[Masa Kini]
Tiba di desa Emir tepat di hari ketiga saat sore hari, mereka diperbolehkan masuk oleh penjaga gerbang desa setelah memberitahu bahwa mereka pengembara yang butuh tempat istirahat. Ketika belum sampai paruh jalan, seorang pria baya menghampiri kuda mereka. Mereka berhenti untuk mendengar sapaan ramahnya. "Selamat sore tuan dan nona. Sebagai Kepala Desa di sini, aku baru melihat kalian di desa kami." Dia tersenyum menyenangkan memperhatikan sekilas dua orang dan satu serigala besar. Kehadiran serigala besar itu cukup mengejutkan benak Kepala Desa tadi saat melihatnya.
"Ya. Kami adalah pengembara. Apa tuan punya tempat untuk kami bermalam selama beberapa hari?" sahut Nellas.
Kepala Desa tersenyum. "Anda bertanya pada orang yang tepat. Aku punya beberapa kamar kosong khusus untuk pengembara seperti kalian. Karena itu sudah menjadi tugasku melayani pengembara selama tinggal di desa kami."
Sambil berjalan perlahan menarik pelana kuda, pandangan Sasha berpendar ke sekitar. Mengamati lingkungan desa Emir yang baru pertama kali dia kunjungi. Untuk sebuah pemukiman dengan keamanan sederhana, desa ini terlihat damai dan tenang. Tetapi mereka tidak melihat seorang warga pun berkeliaran di luar. Apa mungkin karena sudah sore? pikir Sasha masuk akal.
Mengikuti Nellas yang berhenti di sebuah rumah sederhana usai melewati pesawahan, Sasha mengikat tali kudanya di bawah pohon. Kemudian pintu rumah dibuka dan mereka segera masuk dengan Jarlen yang menoleh sejenak ke belakang yang hening sebelum melangkah ke dalam, menyusul para manusia itu.
"Aku senang kalian datang ke desa ini. Sudah lama desa kami tidak kedatangan pengembara dan membuat keceriaan desa ini jadi redup," buka Kepala Desa. "Wolly! Bawakan minuman untuk tamu kita!" Dia memerintah dan kegiatan merajut jerami yang sedang dilakukan seorang anak laki-laki dipojok ruangan harus berhenti sejenak untuk pergi ke belakang rumah. "Karena hampir setiap ada kedatangan pengembara, kami biasanya mengadakan pesta penyambutan di malam hari. Ah, boleh kutahu sampai kapan kalian di desa kami, agar kami bisa mengadakan pesta untuk kalian."
"Terima kasih, tuan. Rencananya kami akan tinggal selama tujuh hari. Tapi anda tidak perlu repot-repot menyambut kami. Kami hanyalah orang asing di sini," balas Nellas berkata dengan segan.
"Itu sudah menjadi tradisi kami. Setelah desa ini kehilangan salah seorang wanita berharga yang pergi mengembara dan kami mendapat kabar buruk darinya .... desa ini berubah suram dalam sekejap. Jadi aku ingin menghidupkan desa ini lagi dengan mengagendakan pesta penyambutan pengembara sekaligus mendoakan mereka agar bisa sampai pada tujuan dengan selamat." Sudah bukan informasi baru bagi Nellas dan Sasha saat mendengar cerita langsung dari mulut Kepala Desa. Cerita itu persis seperti yang dikatakan Letnan Gery sewaktu rapat tadi.
Lalu seorang anak laki-laki datang menyuguhkan minuman di tengah mereka. Nellas memperhatikan anak laki-laki itu dan bertanya. "Apakah dia anakmu?" Anak laki-laki itu mungkin berusia kisaran sepuluh tahunan. Dia hanya meletakan teh dan berlalu pergi tanpa ekspresi.
"Dia adalah anak angkat kami, karena kami tidak memiliki anak lagi setelah anak perempuan kami bunuh diri." Pernyataan tersebut menyita perhatian mereka. Hingga kemudian suara-suara Kepala Desa dan Nellas perlahan terdengar jauh di pendengaran Sasha. Kulitnya terasa lebih sensitif ketika merasakan embusan udara malam di dalam ruangan. Padahal beberapa lilin menerangi ruangan yang seharusnya dapat menjaga kehangatan suhu di dalam. Tapi hal itu tidak berlaku untuk tubuh Sasha. Dia duduk dengan wajah yang semakin pucat, embusan napasnya mulai memberat dan dia berusaha keras menahan kesadarannya dengan mengepalkan tangan erat-erat sampai setidaknya mereka diantarkan ke ruang kamar, sebelum akhirnya dikalahkan kegelapan yang menariknya lebih kuat bak magnet bumi saat ambruk ke samping tanpa mampu mengendalikan tubuhnya lagi.
Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut menyadari Sasha telah pingsan. Jarlen yang semula duduk tenang pun langsung berdiri dengan empat kakinya karena kaget. Nellas memanggil-manggilnya dengan khawatir, sedangkan Jarlen tampak berdiri gelisah memperhatikan tuannya.
Kepala Desa segera memerintahkan anak buahnya untuk membawa Sasha ke kamar. Kamar mereka bersebalahan di lantai dua rumah KepDes. Sasha mendapat perawatan dari seorang dokter yang dipanggil. Penjelasan dokter cukup membuat Nellas bisa menarik napas lega karena Sasha dikabarkan hanya mengalami demam biasa. Pakaiannya yang lembab juga sudah digantikan oleh bibi tetangga. Tapi, seringan apa pun sakit yang dialami Sasha, itu tetap bukan kabar baik bagi Jarlen yang menemani Sasha sepanjang malam di bawah tempat tidurnya, melingkarkan tubuh lalu tertidur di lantai.
***
Sasha terbangun saat siang hari. Dia mengangkat sebelah tangannya ke atas. Dengan jemari kanannya dia menyentuh gelang yang melingkari tangan kiri. Gelang berbahan alumunium itu tampak masih berwarna hijau di tengahnya. Sasha menghela napas lega. Hingga dia terhenyak tiba-tiba saat menyadari keberadaan Jarlen yang berdiri dari bawah ranjangnya. "Ah, Jarlen .... Kau menungguku semalaman?" Dielusnya kepala Jarlen. Serigala ini adalah makhluk pertama yang dia lihat di kala siuman, sebelum yang kedua muncul dari balik pintu kamar dan menanyakan kondisinya. Orang itu adalah Nellas. Berjalan masuk membawa nampan makanan.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah masih sakit?" Begitulah yang ditanyakan Nellas. Sikap perhatian Nellas hampir saja membuat Sasha terenyuh tapi dengan cepat menghempaskan perasaan itu agar tidak masuk terlalu dalam di hatinya yang mudah baper.
Sasha beringsut bangun untuk duduk. "Ya. Sekarang aku sedikit lebih baik." Sasha menjawab saat Nellas memangku nampannya di tepi tempat tidur.
"Mereka membuatkan bubur untukmu. Makanlah, dan jangan lupakan obatmu." Nellas begitu peduli kepadanya karena status sahabat mengikat mereka. Ah, betapa beruntungnya Sasha memiliki seseorang yang memedulikan dirinya, bukan? Sasha tahu bahwa dengan status sahabat saja dia harus bersyukur. Tapi relung hati ini selalu mengharapkan lebih dari itu. Sasha kesal. Kesal pada hatinya sendiri. Padahal tahu pria ini sudah milik wanita lain. Memikirkannya, Sasha menunduk dengan raut sendu yang tersembunyi oleh helai rambutnya, menatap bubur di pangkuan dengan perasaan tak berselera. "Terima kasih, Nellas." Kemudian dia menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya sendiri.
Nellas tersenyum. Sorot matanya kelihatan sangat tulus memperhatikan Sasha makan. Sebuah tatapan yang membuat orang lain bisa salah paham mengartikan hubungan mereka. Kecuali Jarlen yang berada di antara mereka, menjadi penonton menjemukan, hingga dia beranjak meninggalkan mereka berdua di kamar. Berjalan dengan keempat kakinya di lorong rumah, menuruni anak tangga dan melewati semuanya.
"Bagaimana menurutmu tentang desa ini?" tanya Sasha membuka percakapan. Mulai melakukan diskusi terkait hilangnya setiap pengembara yang datang ke desa ini.
"Yah, desa ini damai dan tidak sepadat Madland. Aku sempat berkeliling tadi dan melihat beberapa petani di sawah, anak-anak bermain, orang tua merajut pakaian di depan rumah, ibu-ibu menjemur pakaian. Semua tampak damai, meski dengan keamanan tidak seketat Madland atau kota besar lain. Menurutmu, kenapa?"
"Karena desa ini dianugerahi perlindungan dari Tuhan. Aku mungkin akan suka dengan desa ini ke depannya." Itu bukan jawaban jujur dari bibir Sasha. Nellas mengeryitkan dahi.
"Yang dikatakan nona Sasha itu benar." Seseorang menyambung pembicaraan mereka. Keempat mata di dalam ruangan beralih menengok ke sumber suara dan mendapati Kepala Desa berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar.
Sasha mengulas senyum manisnya yang kelihatan pucat, merasa benar dengan instingnya tadi saat merasakan kehadiran seseorang di luar kamar. Jadi dia berbicara yang bagus-bagus tentang desa ini jika suara mereka bisa terdengar sampai keluar kamar melihat pintu itu terbuka lebar. Sekarang Nellas mengerti alasan ucapan Sasha terasa tidak serius selama mereka berdiskusi. Nellas lupa menutup pintunya!
"Kepala Desa ...., terima kasih telah merawatku di sini." Sasha mengucapkan dengan segan.
"Itu tidak masalah, nona. Sudah kewajibanku sebagai Kepala Desa di sini untuk membuat siapapun yang berada di desa kami merasa nyaman." Kepala Desa tersenyum ramah, dengan matanya melihat mereka berdua secara bergantian lalu mengatakan. "Kalian sepasang kekasih yang sangat cocok."
Sasha tersentak. Tapi kemudian tersenyum lembut. Sebuah komentar manis bernada serupa tidak lagi membuat Sasha salah tingkah mendengarnya. Ungkapan demikian bukan pertama kali mereka berdua terima. Melainkan orang-orang di Madland melihat mereka seperti pasangan kekasih yang cocok. Bahkan seorang kakek mengira mereka adalah pasangan suami istri baru. Anggapan romantis dari sekeliling orang nyatanya tidak semanis kenyataan. Istilah ucapan adalah doa, nampaknya tidak berlaku untuk hidup Sasha.
"Kami adalah keluarga, tuan." Sasha menegaskan sebelum Nellas angkat bicara. Dia tidak mau mendengar sanggahan apapun dari mulut Nellas. Itu hanya akan terdengar menyakitkan. Masih lebih baik dia sendiri yang menampik kesimpulan orang lain terhadap hubungan mereka berdua. Walau hati tak pernah sanggup berdusta ketika lidah dipaksa berkata lain. Serpihan hati pun dikubur dalam balutan senyuman ceria di bibir.
"Oh, begitukah. Kuharap kau segera pulih agar bisa menikmati pemandangan desa kami, nona."
"Oh! Sekarang pun aku rasa aku sudah sembuh berkat kebaikan hati anda yang merawatku di sini."
"Nona kelihatan bersemangat sekali. Baiklah silakan selesaikan makanan anda kemudian aku dengan senang hati menjadi pemandu wisata untukmu."
"Sepertinya tidak perlu repot-repot Kepala Desa. Dia perlu istirahat beberapa lama lagi. Ingat, minum obat dan teh herbalnya sampai habis, aku akan berbicara dengan Kepala Desa." Nellas kemudian berdiri.
Ketika mereka pergi dari kamarnya, Sasha baru sadar akan hilangnya Jarlen dari sekitar. Kemana perginya serigala kesayangan itu?
***
Jarlen berhenti di bawah pohon apel sebuah bukit. Dia pergi ke hutan terdekat untuk mencari makanan, lalu menemukan pohon apel di sini. Moncong Jarlen mendongak mengamati buah apel merah yang menggantung di ranting. Tampak menggoda di ketika abai dengan kelinci lewat di hadapannya. Dengan gerak-gerik mencurigakan, Jarlen menoleh ke sana-kemari, seakan memeriksa keadaan di sekitar apakah ada orang lain atau tidak. Dan yang dia lihat hanya keheningan perbukitan hutan, sebelum kemudian secara ajaib tubuh serigalanya menjelma menjadi sesosok pria tampan berpostur tubuh atletis tanpa pakaian atas. Rambutnya berwarna kelabu, persis dengan warna bulu serigala tadi. Lengan kokohnya yang putih mulus, terjulur ke atas untuk memetik buah apel dengan mudah. Tetapi, mendadak dia terpaku kaget saat menyadari eksistensi lain. Dia melirik gugup ke samping dan menemukan seorang wanita berdiri di bawah pohon. Menatapnya penuh arti.
"Akhirnya kutemukan anda di sini."
***