Pada akhirnya, dia tidak bisa melakukan apapun untuk membuat mereka bahagia ketika dengan wajah tertunduk dia melanjutkan langkahnya dan melewati semuanya.
"Sasha!"
Seseorang memanggil saat dia belum jauh dari tempat kumuh. Nellas menghampiri dengan ceria. Lalu berhenti di hadapannya.
"Kali ini ada kabar bahagia apa?" tanya Sasha melihat wajah riang laki-laki itu.
"Malam ini menjadi tugasmu untuk meminta cap dari kaisar!" ujar Nellas semangat. Sasha mendengus.
"Itu rencanaku, memangnya kenapa? Heboh sekali!" balas Sasha datar.
"Tentu saja, untuk bertemu dengan kaisar kan sulit, sedangkan malam ini istana akan dibuka untuk para militer menghadiri acara penyambutan kaisar terhadap Sepuluh Ksatria! Tentu saja kita diundang masuk ke istana. Kau harus mengenakan gaun terbaik. Jangan sampai mengecewakan kaisar nanti."
Sasha tidak bereaksi antusias. Biasanya jika mendengar kata pesta dan semacamnya, dia akan tertarik secara langsung karena membayangkan banyak makanan manis di sana. Tapi sekarang tidak.
Ngomong-ngomong soal pesta penyambutan, dia teringat kata-kata Leon beberapa hari silam. Ternyata memang benar kaisar senang sekali berpesta. Bukan pesta yang melibatkan rakyat. Misalnya saja acara seperti ini, tamunya hanya orang tertentu, bukan?
***
Semua pakaian itu terlihat seperti setelan laki-laki dan hanya sedikit rok panjang yang tersimpan di lemari. Sasha ingat, dia tidak pernah mengikuti pesta berkelas di istana. Singkatnya, dia tidak memiliki gaun mewah.
Bodoh.
Bagaimana dia bisa hadir dalam acara itu?
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Sasha segera pergi ke pintu dan membukanya. Tampak di hadapannya, wajah ceria seorang wanita cantik, saking cerianya membuat Sasha hampir lupa kegalauannya tadi. "Aku dengar dari Nellas kalau kau akan pergi ke pesta di istana? Ayo ikut aku ke rumah!" Rose langsung menarik tangan Sasha. Sasha belum sempat buka mulut saat tubuhnya terhuyung ke depan.
Sementara Jarlen tampak duduk memperhatikan dengan bola mata bulatnya yang besar. Mata serigalanya berkedip polos ketika pintu itu tertutup perlahan.
Di rumah Nellas, Rose mendudukan Sasha di kursi, sedangkan wanita itu segera terlihat sibuk mengeluarkan pakaian dari dalam lemari. Menit itu Sasha manfaatkan dengan memindai pandangannya ke sisi sekitar. Ruang kamar ini adalah kamar Rose. Setahu Sasha, mereka berdua tidur terpisah selama belum menikah. Tapi Sasha yakin itu dusta. Walaupun tidur terpisah, apa artinya dengan 'tidur bersama' di malam hari?
Hah! Kenapa tiba-tiba dadanya terasa sesak, ya? Ah, ini sangat menyebalkan.
"Cobalah kau pakai gaun ini," kata Rose sambil memperkirakan gaun itu di depan tubuh Sasha.
Sasha menurut saja. Setelah mengenakan gaun berwarna pastel merah muda dan putih, Rose menilai penampilan Sasha. Apakah dia cocok memakai gaun itu atau sebaliknya? Secara sekilas gaun itu terlihat membuat Sasha elegan tapi gelengan kepala Rose menolak gaun itu di tubuh Sasha. Lantas Rose mencari gaun lainnya di lemari. Mengeluarkannya satu persatu lalu melemparnya di kasur.
"Rose, darimana semua gaun ini kau dapatkan?" Yang Sasha tahu, Rose bukan orang kaya untuk mendapatkan gaun semewah dan seelegan itu dengan biasa permata serta berbahan sutera. Jelas harganya sangat mahal.
"Dari Nellas. Dia membelikan semua gaun cantik ini untukku," jawab Rose sambil sibuk memilah-milah gaun.
Ah, irinya. Sasha termenung sendu di depan punggung Rose.
"Aha! Kurasa gaun ini sangat cocok untukmu!" pekik wanita itu senang. Sasha berkedip seketika dari lamunannya, dan menatap Rose yang berputar badan ke arahnya sambil memegang gaun panjang.
***
Ini pertama kali Sasha menghadiri acara di istana. Ketika dia tiba di pintu masuk istana, semua yang terlihat di dalam aula tampak berkilauan bertabur kemewahan yang berkelas. Dengan ditemani Nellas di sampingnya, dia tercengang dalam kebingungan saat berjalan perlahan di antara para tamu bangsawan. Separuh dari tamu acara adalah prajurit termasuk ksatria. Sisanya dihadiri para bangsawan kekaisaran.
Dia mencari teman-temannya, tapi belum dia temukan di tengah orang asing itu. Sasha gugup. Apa yang harus dia lakukan selama di acara ini? Ah benar, dia hanya perlu bertemu dengan kaisar untuk meminta cap persetujuan kemudian pulang. Itu rencana di otaknya, sampai kemudian Cayena menghampirinya dengan riang. Membuat Sasha bersemringah senang. Akhirnya dia tidak berdiri sendiri seperti orang bodoh.
Cayena tampak mengenakan gaun berwarna pastel merah muda dan putih, sangat sesuai dengan kulit putihnya yang bersih. Dengan dihiasi permata di bagian depan yang membuatnya terlihat elegan. Rambut pirang panjangnya digerai rapi tanpa ikat rambut. Melihat wanita itu berpakaian gaun feminin, seolah memberikan kesan pangling bagi Sasha. Bisanya dia selalu melihat Cayena mengenakan baju zirah, kadang celana panjang yang ketat untuk memudahkan bergerak, disertai pedang di pinggangnya. Tapi malam ini seperti jarum yang berputar seratus delapan puluh derajat. Cayena luar biasa cantik.
Mereka saling mencium pipi ala-ala wanita saat bertemu teman akrabnya. "Kau datang! Aku nyaris tidak mengenalimu!" kata Cayena.
Sasha berkedip sembari memiringkan kepalanya. "Apakah penampilanku aneh?" Sasha skeptis. Dia kurang percaya diri memakai gaun pilihan Rose. Bukannya tidak percaya pada Rose, tapi dia tidak pernah menyicipi rasanya berpenampilan serba feminin. Ditambah pula dengan riasan di wajah. Entah bagaimana orang lain melihat penampilannya saat ini.
Namun, Cayena menggeleng-geleng. "Tidak, tidak, tidak. Justru saking menawannya dirimu, berhasil mencuri perhatian para tamu di sini!" bisiknya penuh semangat. Sehingga netra oranye Sasha bergulir memindai ke sekitar. Barulah dia percaya pada ucapan Cayena. Semua mata tertuju ke arahnya sambil berbisik-bisik dibalik kipas lipat mereka, sedangkan para pria secara terang-terangan mengentarinya. Walau Sasha tidak dapat mendengar ucapan mulut mereka, akan tetapi Sasha tahu kalau mereka tengah membicarakan dirinya.
"Lihatlah, bukankah dia anak berambut merah itu?" kata tamu wanita.
"Yang selalu membawa serigala besar?" sambung yang lain.
"Sepertinya hanya di acara ini dia tidak membawa anjingnya. Digantikan dengan anjing baru?" Satu kekehan mengejek tersembunyi dibalik kipas lipatnya.
"Tapi tidak disangka, dia terlihat sangat cantik dan anggun," timpal lainnya. Mereka terdiam menanggapinya.
Semua orang mengomentari hal serupa itu terdengar di telinga Dina saat sedang mengobrol dengan geng wanita bangsawan di pojokan. Dina melempar pandangannya, bermaksud mencari siapa orang yang sedang mereka bicarakan? Kehadiran tidak asing di dekat pintu utama pun menjawab pertanyaan Dina. Dia menemukan teman-teman sejawatnya di sana. Ada Cayena, Nellas, dan .... Dina terdiam menajamkan mata, barang kali dia salah lihat. Tapi mau dilihat bagaimana pun, wajah akrab itu tidak berubah menjadi orang lain. Wanita di samping Nellas hampir tidak dia percayai kalau itu adalah Sasha!
Dia memakai gaun yang didominasi warna hitam dipadukan kuning emas, dengan pernak-pernik yang membuatnya terlihat berkilauan. Model gaun yang bagian lengan turun ke lengan atas, membuat kedua pundak Sasha jadi terekspos. Terlihat mulus dan putih bersih. Sebuah kalung permata melingkari lehernya yang jenjang. Sementara jepit rambut perak berbentuk sayap angsa, menarik helai merah Sasha ke samping kepala, dan membiarkan sisi rambut lainnya tergerai tanpa hiasan. Meskipun rambut Sasha hanya pendek sebahu, itu tidak membuat penampilannya tomboy malam ini. Bahkan dia bisa berdiri di atas high heelsnya!
"Aku tidak menyangka kalau dia Sasha," komentar suara berat Thomas.
"Hey, hey, dia seperti orang lain saja." Robert menimpali.
"Dua orang itu terlihat seperti sepasang kekasih. Sayangnya pada kenyataannya tidak seperti itu." Sekarang giliran Julius bicara.
"Bukankah mereka berdua terlihat cocok satu sama lain? Aku mendukung Sasha dan Nellas jika mereka berpacaran," sambung Dina penuh bangga.
Sementara di lain sisi.
"Kau pernah satu tim dengannya bukan? Bagaimana menurutmu tentang gadis itu, Bobby?"
"Sasha adalah pemimpin yang bijak dan peduli pada teman-temannya. Aku senang, dan berharap bisa satu tim lagi dengan Sasha." Bobby tersenyum.
Semua tanggapan mereka melewati pendengaran seseorang berjas putih. Sedari tadi dia diam mendengarkan pembicaraan teman-teman Sasha dibanding percakapan dua pria di hadapannya yang menjadi teman mengobrol.
"Selamat malam hadirin sekalian. Kami ucapkan terima kasih atas kehadiran anda sekalian." Suara MC di atas panggung kecil di sana membuat pembicaraan mereka terhenti. Semua orang langsung memusatkan perhatian ke arah panggung mini itu tanpa bubar dari kelompok masing-masing. Jadilah Sasha dan dua sobatnya nyempil di sudut dekat dinding. Sasha tak mau repot-repot berjalan ke tengah lantai. Cayena dan Nellas sangat baik dengan tetap berdiri di sisinya. Terlalu kejam jika mereka meninggalkannya sendirian di sini.
"Telah hadir bersama kita, kaisar Edelweis Manespell V, kaisar seluruh negeri kita. All hail kaisar Edelweis!" seru sang MC sambil menyerukan salam penghormatan. Para tamu mengikutinya dengan bersama mengatakan all hail kaisar Edelweis. Semua orang ikut menyerukan kalimat yang sama, kecuali Sasha seorang. Bahkan Nellas yang merupakan Elf sendiri di sini, turut memberikan sanjungan kaisar tersebut. Hanya Sasha seorang, tamu dengan raut wajah datar di saat semua orang berbangga hati terhadap kaisar.
Kaisar Edelweis bukan sosok menyeramkan seperti jendral militer yang kaku. Dia sosok dengan fitur wajah bersahaja di usia senjanya. Sehingga terlihat nyaman dilihat. Saat kaisar Edelweis sedang berbicara, sejenak tatapannya bertemu dengan kedua mata oranye Sasha di kejauhan. Mereka saling menatap penuh arti. Jika kaisar terhenyak sekilas ketika melihatnya di sini, maka Sasha tidak menunjukan gestur berarti selain ekspresi datarnya tanpa senyum.
Kaisar tercekat. Dia tegang tiba-tiba. Tapi ada kelegaan di bibir keriputnya yang melengkung tersenyum tipis. Hampir saja membuat kaisar lupa akan berbicara apa di hadapan para tamu itu. Dia berdeham kecil, dan berhasil mengendalikan dirinya dari Sasha. "Selamat datang untuk ke sepuluh ksatria pahlawan kita. Berkat kerja keras mereka, seluruh kota di Manespell dapat terkendali dari serangan monster."
Kata demi kata sambutan diucapkan dengan lancar oleh kaisar itu. Entah apa yang disampaikan kaisar ketika pikiran Sasha tidak mendengarkan. Dunianya mendadak kosong dan menjadi tidak berminat berada di tengah banyak orang begini. Dia ingin menyendiri tapi kakinya terasa berat melangkah. Seakan menunggu kaisar selesai berpidato. Sasha ingin bicara empat mata dengannya.
"Cepat atau lambat kita akan berperang melawan para ras monster untuk memerdekakan umat manusia. Kekaisaran butuh kekuatan kalian, para ksatria gagah dan prajurit pemberani. Abdikan diri sepenuhnya untuk kekaisaran Manespell! Kiblat umat manusia dari seluruh benua! Sampai akhir, kita harus mempertahakan keberadaan manusia di muka bumi!" seru kaisar Edelweis berapi-api.
"All hail kaisar Edelweis!"
"All hail kaisar Edelweis!"
"All hail kaisar Edelweis!"
Gemuruh penuh semangat bagaikan membakar udara di dalam aula bercahaya terang.