Misi - Bagian 2

1365 Kata
"Nona Cayena masih saja cantik seperti sepuluh tahun lalu." Pujian yang tidak mendatangkan kesenangan di benak Cayena. Justru mata wanita itu terlihat datar meski segaris senyum terbit secara paksa di bibirnya. Dia tahu Romi mudah sensitif karena faktor usia, jadi dia merasa harus diperlakukan dengan manis dulu sebelum dihempaskan dengan kejam di akhir. Pada saat bersamaan, tangan keriput Romi bergerak merambat mendekati tangan Cayena yang berada di samping pahanya saat mereka duduk berdampingan di kursi taman. Niat hari ingin menyentuh sedikit saja tangan mulus tersebut, Cayena sudah memindahkan tangannya ke atas paha. Diam-diam dia mengetahui pergerakan bak ular yang dilakukan Romi tadi. "Anda masih saja hidup dengan baik, ya---" Ucapannya sedikit menyindir, tapi Romi yang sedang jatuh cinta tidak menyadarinya. "---Tuhan memberkati Anda dengan umur panjang, hidup nyaman, memiliki banyak cucu hebat, Anda pasti sangat bahagia." "Ya, sayangnya aku tidak sebahagia seperti yang kau lihat. Istriku sangat tidak mengerti diriku. Dia selalu mengomeliku. Sudah tua seperti nenek sihir, menjengkelkan pula." Sama seperti dirimu pak tua, Cayena menyambung dalam hati. "Hanya nona Cayena yang mengerti diriku yang tua ini. Selain cantik seperti bidadari, kau membuatku ingin menjadi muda lagi." Kerut samar di kening merespon perkataan Romi. Cayena hampir saja melempar lelaki tua ini ke bulan. "Tuan Romi, apa Anda bisa mengabulkan keinginanku?" Cayena tidak ingin pembicaraan ini terlalu lama. Dia ingin segera mengakhirinya secepat mungkin lalu pergi dengan membawa surat persetujuan darinya. Ayo, manfaatkan dengan baik lelaki tua ini! "Ohoho, permintaan macam apapun dari nona Cayena, pasti akan kukabulkan." Sambil menggenggam tangan putih Cayena, Duke Romi tersenyum. Senyuman lebar yang membuat matanya melengkung seperti bulan sabit terbalik. Biasanya senyuman yang demikian disukai Cayena, akan tetapi pengecualian bila itu adalah Duke Romi. Cayena sampai bergidik, punggungnya meremang di saat sedang mempertahankan senyum terbaiknya, menahan diri supaya tidak memelintir pergelangan tangan lelaki sepuh ini. Cayena harus banyak sabar. "Aku ingin membebaskan kota Millhaven, tetapi harus memiliki persetujuan darimu selalu dewan sosial. Anda tahu bukan kalau banyak dari warga Manespell terjebak di sana bersama vampir selama bertahun-tahun. Maka, berikan cap persetujuanmu agar aku bisa membebaskan anak-anak di sana." Cayena menjelaskan dengan nadanya yang lembut. Ralat, sengaja dibuat lembut dan terlihat seperti wanita lemah. "Nona Cayena memang berhati malaikat. Tetapi, bukankah di sana sangat berbahaya? Aku tidak mau nona terluka karena hal itu." "Duke Romi, aku adalah seorang kapten tim yang dipercaya militer. Bagaimana aku tidak terbiasa dengan bahaya di saat aku sering bepergian ke luar tembok untuk memusnahkan para monster?" Cayena membela diri. Berusaha meyakinkan lelaki tua genit ini. "Kalau kami tidak berhasil melaksanakan misi itu, aku tidak tahu lagi bagaimana nasib kami sebagai orang militer. Anda tentu tahu kekejaman militer seperti apa bukan?" Cayena mengingatkan fakta bahwa kerasnya dunia militer seperti hampir ingin mati saja. Cayena mengingatkan bahwa hukuman bagi anggota militer yang tidak melaksanakan misinya alias membangkang akan dijatuhi alat pemenggal kepala di lehernya lalu dicap sebagai pengkhianat. Seharusnya para dewan sudah tahu adanya hukuman itu. Cayena berharap lelaki tua itu tidak pikun mendadak. Walau sebenarnya dia berkata dusta sampai harus memakai alasan hukuman tersebut untuk membujuknya dengan cepat. Membohongi orang tua demi kebaikan tidak apa-apa bukan? "Baiklah, jika itu keinginan nona Cayena." Duke Romi mengatakan dengan berat hati, sambil mengelus-elus jemari Cayena dengan jarinya yang masih digenggamnya. Tergambar jelas di raut keriput wajah Duke Romi. Matanya yang semula berbinar ceria, kini tampak meredup cemberut. Duke Romi tidak bisa membayangkan bila nanti Cayena akan mati lebih cepat darinya. Sementara dirinya masih ingin bisa melihat Cayena serta para wanita cantik lain di sisa hidupnya. *** Thomas menyeringai penuh semangat. Di hadapannya Gregor berdiri. Membuat tinggi mereka terlihat kontras berbeda. Thomas seperti raksasa di depan pria tua Gregor. "Tolong berikan aku cap persetujuan darimu. Bahwa kau menyetujui kamu untuk rencana pembebasan kota Millhaven!" kata Thomas antusias sembari menunjukan secaris kertas kepadanya. Gregor mendengus. Tapi dia terkejut, rencana pembebasan kota Millhaven juga bagian dari keinginan teguh dari Sasha. Apakah itu berarti Sasha sudah bergerak hari ini? Gadis itu benar-benar ambisius, pikir Gregor dengan rasa bangga. Kita lihat, sampai mana Sasha usaha kerasnya berlangsung. Gregor penasaran. "Tidak mau." Gregor melipat kedua lengan berototnya di bawah d**a. Dia menolak mentah-mentah permintaan Thomas, anak didiknya dulu. "Apa?" kaget Thomas. "Guru, tolong berikan capnya padaku. Kami sangat membutuhkan persetujuan dari banyak pihak." "Apakah ini kau lakukan atas kehendakmu sendiri?" tanya Gregor. "Aku membantu sahabatku, Sasha. Dia juga anak emasmu, bukan? Bantulah dia. Ini juga demi kebaikan semua orang di masa depan." "Hmp! Tapi ada satu syarat." Mendengarnya, Thomas jadi ceria lagi. "Apa itu?" "Bertarung melawanku. Yang kalah harus menuruti pemenang." Maka duel satu lawan satu pun diterima dengan senang hati oleh Thomas. *** Jika semua teman-temannya harus menghadapi sedikit rintangan demi mendapatkan cap dari para menteri, maka lain cerita di sisi Dina yang begitu mudah mendapatkan cap dari salah satu menteri bangsawan politik. Menteri itu masih muda. Baru diangkat menjadi bagian dari para menteri bangsawan. Dia sosok yang sangat ramah dan hangat. "Aku sangat mendukung kalian. Hanya anak muda seperti kalian yang dapat membawa dunia baru yang lebih baik lagi." Senyuman yang ramah membuat wajahnya yang tampan kian terlihat manis. Dina mendengar rumor bahwa ada menteri termuda dalam jajaran pemerintahan. Mungkinkah orang itu adalah dia? Kalau begitu Dina percaya. Karena gosip yang beredar, mirip sekali dengan karakternya. Tampan, ramah dan manis. Wanita mana yang tidak jatuh cinta? "Terima kasih, tuan Arthur." Hari itu tugas Dina meminta cap darinya pun selesai dengan singkat. *** Hidup Sasha masih bisa dikatakan beruntung bila dibandingkan dengan orang-orang di sana: para b***k yang merupakan pengungsi. Hidup mereka tidak dijamin sejahtera di ibu kota. Kalau saja mereka tahu akan hidup terpuruk seperti itu, mungkin dipikiran mereka mati dimakan monster masih lebih baik daripada menderita dalam lingkaran kemiskinan dan tak berdaya. Sasha geram melihat mereka hidup seperti binatang. Dia geram lantaran tidak dapat membantu mereka. Dia geram pada pemerintah yang tidak memerhatikan mereka. Apa yang bisa dia lakukan pada mereka? Tidak ada. Sasha hanya sesekali memberikan sedikit makanan pada anak-anak itu. Walaupun dia ingin sekali membuat mereka semua tersenyum bahagia bisa merasakan lezatnya ikan bakar, manisnya kue buatan Rose, hangatnya mantel di musim dingin serta nyamannya tidur di kasur empuk. Tetapi kondisi keuangan dirinya saja tidak begitu baik. Gaji sebagai Kinghtly Cane tidak cukup. Karena selebihnya dia difasilitasi dengan mewah. Yah seperti tempat tinggal yang nyaman, air untuk mandi, pakaian, dan lain sebagainya. Di g**g-g**g itulah para pengungsi tinggal dan terabaikan oleh pemerintah. Tetapi karena ini adalah ibu kota, sebagai pusat pemerintahan, pemerintah mengusir mereka yang tidur di jalanan dan berkeliaran dengan pakaian compang-camping merusak keindahan ibu kota, dipindahkan ke tempat tersembunyi yang jarang orang lalui. Tempat itu adalah g**g buntu. Ditempatkan di dalam penjara kayu agar mereka tidak berkeliaran bebas tanpa seizin petugas. Biasanya yang berkuasa atas mereka di tiap tempat adalah para saudagar untuk dipekerjakan tanpa upah, kecuali hanya diberi sepotong roti atau makanan lain. Sasha sedih melihat negerinya seperti ini. Negeri yang makmur akan tetapi rakyatnya menderita. Apakah kaisar tidak pernah tahu kondisi rakyatnya? Keterlaluan sekali. Sasha mendongak, menatap ke langit. Langit biru itu masih sama sejak dulu. Terlihat indah. Sayangnya, tidak seindah pemandangan di daratan. Mungkin jika dilihat dari atas, bumi tampak menawan. Seperti burung-burung yang terbang itu. Ah, bagaimana rasanya bisa melihat semua kehidupan dari atas sana ya? Memiliki sayap dan bisa terbang dengan bebas. Pasti menyenangkan sekali. "Dasar manusia s****h! Bekerja saja tidak becus! Tapi kau masih ingin makan? Bekerja dulu yang benar! Dasar tidak berguna!" Perhatian Sasha harus berpaling ketika mendengar kegaduhan kecil yang ditimbulkan dari seorang pedagang. Lelaki itu menendang perut seorang b***k lemah. Kemudian meninggalkannya kesakitan di tanah. Sasha mengepalkan kedua tangannya geram. Dia sakit melihat penderitaan orang itu. Tidak hanya seorang, ketika Sasha mengedarkan pandangannya ke sekitar, para b***k tampak terpenjara di kandang kayu itu seperti hewan. Mereka terlihat kurus dan kekurangan gizi bagi anak-anak. Sedangkan beberapa penjaga bayaran sedang memarahi mereka dengan bengis. Menghela napas. Sasha ingin menolong. Tapi bagaimana caranya? Dia tidak memiliki kekuasaan di sini. Orang-orang seperti mereka hanya tunduk pada orang berstatus tinggi. Jika dihentikan sekarang, belum tentu mereka tidak mengulanginya lagi di kemudian hari. Hal itu harus diputus dari atas, yakni orang berwenang kuat. Pada akhirnya, dia tidak bisa melakukan apapun untuk membuat mereka bahagia ketika dengan wajah tertunduk dia melanjutkan langkahnya dan melewati semuanya. "Sasha!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN