84

1243 Kata

Nala duduk di meja kerjanya, jemarinya lincah menari di atas keyboard laptop, mempersiapkan materi rapat yang akan segera diadakan. Matanya fokus pada layar, memastikan semua laporan dan presentasi sudah tersusun rapi tanpa ada kesalahan. Sesekali ia menggigit bibirnya, kebiasaan kecilnya saat sedang serius bekerja. Sementara itu, di sofa ruang kerja, Ebas duduk dengan tubuh sedikit membungkuk, satu tangan menopang dagunya, sedangkan Galih berdiri di hadapannya. Suasana di ruangan itu cukup serius. "Bagaimana? Apa laporan untuk Angga sudah masuk ke kepolisian?" Suara Ebas terdengar dingin, penuh penekanan. Galih mengangguk. "Sudah, Pak. Kami punya cukup bukti untuk menyeretnya ke penjara. Dari kasus penggelapan dana hingga kekerasan terhadap Bu Nala. Pengacara kita memastikan semuanya b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN