Jarlen melirik gugup ke samping dan menemukan seorang wanita berdiri di bawah pohon. Menatapnya penuh arti.
"Akhirnya kutemukan anda di sini."
Kehadiran wanita di hadapannya ini di luar jangkauan radar insting tajamnya. Padahal dia sudah mendeteksi lingkungan sekitar yang bersih dari keberadaan manusia atau makhluk lain kecuali binatang. Tapi begitu mengenali wanita itu, maka hanya kewajaran yang diembuskan napas Jarlen sedikit lega karena bukan orang lain.
"Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini, Monica?" Namanya Monica. Seorang gadis muda dengan potongan rambut kelabu pendek berponi. Jarlen mengenalinya sebagai gadis bermuka datar dan tanpa emosi.
"Tentu saja setelah bertahun-tahun aku berkeliling dunia mencari anda. Tahunya menjadi peliharaan seorang nona manusia." Dan juga berlidah tajam. Di kalimat akhir tersebut terdengar menyindir untuk status Jarlen sebagai werewolf yang dihormatinya. Tapi gadis itu mengatakan dengan nada datar, bahkan tanpa ekspresi berarti, seolah ucapannya tidak bermakna lebih, selain sekadar mengutarakan isi kepala saja tanpa memfilternya terlebih dahulu. Yah, memang begitu karakter Monica. Jarlen mendengus.
Jarlen pikir, setelah sekian tahun mereka tak bertemu, Monica akan berubah menjadi gadis periang seperti anak seusianya. Tapi waktu tidak juga membawa kepribadian Monica sebagai werewolf paling patuh pada majikannya. Bagaimana pun, disebut sebagai peliharaan oleh gadis itu -yang notabene berstatus rendah- tidak membuat Jarlen tersinggung. Jelas tidak, jika yang menjadi majikannya adalah Sasha. "Jadi, ada apa kau menemuiku?" Jarlen langsung pada poin utama.
"Untuk membawamu pulang ke rumah," tandas Monica mutlak seperti yang diperkirakan Jarlen. "Sangat sulit bagiku untuk bisa menemuimu dan berbicara empat mata begini. Penjagaan di Madland sangat ketat, belum lagi saat kalian sedang bertugas di luar dinding. Aku semakin tak memiliki kesempatan ketika para monster itu mengepung kalian. Anda tahu kan kalau aku tak punya kemampuan bertarung sebaik werewolf lain?" Monica bukan werewolf petarung.
"Sudah sejak kapan kau diperintahkan mencariku dan akhirnya menemukanku bersama dengan nona Sasha?" Jarlen ingin tahu seberapa lama gadis ini mengintai dirinya dan mampu bertahan hidup di dunia luar werewolf yang memungkinkan bertarung jika sewaktu-waktu berhadapan dengan musuh di jalan.
"Sudah tiga tahun sejak perintah itu dikeluarkan oleh Baginda Ratu. Dan tiga hari lalu aku menemukanmu saat bepergian bersama sekelompok manusia dan seorang gadis lalu bertarung melawan Level V dan beberapa Orc." Dia menjawab sederhana. Penjelasan itu merujuk pada misi mereka yang dipimpin Sasha untuk menyelidiki hilangnya anggota tim 19. Jadi pada saat itu Monica mengetahui dirinya berada di Madland? pikir Jarlen.
"Aku tidak berniat pulang dalam waktu dekat. Katakan pada Baginda Ratu untuk tidak mengkhawatirkan diriku, karena aku di sini sangat baik-baik saja."
"Ratu sangat merindukan anda, tuan. Beliau berharap dapat bertemu denganmu secepatnya atau paling tidak melakukan permintaannya."
Kening Jarlen mengeryit tidak paham. "Apakah sedang terjadi sesuatu?" selidik Jarlen.
"Kami mendapatkan tanda-tanda kebangkitan Devil Blood."
Sederet kata-kata itu bagaikan serentetan petir yang menyambar langit. Jarlen membeku kaget. Jantungnya berdebar kencang. Sampai membuat dia tak dapat bergerak seujung jaripun, seolah mendengar kabar terburuk. Entah sebuah kesialan atau berkah saat mengetahui tentang Devil Blood yang mengguncang pikiran damai Jarlen. Mungkin setelah ini pikiran Jarlen tidak bisa setenang sebelumnya selain kekhawatiran yang masih dalam bayang abu-abu. Jarlen paham maksud ucapan Monica itu, dia juga jadi mengerti alasan Monica dikirim bukan sekadar membujuk untuk pulang tetapi menyampaikan kabar penting.
"Jadi, Baginda Ratu memintaku untuk menyelidiki siapa pemilik darah iblis itu?" Jarlen menyimpulkan sendiri, dan anggukan kalem Monica menjawabnya. "Kemudian membawanya ke hadapan Ratu?" tanya Jarlen lagi, yang juga mendapat jawaban positif dari Monica. "Ya. Anda harus membawa pemilik darah iblis itu secepatnya sebelum didahului ras makhluk lain."
Jarlen terdiam berpikir. Memperkirakan kesempatan dirinya apakah dapat menemukan pemilik darah iblis tersebut di tengah luasnya dunia dan banyaknya makhluk di bumi. Belum pula jika ras lain sudah mengetahui kabar kemunculan Devil Blood. Akan ada masalah berat yang akan Jarlen hadapi bila mengambil misi ini. "Bisa kau beritahu aku informasi tentang Devil Blood?" Jarlen merasa tidak bisa membiarkan darah iblis ini berada di tangan ras makhluk lain. Itu bisa sangat berbahaya dan akan menjadi s*****a paling mutlak di dunia, sehingga pemimpin ras terkuat sekalipun tidak akan mampu melawan kekuatan darah iblis ini.
***
Sasha sedang meminum teh menghadap jendela kamar ketika sudut matanya menangkap siluet seseorang di bawah sana. Sasha menurunkan cangkirnya perlahan dari bibir sembari matanya terpaku memperhatikan seorang wanita yang telah menarik perhatiannya. Sosok wanita di sana kelihatan begitu sedih. Kemudian Sasha ingat bahwa dia belum pernah menyapa warga desa Emir semenjak memasuki wilayah ini. Maka dia memutuskan untuk meninggalkan kamar dan pergi menuruni anak tangga.
Ketika tiba di luar pintu, pemandangan ramai menyambutnya secara mengejutkan. Seolah-olah desa yang semula seperti desa mati tanpa seorang berkeliaran, sekarang jalanan desa terlihat lebih hidup dengan anak-anak berlarian ceria dan kegiatan orang-orang di sekitar. Persis seperti yang diceritakan Nellas beberapa saat lalu.
Tapi ada hal yang membedakan. Mereka, penduduk desa, tidak mengenakan gelang anti-monster. Sasha tidak tahu alasannya, yang dia tahu bahwa hanya penduduk ibu kota saja yang diwajibkan memakai gelang anti-monster ini.
Sasha berjalan memutar ke belakang rumah, menghampiri punggung seorang wanita. Wanita itu duduk di samping tembok rumah, tepat di bawah pohon, menghadap padang rumput luas yang mengarah pada hutan gelap di kejauhan. Suasana sore hari membuat hutan di sana mulai kelihatan menyeramkan. "Kemana perginya, Jarlen, ya?" gumam Sasha bermaksud mengintrupsi lamunan wanita itu. Lalu dia melirik ke bawah seraya mendudukan diri di rerumputan.
"Halo, aku pengembara di desa ini" sapa Sasha basa-basi. Tapi wanita itu tidak menyahutnya. Dia diam saja dengan memandang jauh. Rambut cokelat panjangnya tergerai, dilihat dari gaun yang dikenakannya, dia tampak bukan wanita lusuh seperti wanita desa pada umumnya. Kemudian Sasha melanjutkan. "Aku melihatmu di sekitaran rumah Kepala Desa, apa kau kerabatnya?" Mungkin istrinya? Sasha lanjutkan dalam hati.
Lagi, Sasha seolah bicara sendirian di sini ketika wanita itu menutup bibirnya rapat. Sasha memperhatikan. Mungkinkah ada yang salah dari wanita ini? Atau mungkin saja tuli? Tatapan wanita itu begitu sayu dan kosong, sedangkan bibirnya bergerak-gerak samar. Meskipun tidak mendapat tanggapan darinya, Sasha tetap berbicara. "Desa ini memiliki pemandangan indah yang tidak kulihat di tempat tinggalku. Jujur saja ini pertama kalinya aku singgah di desa ini. Kalian semua kelihatan hidup bahagia. Bahkan kudengar jarang ada kasus di desa ini mengenai makhluk pemakan manusia."
Kemudian seorang anak laki-laki semalam terlihat keluar dari pintu samping rumah, membawa keranjang pakaian untuk menurunkan pakaian dari jemuran kayu. Melihat anak laki-laki itu, Sasha jadi penasaran mengapa Kepala Desa mengangkatnya jadi anak setelah kematian anak kandungnya. Apakah kedua anak itu bersahabat, jadi Kepala Desa mengangkatnya jadi anak sendiri? "Apa kau mengenal anak itu? Dia anak laki-laki yang rajin mengerjakan pekerjaan rumah tangga, ya. Aku terkagum melihatnya." Sasha berkomentar tulus. Bila dibandingkan dengan anak laki-laki yang sering dia temui di Madland, kebanyakan dari mereka hanya bisa bermain dan menjahili anak gadis.
"Anak...? Anakku masih...." Wanita itu berbicara serak, tetapi berhenti tiba-tiba dengan ekspresi tercekat. Lalu dengan gerakan kaku dia mengangkat kedua tangannya dan mencengkram sisi kepalanya kuat. Secara mengejutkan lagi, wanita itu menggeram-geram berteriak panik dengan keras. Sasha tercengang bingung melihat perubahan signifikan emosi wanita ini. "Apa kau baik-baik saja?" khawatir Sasha. Seketika tangannya disentak oleh tangan wanita itu, yang membuat Sasha tidak tahu harus melakukan apa untuk menenangkannya.
Wolly yang sedang menjemur pun mendengar teriakannya, dia menoleh ke sumber suara, sebelum berlari mengitari rumah, dan tidak lama dua pria berlari mendekat. Mereka menjegal paksa lengan wanita itu. "Anakku!!!! Lepaskan aku! Ah! Anakku!!!"
Sasha terdiam melongo saat wanita itu akhirnya diberikan suntikan ke leher hingga jatuh pingsan. Dia mencerna apa yang terjadi pada wanita itu sampai harus disuntik obat tidur. "Tunggu," tahan Sasha ketika menyadari keberadaan Wolly yang hendak pergi. "Apa kau tahu apa yang terjadi padanya?" Sasha pikir anak laki-laki ini tahu sesuatu.
"Dia adalah istri Kepala Desa," ungkapnya memandang datar wanita itu yang digendong masuk ke rumah. "Dia menderita depresi berat setelah puterinya tewas bunuh diri karena dinodai oleh para goblin. Kepala Desa sudah mengerahkan pasukannya untuk mengamankan desa, tapi mereka kalah jumlah, dan tidak sanggup lagi menghentikan serangan goblin yang kadang datang tiba-tiba ke desa dan m*****i anak perempuan."
"Kudengar desa ini aman dari serangan makhluk buas. Apakah itu tidak benar?" Sasha merasa yang sedang dilakukannya sekarang semakin mendekati kebenaran. Kecurigaan instingnya akan terbukti.
"Ya, desa ini aman dari serangan goblin. Karena Kepala Desa melakukan perjanjian kerjasama dengan mereka."
Lalu dari kejauhan seseorang melambai meneriakan anak laki-laki ini. "Hoi! Wolly! Cepat kemari!" Tanpa menjelaskan lebih detail lagi dia beranjak meninggalkan Sasha yang masih terbengong. "Lebih baik kau pergi dari desa ini sebelum malam datang." Suara anak laki-laki itu berbisik pelan seperti desiran angin, sehingga nyaris tidak dapat sampai ke pendengaran orang didekatnya sekalipun. Namun tidak berlaku bagi Sasha. Indra rungunya menangkap kalimat tersebut begitu jelas ditambah matanya sempat membaca gerak bibir tipis Wolly, yang membuat dirinya mematung kaget.
"Ada yang tidak beres dengan desa ini."
Malamnya, desa kelihatan meriah. Mereka mengadakan pesta penyambutan pengembara di tanah terbuka dengan mendirikan tenda minuman dan meja-meja kursi panjang yang kini ditempati penuh para pria. Beberapa wanita dan anak muda lainnya menari-nari diiringi musik accordian dengan gembira. "Bagaimana kondisimu?" tanya Nellas yang mendekat. Dia masih khawatir dengan keadaan Sasha yang sempat jatuh sakit semalam.
Tapi Sasha mengangguk pelan sambil menjawab. "Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Lalu meneguk wine-nya. "Aku punya sesuatu untuk dikatakan padamu." Sasha menyambung ucapannya. Berpikir bahwa informasi dari Wolly akan sangat berguna untuk penyelidikan mereka di desa ini.
"Aku juga punya hipotesis yang perlu kudiskusikan denganmu."
"Tapi sepertinya tidak bisa sekarang, karena Kepala Desa mencari kita," ucap Sasha dengan gayanya yang santai meneguk wine lagi bertepatan ketika Kepala Desa berhenti di antara mereka dengan senyuman ramah.
"Bagaimana dengan pesta ini? Maafkan kami jika pesta ini tidak begitu mewah dan meriah." Kepala Desa merendah. Bahkan mengadakan pesta minum-minuman begini saja mungkin sudah mengeluarkan dana mereka. Bagaimana Sasha dan Nellas tidak bisa menikmati acara penyambutan ini sebagai bentuk menghargai?
"Itu tidak benar, tuan. Menurutku tidak ada acara seperti ini di desa lain untuk pengembara seperti kami." Nellas menyahutnya tanpa menurunkan kehormatan Kepala Desa. Membuat target mereka senang adalah bagian dari misi demi menghindari kecurigaan orang sekitar. Kemampuan membaur dengan lues memang harus dimiliki setiap anggota khusus Madland.
Malam itu mereka berdua terpisah. Nellas dikelilingi para pria dan sedang bermain permainan di satu meja. Sedangkan dirinya, Sasha, diserbu para wanita yang menawarkan wine mereka. Sasha kebingungan, sehingga kini dua tangannya memegang gelas wine. Gelas mana dulu yang harus dia minum?
Namun, melihat mata berbinar para gadis di sekelilingnya, membuat Sasha tidak tega jika mengabaikan wiski pemberian mereka. Karena bagi budaya orang desa, bila tuan rumah memberikan makanannya pada orang asing, itu artinya mereka telah diterima di lingkungan tersebut. Tetapi, mereka juga akan kecewa seandainya dia menolak kebaikan hatinya. Itu dianggap tidak sopan dan tidak tahu terima kasih. Hal ini membuat Sasha dilema.
Hingga akhirnya dengan polosnya Sasha meneguk wine di tangan kiri sampai habis lalu mendesau panjang, menunjukan bahwa dia menikmati wiski mereka. "Bagaimana kalian bisa mempunyai wiski seenak ini!" jujur Sasha terpesona.
"Kami mengambil sumber bahannya langsung dari gunung."
Percakapan terus berlanjut ketika Sasha mulai merasa pusing di kepala dengan pandangan yang kabur. Kondisi ini sangat Sasha kenali. Bahwa dia sedang mabuk berat. Tapi Sasha heran. Karena tidak biasanya dia mudah mabuk hanya dengan satu gelas wiski, kecuali memiliki kadar alkohol tinggi. Ya! Ah, kini Sasha mengetahui jawabannya, adalah wiski yang dia minum mengandung alkohol tinggi. Pantas saja!
Sasha pikir dirinya tidak bisa bertahan lama lagi duduk di sini. Keramaian di sekitar hanya membuat kepalanya semakin berdenyut sakit. Maka dia beranjak pergi dengan alasan sedang tidak sehat. Dia berjalan sempoyongan di lorong menuju kamar. Hingga tiba di kamar, Sasha langsung ambruk di kasur. Dia tidak bisa mengendalikan kesadarannya lagi. Kantuk berat membebani matanya.
Sementara itu Jarlen dalam wujud serigalanya sedang berlari menuruni gunung untuk kembali ke desa. Hutan menjadi sangat gelap tetapi dia mampu berlari tanpa hambatan. Begitu sampai, dia berhenti dengan terkejut melihat keramaian suasana desa. Beberapa di antaranya juga terbelalak ketakutan melihat serigala sebesar itu. Membuat suasana kacau seketika. Namun Kepala Desa dengan cepat menenangkan mereka dan menjelaskan tentang serigala berukuran tak lazim itu bahwa milik tamu mereka.
Ketika tahu Jarlen merupakan serigala jinak, dalam sekejap mereka membaur dengan Jarlen. Memanjakan serigala itu dengan elusan lembut hingga anak-anak yang naik ke punggung berbulunya. Sambil Jarlen berjalan gagah melewati orang-orang untuk mencari keberadaan Sasha.
Di lain sisi, anak laki-laki bernama Wolly, mendengus jengah menutup matanya. Dia berdiri di balkon belakang rumah. "Bukankah sudah kubilang untuk pergi dari desa ini sebelum malam," bisiknya penuh arti, dengan tatapan tertuju datar pada bayangan seorang pria memasuki hutan seraya memanggul karung dipundak. Kemudian Wolly beranjak masuk ke dalam rumah saat angin malam bertiup dingin.
Karung yang tampak berisi penuh itu dijatuhkan ke tanah dengan pelan. "Kami persembahkan ini untuk kalian. Sesuai janji antara kalian dan kami," kata pelayan pria yang bekerja untuk Kepala Desa itu.
"Ya, tentu saja. Goblin selalu menepati janji mereka." Yang mengatakan itu adalah seorang goblin. Makhluk kerdil berkulit hijau kasar dengan mayoritas memiliki perut buncit, bertubuh lebih besar dan lebih gemuk dibanding goblin biasa. Dia pemimpin kelompok goblin di wilayah ini.
Kesepakatan yang telah terjalin tidak bisa diganggu gugat lagi. Setelah pelayan pria itu pergi dari goa remang-remang, para goblin lain mengambil alih bersama isi karung yang rupanya berisi seorang gadis tengah terlelap nyenyak. Diangkat ke tandu untuk kemudian dipindahkan ke sisi lain ruangan goa. Mereka membaringkan Sasha di meja batu lalu menyeringai lebar, menatap penuh gairah pada gadis berambut merah itu. Dia menjulurkan lidah, lidahnya panjang sampai dapat menyapu dagunya sendiri seperti gaya orang kelaparan melihat makanan. Lalu dalam sekejap potongan kain berserakan acak saat tangan hijau berkuku runcingnya bergerak mencabik-cabik.
Tepat setelah dia selesai mengikat sebuah tali di kaki t*******g Sasha, seorang goblin menghampiri seraya melaporkan. "My Lord, nona sedang dalam perjalanan kemari."
Bos goblin itu berhenti. Mendengar ucapan bawahan setianya, ekspresi wajahnya langsung berubah datar. "Berapa lama lagi?" Kabar itu terlalu mendadak baginya untuk melakukan ritual ini.
"Mungkin sekitar dua jam akan tiba."
Dia menggertakan gigi. Menunjukan deretan giginya yang tebal dengan beberapa bentuk lancip. "Cih! Baiklah kita berpesta dulu dengan gadis manusia ini sebelum dia datang dan mengacaukan segalanya."
Ketika itu Sasha terbangun. Matanya terbuka perlahan dengan kerut di dahi saat rasa pengar masih membebani kepalanya, dan segera menyadari dirinya bukan berada di kamar terakhir kali tertidur. Melainkan atap batu dengan penerangan minim, hanya bermodalkan cahaya obor di dinding batu. Dalam sekejap Sasha mengenali tempat ini sebagai goa. Tapi, dimana dia sekarang? Apakah dia sedang bermimpi?
"Oh, nona cantik ini sudah bangun?"
Suara berat menyentak Sasha yang sontak menoleh. Kehadiran sejumlah goblin di sekelilingnya membuat Sasha terpaku kaget. Jelas dia berada di tangan musuh! Sasha bertambah kaget lagi ketika sadar pergerakannya tidak bisa leluasa. Melihat ke setiap sisi tubuhnya, ternyata kedua tangan dan kakinya telah dibentangkan kuat dengan tali. Tidak hanya itu. Sasha syok mengetahui pakaiannya telah tanggal tanpa sisa. Sasha menggeliat. Berusaha melepaskan diri dari jeratan tali.
Namun usaha itu justru hanya membuatnya kelihatan lebih menggoda hasrat goblin yang melihat di sini. Mereka bisa saja langsung menyerang Sasha bila tak ada kehadiran lord mereka di depan. Goblin yang berdiri paling dekat dengan meja pembaringan Sasha adalah goblin bergelar lord. Lord merupakan sebutan gelar pemimpin wilayah. Sama seperti gelar bangsawan kerajaan pada manusia.
"Kau takkan bisa lepas dari kami kecuali kami izinkan. Nasibmu tak lebih sama dengan mereka, nona. Tapi karena kau terlihat istimewa, jadi kami akan perlakukanmu dengan istimewa." Lord goblin mengutarakan ketika Sasha mengedarkan pandangan dan terpaku mendapati beberapa wanita serta anak perempuan tergeletak lemas di berbagai tempat dalam kondisi nyaris n***d, di antaranya terdapat tengkorak manusia.
Apakah mereka orang-orang di desa Emir? pikir Sasha, karena tidak ada pemukiman terdekat dari sini. Tunggu dulu, bagaimana dia bisa berasa di tempat ini? Padahal terakhir kali dia ingat pergi ke kamar karena mabuk berat. Selanjutnya tidak ada ingatan apa-apa lagi. Hanya satu pertanyaan muncul di kepala. Siapa yang membawanya kemari?
Sibuk berkelut dengan pikirannya, sesuatu datang menabrak tubuhnya. Kontan saja Sasha berteriak. "Lepaskan aku! Dasar goblin sinting!" Sasha menggeram marah. Tapi dia tidak dapat meloloskan diri dari tali yang mengikatnya. Alhasil serangan goblin kian bertambah, dan teriakan Sasha menggema membelah langit malam.
Di desa, Nellas mulai mencari keberadaan Sasha ketika di sejauh mata memandang tidak menemukan gadis itu. Dia berjalan ke sana kemari sambil mengamati setiap wanita di sekitar apakah ada Sasha di antara mereka? Sampai dia berhenti di hadapan seorang wanita yang terakhir kali dia ingat pernah mengobrol dengan Sasha. Tapi sayang, tidak ada satu jawaban positif mengenai Sasha.
Tenanglah .... Tenanglah Nellas. Kegelisahan di benaknya terasa ganjil walau sudah mencoba mensugestikan diri bahwa Sasha mungkin pergi menyelidiki sesuatu, itu tidak bisa dihilangkan dengan mudah.
Perasaan yang sama juga berlaku bagi Jarlen. Tetapi karena dia serigala dengan penciuman tajam, jadi dia hanya perlu berjalan mengikuti jejak bau Sasha, hingga empat kakinya berhenti di depan ranjang kamar Sasha. Namun yang dia dapati tidak mendapati Sasha. Sejenak Jarlen terdiam bingung. Di kamar ini, dia malah mendapati bau orang lain yang asing.
Lalu Jarlen menutup matanya dengan tenang, dan segera bayangan langkah kaki memasuki ruang kamar Sasha. Jarlen seakan bisa melihat orang itu memasukan Sasha yang tertidur ke dalam karung. Seketika Jarlen terbelalak. Pupil mata peraknya mengecil. Tanda bahwa dia sedang dalam emosi buruk.
***
Sasha terbaring lemas, kelihatan tidak berdaya. Kini punggung mulusnya telah dihiasi banyak goresan. Sasha yang terbaring miring, meski tatapannya menatap gelang -masih- bercahaya hijau di pergelangan tangan, dunia Sasha sudah tidak berada di sini lagi. Matanya tampak kosong, melihat kilas balik yang sedang berputar di ingatannya.
Sasha kecil mematung ketakutan di mulut pintu. Dia gemetar. Di tengah ruangan gelap itu, dengan cipratan darah m*****i tirai jendela, dia menemukan ibunya tergeletak di lantai bersimbah darah. Sejumlah bayangan orang bertubuh kerdil berdiri di sekitarnya. Sasha kian menggigil ketakutan. Seorang lagi berjongkok di dekat ibunya, memakan isi perutnya dengan lahap. Sasha tidak tahu siapa mereka, sosok mereka tersamarkan gelap, kecuali siluet kerdil itu sangat mirip dengan wujud goblin.
Goblin!
Sasha menggertakan gigi. Para goblin lah yang telah membunuh ibunya! Sasha menggeram marah. Ya, kematian ibunya takkan terjadi semengerikan itu kalau tak ada goblin di dunia ini! "Ggrrrhhh!" Kemarahan menyelimuti Sasha. Tanpa disadari, perubahan aneh terlihat pada fisiknya. Setiap kuku-kuku tangannya tumbuh cepat dan memanjang. Urat-urat merambat naik dari leher hingga sisi-sisi wajahnya, diiringi suara geraman dalam.
Seluruh ghoul di goa tersentak, dan seketika kegiatan mereka berhenti saat merasakan kekuatan besar yang menyebar bagai menenggelamkan oksigen di penjuru goa. Sebagian besar para goblin gemetar ketakutan merasakan kekuatan ini.
Lalu Sasha beringsut bangun, yang secara ajaib tali di kaki dan tangannya lenyap perlahan bagai kertas dibakar api hingga berakhir menjadi abu. Tanah lembab dan kasar khas goa segera bertemu dengan kedua telapak kaki telanj4ngnya. Dia berada di dalam ruangan goa yang lumayan luas saat melihat para goblin di sekitarnya melongo seperti orang t***l. Mereka semua yang ada di sini, adalah pelaku atas pelevej terhadap dirinya. Sasha menatap bengis, dengan aura mengerikan.
Sasha meraih goblin terdekat, mencengkram leher kecilnya untuk diangkat tinggi-tinggi. Dia menekannya kuat sebelum suara khas terdengar dari goblin ini. Mata para goblin terbelalak karena tercengang melihat Sasha mematahkan tulang leher rekan mereka dalam sekali tekan, bukan mencekiknya. Disusul beberapa goblin berdatangan dari jalur masuk, memegang tombak, mereka bersiaga untuk menyerang.
"Hmmm." Sebuah seringai miring terbit di bibir Sasha. Sepasang iris hazelnya bergerak memindai sekitar untuk menghitung kasar jumlah mereka yang mengepung.
Para goblin tidak mengerti dengan perubahan gadis manusia di depan mata mereka. Mereka terpaku bingung, sehingga hanya bisa tergagu di tempat seperti orang bodoh yang kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan apa yang mereka lihat sekarang. Karena Sasha yang terlihat di mata para goblin bukan monster -jelas mereka bisa membedakan mana manusia dan bukan manusia- tetapi aura yang menari-nari dari gadis itu merupakan aura khas monster berkekuatan besar.
Lord goblin menggertakan gigi. Apakah dia baru saja ditipu oleh manusia tadi? Membawa monster ke wilayahnya sama saja mengancam seluruh hidup goblin di lembah ini. Lord goblin memiliki tanggung jawab atas kehidupan mereka dari marabahaya. Dan gadis yang baru saja mereka permainkan ini menjelma menjadi monster di dalam tubuh manusia.
Lord goblin melirik ke bawah kaki Sasha. Satu bawahannya telah tewas bahkan belum sempat melawan. Menyedihkan. Memikirkan semua ini hanya mengundang emosi saja, sehingga dia memasukan jemari berkuku tebal dan runcingnya ke dalam telapak tangan, mengepal kesal hingga satu perintah dikeluarkan. "Apa yang kalian tunggu! Serang dia!"
Para goblin berlari menyerang dengan semangat. Sedangkan Sasha menarik satu sudut bibirnya. "Kalian konyol sekali," ujarnya bernada angkuh.
***
Nellas berlari secepatnya mengikuti Jarlen yang memasuki lembah. Instingnya yakin kalau Jarlen juga sedang mencari Sasha. Jika dirinya tidak dapat menemukan Sasha di mana pun, maka Jarlen bisa menemukannya dengan mengandalkan penciuman tajam khas serigala. Lain hal dengan dirinya yang merupakan seorang Elf. Elf memiliki mata tajam yang berguna melihat objek dikejauhan sampai jarak dua ratus meter serta energi sihir di udara yang tak bisa dilihat mata makhluk lain. Itulah keunggulan dari ras Elf.
Energi sihir, ya? Seketika Nellas terhenyak luar biasa. Matanya menatap kaget ke langit malam dengan penerangan rembulan. Dapat dia temukan cahaya oranye-hitam dari balik gunung di sana, dan merasakan energi besar yang tertahan oleh sesuatu. Perasaan Nellas mendadak tidak nyaman.
Hal yang sama dirasakan benak Jarlen. Dia gelisah. Terus berlari dengan cepat, menembus udara malam yang tak berlaku dingin bagi bulu lebatnya. Keempat kakinya berpijak kokoh, menjejak tanah lembab dengan kuat, meranggas rerumputan liar bak diterpa angin. Jarlen tahu Nellas mengikutinya, dan sekarang lumayan tertinggal jauh di belakang. Kecepatan kaki elf tidak selamban manusia, juga tidak secepat vampir. Meskipun begitu, Jarlen tidak punya waktu menunggu sahabat Sasha itu menyusulnya. Dia hanya berlari dengan segenap pikiran terfokus pada bau Sasha.
Setelah melalui jalanan hutan berliku dan gulita, menerjang sungai dangkal hingga memasuki kawasan lembah yang dikelilingi gunung, Jarlen berhenti sejenak di depan mulut goa. Di sini bau Sasha semakin tajam tercium. Apa yang terjadi sebenarnya? Jarlen bertanya-tanya alasan Sasha bisa berada di goa ini. Sembari kakinya melangkah dengan gagah ke dalam goa gelap.
Seketika, bau menyengat menusuk penciuman Jarlen. Jika dia dalam bentuk manusia, dia akan mengerutkan hidungnya sebagai reaksi manusiawi. Jarlen berjalan perlahan mengikuti arah bau Sasha di tengah bau darah busuk. Jarlen mengenali bau darah ini, bukan darah manusia. Melainkan --segera dia temukan jawabannya di depan mata-- terlihat lorong itu dipenuhi mayat goblin. Mereka bergelimpangan di tembok goa dan beberapa menghalangi jalan. Jarlen melangkahi mayat mereka sembari mengamatinya. Dari luka di tubuh mayat goblin itu, dengan cipratan darah di tembok yang masih basah, genangan merah yang masih segar membanjiri lorong, mereka semua belum lama menjadi mayat tak berguna. Seseorang baru saja membantai mereka dengan k**i.
Diikuti Nellas telah tiba di dalam goa dan langsung menutup hidung, dia berjalan mengikuti jejak Jarlen ke dalam lorong goa yang gelap. Benar-benar gelap tanpa cahaya sedikit pun. Tetapi kegelapan tidak berlaku untuk mata elfnya. Dia dapat melihat di dalam kegelapan meski jarak pandangnya sedikit lebih sempit dibanding saat di luar. Hingga langkah sepatu boots kulitnya berhenti di ruang goa yang luas, dan menemukan Jarlen mematung menatap ke depan.
Nellas mengernyitkan dahi karena heran melihat Jarlen diam saja di sana. Akhirnya dia meluruskan pandangan, mengikuti arah pandang Jarlen. Sedetik kemudian matanya membelalak ketika Jarlen bergerak tenang mendekati Sasha. Nellas terpaku antara bingung dan kaget saat mendapati punggung Sasha berdiri tangguh tanpa sehelai benang di tengah-tengah goblin tak bernyawa sambil memegang tombak goblin yang telah berlumur darah. Para goblin itu tampak tewas mengenaskan.
Sasha tertunduk dengan raut sedih. Genggaman senjatanya melemah sampai dibiarkan meluncur begitu saja ke bawah kaki, sebelum dirinya terjatuh bersimpuh lemas. Anak rambut merahnya yang berantakan, menghalau sebagian wajah Sasha. Dia tampak kacau. Pandangannya gemetar seperti orang linglung. Hingga saat kedua pundak mulusnya ditutupi jubah dari belakang, Sasha tersentak tiba-tiba, menyadari dirinya tidak sendirian di dunia ini.
"Maafkan aku. Aku datang terlambat." Suara Nellas terdengar rendah dengan nada menyesal. Dia berdiri tepat di depan punggung terbungkuk sahabatnya. Sementara Jarlen diam di sisi lain.
Sasha hampir melupakan kehadiran mereka berdua. Baik Jarlen maupun Nellas adalah orang terdekat dalam hidupnya. Bagaimana bisa dia melupakan peran penting mereka yang nyatanya setia di samping dirinya dalam segala hal.
Pikiran Sasha terlalu kalut tadi. Dibutakan oleh kekejaman masa lalu. Membuat dia mengamuk untuk pertama kalinya, dan membant4i seluruh goblin di dalam goa, baik yang terlibat dalam kasus pelec3hannya ataupun yang tidak. Sasha tidak mengerti mengapa dirinya bisa melenyapkan mereka semua tanpa kesulitan. Dia seolah didorong oleh sesuatu yang mengalir kuat di dalam darahnya. Sasha teringat bahwa dia memiliki regenerasi tak lazim bagi manusia, apakah ini berhubungan dengan sifat regenerasi tubuhnya yang cepat?
Melirik gelang di pergelangan kiri, saat aksi gilanya tadi, dia sempat melihat cahaya hijau pada gelangnya meredup. Tapi sekarang sudah kembali normal. Bisa gawat jika sampai orang lain tahu dia berbeda dari manusia biasa. Terutama sang pencipta gelang sihir ini, Sasha berharap penyihir itu tidak menyadari perubahan aneh pada salah satu penggunanya.
Sasha bangkit. Pakaiannya telah menjadi potongan tak berguna lagi oleh para goblin. Sehingga hanya jubah hijau tua milik Nellas yang sekarang menutupi seluruh pundak hingga lututnya. Kemudian dia membalikan badan menghadap mereka berdua. Menunjukan wajah baik-baik saja seraya tersenyum kecil menatap mereka. "Bagaimana kalian bisa tahu aku ada di sini?" tanya Sasha terkesima.
"Aku mengikuti Jarlen. Sepertinya Jarlen memiliki penciuman tajam mengenai baumu." Nellas menjawab demikian. "Apa kau terluka?"
"Yah, hanya lecet, bukan luka parah." Jeda sejenak untuk memindai pandangan. Langit-langit goanyang tinggi serta sejumlah obor yang masih menyala, membuat Sasha dapat melihat keadaan sekitar. "Sekarang aku tahu mengapa Letnan meminta kita menyelidiki desa ini," sambung Sasha.
"Ah, jadi dugaanku benar tadi siang...." gumam Nellas. "Sewaktu berkeliling desa, aku menemukan jejak goblin. Aku sempat ragu itu jejak goblin, tetapi karena tidak ada manusia yang mempunyai telapak kaki lebar dengan jarak langkah yang pendek, membuatku yakin jejak yang kutemukan adalah jejak kaki goblin. Dan sekarang sudah terjawab. Ternyata desa Emir dekat dengan wilayah goblin."
"Dulu, para goblin ini pernah berperang melawan warga desa Emir setelah anak perempuan Kepala Desa diculik dan dinodai sampai berakhir bunuh diri. Namun, warga desa kalah. Lalu Kepala Desa membuat perjanjian agar anak perempuan mereka tidak menjadi sasaran goblin. Yakni dengan menumbalkan pengembara wanita setiap sebulan sekali. Dan kebetulan salah satu pengembara wanita itu adalah aku. Mereka membuatku mabuk berat sampai tidak sadarkan diri. Saat aku tertidur, mereka membawaku ke tempat goblin." Sasha menyimpulkan perkara, dengan berdasarkan informasi dari anak laki-laki bernama Wolly di desa.
"Dan sekarang, warga desa telah aman dari serangan goblin lagi, bukan? Misi ini selesai berkat dirimu. Aku bangga padamu, Sasha." Pujian dari Nellas bernada jujur. Pria elf itu tersenyum lebar penuh bangga menatap sahabatnya yang tangguh.
"Ayo kita kembali ke desa, dan mengumumkan kabar ini." Sasha berjalan mendahului.
Keluar dari goa yang kini menjadi kuburan para goblin. Tanpa mereka sadari, pergerakan samar mengamati mereka dibalik kegelapan hutan. Setelah memastikan mereka bertiga benar-benar pergi, barulah dia merangkak masuk dengan terburu-buru ke dalam goa. Menemukannya Lord goblin tewas mengenaskan, goblin wanita itu hanya bisa berdiri tercengang.
Tiba-tiba dia ambruk. Kedua kakinya tak mampu berdiri lagi melihat kenyataan di depan mata. Dengan segenap kesedihan, dia meraih tubuh Lord goblin. "Sayang, mengapa kau harus mati secepat ini?" Dipeluknya kepala Lord goblin penuh haru. Dia berduka. Kehilangan orang tercinta sama dengan jiwa yang dicabut dari akarnya. Untuk beberapa menit dia berdukacita menangisi kepergian kekasih.
Kemudian dia berbalik dengan raut tegang. Menghadap beberapa goblin pengawal yang menemaninya sampai ke tempat ini. Matanya menatap tajam. Kemarahan terlihat dari wajah berkulit hijaunya. "Aku akan pergi memberikan pembalasan pada mereka!"
***