Kepala Desa terkejut mendengar pernyataan dari Sasha. Sejenak ruang tamu jadi sunyi. Ada perasaan lega dan gembira di benak Kepala Desa. Pula tersirat penyesalan sekaligus malu karena telah mengorbankan Sasha kepada goblin. Dia mengepalkan tangan di atas lutut dan tertunduk dalam-dalam. "Maafkan kami, nona."
Sasha menggertakan giginya karena kesal atas kejadian ini yang dibiarkan begitu saja. "Kenapa kau tidak meminta bantuan kepada kami di Madland?" Benar. Satu kejanggalan belum terjawab di benak Sasha mengenai hal ini. Padahal prajurit Madland siap dikirim ke wilayah mana pun yang diserang makhluk buas.
"Kami sudah pernah melakukannya, tetapi mereka meminta bayaran tinggi. Sedangkan kami tidak memiliki banyak uang. Sejak saat itu kami tidak lagi meminta bantuan ksatria Madland ataupun prajurit kota lain." Pengakuan Kepala Desa menjadi kabar tak sedap di telinga mereka. Sasha sampai tercengang dengan mulutnya terbuka. Bahkan baru kali ini Sasha mendengar kasus korupsi yang dilakukan ksatria kerajaan. Sasha tidak pernah tahu perbuatan para petugas keamanan rakyat ini.
Lebih-lebih, mengapa raja tidak mengirimkan sekelompok ksatria secara merata ke seluruh wilayah kekuasaannya? Sampai-sampai desa ini kecolongan. Cih! Menjengkelkan. Dia tak bisa membayangkan sudah berapa banyak wanita dan anak-anak perempuan menjadi korban kejahatan goblin. Pantas jika mereka memilih bunuh diri daripada melanjutkan hidup. Beruntung, Sasha masih memiliki akal sehat meskipun mentalnya sempat dipermainkan di goa. Sepertinya aksi pembanta1an tadi berhasil melepaskan kekacauan yang ada di d**a, membuatnya kembali pulih dari syok berat dengan cepat, dan bangkit dari keterpurukan. Karena, dia punya urusan di dunia yang belum selesai.
Esok harinya mereka sudah dalam perjalanan kembali ke Madland. Sering mereka temukan musuh di perjalanan. Ini bukan perjalanan yang mudah dan aman. Ada banyak monster pemakan manusia di mana-mana: pasukan Orc dan level V yang berkeliaran, di saat malam pun mereka sulit tidur dengan nyaman karena diserang vampir yang hilang akal akibat haus darah. Beruntungnya vampir itu bukan tipe bangsawan seperti yang mereka tahu memiliki tingkatan kekuatan berbeda. Sehingga dapat dengan mudah dilenyapkan meski tidak bisa diremehkan.
Dunia luar sangat berbahaya bagi manusia. Itulah mengapa raja Kings Manespell terdahulu memetakan umat manusia dalam satu dinding di beberapa wilayah kekuasaannya dengan penjagaan ketat. Tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi pemukiman sebuah desa. Pagar kayu yang mengelilingi desa tidak menjamin keamanan manusia di dalamnya. Oleh karena itu banyak dari mereka bermigrasi ke kota-kota besar Kings Manespell. Namun, masih ada pula sejumlah desa yang mempertahankan tanah kelahiran mereka dihuni. Desa Emir misalnya. Desa yang berada di bawah ancaman goblin selama beberapa tahun terakhir, kini sejak terkuaknya masalah itu, mereka dibebaskan dari jerat kecemasan.
Malam hari kedua, mereka bertiga memutuskan berhenti di tanah terbuka luas untuk beristirahat. Tidak membangun tenda. Hanya beralaskan tanah sebagai tempat tidur mereka semalaman. Sasha cukup beruntung karena dapat bersandar nyaman di badan besar serigala Jarlen. Sedangkan Nellas duduk menatap api unggun sambil memakan ikan panggang dari sungai dangkal di seberang kiri.
Dibalik gunung di sana adalah ibu kota Madland. Tersisa satu hari lagi sebelum pulang ke kota asal. Sasha menarik napas lega. Baru malam ini dia bisa berbaring dengan nyaman di luar setelah malam-malam sebelumnya selalu diisi dengan pertarungan.
"Apa kau mendengar sesuatu?" Suara Nellas mengusiknya ketika Sasha hendak menutup mata untuk tidur.
"Huh? Aku tidak mendengar apapun." Sasha sudah was-was dengan pertanyaan tiba-tiba lelaki itu. Dalam hati dia memohon agar tidak ada pertarungan lagi. Sasha benar-benar ingin istirahat sekarang. Seluruh tubuhnya sudah lelah dan sangat mengantuk saat suara gemeresak khas semak-semak terdengar.
Sasha bangun terduduk dengan wajah muram. Gangguan macam apa lagi ini? pikirnya mendengus.
"Apa kau yakin, Nellas?" tanya Sasha memegang pegangan pedang estoc-nya di ikat pinggang. Dia meminjam pakaian milik istri Kepala Desa. Walau sempat ditawarkan pakaian gaun biasa, dan Sasha menolak untuk digantikan dengan celana. Karena dia takkan bisa leluasa bertarung jika mengenakan gaun.
Nellas menyapukan pandangan. Dia belum menjawab Sasha. Keraguan tersirat dari raut wajah lelaki itu. Hingga secara tiba-tiba sesuatu melompat keluar dari semak-semak hutan di belakang mereka, dalam sekejap mereka dikepung lima goblin dewasa bersenjata tombak. Berbeda dengan goblin di goa yang diisi mayoritas goblin kerdil. Goblin di hadapan mereka bertubuh layaknya manusia normal. Hanya warna kulit dan tentu wajah jelek mereka. Tiga lawan lima. Masih lebih baik dibanding sebelumnya. Kemudian, tanpa menunggu lagi, kelima goblin langsung mengeroyok.
Sasha menangkis serangan dengan pedangnya. Nellas meluncurkan anak panahnya tetapi malah meleset untuk pertama kalinya sebagai ahli pemanah. Membuat lelaki elf itu membelalak heran. Lawannya mampu berkelit sedetik lebih cepat tadi. Nellas gelisah. Dia syok. "Cih! Rupanya mereka goblin terlatih, Sasha!" teriaknya memberitahu dengan nada jengkel.
"Ya. Kau benar! Mereka berbeda dari goblin di goa tadi!" Sasha membalas sembari menahan serangan tombak di mata pedangnya. Kemudian dia hempaskan sekuat tenaga lengannya, membuat mereka sibuk sejenak mengurus lawan masing-masing.
Jika Nellas menghadapi tiga goblin sekaligus, dua sisanya dihadapi Sasha dan Jarlen. Nellas terlihat terpojok di sana. Sejak panahannya meleset dia jadi hilang konsentrasi. Nellas merasa latihannya selama bertahun-tahun ini tidak cukup. Meskipun sebelumnya dia selalu berhasil memanah target dalam jarak dekat maupun jauh. Tapi tidak untuk hari ini ini. Malah, Nellas baru mengetahui kemampuan musuh yang tak biasa. Ini perlu menjadi PR untuknya di rumah.
Mereka terlalu sibuk berurusan dengan lawan di depan mata, sampai tidak menyadari sekelebat bayangan di dalam hutan. Bayangan itu melesat lari menuju pertarungan Sasha ketika titik lemah lengan kanannya dipukul dan membuat gerakannya melambat. Pada detik yang sama, insting elf Nellas tersentak ketika sudut matanya menangkap pergerakan di sisi lain. Maka dengan reflek cepat, Nellas berlari ke arah Sasha yang dekat di belakangnya, menarik kerah pakaian gadis itu, hingga kemudian satu hunusan pisau tebal menembus perut Nellas.
Sasha membeliakan matanya. Tapi belum selesai bertarung, dia hampir melupakan lawan Nellas di belakangnya. Bertepatan ketika goblin setinggi manusia itu mengendap sambil melayangkan serangan. Langsung Sasha berbalik dan menebas cepat tangannya sampai putus. Seketika dia meringis kesakitan memegangi lengan kanannya. Akibat sendi sikunya dipukul, dia kini tidak dapat menggerakan lengan dominannya untuk bertarung. Patah tulang, ya? pikir Sasha meringis. Jarlen langsung bersiaga di dekat Sasha. Membuat goblin tidak memiliki ruang menyerang Sasha lagi, termasuk goblin wanita yang telah menusuk Nellas tadi.
Goblin wanita itu menggeram melihat tidak ada celah sedikit pun untuk melancarkan tusuk4nnya, kelima pengawalnya telah babak belur sementara mereka harus mengawalnya lagi untuk pulang. Keberadaan Jarlen sangat merepotkan. Dia jengkel. Benaknya mengkal ingin melampiaskan dendam atas kematian sang kekasih di goa tadi, namun dipaksa keadaan untuk mundur. Memberi tanda, para goblin itu segera meninggalkan mereka.
Sasha bingung tapi dia manfaatkan itu dengan berlari menghampiri Nellas. "Nellas! Nellas!" teriaknya cemas. Nellas sudah terbaring kesakitan di tanah.
"Sa-sha. Dia melumuri pisaunya dengan racun! Tepat melukai bagian vital elf. Aku---tak bisa menahan penyebaran racunnya!" Nellas berkata dengan terbata-bata. Napasnya memberat dan sulit.
"Bertahanlah! Kalau kau pasti bisa! Sebentar lagi sampai di ibu kota." Sasha gelisah. Bibir Nellas semakin membiru. Wajahnya yang putih pun berubah pucat.
Diraihnya tangan Sasha, Nellas mencengkramnya kuat di sisa tenaganya yang mulai melemah. "Sasha--aku--punya permintaan."
"Jangan katakan apapun!" Sasha hampir menangis. Air matanya sudah menggenang di pelupuk. Kalimat itu bukan lagi kata-kata asing baginya. Sasha sering mendengar ucapan demikian di saat napas terakhir rekan-rekannya. "Aku tidak mau mendengar apapun darimu! Sekarang, kita pergi ke kota!"
Nellas tersenyum lemah. Sedetik berikutnya Sasha meneriakan namanya. "NELLAS!" ketika lelaki itu menutup mata dan terkulai tak berdaya. Dia memeriksa denyut Nellas di leher, yang sama-sama memiliki organ jantung seperti manusia. Denyutnya sangat samar hampir Sasha tak merasakannya. Selama masih berdetak, itu artinya Nellas masih hidup dalam keadaan kritis.
Tidak berniat membuang waktu, Sasha bergegas mengangkat tubuh Nellas ke atas kuda sedikit bersusah payah, karena sebelah lengannya patah. Mengikatkan kedua tangan Nellas ke pelana agar tidak jatuh, lalu dia sendiri naik ke kuda. Melecut kudanya dengan diikuti kuda Nellas di belakang, dikawal Jarlen yang berlari dibarisan ketiga. Tatapan Jarlen mengarah pada Nellas sekilas. Lalu kembali menatap ke depan.
Perjalanan yang harusnya ditempuh hampir seharian, Sasha mampu mempercepat perjalanan pulang mereka tanpa ada hambatan di jalan tanpa berhenti sedetik pun. "Maafkan aku, Blackie," elus Sasha seakan memahami kuda juga bisa lelah dipaksa berlari terus. Blackie nama kuda hitam miliknya. Itu adalah kuda besar yang biasa dipakai berperang.
Sasha menoleh ke belakang. Menatap kasihan juga pada kuda putih milik Nellas. Lalu meluruskan pandangan lagi ke depan dan tembok raksasa Madland sudah terlihat jelas.
"Buka gerbangnya!" teriak Sasha pada para penjaga di atas tembok. "Ini Sasha dan Nellas!"
***