Misi

1606 Kata
Kegiatan rapat masih berlangsung ketika seorang prajurit masuk dan mengumumkan telah membawa seseorang kemari. Lantas Mayor Anne mengizinkannya untuk ke dalam ruangan. Dan pintu pun segera dibuka dengan Sasha dan Nellas yang berjalan masuk. Melihat seluruh orang di dalam ruangan adalah para petinggi militer, maka dengan sigap Sasha memberi sikap hormat. Ini mengejutkan baginya. Tidak diberitahu dulu bahwa dia akan berada di tengah-tengah rapat mereka. "Namanya Nellas Del Rimgelf. Kalian pun sudah tahu tentangnya. Lalu dia adalah Sasha. Satu-satunya wanita dalam anggota Prajurit Khusus." Mayor Anne memperkenalkan pada mereka. "Tanpa nama keluarga?" Pihak kepolisian menyeletuk. "Tidak ada." Sasha menjawab pendek dan datar. Yang disambut tawa meremehkan dari beberapa pria tua itu. "Apakah divisi ekspedisi sekarang menampung anak haram? Seorang wanita pula! Benar-benar kalian sudah kekurangan orang, huh?" ejeknya menggeleng tidak habis pikir. Sasha hanya diam. Sudah biasa baginya mendengar cacian dari orang lain tentang dirinya yang tak memiliki nama belakang. Karena di dunia ini, nama belakang menjadi sangat penting untuk menunjukan status seseorang. Apakah berasal dari keluarga yang jelas atau tidak -seperti terlahir tanpa ayah sah yang umum disebut anak haram. "Itu tidak penting, tuan Redon," tegas Mayor Anne. Tidak menerima kalimat rendahan yang terucap dari lidah tajam pria subur itu. Sebab hal tersebut sama saja dengan menghina dirinya sebagai atasan dan juga penghianaan kepada divisi mereka yang menaungi Sasha. "Sasha, Nellas, kami membutuhkan kekuatan kalian untuk menghentikan praktik yang mengorbankan manusia untuk memanggil kekuatan devil blo0d." Sasha tertegun. "Devil---apa?" bingungnya membeo pelan. "Devil blo0d adalah kekuatan super power yang akan menyelamatkan umat manusia dari perang melawan para monster itu. Tentunya Nellas kau tidak asing lagi mendengar sebutan ini, bukan?" kata Cesar. "Ya. Devil blo0d adalah dar4h iblis yang mengalir di dalam tubuh manusia terpilih untuk misi menyelamatkan umat manusia. Tetapi hampir tiap abad dar4h iblis ini menjadi incaran lima ras besar dunia untuk dijadikan kekuatan tempur mereka." Jelas Nellas mengetahui istilah tersebut walaupun tidak pernah mengikuti akademi, tetapi pengalaman hidupnya yang lebih lama dari mereka telah membuktikan pengetahuannya. Lain hal dengan Sasha yang justru terbengong. Dia tidak pernah belajar di akademi sejak kecil, kesehariannya hanya diisi dengan latihan fisik bersama Gregor. Namun, dia juga pernah mendengar istilah tersebut dalam cerita yang beredar, dan hanya dia anggap sebagai cerita fiktif belaka lalu dilupakan begitu saja. Siapa sangka cerita fiktif tersebut justru betulan ada di dunia nyata? Sasha nyaris tidak dapat memercayainya. "Devil blo0d telah terdeteksi oleh gereja suci bahwa wadah devil bl0od itu muncul di tahun ini namun kekuatannya belum sepenuhnya terbangkitkan. Kami mendapat laporan bahwa manusia di berbagai desa menjadi sasaran para ras monster untuk melakukan ritual pemanggilan kekuatan devil blo0d. Sudah beberapa tim telah kami kirim untuk mencegah ritual itu dialami lagi setiap kemunculan devil blo0d. Termasuk kalian berdua yang akan pergi ke bumi Utara." "Tunggu!" sanggah Sasha. "Aku ingin kesepakatan dengan kalian." Mereka terkejut. Sasha pikir inilah saat yang tepat untuk bernegosiasi dengan para petinggi militer. Kebetulan juga orang-orang penting dalam dunia militer sedang berkumpul dalam satu ruangan. "Aku ingin ada rencana pembebasan kota Millhaven. Gunakan kekuatanku untuk rencana itu, aku siap demi membebaskan penduduk Millhaven dari kurungan mereka." "Apa? Itu terlalu beresiko!" timpal pihak keamanan. "Pergi berperang juga beresiko. Kami sudah terbiasa menghadapi bahaya, bukan? Mungkin kecuali untuk pasukan keamanan yang menjaga rakyat di dalam dinding." Sasha memberi pembelaan dengan tegas. Dia harus mencapai kesepakatan bersama. "Baiklah. Permintaanmu kami terima, akan tetapi dengan syarat," ujar Cesar. Sasha seakan melihat secercah harapan yang selama ini dia impikan. "Apa syaratnya?" "Kau harus mendapat persetujuan dari seluruh tiga puluh dewan istana, dan juga kaisar." Syarat yang terdengar berat. Bahkan mustahil. "Baiklah. Aku akan mendapatkan persetujuan dari semua pihak kurang dari dua minggu." Tapi Sasha berkata dengan penuh percaya diri. Meski dia tidak tahu bagaimana caranya nanti. "Karena pembebasan kota Millhaven tidak bisa sembarangan, maka aku beri waktu tiga hari dimulai dari hari ini." Sasha agak terkejut, tapi beruntung reaksi kagetnya tertutupi dengan wajah seringainya yang konfiden. "Baiklah, deal!" "Tapi, misi ke utara tetap dilaksanakan setelah tiga hari." Itu sama saja dengan mustahil! Sasha menggertakan gigi. Otaknya berotasi dengan keras. Dia harus mendapatkan keduanya, tidak lalai dari misi dan juga melakukan pengumpulan surat persetujuan dari tiga puluh dewan istana termasuk kaisar. Dapat dia rasakan kepalanya jadi panas sekarang. "Sasha, aku akan membantumu. Jangan khawatir. Mari kita diskusikan bersama di luar," bisik suara Nellas sangat pelan. Sasha tertegun. Dia nyaris melupakan keberadaan penting dari Nellas dan teman-temannya. Bukankah dia bisa saja meminta bantuan dari mereka? Ya, itu pun kalau mereka setuju dengan rencana pembebasan kota Millhaven. "Baiklah, komandan Cesar. Aku akan mengumpulkan surat persetujuan dari mereka dalam tiga hari!" *** "Sasha, kau sangat nekat!" komentar Nellas. "Apa kau serius dengan ucapanmu tadi?" Sasha mendengus. "Apapun yang terjadi, aku akan selalu berada di pihakmu, Sasha. Ayo kita kumpulan semua orang." Maka hari itu mereka berhasil mengumpulkan teman-teman sejawat. Mereka tidak tahu alasan semuanya berkumpul secara tiba-tiba begini. Beberapa di antaranya saling menggumam sebelum rapat dimulai. "Tumben sekali kita dikumpulkan begini. Pasti akan terjadi sesuatu yang menyenangkan," kata Thomas. "Aku harap akan ada banyak makanan enak." Bobby menimpali dengan membayangkan makanan lezat tersaji di meja panjang. Hobi makannya tidak berubah sejak dulu, sehingga membuat tubuhnya tumbuh lebih subur. Mungkin sebagai satu-satunya prajurit dengan tubuh gempal. "Ada hal menarik apa di sini?" tanya Cayena sama bingungnya dengan yang lain. Di kedua sisinya telah hadir dua rekannya, Julius dan Robert yang tak pernah jauh-jauh dari sisi ketua tim mereka. "Sasha dan Nellas selalu saja mengundang misteri." Kali ini Dina mengomentari sepasang sahabat itu. Walau secara usia hanya berbeda setahun lebih tua dari Sasha. Dina tetap menganggap Sasha sebagai kawan seperjuangan bukan sebagai junior. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain. Mereka pernah berada dalam satu kamp pelatihan militer sewaktu remaja dan terpisahkan atas pembagian kelompok dan divisi. "Terima kasih semuanya sudah meluangkan waktu untuk datang ke sini secara mendadak." Nellas membuka pembicaraan. Dia diikuti Sasha serta serigala raksasanya menampakan diri setelah berdiskusi bertiga di tempat lain. Sasha mengedarkan pandangan. Menatap seluruh temannya yang telah hadir di sini. "Sasha ingin melakukan pembebasan kota Millhaven, dan dia telah mendapat kesepakatan dengan komandan Cesar. Syarat itu tidak mudah. Yaitu dia harus mendapatkan persetujuan dari semua dewan di istana termasuk raja dalam tiga hari. Sedangkan esok hari kami berdua sudah harus pergi ke bumi Utara untuk melakukan misi. Bisakah kalian membantu Sasha dan aku?" Nellas mengumumkan penuh harap. Sejenak mereka terdiam berdiskusi bersama. "Aku setuju dengan rencana pembebasan kota Millhaven," ucap Cayena. "Sejak dulu pihak militer hanya diam dan menutup mata atas tragedi di kota itu," tandasnya bijak. "Aku memiliki nenek yang tinggal di sana, dan sudah sepuluh tahun kami tidak bertemu lagi. Sekarang aku tidak tahu bagaimana nasibnya di sana." Dina menyahut dengan khawatir. "Bagaimana pun, penduduk Millhaven adalah penduduk King Manespell juga." Thomas bersuara. "Tolong angkat tangan yang setuju membantu kami," kata Nellas. Satu persatu dari mereka pun mengangkat sebelah tangannya. Tidak ada yang tidak mengangkat tangan. Kesepuluh teman itu bersedia membantu Sasha. "Teman-teman ...." Sasha terharu. Matanya jadi berkaca-kaca melihat kekompakan mereka. Nellas tersenyum. Jarlen di samping Sasha juga mengukir senyumannya yang tidak terlihat dalam wujud serigala. "Baiklah. Kita mulai membagi tugas untuk meminta cap persetujuan para menteri." *** Tanpa ditemani Robert dan Julius, Cayena bisa bergerak sendirian dalam tugas sukarela membantu teman terbaiknya. Kepribadiannya yang ramah serta memiliki senyum ceria, ditambah pula dengan kecantikan sosoknya yang anggun sekaligus perkasa dibalik baju zirahnya, menjadi nilai plus di mata para lelaki tua yang mengagumi Cayena. Sehingga dia dengan mudah dikenal banyak orang, dan hal itu menjadi keberuntungan bagi Cayena untuk mewujudkan tiap langkah tanpa harus bersusah payah mendapat penolakan. Seperti saat ini, Cayena mendekati menteri sosial. Seorang pria tua yang mempunyai rumor bahwa dia lelaki tua mata keranjang. Playboy. Membayangkannya saja Cayena merasa geli saat harus mendekati lelaki tua itu, tapi hanya dia seorang yang bisa meluluhkan pria tua yang dikenal galak itu untuk mendapatkan surat persetujuan. Walaupu dia tahu kalau pria tua genit bernama Romi itu menyukainya. Walaupun dia ingin sekali menghindari pria tua itu di setiap kesempatan. Namun kini, hari di mana dia menghampirinya sendiri dengan berpura-pura bersikap manis hanya demi surat itu, akhirnya terjadi tanpa pernah dia prediksi. Brak! Cayena membuka pintu ruangan Duke Romi secara tiba-tiba. Seketika dia membeku ngeri, nyaris muntah di tempat melihat keadaan di dalam ruang pribadi lelaki tua itu. Karena tepat selurus darinya berdiri, ranjang besar itu terlihat sempit ketika tiga wanita muda tanpa pakaian bermanja-manja di tubuh tuan Romi yang renta. Menjijikan! "Oh, nona Cayena, kau ingin bergabung? Kemarilah, aku akan memanjakanmu." Sinting! Tidak sudi sama sekali! Lebih baik bertarung melawan seratus Orc daripada mendekatinya! Cayena terus memaki dalam hati. Dia berdiri dengan tegap nan penuh wibawa. Fitur wajah Cayena yang dewasa tampak sedingin kutub saat memandang angkuh pada Duke Romi. "Cepat temui aku di taman, sekarang." Cayena tidak mau bantahan. Lantas dia berbalik badan dan berderap lebar menjauhi kamar laknat itu. *** Robert dan Julius sedikit mengalami kendala saat harus mendekati menteri ekonomi. Pasalnya, mereka harus berhadapan dengan seorang pria paruh baya yang pelit. "Dia orang yang pendendam. Kau saja yang maju ya, Julius." Robert berdecak sebal. Kalau saja dia bisa memilih, dia akan memilih pergi ke menteri lain, bukannya ke menteri perekonomian rakyat. "Memangnya kau ada masalah apa dengan Duke Zaro?" tanya Julius tidak tahu. "Ini rahasia. Hanya kau yang kuberi tahu," kata Robert. "Istrinya yang sosialita itu dekat denganku dan membuat tuan Zaro cemburu." Robert masih ingat saat kesalahpahaman itu terjadi di suatu malam di kedai. Robert menghela napas dalam. Bagaimana kalau rencana mereka gagal mendapatkan surat persetujuan dari menteri sombong itu hanya gara-gara dirinya. "Oh, itu, aku sudah dengar." Julius menyahut dengan santai. Sontak saja membulatkan mata Robert yang terkejut. Dia pikir itu aib yang tak diketahui banyak orang. Tapi ternyata.... "Sejak kejadian di kedai itu, berbagai macam gosip bermunculan membicarakanmu. Jadi aku mendengarnya." Astaga. Jadi hanya dirinya yang tidak peka kalau telah menjadi bahan gunjingan semua orang di kedai? Padahal dia sering keluar masuk kedai itu bahkan menjadi pelanggan tetap. Tetapi mengapa tidak ada seorang pun yang menberitahunya? Jahat sekali teman-temannya itu. Robert menepuk dahinya. "Urusan Duke Zaro serahkan saja kepadaku. Toh dia tidak akan menolak jika aku yang memintanya," kata Julius percaya diri. "Kenapa dia tidak akan menolakmu?" heran Robert. "Karena dia adalah pamanku." Skak mat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN