu Jarlen di acara khusus kaum militer dan bangsawan.
Tunggu dulu, kalau Jarlen bisa berada di acara ini, dia datang sebagai apa?
***
Komentar orang lain tentang bagaikan magnet yang mengalihkan perhatian Jarlen. Dia secara tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Bobby dan teman-temannya tadi saat berdiri tepat di mereka. Tentu saja, apapun yang berkaitan dengan Sasha menjadi hal paling menarik dan excited bagi Jarlen. Sehingga dengan degup jantung berpacu cepat, Jarlen memindai netra abu-abunya mencari sosok Sasha. Dia sangat berharap Sasha yang dimaksud adalah majikannya, bukan Sasha orang lain.
Hingga ketika MC mulai berbicara dengan ceria di atas panggung sana, dunia Jarlen tetap terpusat pada gambaran Sasha di benaknya. Dia sama sekali tidak mendengarkan ocehan riang sang MC, termasuk saat kaisar Edelweis berpidato, dia masih sibuk memilah fisik dari semua tamu wanita di dalam ruangan.
Di mana Sasha? Majikannya berada?
Jarlen hanya melihat Nellas dan Cayena di sudut ruangan, tapi dia tidak mengenali wanita .... tunggu dulu, Jarlen seketika menajamkan pandangannya. Mata tajam serigala tidak pernah salah dalam mengenali seorang manusia yang pernah ditemui sekalipun sudah bertahun-tahun lamanya terpisah. Jarlen hampir meragukan kemampuan matanya ketika melihat wanita bergaun hitam di samping Nellas. Bodohnya, dia melewatkan ciri khas dari wanita itu, yakni rambut merahnya. Sejauh yang dia ketahui, di seluruh sudut kota Madland tidak memiliki wanita berambut merah kecuali hanya satu, Sasha, majikannya.
Sasha, benar! Jika diperhatikan lebih jeli lagi, wanita itu memang Sasha. Penampilan tomboynya telah berubah drastis menjadi wanita anggun nan elegan. Sampai-sampai memikat mata para pria di sini. Kesan tajam sekaligus angkuh terlihat jelas dari penampilan baru Sasha. Namun itu sangat cocok untuk menggambarkan karakter Sasha yang tangguh serta percaya diri. Jarlen menyukainya.
"---kita harus mempertahakan keberadaan manusia di muka bumi!" seru kaisar Edelweis berapi-api.
"All hail kaisar Edelweis!"
"All hail kaisar Edelweis!"
"All hail kaisar Edelweis!"
Jarlen bergerak mendekat saat mereka semua bersorak penuh semangat. Lelaki itu menyalip dari bahu ke bahu orang lain menuju ke Sasha. Sampai sebuah tarikan tangan Nellas pada tangan Sasha membuat langkahnya terhenti mendadak. Iris abu-abu Jarlen bergulir mengikuti arah mereka pergi, lalu berhenti di tengah lantai dansa. Jarlen terdiam sejenak, memperhatikan bagaimana Nellas memeluk pinggang Sasha dan membuat jarak mereka nyaris saling menempel, diam-diam bara api membakar hati Jarlen tanpa bisa dicegah.
Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Dia sedang berusaha keras menahan diri dari amukan tak terkendali nanti. Melihat mereka berdua yang tampak mesra bagaikan sepasang kekasih, tidak membuat Jarlen senang apalagi bahagia meski senyum tersipu terpatri di bibir Sasha. Jarlen membencinya. Jarlen membenci Nellas lebih dari apapun. Karena laki-laki Elf itu telah membuat majikannya terluka.
Jarlen benci setiap kali ada air mata yang turun ke pipi Sasha karena laki-laki Elf yang tak pernah peka itu. Jarlen benci setiap kali menyaksikan betapa terpuruknya Sasha untuk melupakan Nellas. Tetapi, dengan brengseknya Nellas, terus berdekatan dengan Sasha, terus memperlakukannya dengan sangat manis, tak pernah malu berciuman di depan mata Sasha -walau berciuman antar kekasih hal wajar, setidaknya tidak menunjukan kemesraan mereka di hadapan Sasha mungkin sudah cukup untuk menghormati perasaan majikannya.
Kebencian kepada Nellas yang dipendam ini kian menumpuk di d**a. Jarlen ingin sekali menyebrang ke lantai dansa dan memisahkan mereka berdua. Sebelum akhirnya secara tidak terduga Nellas terlihat meninggalkan Sasha di tengah lantai dansa. Jarlen terhenyak. Lihatlah, betapa bajingannya Nellas itu, mencampakan Sasha begitu saja di sana.
Gumaman orang-orang di sekitar segera Jarlen dengar di telinganya. Pendengaran seorang werewolf itu tajam. Sasha sedang disindir.
Cacian di bibir merah mereka membuat Jarlen berang. Maka, dengan kekesalan yang membuncah, Jarlen berjalan menghampiri. Setiap langkah pantofelnya berderap dengan tegas. Dia melangkah penuh wibawa dengan diiringi tatapan terpesona dari tamu wanita di belakangnya. Jarlen tidak menyadari bahwa rahangnya yang mengetat karena menahan kegeraman di d**a, telah membuat para wanita bangsawan yang dilewatinya terbengong. Jarlen terlihat gagah dengan setelan putihnya.
Jarlen mengulurkan tangan kanannya dengan gaya gentleman. Senyuman tulus tercipta di bibirnya saat Sasha mendongak dan empat iris berbeda pun saling bertemu. Kilauan memesona terpancar dari mata mereka. Sasha yang tercengang dan Jarlen yang memandang penuh kasih.
Mereka berdansa dengan gerakan lambat mengikuti ritme musik dari orkestra. Seolah ada sihir yang menghipnotis matanya, sejak detik itu Jarlen tidak bisa memindahkan tatapannya dari visual Sasha. Semua orang di sekeliling seakan-akan menghilang ketika Jarlen berada di dalam dunianya hanya bersama Sasha.
"Aku terkejut melihatmu di sini," celetuk Sasha, sembari mengikuti langkah dansa Jarlen.
"Aku juga lebih terkejut melihatmu secantik ini," jujur Jarlen.
"Apa kau sedang merayuku?" Sasha tersenyum malu. Melihat semburat merah muda di pipi putih Sasha, Jarlen tersenyum kecil.
"Tidak. Aku berkata apa adanya."
"Benarkah?" Sasha menggodanya.
Di saat yang sama, di lain tempat, Nellas dan Raphael bertemu di balkon lantai dua. Keduanya saling berdiri berhadapan dengan Raphael sambil memegang gelas berisi anggur merah. "Bagaimana pun, syarat dari komandan itu tidak masuk akal, apa kau tidak bisa membujuknya untuk memberi keringanan atau mungkin punya alternatif lain?" kata Nellas.
"Tidak ada. Sebenarnya kami juga ingin sekali membebaskan kota itu, tapi selama tidak ada perintah dari komandan, kami tidak bisa bergerak. Baru kali ini ada seorang prajurit nekat menyatakan pendapatnya di hadapan para petinggi militer. Aku terkesan sekali padanya," ujar Raphael, sedikit menyeringai saat matanya tertuju jauh ke bawah, tepat pada Sasha yang sedang berdansa di sana.