Aroma cake masih tertinggal di dapur ketika Naya membersihkan meja pantry perlahan. Tangannya bergerak pelan, mengelap sisa tepung yang tercecer, menyusun kembali peralatan yang tadi digunakan. Di balik jendela besar, cahaya siang merambat masuk dengan hangat, menyinari ruangan yang terasa tenang. Adrian berdiri di dekat oven, memeriksa cake yang baru saja matang. Ia tidak terburu-buru, seolah menikmati setiap detik yang berjalan tanpa tuntutan apa pun. “Kayaknya berhasil,” katanya sambil tersenyum kecil. Naya menoleh, matanya berbinar tipis. “Serius? Aku kira bakal gagal total.” Adrian tertawa pelan. “Enggak. Ini semua kan berkat kamu yang nurut sama instruksi aku dan itu udah lebih dari cukup.” Naya tersenyum, bukan karena pujian itu, tapi karena suasananya. Tidak ada tekanan, tidak

